| |
hidup di mimpi, bukan hujan
Haloooo semua!! :D Rasanya udah lama banget nggak nulis di
sini, jadi sedih... padahal dulu jauh lebih rajin dan nyaris nulis setiap hari,
iya nggak sih? How are you, Octopuses? Things are eventually getting better
here. Much, much better.
Belakangan ini... rasanya kayak aku lagi hidup di mimpi.
Yang aku inget adalah momen-momen pas SMA dulu, selalu nempel
sama Nabila Ale Intan; kapanpun dimana pun. Entar sibuk ngerecokin bekalnya
Ale, terus diomelin Alief dan diketawain Raja sama Arif. Abis itu main ke IPA
3, datengin Ina-Nia-Catra-Dika atau siapapun yang bisa didatengin, just
because. Terus lanjut mlipir ke IPA 2, gangguin hidupnya Intan yang nggak tau
kenapa seringnya di kelas karena adaaaaaa aja yang kudu dia urusin di dalem.
Terus entar di tengah perjalanan ketemu Panjiiii. Baru akhirnya ketemu Nabila
waktu udah bel istirahat atau pas jam pulang, dan endingnya lanjut jalan bareng
rame-rame entah kemana.
Kalo mau nginget-nginget lebih jauh lagi, berarti bakal ada
momen aku-Sindy-Panji bablas main bareng sampe pagi—makan nasi kuning jam 2
pagi terus lanjut mlipir ngelewatin Unmul yang SUMPAH serem banget pas jam
segitu?? Atau pas jaman-jaman sibuk muter otak ngeluarin tenaga bikin short
movie bareng The Hippoes, yang lelahnya itu berkali-kali lipatnya bikin
Afternoon Tea. Terus, entar kalo udah malem diseret dateng ke birthday party
dan hebatnya mereka selalu berhasil bikin aku berangkat... padahal aku mager
abis, apalagi kalo lagi banyak download-an di waiting list dan wi-fi rumah lagi
kenceng. Oh, dan ada juga masanya bikin garage sale barang-barang Nabila di
pinggir jalan, yang endingnya jadi ga maksimal gara-gara aku bego banget
(hehehehe detail kejadiannya off the record ya :p) Setiap hari rasanya
selalu... apa ya? Rame? Lucu? Dinamis?
Tapi, sekarang kehidupan Nona udah nggak gitu lagi lagi.
I’ve been dreaming of going to UGM since I started remember
things, I think. Mulai dari jamannya masih rajin banget, jadi tengil, jadi
(terpaksa) rada rajin lagi... yang ada di otakku selalu sama; masuk Komunikasi
UGM, terus gedenya jadi newsanchor. Dan, percaya nggak percaya, sekarang aku
lagi ngejalanin yang pertama (yay! Alhamdulillah :D)
Prosesnya nggak gampang, jelas. Butuh rasa homesick yang
besar (super kangen sama Mama, Papa, dan Dara—my sis), air mata yang banyak,
keinginan buat nyerah-balik ke rumah-dan jadi bodo amat, rasa males banget
belajar tapi kudu dipaksain mempelajari materi, mental breakdown yang berujung
ke nyaris pingsan di rumah dan throwing a tantrum di jalan, belom lagi berbagai
macam jenis penyakit sering kambuh, setiap hari bangun dalam keadaan stres and
counting the remaining days...
Dan sekarang, setiap hari rasanya selalu ada satu hal baru
yang terjadi. Kalo dulu life lessons-nya nggak melulu langsung kentara,
sekarang semuanya jadi serba eksplisit. Dan, belajar hal baru itu selalu
menyenangkan. Belom lagi lingkungan baru yang isinya orang-orang yang selama
ini belom pernah kita tau, dan alhamdulillah mereka semua adalah orang-orang
yang menyenangkan dan unik . Like, I could already imagine living my university
life in the upcoming years all together with them :)
Rasanya kayak ajaib aja gitu, setiap kali nyadar kalo aku
lagi ngejalanin satu step kehidupan yang udah jauh berbeda dari apa yang aku
alamin sebelomnya. Buat semua yang kenal aku pasti bakal langsung tau, gimana
susahnya seorang Nona hidup sendiri... Nona yang nggak bisa apa-apa, yang
kerjaannya sakit, gampang ngerasa under-pressure, mikirnya kelamaan, sekarang
kudu survive seorang diri di sini. Tapi, setiap halangan yang terjadi di sini,
rasanya selalu menyenangkan. Mungkin karena emang ini kehidupan yang aku
pengenin—balik lagi ke Jogja setelah bertahun-tahun berjuang di Samarinda
supaya bisa balik ke kota kelahiran, dan akhirnya kejadian juga—jadi semua yang
terjadi di sini bisa aku terima. Like, aku jadi mikir; emang ini yang aku mau,
dan inilah konsekuensi yang harus aku hadapin. Dan aku ikhlas dalam menghadapi
semuanya.
Sekarang selalu ada kesempatan buat ketemu sama orang baru,
atau bahkan sekalian ketemu sama temen-temen lama dari jaman SD atau SMP yang
dulu, dan lama-lama mulai bisa nginget lagi hal-hal yang entah kenapa mendadak
hilang dari ingetanku begitu aku pindah ke Samarinda, and no matter how hard I
tried, those things wouldn’t come back into my brain and I ended up failing at
recognising things. Dan yang lebih ajaib lagi, jalanan yang dulu biasa aku
lewatin waktu kecil bareng orang tuaku, sekarang aku lewatin lagi sama
temen-temen SMA yang asalnya dari pulau yang lain dan kalo dipikir-pikir lagi
dulu, logikanya nggak mungkin pada bakal bisa lewat situ, bareng aku pula.
Jadi, tujuan dari aku nulis postingan ini adalah, aku pengen
buat semua temen-temen yang ngebaca tulisan ini dan merasa lagi ada di helpless
state untuk nggak berhenti berjuang dan terus percaya, things will eventually
get better. It will get better, at last. Aku dulu juga pernah mikir, that
things couldn’t get any worse than this, that I was stuck in an inevitable
rotten situation and I didn’t deserve any kind of kindness in this world. Tapi
toh, alhamdulillah aku tetep berhasil sampe di fase ini, still alive and
stuffs. Yang penting adalah selalu percaya bahwa Allah itu ada, Allah nggak
tidur dan selalu melindungi kita. Dan betapa mudahnya bagi Allah untuk
memutarbalikkan dunia kita. Mungkin belum sekarang, tapi nanti. Ada saatnya,
dan saat itu bakal tiba, selama kita mau tetap bersabar dan berjuang.
Dan, percaya deh, waktu saat itu tiba, kamu bakal bersyukuuuuuuuur
banget dan semua hal jadi terasa menyenangkan :)
Jadi, semangaaattttt dan jangan menyerah dulu, ya. Allah
sayang sama kamu, sama kita semua, dan Allah pasti selalu menyimpan kebaikan
untuk setiap makhluk-Nya. Kita semua bisa sampe di sini karena Allah, dan bukan
nggak mungkin bagi Allah untuk membawa kita ke tempat yang lebih, lebih baik
lagi. Setiap orang punya tempatnya sendiri kok di dunia ini ;)
Oh iya, dan buat beberapa temen yang in case lagi baca
postingan ini, aku bener-bener berterima kasih banget udah punya kalian dalam
hidup ini. Terima kasih sekali untuk Ale, Intan, Nabila, Alief, Raja, Arif yang
bikin masa SMA selalu jadi indah dikenang. Buat Ina, Kenken, dan Nia yang
sabarnya luar biasa dalam ngadepin Nona. Buat Cho sama Danang, yang nggak
pernah capek dan selalu ada buat Nona, nggak peduli seberapa besar jarak
misahin kita. Buat Puti, Balqiz, Nuri, Fifi, Adam, Zaki atas masa kecil yang
super bahagia. Buat Sindy, Panji, Amma, dan temen-temen OSIS lainnya atas waktu
yang bermanfaat dan pengalaman yang berharga banget. Buat semua temen-temen les
dan kegiatan selama ini yang nggak mungkin kusebutin satu-satu, terima kasih
banyak udah bikin kehidupan di luar sekolah jadi super menyenangkan dan selalu
ditunggu-tunggu! Terus buat semua temenku dari jaman kecil sampe sekarang, orang-orang
yang pernah aku temuin dalam hidup ini; setiap orang punya artinya
masing-masing di hati Nona dan kamu juga salah satunya. Terima kasih banyak
yaaaa! :D
Dan special thanks buat anak-anak YUHU; Intan Agil Catra Dika
Diko Haryo, terima kasih banyak karena udah selalu ada buat Nona di sini. Kalian
bikin tempat aku tumbuh besar, yang sesaat sempet kerasa asing ini, jadi jauh
terasa seperti rumah. Makasi banyak ya, walaupun aku sering dikerjain aku tetep
sayang kalian kok heheheheh.
Bismillah, insya Allah Nona siap ngejalanin hidup yang baru:)
Love,
LadyLo.
Label: About me, Daily story, Friends, Happy, Life, Renungan
encountering angsty feelings
"Cari orang yang bisa ngasih kamu segala-galanya, apapun itu, tanpa harus kamu minta."
"Tapi buat aku orang itu kamu, Rem. Beneran, you give me everything tanpa aku harus minta."
"...berarti kamu yang udah ketemu. Aku yang belum; nggak di hubungan ini."
--Perahu Kertas (The Movie).
Lately, I've been drowning in this dreamy + gloomy mood... again. Semuanya berawal dari iseng nonton ulang Perahu Kertas, berlanjut ke hobi dengerin You Could Be Happy by Snow Patrol (it's been my life anthem these days).
Somehow everything I own smells of you
And for the tiniest moment it's all not true
Random banget ya? Hahahaha... and thanks to these somewhat angsty feelings, aku jadi makin pengen punya dan baca The Fault In Our Stars by John Green. IYA, EMANG TELAT BANGET. :') Ini novel sempet masuk ke Gramedia Lembuswana kemaren-kemaren, tapi cuma dalam jangka waktu yang pendeeeeeeek banget. Baru-baru ini aku ngecek ke sana and guess what? Novelnya udah ludes. Di komputernya aja udah nggak ada datanya. MAJOR HEARTBREAKING MOMENT
And the good news is.... bakal ada versi film-nya!!! Yay! :D Baru bakal dirilis tahun 2014 nanti, but it's okay.... sambil nunggu, mendingan nonton Catching Fire bulan November ini. OMG I'm soooo excited (padahal belom baca bukunya). Oh, dan bagi Octopuses yang juga suka sama novel Daughter of Smoke & Bone (for those who haven't read the book yet: YOU DEFINITELY HAVE TO READ IT. TOTALLY RECOMMENDED BY ME), Universal Studio has decided to work on the movie! Seneng banget ngeliat banyak novel bagus yang difilmin gini :3
Balik lagi ke The Fault In Our Stars... for the time being, let's watch the book trailer (it's beautiful) here:
Now,
CATCHING UP WITH LIFE.
The previous post back then (the one about addiction) was written waaaaay before my birthday. Which means, I have missed LOTS of moments to write about on this blog. Sorry, dear Octopuses ;( now that I realised it... nggak ada postingan tentang my birthday, OSIS trip to Java, liburan kenaikan kelas, proses pembuatan Afternoon Tea, dan bahkan tentang Lebaran sekalipun.
So... to sum it up, I lost my iPod. Yup, that good ol' buddy of mine yang udah nemenin dari SMP sampe SMA itu :'D kejadiannya agak tragis sekaligus doesn't make any sense (yang selalu bikin aku kesel sama diriku sendiri sampe sekarang). But hey, the wi-fi is back, and here I am! Emang bener ya, semua kejadian pasti ada hikmahnya. Rezeki satu barang udah abis, dikasih lagi sama Allah rezeki yang lainnya... :) (Walaupun baru-baru ini BlackBerry abis kerendam air di tas sendiri dan nggak bisa nyala lagi - which means semua hape Nona officially rusak)
Terus... minal aidin wal fa idzin semuanya!! Mohon maaf lahir dan batin! :D Aku minta maaf ya selama ini banyak salah... sekarang libur Lebaran udah selesai, otomatis balik lagi ke sekolah. Say hello to the harsh senior year, everyone...
Oke, kayaknya kali ini sampe sini dulu kali ya. Oh iya, as you might notice, Lady Octopus just went under a BIG MAKE-OVER. Baru nyadar udah dua taun pake layout yang sebelumnya, jadi pengen ganti tampilan... tapi masih yang sejenis. Jadinya gini deh, hehehe. I spent a whole day in editing the whole thing, so I hope you would enjoy the new layout.
WELCOME TO THE NEW HOME, OCTOPUSES!
P.S.: Also, welcome back to the industry, Ellie Goulding and John Legend! Loving the new singles already, can't wait for the whole album WOOHOOOOO.
Love,
LadyLo.
Label: About me, Daily story, Incident, Interests, Life, Music, Somethin' about my blog, Updaties
life isn't like a box of chocolates; it's already scripted.
Life is like a box of chocolates - you never know what you're gonna get.
Mungkin udah ratusan kali kamu denger atau ngebaca quote barusan. But hey, who's counting here? Because what really matters now is, apakah kata-kata mujarabnya Forrest Gump barusan bener atau nggak. Well, aku sendiri yakin pasti bagi sebagian besar orang, definisi hidup ya begitu. Unpredictable, full of surprises, and such.
Definisi hidup menurut Nona?
Life is like a movie script - you never know whether you do your role perfectly or not until you finally watch the result.
Sering denger ungkapan 'dunia ini hanya panggung sandiwara'? I do. And I believe in that statement. Karena pada dasarnya, yang dilakukan setiap manusia di muka bumi ini hanya memerankan perannya masing-masing. Orang jahat, orang baik, orang ketus, orang ramah, semua itu cuma label yang diciptakan manusia sendiri. Tapi pada akhirnya, orang-orang tersebut tetap harus menjalankan lakonnya dengan label-label yang menempel di diri mereka. Kenapa? Karena sekali seseorang gagal menjalankan perannya, seluruh cerita yang udah tersusun rapi di naskah bakal hancur berantakan.
Banyak yang bilang, Tuhan adalah sutradara dari hidup ini. Aku cukup setuju sama pernyataan itu. Dan menurutku, manusia itu (udah jelas ya?) aktris dan aktornya. Sekarang, pertanyaannya cuma satu. Kalo Tuhan = sutradara, dan manusia = pemerannya, lantas siapa penonton dari 'panggung sandiwara' ini?
Karena panggung selalu didirikan untuk para penontonnya, my dear.
Intinya, nggak mungkin kan suatu pertunjukan digelar kalo ga ada penontonnya? Masalahnya, dalam hal ini siapa penontonnya? Malaikat? Iblis? No, in my opinion, mereka juga termasuk dalam kategori "pemain".
I'm getting crazy, I know.
Pernah nggak, suatu hari kamu terbangun dari tidurmu dan satu-satunya hal yang terbersit di kepalamu adalah kalimat "what am I doing to my life"? It's like, everything is pitch black. And then, your brain goes blank. Real blank. Mendadak kamu kehilangan passion buat ngelarin semua pekerjaan yang udah kamu mulai. Tiba-tiba aja kamu mempertanyakan semua pilihan yang udah kamu buat dalam hidup kamu. Dan dalam sekejap, kamu pengen ngulang semuanya dari awal. Ngelakuin hal yang jauh berbeda dari apa yang kamu pilih sekarang. Ibarat main Angry Birds, kamu pengen pindah season. Dari Angry Birds Halloween ke Angrys Birds Rio, maybe?
My mind is like a big parade of mixed things. Ada banyak hal yang harusnya ga perlu kupikir tapi tetep aja terlintas di kepalaku. Gimana kalo ternyata mukaku sebenernya nggak sama kayak yang selama ini kuliat di cermin? Kan aku nggak pernah ngeliat langsung mukaku! (Random thought, it proves that orang lain kadang lebih tau tentang diri kita ketimbang kitanya sendiri - buktinya aja mereka lebih mengenal muka kita daripada kita sendiri) Atau, gimana kalo pas one day aku ngaca, aku baru nyadar kalo aku udah berumur 30 tahun - dan bukannya 16 tahun kayak sekarang? Because time runs faster than we used to think. And this case happens to my Mom.
Aku bahkan sempet kepikiran; kira-kira apa yang bakal terjadi seandainya aku ngambil jalan yang berlawanan sama pilihan yang udah aku ambil sekarang? Things like, gimana seandainya aku ngambil kelas IPS instead of kelas IPA? Gimana seandainya aku nggak masuk ke SMA Negeri 1 Samarinda, tapi masuk ke SMA lainnya? Gimana seandainya aku masuk ke SMK dan bukannya SMA? Gimana seandainya aku masuk sekolah swasta, dan bukannya sekolah negeri? Gimana seandainya aku milih homeschool daripada public school? Apa yang bakal terjadi? Gimana reaksi keluargaku?
Karena sebesar apapun kebebasan yang dikasih orang tuaku, tetep aja ya yang namanya keluarga besar lebih menghormati hal-hal 'mainstream'. Such as, jadi pegawai negeri itu much better daripada jadi wiraswasta (talking about garansi seumur hidup, if you know what I mean) dan hal-hal lainnya.
Hal-hal semacam itulah yang ngebuat aku diem-diem salut sama orang-orang semacam tokoh Wilee di film Premium Rush. You know, the one who abandoned his previous 'life'. Seorang laki-laki cerdas yang nekat meninggalkan kesempatannya mendapatkan gelar Sarjana Hukum, cuma demi mempertahankan passionnya berkendara bebas dengan fixed gear dan jadi kurir khusus. Karena orang-orang semacam itu emang ada di sekitar kita, dan untuk mengambil keputusan seperti itu sama sekali nggak mudah. Aku yakin, ada suatu keberanian yang nggak dimiliki setiap orang waktu temen kita ditanya "kenapa nekat masuk Farmasi?" dan langsung ngejawab dengan tegas, "Aku mau langsung kerja abis lulus sekolah". How I envy you, orang-orang yang gagah berani.
Aku sendiri termasuk dalam kalangan orang pengecut yang masih belom yakin mau jadi apa pas dewasa nanti. Golongan losers yang nggak berani mengambil keputusan yang 'beda dari yang lain', cuma karena takut nggak sanggup menghadapi penilaian dari orang lain. Aku terlalu banyak mikirin "what ifs" instead of doing the hell of it. Orang-orang kayak aku inilah yang kalo hidup cuma ngikutin garis lurus yang mungkin emang udah digambarin sama Allah sejak awalnya.
Probably that's why I always think that life is already scripted. Means, it's not 'a box of chocolates' at all. But hey, what can I do to my screwed life anyway?
Love,
LadyLo.
Label: About me, Daily story, Experience, Just babbling, Life, Opinion, Random thoughts
doubts
Sometimes, there are times when you have some doubts towards yourself. A kind of thought that makes you feel like, you're not doing the right thing. It's normal to feel such a thing. But no one can deny that it's somewhat painful to do over yourself. However, the worst feeling is the one when you have doubts over your bestfriends.
Or maybe, people that you thought they WERE your bestfriends.
Hubungan-hubungan yang, katanya, long-lasting semacam persahabatan seharusnya nggak perlu semacam deklarasi tertentu. True bestfriends don't say "we are bestfriends now" to each other. It's just we feel like doing it. Tanpa sadar, kita selalu menghabiskan waktu dengan orang-orang itu. Cerita macem-macem ke mereka. Merasa definisi sesungguhnya dari "quality time" adalah ketika kita melewatkan waktu bareng mereka. Time flows, dan waktu kita sadar, dengan sendirinya kita udah menganggap mereka sebagai sahabat kita. Nggak perlu peresmian. Nggak perlu segala ikrar.
Tapi, yang paling menyakitkan adalah saat dimana TERNYATA mereka nggak merasakan hal yang sama ke kita. Oke, kita nganggep mereka sahabat. Gimana kalo ternyata ini cuma one-sided friendship? Disaat kita mengagung-agungkan mereka sebagai so-called-BFFs, mereka justru sama sekali NGGAK masukkin kita ke "daftar sahabat" nya. Yang lebih parah lagi, gimana kalo mereka menganggap kita sebagai sahabatnya, tapi mereka sama sekali nggak bersikap seperti how a bestfriend should act?
Mereka ngelakuin hal dari A sampe Z dengan mengatasnamakan kebaikan mereka. Prinsip mereka, "aku ngelakuin semua ini demi kebaikanmu, biar kamu seneng". Padahal, sebenernya semua itu cuma untuk kepuasan mereka semata. Dan bodohnya kita, as a loyal bestfriend, mau-maunya ngikutin omongan mereka?
This is bad. I have doubts over my so-called bestfriends. They DO backstab me. They talk behind me, and I've seen the proofs before. It hurts, hurts so bad until I can't stop thinking about it for the whole days. I spent the nights for thinking about my faults, but still - I couldn't find the EXACT thing which made them doing such a cruel thing to me. Why they did this to me? How long it's been since the very first time they started hating me? I don't even know whether "hate" is the perfect word or not, but one thing that I know; if they REALLY love me, they wouldn't do anything like this, right?
This isn't the first time. But I thought all of us already started a brand new page of our friendship. No matter what they do, I can't do anything but only forgiving them. Why they couldn't do the same thing to me? I'm sorry for hurting you. For making you uncomfortable with my behaviour. But if you have any unspoken words, why don't you just tell me directly instead of backstabbing me?
Now it feels like Bon Iver's Skinny Love:
Who will love you? Who will fight? Who will fall far behind?
Bohong kalo mereka bilang mereka nggak mau nyakitin perasaanku dengan berkata jujur. Kalo mereka bener-bener berniat baik, mereka pasti bakal ngomong langsung ke aku. Bukannya nunggu aku sadar sendiri. Bukannya ngomongin aku dari belakang.
Ini semua salahku yang udah ngelanggar prinsipku sendiri; untuk nggak sepenuhnya percaya sama orang lain. Untuk nggak pernah bersandar sama orang lain. The world is giving its judgement towards me. So I guess I have to come back to my oldself; the one who will never, ever believe in another person.
Maaf, maaf banget udah nyakitin kalian semua - meskipun sampe saat ini aku nggak tau apa yang bikin kalian bertindak sejauh ini. Bahkan walaupun kalian mau bilang "itu udah bulan Januari lalu kok, sekarang udah nggak lagi"..........
YOU GUYS STILL HURT ME.
I'm sorry.
Love, LadyLo.
Label: About me, Daily story, Experience, Friends, Life, Problem, Renungan, Sad
kebahagiaan kecil
Kebahagiaan kecil itu...
Ketika kamu ditraktir es campur sama temenmu.
Ketika kamu ngobrol bareng dua orang temen cowokmu (cowok ngomong berdasarkan logika, lan?) di bawah langit senja yang indah banget, dan mereka berdua nggak segan bertukar pikiran sama kamu.
Ketika orang yang kamu suka berinisiatif untuk menyapa kamu duluan.
Ketika kamu makan jagung bakar sambil nontonin kembang api di tepi sungai Mahakam.
Ketika kamu nyanyiin lagu "Sempurna" dan ada temen yang ngiringin nyanyianmu pake gitar.
Ketika kamu melewatkan waktu bersama adek sepupumu yang masih kecil dan paling kamu sayang dengan cara bergosip, sambil ngemil biskuit dan minum teh anget.
Ketika kamu menemukan baju yang manis dan kamu tau kalo itu cocok banget dipake sama kamu.
Ketika temenmu tau kalo kamu cinta mati sama puding dan dia ngasih itu cemilan (?) buat kamu.
Ketika kamu nggak tidur semalaman gara-gara keasyikan berdiskusi tentang "kehidupan" bareng mamamu di atas kasur, nggak peduli kalo cuma kalian berdua yang masih terjaga di rumah itu.
Kebahagiaan-kebahagiaan kecil semacam itu... yang tanpa kita sadari, justru sangat kita perlukan dalam keseharian kita.
Kalo nggak ada kebahagiaan kecil, mungkin aku udah lama menyerah dan berhenti berusaha. Label: About me, Daily story, Experience, Family, Friends, Fun, Happy, Just babbling, Life, Love, Renungan
high school pride
High School. Aku udah tau artinya dari jaman kelas 1 SD. High school. Gampang. Sekolah Menengah Atas, SMA. Atau yang sekarang udah berganti nama jadi Sekolah Menengah Umum--SMU.
Pride. Kata yyy.sederet.com, artinya "kebanggaan". "Keangkuhan". "Harga diri". Waktu SD, aku pernah denger kata ini beberapa kali, tapi aku nggak pernah tau artinya sampe aku SMP. Dan akhirnya, sekarang aku bener-bener tau apa itu "pride" dalam kehidupan.
Pride itu bersifat addicting. Tapi juga membunuh. Aku baru belajar tentang kata ini di Samarinda, kota yang bener-bener asing buatku. Well, nggak se-asing itu sih, soalnya dari kecil aku udah sering liburan ke sini. Tapi ya tetep aja....... Jogja sama Samarinda? Jauuuuuh!
Jadi, apa hubungannya antara "high school" dan "pride" kali ini?
Simpel. FYI, aku udah 15 tahun (gonna post a special entry about my birthday bash anyway :D) dan tahun ini aku bakal resmi jadi MURID SMA. Sedikit interupsi, ini postingan pertamaku sebagai seorang....... pengangguran pasca SMP? Hehehehe. Soal sekolah...... alhamdullilah, aku udah diterima di salah satu sekolah yang, yah, kata orang bergengsi-banget-di sini lah. Lewat jalur PMDK. Nggak, aku nggak lagi nyombong kok, santai aja.
Nah, selama di Samarinda, aku udah pernah ngeliat dan ngerasain langsung berbagai macam pride di sini. Tapi kalo yang namanya "high school pride", ini (pastinya) bener-bener yang pertama kalinya. Kayak yang udah kutulis di atas, high school pride itu addicting. Tapi juga membunuh. Waktu SMP, aku udah pernah ngalamin junior high school pride (nggak beda jauh sih...), tapi, serius deh, pride yang itu nggak se-mengerikan ini!
Kalo kita salah pilih TK, kita masih bisa memperbaikinya di SD. Kalo kita salah pilih SD, kita masih bisa memperbaikinya di SMP. Kalo salah pilih SMP? Insya Allah masih bisa diperbaiki di SMA. Tapi, kalo salah pilih SMA? Memperbaiki di universitas? Udah telat, kan? Bukannya orang dewasa selalu menerapkan aturan "SMA = universitas = jawaban dari masa depan kita"? Alias kalo SMA jelek, terus dapet universitas jelek, masa depan cerah bakal sulit dateng?
Jangan nge-judge apakah aturan di atas itu benar atau salah adanya. Karena aku pun sendiri nggak tau, namanya juga aku masih....... baru-mau-masuk-SMA. Tapi, selama ini, orang-orang dewasa di sekitar aku selalu ngasih aturan yang sama. Mereka selalu ngucapin hal yang sama.
"Kamu harus dapet SMA bagus, Non. Jadi gampang masuk universitas yang bagus. Dan kemungkinan punya pekerjaan bagus pastinya bakal jadi lebih besar lagi."
Sekali lagi, orang dewasa yang menetapkan aturan semacam itu bukan cuma ada satu atau dua aja loh. Aku kenal banyak orang dewasa yang berprinsip kayak gitu, walaupun mungkin beberapa di antara kalian yang lagi ngebaca postingan ini berpikir, "orang-orang itu dangkal banget sih". Terserah kalian mau mikir apa, yang penting jangan salahin aku. Karena aku cuma semacam korban dari aturan itu :p
Nah, balik lagi ke topik awal. Dengan aturan yang udah pasaran semacam ini lah, anak-anak seusiaku (seenggaknya yang aku kenal) banyak yang kena sindrom "high school pride" tingkat akut. Mereka yang berhasil masuk ke sekolah ultra-keren-bangetngetnget bakal jadi orang-orang yang disanjung. Mereka yang "gagal"? Bakal dicap "LOSER" sama orang-orang.
Bisa dibilang, salah satu temen deketku termasuk di dalam kategori yang terakhir itu. Bukannya apa-apa, menurutku dia cuma kurang hoki aja (luck does matter loh waktu ikutan PSB). Sayangnya, semua orang udah terlanjur menggolongkan dia sebagai "another loser". Bahkan, bisa dibilang.......... keluarganya sendiri. Orang-orang yang seharusnya jadi orang pertama buat menghibur dia.
Akhirnya? Dia memutuskan buat tetep masuk ke sekolah yang mau nerima dia itu. Tapi, dia nggak bakal lama di sana. Dia bilang, dia bakal pindah ke sekolah lain (yang notabene, ehem, sekolahku) dalam waktu kurang dari enam bulan. Dan, ternyata, banyak orang lain yang juga punya planning semacam ini. Bertahan di suatu sekolah selama beberapa bulan, dan akhirnya pindah ke sekolah incerannya diawal.
Orang tuaku nggak suka hal-hal semacam ini. Mama bilang, kalo itu terjadi sama aku, Mama ga bakal mindahin aku dsb. Mama bilang, aku harus diajarin bertanggung jawab atas apapun yang terjadi karena aku. Kenapa "karena aku"? Soalnya, NEM-ku emang jelek (banget), dan, yah....... faktor hoki emang does matter, tapi paling cuma 10-20% doang.
Mama bukannya ngomong gitu karena aku termasuk orang yang beruntung. Bukan karena kami nggak ngalamin hal semacam itu. Hal kayak gini pernah terjadi sama aku kok. Aku dilempar, ditendang dan nggak diterima sama 2 sekolah favorit waktu di Jogja dulu. Dan akhirnya aku masuk ke salah satu sekolah yang favorit juga sih, tapi tetep aja itu termasuk di bawah standar awalku.
Toh, akhirnya keluargaku nggak mindahin aku segala macem. Mereka kecewa sama aku, sama kayak aku kecewa sama my bad luck. But, that's all. It doesn't mean they would do anything to get me in to those schools. Kalo emang itu jalannya, kenapa kita harus "mangkir"? Dan akhirnya, aku ended up sayaaaaaang banget sama sekolahku di Jogja itu. Nggak ada lagi kata "di bawah standar". It has been my forever TOP class even until now :) shout out to my former school, the amazing SMPN 6 Yogyakarta! Kudos to you!
Soal high school pride, Mama termasuk di antara sekian dikitnya jumlah orang yang nggak terpengaruh sama itu sindrom. Mama orang asli sini. Tapi Mama nggak pernah berambisi buat masukkin aku ke sekolah yang sekarang, like what everyone does. Mama nggak pernah nyuruh aku buat masuk ke sekolah tertentu. Justru Mama termasuk orang yang aneh. Mama pernah bilang ke aku :
"Selama di Samarinda, menurut Mama semua sekolah itu sama. Mama nggak perlu ngeforsir kamu untuk sekolah dimana pun, karena ini Samarinda."
Aneh kan? Padahal orang lain sibuk nyuruh anaknya masuk sekolah A, sekolah B, sekolah C. Ada juga yang masih nyuruh anaknya ikut les privat ini-itu, padahal semua ujian sekolah udah kelar dan mereka ngelakuin hal itu demi anaknya bisa lulus ujian masuk sekolah (dan ternyata tahun ini PSB di Samarinda mulai pake NEM! Kasian temenku D:). Tapi Mama beda. Padahal Mama orang sini, orang yang harusnya udah punya ambisi itu mendarah-daging :p
Jadi, intinya........... high school pride itu adalah hal yang sangat BESAR dan LUMRAH di Samarinda. Kota lain juga pasti punya high school pride. Tapi menurutku, high school pride levelan di sini bener-bener undeniable, incredible, a creepy one. Karena derajat orang aja bisa dibedain dari "asal sekolah".
Dan semoga, aku ga akan pernah kena sindrom ini sampe tingkat akut. Apalagi kalo sampe nyela orang dari sekolah lain. Amin. Because we would never know. "Influence nya lingkungan" itu lebih dari sekedar kata ataupun kalimat.
By the way, happy late birthday to myself! :D Dan alhamdullilah karena so far, semuanya berjalan sangat lancar. Semoga ke depannya pun begitu, amin! Semoga my upcoming high school years are gonna be a fun ones!
Terima kasih banyak buat SMPN 1 Samarinda dan SMPN 6 Yogyakarta yang udah ngajarin aku banyak hal; terutama fakta bahwa teenage life itu nggak sesimpel kedengerannya. Terima kasih buat bapak-ibu guru untuk tiga tahunnya yang berharga. Nggak ada ilmu yang nggak berguna, betul begitu kan, Pak, Bu? :) Dan terima kasih juga buat temen-temenku semuanyaaaaa, mulai dari my amazing friends waktu kelas 7 di Jogja, sampe my wonderful, gokil, awesome friends dari kelas 8 sampe kelas 9 di Samarinda. Cuma Spansa yang bisa nyewa dan nguasain satu ASTON plus ngundang SM*SH buat perpisahan sekolah yang berkedok prom night, kan? ;D
I love, love, LOVEEEE you guys!! =D
Love, LadyLo.
Label: About me, Daily story, Experience, Friends, Just babbling, Life, Renungan, School
bitter love
Bitter love. Ini bener-bener title yang sangat klise dan berbau galau khas ababil jaman sekarang. Maafin aku ya, Octopuses. Ini namanya aku lagi running out of title, hiks. Tapi bukan berarti title entry ini irrelevant sama isi nya kok. Justru aku pilih kata "bitter" karena... memang entry ini bakal berbicara tentang hal yang paling naif--dan paling diagungkan--di dunia;
Cinta.
Sebelum ngebahas lebih lanjut, aku mau meluruskan kenapa aku menganggap "cinta" sebagai hal yang paling "naif" di dunia. Well, simply just because cinta memang naif. Dan membuat orang-orang menjadi naif karenanya. Banyak orang yang percaya bahwa "love would be last forever". Dan biasanya mereka yang beranggapan seperti ini adalah remaja belasan tahun. Remaja yang sebaya sama aku.
Setiap kali ada yang menggunakan kata "forever" dalam satu kalimat yang ada kata "love" nya, aku rasanya pengen banget ngasih tau sama mereka kalo "there is NO forever". Ya memang bener kan? Nggak ada yang namanya "selamanya". Nggak usah ngambil contoh yang rumit semacam, "kita hidup cuma sementara alias nggak selamanya, kan?" deh. Cukup ambil sampel yang simpel-simpel aja (hey, it rhymes!). Makanan, pasti akhirannya bakal membusuk kan? Atau, anggaplah kita lagi ngumpul-ngumpul sama temen-temen segeng. Nggak mungkin kan kita bakal selamanya ngumpul bareng? Pasti bakal ada saatnya kita memisahkan diri. Itu pasti. Because it's fated already.
Jadi, intinya, love isn't about being forever. Cinta itu semacam game. Nggak ada kata selamanya. Yang ada cuma permainan seberapa lama kita bisa mempertahankan cinta itu sendiri. That's it. Ibarat kita lagi ikutan kompetisi game yang bernama "cinta", pemenangnya adalah orang yang lebih lama mempertahankan cinta itu. Gitu. Bahasa gampangnya; lama-lamaan cinta-cintaan. In case you couldn't get what I mean.
I, myself, hate the word "love". Bukan, bukan berarti aku nggak bisa falling in love with someone. Tapi aku cuma nggak suka aja sama kata itu. Dan ini bukan disebabkan oleh alesan paling pasaran di dunia ini--patah hati--ya. There is something that happened to me and caused me to hate the word "love". Sesuatu yang mengajarkan aku kalo :
1. Cinta itu buta 2. Cinta itu sementara 3. Cinta itu naif
Cinta itu buta. Ya jelas, kan? Contoh gampangnya, kamu bisa maki-maki orang tua kamu disaat kamu nyaris punya pacar sementara orang tua kamu ngelarang kamu pacaran. Itu contoh yang paling nyata di teen world, no?
Cinta itu sementara. Udah kujabarin dengan jelas di atas.
Cinta itu naif. Udah kujelasin juga di atas, kan? Well, sebenernya bukan pure 100% "cinta" nya yang naif, sih. Sebenernya cinta itu, bisa dibilang, kejam. Dan sangat "real". Cinta itu ajaib, memang. Hari ini kamu bisa diagung-agungkan sama seorang cowok, besoknya kamu bisa dibuang sama mereka. Kenapa? Simpel. Alasan yang paling pasaran buat kasus ini adalah :
"Aku udah nggak cinta lagi sama kamu."
Atau dalam bahasa gampangnya, "cintaku udah lari dan kabur ke cewek lain". Gitu.
Jadi...?
Jadi, yang membuat cinta itu terkesan naif adalah mereka sendiri, yang sedang hanyut dalam cinta. Aku masih belom terlalu ngerti gimana prosedur jalannya percintaan dalam dunia orang dewasa ya, karena aku sendiri belom merasa dewasa. Aku berpikiran simpel, kok. Aku cukup mengambil bahan observasi dari kasus-kasus yang ada di sekelilingku.
Kebanyakan remaja menganggap love is all about lovey-dovey things, while it isn't. Mereka nganggep kalo cinta itu cukup dengan bilang "I love you", gandengan tangan, grepe sana grepe sini, and all. Padahal cinta itu rumit. Cinta itu butuh komitmen, butuh tanggung jawab. Mereka belom punya itu semua, tapi mereka udah berani berkoar-koar "aku cinta sama dia" dan lain sebagainya.
Mereka juga mikir love is all about being happy. Salah sedikit, marah. Salah sedikit, ngambek. Berantem dikit, bilangnya "kamu udah nggak sayang lagi sama aku!" dan lain sebagainya. Ya itulah cinta. Cinta cuma salah satu part penting dalam kehidupan. Dalam dunia. Dunia berputar, cinta juga. Hari ini kamu seneng di dunia, besoknya kamu sedih. Cinta juga begitu. Hari ini kamu merasa cintaaaa banget, besok kamu merasa kadar cintamu berkurang drastis. Ya gitu deh. Intinya, semua yang ada di dunia ini..... adalah "roda". Roda yang terus berputar. Wujudnya memang nggak bulet sempurna kayak roda. Wujudnya memang nggak berporos semacam roda. Tapi ya itu tadi. Semua yang ada di dunia ini punya hukum yang sama seperti roda.
Berputar. Dan kita nggak akan pernah bisa menghentikan perputarannya. Kita cuma bisa jadi penonton. Diam dan menikmati. Kita cuma bisa jadi pemain. Mengikuti apa yang ada di naskah--yang disebut takdir--dan memerankannya dengan sempurna. Kita cuma bisa jadi figuran. Karena pemeran utama nya adalah dunia sendiri. Makanya, ada yang bilang kalo dunia itu "panggung sandiwara". Memang begitulah adanya.
Jadi, ya gitu deh. Kebanyakan orang seumuranku cuma mikir cinta itu isinya happy-happy. Gampangannya, mereka nganggep HAPPY itu pemeran utama dalam sebuah drama yang judulnya "CINTA". Kata-kata semacam "cobaan", "kesedihan", "pengkhianatan", dan lain sebagainya cuma jadi FIGURAN. Mereka salah. Justru yang jadi figuran dalam CINTA itu adalah HAPPY sendiri. Makanya mereka jadi begitu panik ketika mereka masuk dalam fase sulit, fase-fase yang memaksa mereka untuk mendewasakan diri.
Sebelumnya aku minta maaf ya atas pandanganku tentang cinta yang terlalu keras. Tapi memang begitu lah adanya. Life told me so. I've learned about these things from my life experience.
Conclusion? Orang-orang yang lagi dilamun cinta kebanyakan naif. Dan cinta jadi naif karena orang-orang tersebut. Enough said.
....oke. Aku ngerti, penjelasanku yang panjang lebar di atas sama sekali nggak memberi pencerahan maupun jawaban yang tepat dan memuaskan. I'm so sorry. But I've tried my best to tell you about my absurd, odd thoughts. Pokoknya intinya... gitulah. Ada hal-hal yang nggak bisa dijelaskan ke orang lain dengan sempurna. Dan buatku, inilah hal itu.
Alright. Sebelum aku makin off-topic, mari kita bahas inti dari entry kali ini. Kenapa aku sebut bitter love?
Simply just because I considered this kind of love as a bitter love. This kind = the awkward moment when you are falling in love with someone who doesn't even know that you are exist in this world.
So, who the heck is the guy that caused me a BIG problem like this?
It's him.
I know that this photo was taken 2 years ago. Whatever because he looked gorgeous here
His name is Kwon Jiyong. AKA GD, or G-Dragon to be exact (I hate this stage name anyway, I prefer to call him as "GD" than "G-Dragon"). Dia leader Bigbang. Yes, he is Korean. And YES, he is an idol. And of course he doesn't know that there is Winona Anindyasarathi Soedhowo in this world. Poor me, aite?
Kenapa aku suka sama dia?
Because he is amazing. He is still young. Dia good-looking. Tall enough for me. Dia fashionable. Dia smart. Dia creative. Tekun, ulet, bertanggung jawab, profesional, dan banyak hal lainnya yang selalu mencegah aku untuk berhenti belajar lebih banyak lagi dari dia.
Okay, he might be sooo rebel. Asumsiku, gaya hidupnya sangat bebas. Party everyday. Minum. Hangover pastinya. Make. Main cewek. One-night stand udah termasuk dalam kategori main cewek ya. Tapi hebatnya, dia tetep bisa jadi orang HEBAT disaat dia sangat rebel.
You know, sometimes people wouldn't even care about your sins when you are being so awesome. I told you already, right? Poin nomor satu : cinta itu buta.
Everything about him is amazing. Oke, kecuali masalah wajah, itu tolong dikecualikan ya. Menurutku dia bukan tipe orang yang bisa dikyaaaa-in dari segi fisik. Tapi ya, gitu deh. Dalam kasus kebanyakan, biasanya yang terjadi adalah kasus "talenta berbanding terbalik dengan penampilan". Bedanya, GD ini masih bisa jadi eyecandy becuase he is kinda good-looking (just like what I said).
Jujur, sebenernya aku bingung nyari alesan lagi untuk menjelaskan kenapa aku bisa suka sama dia. Bukan, bukan karena aku cuma suka sama dia dengan cara yang klise--karena dia cakep dsb--atau karena aku nggak punya alesan lain untuk suka sama dia. Justru karena terlalu banyak alesan yang aku punya, aku jadi bingung gimana cara ngejabarinnya. Sama kayak gimana aku bingung buat ngejelasin kenapa aku bisa nganggep "cinta itu naif", kayak di atas.
Awalnya memang cuma sekedar rasa kagum. Tapi tau sendiri kan, cinta bisa timbul darimana aja? (Ini salah satu kalimat paling iklan yang pernah aku tulis di blog ini. And I feel so..... gross to mention those words in this blog)
So, yeah......... I'm falling in love with this guy. Bitter love is bitter.
But no, I'm not that delusional. Okay, I might be DELUSIONAL but I'm not that creepy, okay? Mari berbicara tentang fakta. Dan logika. Aku di Indonesia, dia di South Korean. Aku cuma anak tunggal and another student in this world, dan dia idola. Nona Soedhowo x Kwon Jiyong will never happen unless it's fated already and I doubt that God would give that kind of fate to me.
Jadi...? Jadi, aku ga bakal berkhayal lebih lanjut kalo dikemudian hari aku bakal jadi Nona Kwon or else (sebenernya aku bahkan nggak bisa ngebayangin hal ini, sih). Aku cuma berharap, aku bisa dapet suami... atau seenggaknya "pacar" yang kayak dia.
Taller than me, itu pasti. Smart. Creative. Bertanggung jawab. Punya komitmen dan berpegang teguh pada prinsip. Ga klemak-klemek. Easy-going. Fun. Ulet, tekun, ga mudah putus asa, berani mencoba. Agak-sedikit-perfeksionis, boleh lah. Good-looking itu juga harus. I'm not asking for the handsome ones. But he has to be good-looking. Let's talk about reality, sekarang udah bukan jamannya "look doesn't matter", kan? Just admit it. Everyone wants a good-looking girlfriend/boyfriend.
Jadi, dengan bangga saya mendeklarasikan ideal guy saya adalah......... GD! With the less rebel-ness, please. Karena aku gampang kebawa arus. Jadi punya cowok dengan tingkat kerebelan sama kayak GD is a big no.
Mungkin beberapa dari kalian mikir, "ah cuma gitu doang masa iya sih nganggep udah falling in love?". Tapi menurutku, itu lah yang terjadi. Well, semacam itu lah. Karena kadang, ngeliat video nya... ngeliat fotonya.... ngedengerin lagu-lagunya....
He makes my heart flutter.
Hiks, I'm being these pity fangirls with their bitter love. Menyedihkan, memang. Tapi aku nggak menyesal. GD, walaupun dia sangat nakal, udah ngajarin banyak hal ke aku. Termasuk poin bahwa hidup itu bukan sekedar "lalala land". Hidup itu keras. Tapi untuk menghadapi kerasnya hidup, kita hanya bisa bertahan sekuat tenaga. Kompetisi atau persaingan, itu semua cuma hiasan belaka dalam hal yang namanya "kehidupan". Hiasan yang nggak lain adalah salah satu komponen utama. Dan mau nggak mau, kita harus menghadapi hiasan hidup yang satu ini.
Kadang, kalo aku sedih, dengan mengingat perjuangan GD dan role modelsku yang lainnya (Kahi, Park Bom, Tiffany), aku jadi semangat. Kalo putus asa, cuma dengan mengingat mereka pernah melalui fase yang sama dengan apa yang lagi aku alamin, aku jadi punya kekuatan lagi buat menghadapi semua masalah yang ada. Berkat mereka, aku bisa mengatakan hal ini sama diriku sendiri :
"Kamu ada di tahap yang benar, Non. Kamu cuma harus berusaha melewati fase ini, dan tadaaah. Saat kamu sadar, kamu akan ada di tahap yang sama dengan mereka. Sukses. Berhasil."
Ini namanya agak off-topic. Jadi lebih baik obrolan soal GD, Kahi, Park Bom, dan Tiffany being my role models sebaiknya disimpan untuk next entry, gimana? ;)
Jadi, intinya, I'm falling in love with GD and want to have a hubby/bf like him. Ngomong-ngomong soal hubby, I gotta feeling that my hubby will be older than me deh. Beda umurku sama GD bahkan sekitar 7 tahunan. Whatever sih, yang penting masih bisa klik dan nyambung ke aku. Karena aku sendiri nggak bisa ngobrol dengan leluasa and being myself dengan anak-anak cowok seumuranku (just like what my parents said; jalan pikirku udah kejauhan).
Yang penting jangan sama anak-anak semacam member-member SHINee. Sama sekali nggak bikin aku nafsu (sorry, Shawols). They are talented but they aren't my type.
So, yeah.... I prefer Kwon Jiyong over Justin Bieber, is that weird?
Whatever, let's enjoy this bitter love! :D
Love, LadyLo
Label: About me, Celebrity, Daily story, Just babbling, Kpop, Life, Love, Opinion, Postingan sampah, Renungan, Sad
parents, family, and the sims
Orang tua adalah harga yang tak dapat ditawar, harta yang tak tertukar.
Kenapa tiba-tiba aku ngomong ginian? Well, simply just because I saw many tweets in my timeline. Isi tweetsnya? Beberapa orang temenku yang mengutuk orang tua mereka sendiri. Oke, mengutuk sounds a lil bit scary--walaupun kenyataannya emang ngeri. Lebih tepatnya, mereka memaki orang tua mereka sendiri.
Bukan memaki dengan kata-kata, "Orang tua gue ngeselin banget! Kerjaannya ngatur mulu!" ya. Tapi memaki dalam contoh... "Bokap nyokap gue jancok banget! Bangsat!" dan lain sebagainya yang bisa kalian bayangin sendiri.
Memang, bisa dibilang aku nggak ngerti permasalahan apa yang mereka hadapin; apa yang orang tua mereka lakuin ke mereka, apa yang mereka rasain, apa yang terjadi, dan lain sebagainya. Aku bukannya ikut campur--you could call me like that kalo sampe aku ngemention si pembuat-harsh-tweet-ini dan nasihatin dia ini-itu sementara aku sendiri nggak tau masalahnya apa. Mari kita sebut aku lagi.... ngasih komentar. Dari kacamata penonton.
Sebenernya sayang banget, mereka-mereka (yang ngebuat harsh tweets ini) sampe ngucapin hal sedemikian rupa. Walaupun kasar, mungkin kata-kata semacam "orang tuaku rese banget!" atau "asli kesel banget diceramahin ini-itu mulu!" mungkin lebih ditolerir daripada kata-kata semengerikan itu. Karena... gimana pun juga... mereka itu orang tua kita.
Call me naive. Dan mungkin kata-kata ini udah klise. Banget. Tapi itulah kenyataan. Ada hal-hal yang nggak bisa kita pertanyakan di dunia ini. Ada hal-hal yang memang nggak logis di dunia ini. Ada hal-hal yang nggak bisa kita tentang di dunia ini. Memang begitulah kodratnya. Seorang anak, sampai kapan pun juga, nggak akan pernah bisa memiliki derajat di atas orang tuanya. Which means, sampai kiamat pun, kita nggak akan pernah bisa memiliki alasan yang cukup untuk membuat kita diizinkan memaki orang tua kita.
Sekilas memang rasanya nggak adil. Disaat orang tua kita, mungkin, bisa memaki kita. Disaat orang tua kita, mungkin, sangat menyakiti hati kita. Tapi itulah dunia, kan? Apa yang bisa kita lakukan sebagai seorang anak hanya menerima, nggak lebih. Itulah hak seorang anak. Menerima.
Protes, oke lah. Kritik, boleh lah. Tapi memaki? Apalagi sampe mengeluarkan kata-kata semacam "jancok", "anjing", "bangsat", dan lain sebagainya ke orang tua kita sendiri?
Jangan lupa, kita bukannya sedang berbicara dengan teman kita, loh.
Orang-orang banyak lupa. Katanya, kita nggak boleh terlalu sering membandingkan diri kita dengan orang lain. Tapi bukannya berarti membandingkan diri dengan orang lain itu selalu membawa kejelekan, kan?
In this case... mari bandingkan diri sendiri dengan orang-orang yang nggak bisa tinggal bareng kedua orang tuanya. Atau nggak bisa tinggal dengan keluarga lengkapnya. Those people--who cursed on their parents--live with their parents. Their family. Padahal ada banyak orang-orang di luar sana, yang berharap mati-matian bisa tinggal dengan orang tuanya. Lengkap. Ada orang-orang yang berharap keluarga mereka nggak tercerai-berai. Ada orang-orang yang berharap bisa memutar ulang waktu cuma biar bisa kumpul sama kedua orang tuanya.
Like me.
Aku lagi berada dalam kondisi semacam ini; kondisi dimana kamu bener-bener ngerasa shock. Ibarat abis ngelaluin satu perjalanan, kamu lagi jetlag. Bingung dengan keadaan yang sedang kamu alami. Saking drastisnya perubahan yang kamu miliki, kamu jadi blank. Dan klimaksnya adalah ketika kamu bertanya:
Apakah benar, kalo aku pernah hidup dimasa lalu? Kok, rasanya aku cuma hidup dimasa ini? Kok, rasanya aku baru ngerasa hidup sekarang? Dimana kenangan-kenangan yang dulu aku alamin? Apakah benar semua kenangan itu pernah aku alamin?
That's it.
To be honest, I miss my dad so much. Aku kangen saat-saat aku, Mama, dan Papa ngumpul bareng. Saat-saat kami kumpul di depan tv dan makan malam bareng. I didn't mind about the menu. Mau itu pizza yang kami take-away, atau ikan bandeng presto yang Mama beli di warung, I didn't even care about it. Yang aku peduliin adalah detik-detik dimana kami ngumpul bareng. Saat-saat dimana kami ngobrol di depan tv, ngebahas semua hal yang ada. Mulai dari yang penting, sampe yang nggak worth it buat dibicarain sekalipun. I miss those moments.
Aku bahkan kangen dimarahin papaku. Saat-saat dimana aku dapet nilai-nilai jelek dan Papa marahin aku. Dan pasti Mama ngebelain aku. Saat-saat dimana aku dituntut untuk dapet banyak nilai 9. I didn't mind about that. Karena dulu--dan sekarang pun--aku hidup untuk orang tuaku. Kupikir, kalo nilaiku bagus, orang tuaku bakal bahagia. Bakal bangga sama aku. Makanya aku berusaha keras biar bisa mencapai itu semua.
Soalnya, salah satu impianku itu bisa bikin orang tuaku bahagia dan bangga sama aku. Sehingga mereka bisa ngomong ke semua orang, "Ini loh Nona, anakku."
Mungkin kamu pikir ini impian klise banget lah, bullshit lah, sok anak baiklah, or whatever it is. Tapi itulah kenyataan. I hate being naive. Atau klise. Tapi terkadang memang ada saatnya dimana kita jadi naif dan klise. Inilah saat yang tepat buatku.
Intinya, aku kangen semua saat-saat yang pernah kulaluin itu. Setiap detail terkecilnya. Setiap detiknya. Aku kangen semua itu. Dan jujur, aku ngiri sama mereka semua yang bisa ngedapetin apa yang aku paling pengenin saat ini. Tapi mereka malah nyia-nyiain semua itu. Bahkan, mereka ngebuang jauh-jauh kesempatan itu.
Dalam artian, mencaci maki orang tua mereka.
Orang tua yang ada di sana untuk mereka.
Jadi... buat kalian semua yang ngebaca ini... terutama bagi yang kesel banget sama orang tua masing-masing. Bersyukurlah. Seenggaknya kalian masih bisa ngumpul, lengkap, komplit bareng kedua orang tua kalian. Ada orang-orang di luar sana yang pengen ngumpul sama orang tuanya tapi nggak bisa atau susah. Ada orang-orang yang ngiri sama kalian.
Inget, hidup ini nggak semudah game. Nggak segampang The Sims. Oke, sebenernya The Sims itu sulit dan rumit sih. Sims-ku pernah selingkuh sama suami orang dan dia udah punya anak, mendadak dia dan keluarganya jatuh miskin and all. Tapi, kalo main The Sims, kita masih bisa melarikan diri dari kenyataan dan masalah yang ada. Kita bisa tinggal mainin family yang lain, atau ngedelete family yang bermasalah itu.
Tapi kehidupan nyata berbeda. Kita nggak bisa lari. Kita cuma bisa menghadapi dan menyelesaikan masalah yang ada. Dan mencaci-maki itu termasuk upaya melarikan diri.
Hidup jauh lebih sulit dan rumit daripada The Sims.
Dan aku bukannya ngomong tanpa pengalaman.
Jadi, mari kita bersama-sama menghadapi dunia ini... menjalani hidup, menghadapi, dan menyelesaikan masalah yang ada. Karena hidup dan masalah itu selalu berdampingan. Yang menentukan adalah diri kita sendiri; bisa, atau nggak. Kuat, atau lemah. That's it :)
Mulai sekarang, ayo kita berjuang bareng! And happy new year 2011 too! Fighting! :D
Love, LadyLo
Label: About me, Daily story, Experience, Family, Just babbling, Life, Love, Nostalgia, Opinion, Problem, Renungan
princess
Sang putri melangkahkan kakinya, beradu dengan lantai yang memantulkan cahaya lampu-lampu besar yang menggantung dari langit-langit ruangan. Sang putri berwajah sendu, namun kecantikannya tak pernah pudar. Rambut hitamnya panjang dan lurus, dengan ujung yang dibuat berputar seperti spiral. Setiap sentinya begitu diperhitungkan oleh sang penata rambut. Bulu matanya lentik, hidungnya mancung, kedua bola matanya bulat sempurna, dan bibirnya yang tipis merona merah. Wajahnya yang tirus membuatnya terlihat semakin sempurna.
Kini sang putri sedang berdiri ditengah kerinduannya. Wajahnya menyembul dari balik teralis, berusaha melihat keadaan luar melalui jendela besar yang ada di hadapannya. Orang yang dia tunggu tidak kunjung datang. Dan sang putri pun menyadari arti dari semua ini.
Sang putri sendiri.
Dan tidak akan pernah ada yang menemani.
Love, LadyLo
Label: About me, Bloglit, Cerpen, Daily story, Experience, Just babbling, Life, My Creations, Renungan
when the school makes me frustated
Do I hate school?
Nah-nah, I don't. Yah, bukan berarti aku tipikal nerd yang hobi banget dateng ke sekolah sih. Nggak. Aku masih normal kok. I hate homeworks, exams, and scary teachers. Aku juga punya banyak antis di sekolah, dan hal itu jelas bikin aku cukup males buat masuk sekolah. Tapi aku punya temen dan hal-hal asyik yang kudu diselesaiin di sekolah. Makanya aku masih ada sedikit "rasa" sama sekolah. LOL.
Terus kenapa sekolah berhasil bikin aku kelimpungan dan galau selama sebulan terakhir ini? Well, I'm worried. Karena aku udah kelas 9--which means I'm officially a senior in my school now--dan bakal menempuh ujian dalam waktu kurang dari 8 bulan, aku khawatir. Bener-bener khawatir.
Karena aku tipe orang yang mencintai nilai tinggi, atau hasil bagus dengan nilai membanggakan, atau hasil menyenangkan dengan ranking bagus, atau hasil bagus, nilai bagus, ranking bagus, whatever you called it, aku khawatir.
Sangat khawatir.
Jujur aja aku jadi pesimis tingkat tinggi setelah tahu NEM terendah di Padmanaba--SMAN 3 Yogyakarta--yang nggak lain nggak bukan adalah sekolah incaranku in case aku masih sekolah di Yogyakarta adalah, ugh, 37 koma sekian.....
Aku khawatir.
Apakah aku bisa ngedapetin NEM minimal 37,50 walaupun aku sekolah di Samarinda? Apakah aku bisa tetep mempertahankan NEM-ku dulu, walaupun aku udah nggak di Yogyakarta? Apakah aku bisa mendapatkan pendidikan yang terbaik di sini? Apakah aku bisa menyamai nilai temen-temen di Yogya? Apakah aku BISA?
Dan berbagai pertanyaan galau khas anak labil lainnya.
Oke, orang-orang bisa mengeluarkan saran-saran yang cocok masuk di buku pelajaran Bahasa Indonesia, such as "Dimana pun kamu bersekolah, asalkan kamu rajin, kamu pasti bisa!" atau "Yang penting kamu berusaha, tinggal berserah diri aja!". Kembali ke realita, faktanya adalah, tempat--lokasi, lingkungan, dan suasana sekitar kita sangat berpengaruh dalam menghadapi ujian.
Admit it, deh! Mau bukti? Bukannnya aku ngeremehin daerah luar Yogyakarta, Jawa, atau manapun juga loh ya. Tapi kenyataannya, berdasarkan pengalamanku nanya sama orang-orang, perbedaan NEM murid-murid di sana dan di sini memang jauh sekali.
Sekali lagi, bukannya aku ngeremehin. Bold those words.
Dan inilah aku. Remaja berumur 14 tahun yang lagi galau dan berada di puncak kelabilannya. Aku bener-bener berharap bisa dapet NEM minimal 37,50 walaupun aku sekolah di sini. Aku bakal berusaha dengan keras, walaupun harus ngulang kejadian kurang-lebih 2 tahun yang lalu (ikut kelas remidial waktu liburan semester, nangis-nangis karena harus belajar keras tiap hari, putus asa karena jadwal belajar yang mengikat, stres tingkat tinggi, gugup, dsb). Mungkin agak impossible, sih. Tapi dulu aku berhasil ngedapetin NEM yang, yah, pasaran sih di Yogya. Cukup susah nyari sekolah. Tapi aku berhasil ngedapetinnya walaupun aku sekolah di desa yang terpelosok. Sekarang, kenapa aku nggak bisa?
Aku masih seorang Nona Soedhowo, kok. Orang yang sama dengan anak kecil diwaktu 2 tahun yang lalu. Kenapa aku nggak bisa? Aku pasti bisa. Aku harus bisa.
Oke, please abaikan 2 paragraf di atas. Aku lagi nyoba menghibur diri sendiri waktu nulis dua paragraf tersebut. Faktanya adalah :
AKU GUGUP! AKU TAKUT!
Jadi gimana dong nih, Octopuses?? Got some advices for me? Bisa membesarkan hatiku? Pleaseeeeeeee, I really need your support right now! I beg you :(
I should stop writing this post. Kelabilan lebih mendominasi entry ini daripada keresahanku. Sekali lagi, tolong bantuin aku ya, Octopuses :'(
Love, LadyLo
Label: About me, Daily story, Experience, Just babbling, Life, Nostalgia, Obsessions, Problem, School
what should I write?
What should I write?
Pertanyaan yang absurd memang--dan juga retoris, menurutku--dan jarang ditanyakan oleh seorang Nona, haha. Well, jujur aja aku lagi bingung to the max harus nulis apa. Udah lama nggak blogging, dan aku ngerasa lagi ga ada bahan yang cocok untuk dipost di sini. Bukan berarti aku ga suka blogging lagi, atau udah ga punya passion buat nulis ya. Justru karena suka itu lah, aku jadi bingung.
Oke, aku jadi bingung sendiri sama tulisanku di atas.
Anyway, how was your score, Octopuses? Mine was... hmmm... lumayanlah, haha. Ranking juga Alhamdullilah lumayan juga. Dan sekarang, aku lagi terjebak dalam liburan yang Oh-My-God-it-is-so-boring. Seandainya aku besi, mungkin aku udah karatan saking bosennya. Hiperbol abis ya? Hehehe. Tapi serius loh, liburan kali ini bener-bener membosankaaaan! Ga ada tuh yang namanya pergi ke luar kota segala macem. I envy you, Octopuses yang sibuk hilir-mudik ke sana-ke sini.
Jadi, apa kesibukanku selama liburan ini? Ga jauh-jauh dari kata tidur, ngenet, dan makan. Kayaknya, begitu liburan selesai, berat badanku bakal nambah nih. Duh, God, I should take a diet!
Well, untuk membebaskan diri dari kebosanan yang mengenaskan, aku ngabisin hari-hariku di kamar, nerusin fanfic-fanfic yang semakin menggunung dari hari kehari. Apa aja fanficnya? In case you want to see the list, here it is :
- Love Constellation : fanfic kolaborasi bareng Aldi Oppa. Tokoh utamanya, SNSD's Im Yoona dan Jang Dae Jung (OC).
- Leaving The Sunshine : fanfic buat hadiah ulang tahunnya Giri yang, yah, udah lewat lama banget hehehe. Salahkan moodku yang selalu naik-turun, jadi jarang nerusin oneshot ini (alamat orang nggak mau disalahin). Tokoh utamanya SNSD's Im Yoona (lagi) dan 2PM's Ok Taecyeon.
- Untitled Project : fanfic rahasia, hahahahaha. Kenapa aku berani ngumumin soal fanfic ini di sini? Well, pengen aja hahahaha (ga jelas abis). Aku ngasih sebutan "Twins' Project" ke fanfic ini. Kenapa? Jawabannya akan anda ketahui setelah anda membacanya... LOL. Tokoh utamanya SNSD's Kwon Yuri dan 2PM's Nickhun. Dan ada juga guest star tersayang kita, Victoria Song dan Son Dam Bi! Yay!
Cuma 3 fanfic, emang. Tapi proses nulisnya itu lamaaaaaa dan sulit banget! Mana lagi moodku buat nulis naik-turun mulu. Duh! Wish me luck ya, biar bisa nyelesein 3 fanfic di atas dengan cepat! ;D
Ngomong-ngomong, aku juga lagi mengalami pergolakan mood buat masuk sekolah nih. Sebenernya aku ada rasa semangat buat masuk sekolah, dan perasaan ini cukup mendominasi. Cuma, kalo ngebayangin hari-hariku nanti... tiap hari harus pulang sore, belom lagi langsung cabut ke bimbel, terus di rumah belajar lagi. Duh, aku udah kelas 9 ya? Ga kerasa banget! Belom lagi nanti, pas udah semester baru, aku pasti bakal kangen hari-hari kayak gini... hari-hari yang santai dan penuh kedamaian (LOL). Oke deh, aku emang harus nikmatin dan mengenang dulu hari-hari males kayak gini, huhu.
Oh iya, poster dari Jakarta yang dikirim Kak Dhira udah nyampe di rumahku. Rasanya sayaaaaang banget mau nempelin di sekolah. Abisnya gimana dong? Hadiahnya MacBook Pro sama iPod Touch, men!! Siapa yang nggak ngiler, gitu loh??
Wuah, pada bertanya-tanya deh itu poster apaan, begitu ngebaca kata MacBook dan iPod Touch? Hehehehe. Hitung-hitung menambah pahala (apa banget deh), saya bakal berbaik hati ngasih tau kalian soal lomba ini.
Basically, lomba ini adalah lomba menulis. Honestly aku ga tau apa visi dan landasan dari kompetisi ini sih, karena aku bukan panitianya. Yang pasti, aku cuma tau kalo kamu bisa dapetin 1 MacBook Pro dan 2 iPod Touch (bagi 3 pemenang yang dipilih oleh para editor) dan 7 handphone + prepaid internet packages, kalo eBook buatan kamu termasuk dalam 10 eBook terfavorit! Yay! Mau kan? Pengen dong?
Jadi, buat kamu semua yang suka menulis dan hobi bikin eBook, tunggu apa lagi? Segera sign up di www.evolitera.co.id dan publish eBook kamu di sana sekarang juga! C'mon, Octopuses! Let's show off our power to the people! Hehehe, maap saya jadi bersemangat sekali :D
Aku ga tau banyak soal persyaratannya, tapi memang di posternya ada ditulis beberapa langkah yang harus dilakukan untuk mengikuti kompetisi ini. Tertarik? Leave me a response on the chatbox yang tersedia di page "MISC". Aku ga nunggu ada 5 respons atau berapapun itu. Asal ada satu orang dari kalian yang tertarik, aku berkenan nulis ulang step-step yang ada di poster tersebut, bahkan mungkin sama foto posternya sekalian. Ini kalo kalian pengen liat dan tau apa yang ada di poster yang aku dapetin, loh, ya :) Soalnya kan percuma aku motret sama nulis ulang di sini kalo ternyata ga ada yang berminat, hehe. Jadi...........
GO GO, LEAVE ME A RESPONSE! :D
Love, LadyLo
Label: About me, Announcement, Daily story, Experience, Fun, Info, Interests, Just babbling, Life, Updaties
Older Post
the lady

Nona Soedhowo. 17. Indonesian. A pudding enthusiast by day, a space wanderer by night. A cynic, and yet can't stop believing in Peter Pan and the Neverland. Currently finding for her own way to The Hodge 301 Cluster - her very own pink cluster.
cool people

Ale | Cho | Nabila | Ninda |
Puti | Rania | Ratna | Sindy | Tan
octopuses united

designer
Templates: Hafni
Base Code: Caca
Editor: Nona Soedhowo
hidup di mimpi, bukan hujan
Haloooo semua!! :D Rasanya udah lama banget nggak nulis di
sini, jadi sedih... padahal dulu jauh lebih rajin dan nyaris nulis setiap hari,
iya nggak sih? How are you, Octopuses? Things are eventually getting better
here. Much, much better.
Belakangan ini... rasanya kayak aku lagi hidup di mimpi.
Yang aku inget adalah momen-momen pas SMA dulu, selalu nempel
sama Nabila Ale Intan; kapanpun dimana pun. Entar sibuk ngerecokin bekalnya
Ale, terus diomelin Alief dan diketawain Raja sama Arif. Abis itu main ke IPA
3, datengin Ina-Nia-Catra-Dika atau siapapun yang bisa didatengin, just
because. Terus lanjut mlipir ke IPA 2, gangguin hidupnya Intan yang nggak tau
kenapa seringnya di kelas karena adaaaaaa aja yang kudu dia urusin di dalem.
Terus entar di tengah perjalanan ketemu Panjiiii. Baru akhirnya ketemu Nabila
waktu udah bel istirahat atau pas jam pulang, dan endingnya lanjut jalan bareng
rame-rame entah kemana.
Kalo mau nginget-nginget lebih jauh lagi, berarti bakal ada
momen aku-Sindy-Panji bablas main bareng sampe pagi—makan nasi kuning jam 2
pagi terus lanjut mlipir ngelewatin Unmul yang SUMPAH serem banget pas jam
segitu?? Atau pas jaman-jaman sibuk muter otak ngeluarin tenaga bikin short
movie bareng The Hippoes, yang lelahnya itu berkali-kali lipatnya bikin
Afternoon Tea. Terus, entar kalo udah malem diseret dateng ke birthday party
dan hebatnya mereka selalu berhasil bikin aku berangkat... padahal aku mager
abis, apalagi kalo lagi banyak download-an di waiting list dan wi-fi rumah lagi
kenceng. Oh, dan ada juga masanya bikin garage sale barang-barang Nabila di
pinggir jalan, yang endingnya jadi ga maksimal gara-gara aku bego banget
(hehehehe detail kejadiannya off the record ya :p) Setiap hari rasanya
selalu... apa ya? Rame? Lucu? Dinamis?
Tapi, sekarang kehidupan Nona udah nggak gitu lagi lagi.
I’ve been dreaming of going to UGM since I started remember
things, I think. Mulai dari jamannya masih rajin banget, jadi tengil, jadi
(terpaksa) rada rajin lagi... yang ada di otakku selalu sama; masuk Komunikasi
UGM, terus gedenya jadi newsanchor. Dan, percaya nggak percaya, sekarang aku
lagi ngejalanin yang pertama (yay! Alhamdulillah :D)
Prosesnya nggak gampang, jelas. Butuh rasa homesick yang
besar (super kangen sama Mama, Papa, dan Dara—my sis), air mata yang banyak,
keinginan buat nyerah-balik ke rumah-dan jadi bodo amat, rasa males banget
belajar tapi kudu dipaksain mempelajari materi, mental breakdown yang berujung
ke nyaris pingsan di rumah dan throwing a tantrum di jalan, belom lagi berbagai
macam jenis penyakit sering kambuh, setiap hari bangun dalam keadaan stres and
counting the remaining days...
Dan sekarang, setiap hari rasanya selalu ada satu hal baru
yang terjadi. Kalo dulu life lessons-nya nggak melulu langsung kentara,
sekarang semuanya jadi serba eksplisit. Dan, belajar hal baru itu selalu
menyenangkan. Belom lagi lingkungan baru yang isinya orang-orang yang selama
ini belom pernah kita tau, dan alhamdulillah mereka semua adalah orang-orang
yang menyenangkan dan unik . Like, I could already imagine living my university
life in the upcoming years all together with them :)
Rasanya kayak ajaib aja gitu, setiap kali nyadar kalo aku
lagi ngejalanin satu step kehidupan yang udah jauh berbeda dari apa yang aku
alamin sebelomnya. Buat semua yang kenal aku pasti bakal langsung tau, gimana
susahnya seorang Nona hidup sendiri... Nona yang nggak bisa apa-apa, yang
kerjaannya sakit, gampang ngerasa under-pressure, mikirnya kelamaan, sekarang
kudu survive seorang diri di sini. Tapi, setiap halangan yang terjadi di sini,
rasanya selalu menyenangkan. Mungkin karena emang ini kehidupan yang aku
pengenin—balik lagi ke Jogja setelah bertahun-tahun berjuang di Samarinda
supaya bisa balik ke kota kelahiran, dan akhirnya kejadian juga—jadi semua yang
terjadi di sini bisa aku terima. Like, aku jadi mikir; emang ini yang aku mau,
dan inilah konsekuensi yang harus aku hadapin. Dan aku ikhlas dalam menghadapi
semuanya.
Sekarang selalu ada kesempatan buat ketemu sama orang baru,
atau bahkan sekalian ketemu sama temen-temen lama dari jaman SD atau SMP yang
dulu, dan lama-lama mulai bisa nginget lagi hal-hal yang entah kenapa mendadak
hilang dari ingetanku begitu aku pindah ke Samarinda, and no matter how hard I
tried, those things wouldn’t come back into my brain and I ended up failing at
recognising things. Dan yang lebih ajaib lagi, jalanan yang dulu biasa aku
lewatin waktu kecil bareng orang tuaku, sekarang aku lewatin lagi sama
temen-temen SMA yang asalnya dari pulau yang lain dan kalo dipikir-pikir lagi
dulu, logikanya nggak mungkin pada bakal bisa lewat situ, bareng aku pula.
Jadi, tujuan dari aku nulis postingan ini adalah, aku pengen
buat semua temen-temen yang ngebaca tulisan ini dan merasa lagi ada di helpless
state untuk nggak berhenti berjuang dan terus percaya, things will eventually
get better. It will get better, at last. Aku dulu juga pernah mikir, that
things couldn’t get any worse than this, that I was stuck in an inevitable
rotten situation and I didn’t deserve any kind of kindness in this world. Tapi
toh, alhamdulillah aku tetep berhasil sampe di fase ini, still alive and
stuffs. Yang penting adalah selalu percaya bahwa Allah itu ada, Allah nggak
tidur dan selalu melindungi kita. Dan betapa mudahnya bagi Allah untuk
memutarbalikkan dunia kita. Mungkin belum sekarang, tapi nanti. Ada saatnya,
dan saat itu bakal tiba, selama kita mau tetap bersabar dan berjuang.
Dan, percaya deh, waktu saat itu tiba, kamu bakal bersyukuuuuuuuur
banget dan semua hal jadi terasa menyenangkan :)
Jadi, semangaaattttt dan jangan menyerah dulu, ya. Allah
sayang sama kamu, sama kita semua, dan Allah pasti selalu menyimpan kebaikan
untuk setiap makhluk-Nya. Kita semua bisa sampe di sini karena Allah, dan bukan
nggak mungkin bagi Allah untuk membawa kita ke tempat yang lebih, lebih baik
lagi. Setiap orang punya tempatnya sendiri kok di dunia ini ;)
Oh iya, dan buat beberapa temen yang in case lagi baca
postingan ini, aku bener-bener berterima kasih banget udah punya kalian dalam
hidup ini. Terima kasih sekali untuk Ale, Intan, Nabila, Alief, Raja, Arif yang
bikin masa SMA selalu jadi indah dikenang. Buat Ina, Kenken, dan Nia yang
sabarnya luar biasa dalam ngadepin Nona. Buat Cho sama Danang, yang nggak
pernah capek dan selalu ada buat Nona, nggak peduli seberapa besar jarak
misahin kita. Buat Puti, Balqiz, Nuri, Fifi, Adam, Zaki atas masa kecil yang
super bahagia. Buat Sindy, Panji, Amma, dan temen-temen OSIS lainnya atas waktu
yang bermanfaat dan pengalaman yang berharga banget. Buat semua temen-temen les
dan kegiatan selama ini yang nggak mungkin kusebutin satu-satu, terima kasih
banyak udah bikin kehidupan di luar sekolah jadi super menyenangkan dan selalu
ditunggu-tunggu! Terus buat semua temenku dari jaman kecil sampe sekarang, orang-orang
yang pernah aku temuin dalam hidup ini; setiap orang punya artinya
masing-masing di hati Nona dan kamu juga salah satunya. Terima kasih banyak
yaaaa! :D
Dan special thanks buat anak-anak YUHU; Intan Agil Catra Dika
Diko Haryo, terima kasih banyak karena udah selalu ada buat Nona di sini. Kalian
bikin tempat aku tumbuh besar, yang sesaat sempet kerasa asing ini, jadi jauh
terasa seperti rumah. Makasi banyak ya, walaupun aku sering dikerjain aku tetep
sayang kalian kok heheheheh.
Bismillah, insya Allah Nona siap ngejalanin hidup yang baru:)
Love,
LadyLo.
Label: About me, Daily story, Friends, Happy, Life, Renungan
encountering angsty feelings
"Cari orang yang bisa ngasih kamu segala-galanya, apapun itu, tanpa harus kamu minta."
"Tapi buat aku orang itu kamu, Rem. Beneran, you give me everything tanpa aku harus minta."
"...berarti kamu yang udah ketemu. Aku yang belum; nggak di hubungan ini."
--Perahu Kertas (The Movie).
Lately, I've been drowning in this dreamy + gloomy mood... again. Semuanya berawal dari iseng nonton ulang Perahu Kertas, berlanjut ke hobi dengerin You Could Be Happy by Snow Patrol (it's been my life anthem these days).
Somehow everything I own smells of you
And for the tiniest moment it's all not true
Random banget ya? Hahahaha... and thanks to these somewhat angsty feelings, aku jadi makin pengen punya dan baca The Fault In Our Stars by John Green. IYA, EMANG TELAT BANGET. :') Ini novel sempet masuk ke Gramedia Lembuswana kemaren-kemaren, tapi cuma dalam jangka waktu yang pendeeeeeeek banget. Baru-baru ini aku ngecek ke sana and guess what? Novelnya udah ludes. Di komputernya aja udah nggak ada datanya. MAJOR HEARTBREAKING MOMENT
And the good news is.... bakal ada versi film-nya!!! Yay! :D Baru bakal dirilis tahun 2014 nanti, but it's okay.... sambil nunggu, mendingan nonton Catching Fire bulan November ini. OMG I'm soooo excited (padahal belom baca bukunya). Oh, dan bagi Octopuses yang juga suka sama novel Daughter of Smoke & Bone (for those who haven't read the book yet: YOU DEFINITELY HAVE TO READ IT. TOTALLY RECOMMENDED BY ME), Universal Studio has decided to work on the movie! Seneng banget ngeliat banyak novel bagus yang difilmin gini :3
Balik lagi ke The Fault In Our Stars... for the time being, let's watch the book trailer (it's beautiful) here:
Now,
CATCHING UP WITH LIFE.
The previous post back then (the one about addiction) was written waaaaay before my birthday. Which means, I have missed LOTS of moments to write about on this blog. Sorry, dear Octopuses ;( now that I realised it... nggak ada postingan tentang my birthday, OSIS trip to Java, liburan kenaikan kelas, proses pembuatan Afternoon Tea, dan bahkan tentang Lebaran sekalipun.
So... to sum it up, I lost my iPod. Yup, that good ol' buddy of mine yang udah nemenin dari SMP sampe SMA itu :'D kejadiannya agak tragis sekaligus doesn't make any sense (yang selalu bikin aku kesel sama diriku sendiri sampe sekarang). But hey, the wi-fi is back, and here I am! Emang bener ya, semua kejadian pasti ada hikmahnya. Rezeki satu barang udah abis, dikasih lagi sama Allah rezeki yang lainnya... :) (Walaupun baru-baru ini BlackBerry abis kerendam air di tas sendiri dan nggak bisa nyala lagi - which means semua hape Nona officially rusak)
Terus... minal aidin wal fa idzin semuanya!! Mohon maaf lahir dan batin! :D Aku minta maaf ya selama ini banyak salah... sekarang libur Lebaran udah selesai, otomatis balik lagi ke sekolah. Say hello to the harsh senior year, everyone...
Oke, kayaknya kali ini sampe sini dulu kali ya. Oh iya, as you might notice, Lady Octopus just went under a BIG MAKE-OVER. Baru nyadar udah dua taun pake layout yang sebelumnya, jadi pengen ganti tampilan... tapi masih yang sejenis. Jadinya gini deh, hehehe. I spent a whole day in editing the whole thing, so I hope you would enjoy the new layout.
WELCOME TO THE NEW HOME, OCTOPUSES!
P.S.: Also, welcome back to the industry, Ellie Goulding and John Legend! Loving the new singles already, can't wait for the whole album WOOHOOOOO.
Love,
LadyLo.
Label: About me, Daily story, Incident, Interests, Life, Music, Somethin' about my blog, Updaties
life isn't like a box of chocolates; it's already scripted.
Life is like a box of chocolates - you never know what you're gonna get.
Mungkin udah ratusan kali kamu denger atau ngebaca quote barusan. But hey, who's counting here? Because what really matters now is, apakah kata-kata mujarabnya Forrest Gump barusan bener atau nggak. Well, aku sendiri yakin pasti bagi sebagian besar orang, definisi hidup ya begitu. Unpredictable, full of surprises, and such.
Definisi hidup menurut Nona?
Life is like a movie script - you never know whether you do your role perfectly or not until you finally watch the result.
Sering denger ungkapan 'dunia ini hanya panggung sandiwara'? I do. And I believe in that statement. Karena pada dasarnya, yang dilakukan setiap manusia di muka bumi ini hanya memerankan perannya masing-masing. Orang jahat, orang baik, orang ketus, orang ramah, semua itu cuma label yang diciptakan manusia sendiri. Tapi pada akhirnya, orang-orang tersebut tetap harus menjalankan lakonnya dengan label-label yang menempel di diri mereka. Kenapa? Karena sekali seseorang gagal menjalankan perannya, seluruh cerita yang udah tersusun rapi di naskah bakal hancur berantakan.
Banyak yang bilang, Tuhan adalah sutradara dari hidup ini. Aku cukup setuju sama pernyataan itu. Dan menurutku, manusia itu (udah jelas ya?) aktris dan aktornya. Sekarang, pertanyaannya cuma satu. Kalo Tuhan = sutradara, dan manusia = pemerannya, lantas siapa penonton dari 'panggung sandiwara' ini?
Karena panggung selalu didirikan untuk para penontonnya, my dear.
Intinya, nggak mungkin kan suatu pertunjukan digelar kalo ga ada penontonnya? Masalahnya, dalam hal ini siapa penontonnya? Malaikat? Iblis? No, in my opinion, mereka juga termasuk dalam kategori "pemain".
I'm getting crazy, I know.
Pernah nggak, suatu hari kamu terbangun dari tidurmu dan satu-satunya hal yang terbersit di kepalamu adalah kalimat "what am I doing to my life"? It's like, everything is pitch black. And then, your brain goes blank. Real blank. Mendadak kamu kehilangan passion buat ngelarin semua pekerjaan yang udah kamu mulai. Tiba-tiba aja kamu mempertanyakan semua pilihan yang udah kamu buat dalam hidup kamu. Dan dalam sekejap, kamu pengen ngulang semuanya dari awal. Ngelakuin hal yang jauh berbeda dari apa yang kamu pilih sekarang. Ibarat main Angry Birds, kamu pengen pindah season. Dari Angry Birds Halloween ke Angrys Birds Rio, maybe?
My mind is like a big parade of mixed things. Ada banyak hal yang harusnya ga perlu kupikir tapi tetep aja terlintas di kepalaku. Gimana kalo ternyata mukaku sebenernya nggak sama kayak yang selama ini kuliat di cermin? Kan aku nggak pernah ngeliat langsung mukaku! (Random thought, it proves that orang lain kadang lebih tau tentang diri kita ketimbang kitanya sendiri - buktinya aja mereka lebih mengenal muka kita daripada kita sendiri) Atau, gimana kalo pas one day aku ngaca, aku baru nyadar kalo aku udah berumur 30 tahun - dan bukannya 16 tahun kayak sekarang? Because time runs faster than we used to think. And this case happens to my Mom.
Aku bahkan sempet kepikiran; kira-kira apa yang bakal terjadi seandainya aku ngambil jalan yang berlawanan sama pilihan yang udah aku ambil sekarang? Things like, gimana seandainya aku ngambil kelas IPS instead of kelas IPA? Gimana seandainya aku nggak masuk ke SMA Negeri 1 Samarinda, tapi masuk ke SMA lainnya? Gimana seandainya aku masuk ke SMK dan bukannya SMA? Gimana seandainya aku masuk sekolah swasta, dan bukannya sekolah negeri? Gimana seandainya aku milih homeschool daripada public school? Apa yang bakal terjadi? Gimana reaksi keluargaku?
Karena sebesar apapun kebebasan yang dikasih orang tuaku, tetep aja ya yang namanya keluarga besar lebih menghormati hal-hal 'mainstream'. Such as, jadi pegawai negeri itu much better daripada jadi wiraswasta (talking about garansi seumur hidup, if you know what I mean) dan hal-hal lainnya.
Hal-hal semacam itulah yang ngebuat aku diem-diem salut sama orang-orang semacam tokoh Wilee di film Premium Rush. You know, the one who abandoned his previous 'life'. Seorang laki-laki cerdas yang nekat meninggalkan kesempatannya mendapatkan gelar Sarjana Hukum, cuma demi mempertahankan passionnya berkendara bebas dengan fixed gear dan jadi kurir khusus. Karena orang-orang semacam itu emang ada di sekitar kita, dan untuk mengambil keputusan seperti itu sama sekali nggak mudah. Aku yakin, ada suatu keberanian yang nggak dimiliki setiap orang waktu temen kita ditanya "kenapa nekat masuk Farmasi?" dan langsung ngejawab dengan tegas, "Aku mau langsung kerja abis lulus sekolah". How I envy you, orang-orang yang gagah berani.
Aku sendiri termasuk dalam kalangan orang pengecut yang masih belom yakin mau jadi apa pas dewasa nanti. Golongan losers yang nggak berani mengambil keputusan yang 'beda dari yang lain', cuma karena takut nggak sanggup menghadapi penilaian dari orang lain. Aku terlalu banyak mikirin "what ifs" instead of doing the hell of it. Orang-orang kayak aku inilah yang kalo hidup cuma ngikutin garis lurus yang mungkin emang udah digambarin sama Allah sejak awalnya.
Probably that's why I always think that life is already scripted. Means, it's not 'a box of chocolates' at all. But hey, what can I do to my screwed life anyway?
Love,
LadyLo.
Label: About me, Daily story, Experience, Just babbling, Life, Opinion, Random thoughts
doubts
Sometimes, there are times when you have some doubts towards yourself. A kind of thought that makes you feel like, you're not doing the right thing. It's normal to feel such a thing. But no one can deny that it's somewhat painful to do over yourself. However, the worst feeling is the one when you have doubts over your bestfriends.
Or maybe, people that you thought they WERE your bestfriends.
Hubungan-hubungan yang, katanya, long-lasting semacam persahabatan seharusnya nggak perlu semacam deklarasi tertentu. True bestfriends don't say "we are bestfriends now" to each other. It's just we feel like doing it. Tanpa sadar, kita selalu menghabiskan waktu dengan orang-orang itu. Cerita macem-macem ke mereka. Merasa definisi sesungguhnya dari "quality time" adalah ketika kita melewatkan waktu bareng mereka. Time flows, dan waktu kita sadar, dengan sendirinya kita udah menganggap mereka sebagai sahabat kita. Nggak perlu peresmian. Nggak perlu segala ikrar.
Tapi, yang paling menyakitkan adalah saat dimana TERNYATA mereka nggak merasakan hal yang sama ke kita. Oke, kita nganggep mereka sahabat. Gimana kalo ternyata ini cuma one-sided friendship? Disaat kita mengagung-agungkan mereka sebagai so-called-BFFs, mereka justru sama sekali NGGAK masukkin kita ke "daftar sahabat" nya. Yang lebih parah lagi, gimana kalo mereka menganggap kita sebagai sahabatnya, tapi mereka sama sekali nggak bersikap seperti how a bestfriend should act?
Mereka ngelakuin hal dari A sampe Z dengan mengatasnamakan kebaikan mereka. Prinsip mereka, "aku ngelakuin semua ini demi kebaikanmu, biar kamu seneng". Padahal, sebenernya semua itu cuma untuk kepuasan mereka semata. Dan bodohnya kita, as a loyal bestfriend, mau-maunya ngikutin omongan mereka?
This is bad. I have doubts over my so-called bestfriends. They DO backstab me. They talk behind me, and I've seen the proofs before. It hurts, hurts so bad until I can't stop thinking about it for the whole days. I spent the nights for thinking about my faults, but still - I couldn't find the EXACT thing which made them doing such a cruel thing to me. Why they did this to me? How long it's been since the very first time they started hating me? I don't even know whether "hate" is the perfect word or not, but one thing that I know; if they REALLY love me, they wouldn't do anything like this, right?
This isn't the first time. But I thought all of us already started a brand new page of our friendship. No matter what they do, I can't do anything but only forgiving them. Why they couldn't do the same thing to me? I'm sorry for hurting you. For making you uncomfortable with my behaviour. But if you have any unspoken words, why don't you just tell me directly instead of backstabbing me?
Now it feels like Bon Iver's Skinny Love:
Who will love you? Who will fight? Who will fall far behind?
Bohong kalo mereka bilang mereka nggak mau nyakitin perasaanku dengan berkata jujur. Kalo mereka bener-bener berniat baik, mereka pasti bakal ngomong langsung ke aku. Bukannya nunggu aku sadar sendiri. Bukannya ngomongin aku dari belakang.
Ini semua salahku yang udah ngelanggar prinsipku sendiri; untuk nggak sepenuhnya percaya sama orang lain. Untuk nggak pernah bersandar sama orang lain. The world is giving its judgement towards me. So I guess I have to come back to my oldself; the one who will never, ever believe in another person.
Maaf, maaf banget udah nyakitin kalian semua - meskipun sampe saat ini aku nggak tau apa yang bikin kalian bertindak sejauh ini. Bahkan walaupun kalian mau bilang "itu udah bulan Januari lalu kok, sekarang udah nggak lagi"..........
YOU GUYS STILL HURT ME.
I'm sorry.
Love, LadyLo.
Label: About me, Daily story, Experience, Friends, Life, Problem, Renungan, Sad
kebahagiaan kecil
Kebahagiaan kecil itu...
Ketika kamu ditraktir es campur sama temenmu.
Ketika kamu ngobrol bareng dua orang temen cowokmu (cowok ngomong berdasarkan logika, lan?) di bawah langit senja yang indah banget, dan mereka berdua nggak segan bertukar pikiran sama kamu.
Ketika orang yang kamu suka berinisiatif untuk menyapa kamu duluan.
Ketika kamu makan jagung bakar sambil nontonin kembang api di tepi sungai Mahakam.
Ketika kamu nyanyiin lagu "Sempurna" dan ada temen yang ngiringin nyanyianmu pake gitar.
Ketika kamu melewatkan waktu bersama adek sepupumu yang masih kecil dan paling kamu sayang dengan cara bergosip, sambil ngemil biskuit dan minum teh anget.
Ketika kamu menemukan baju yang manis dan kamu tau kalo itu cocok banget dipake sama kamu.
Ketika temenmu tau kalo kamu cinta mati sama puding dan dia ngasih itu cemilan (?) buat kamu.
Ketika kamu nggak tidur semalaman gara-gara keasyikan berdiskusi tentang "kehidupan" bareng mamamu di atas kasur, nggak peduli kalo cuma kalian berdua yang masih terjaga di rumah itu.
Kebahagiaan-kebahagiaan kecil semacam itu... yang tanpa kita sadari, justru sangat kita perlukan dalam keseharian kita.
Kalo nggak ada kebahagiaan kecil, mungkin aku udah lama menyerah dan berhenti berusaha. Label: About me, Daily story, Experience, Family, Friends, Fun, Happy, Just babbling, Life, Love, Renungan
high school pride
High School. Aku udah tau artinya dari jaman kelas 1 SD. High school. Gampang. Sekolah Menengah Atas, SMA. Atau yang sekarang udah berganti nama jadi Sekolah Menengah Umum--SMU.
Pride. Kata yyy.sederet.com, artinya "kebanggaan". "Keangkuhan". "Harga diri". Waktu SD, aku pernah denger kata ini beberapa kali, tapi aku nggak pernah tau artinya sampe aku SMP. Dan akhirnya, sekarang aku bener-bener tau apa itu "pride" dalam kehidupan.
Pride itu bersifat addicting. Tapi juga membunuh. Aku baru belajar tentang kata ini di Samarinda, kota yang bener-bener asing buatku. Well, nggak se-asing itu sih, soalnya dari kecil aku udah sering liburan ke sini. Tapi ya tetep aja....... Jogja sama Samarinda? Jauuuuuh!
Jadi, apa hubungannya antara "high school" dan "pride" kali ini?
Simpel. FYI, aku udah 15 tahun (gonna post a special entry about my birthday bash anyway :D) dan tahun ini aku bakal resmi jadi MURID SMA. Sedikit interupsi, ini postingan pertamaku sebagai seorang....... pengangguran pasca SMP? Hehehehe. Soal sekolah...... alhamdullilah, aku udah diterima di salah satu sekolah yang, yah, kata orang bergengsi-banget-di sini lah. Lewat jalur PMDK. Nggak, aku nggak lagi nyombong kok, santai aja.
Nah, selama di Samarinda, aku udah pernah ngeliat dan ngerasain langsung berbagai macam pride di sini. Tapi kalo yang namanya "high school pride", ini (pastinya) bener-bener yang pertama kalinya. Kayak yang udah kutulis di atas, high school pride itu addicting. Tapi juga membunuh. Waktu SMP, aku udah pernah ngalamin junior high school pride (nggak beda jauh sih...), tapi, serius deh, pride yang itu nggak se-mengerikan ini!
Kalo kita salah pilih TK, kita masih bisa memperbaikinya di SD. Kalo kita salah pilih SD, kita masih bisa memperbaikinya di SMP. Kalo salah pilih SMP? Insya Allah masih bisa diperbaiki di SMA. Tapi, kalo salah pilih SMA? Memperbaiki di universitas? Udah telat, kan? Bukannya orang dewasa selalu menerapkan aturan "SMA = universitas = jawaban dari masa depan kita"? Alias kalo SMA jelek, terus dapet universitas jelek, masa depan cerah bakal sulit dateng?
Jangan nge-judge apakah aturan di atas itu benar atau salah adanya. Karena aku pun sendiri nggak tau, namanya juga aku masih....... baru-mau-masuk-SMA. Tapi, selama ini, orang-orang dewasa di sekitar aku selalu ngasih aturan yang sama. Mereka selalu ngucapin hal yang sama.
"Kamu harus dapet SMA bagus, Non. Jadi gampang masuk universitas yang bagus. Dan kemungkinan punya pekerjaan bagus pastinya bakal jadi lebih besar lagi."
Sekali lagi, orang dewasa yang menetapkan aturan semacam itu bukan cuma ada satu atau dua aja loh. Aku kenal banyak orang dewasa yang berprinsip kayak gitu, walaupun mungkin beberapa di antara kalian yang lagi ngebaca postingan ini berpikir, "orang-orang itu dangkal banget sih". Terserah kalian mau mikir apa, yang penting jangan salahin aku. Karena aku cuma semacam korban dari aturan itu :p
Nah, balik lagi ke topik awal. Dengan aturan yang udah pasaran semacam ini lah, anak-anak seusiaku (seenggaknya yang aku kenal) banyak yang kena sindrom "high school pride" tingkat akut. Mereka yang berhasil masuk ke sekolah ultra-keren-bangetngetnget bakal jadi orang-orang yang disanjung. Mereka yang "gagal"? Bakal dicap "LOSER" sama orang-orang.
Bisa dibilang, salah satu temen deketku termasuk di dalam kategori yang terakhir itu. Bukannya apa-apa, menurutku dia cuma kurang hoki aja (luck does matter loh waktu ikutan PSB). Sayangnya, semua orang udah terlanjur menggolongkan dia sebagai "another loser". Bahkan, bisa dibilang.......... keluarganya sendiri. Orang-orang yang seharusnya jadi orang pertama buat menghibur dia.
Akhirnya? Dia memutuskan buat tetep masuk ke sekolah yang mau nerima dia itu. Tapi, dia nggak bakal lama di sana. Dia bilang, dia bakal pindah ke sekolah lain (yang notabene, ehem, sekolahku) dalam waktu kurang dari enam bulan. Dan, ternyata, banyak orang lain yang juga punya planning semacam ini. Bertahan di suatu sekolah selama beberapa bulan, dan akhirnya pindah ke sekolah incerannya diawal.
Orang tuaku nggak suka hal-hal semacam ini. Mama bilang, kalo itu terjadi sama aku, Mama ga bakal mindahin aku dsb. Mama bilang, aku harus diajarin bertanggung jawab atas apapun yang terjadi karena aku. Kenapa "karena aku"? Soalnya, NEM-ku emang jelek (banget), dan, yah....... faktor hoki emang does matter, tapi paling cuma 10-20% doang.
Mama bukannya ngomong gitu karena aku termasuk orang yang beruntung. Bukan karena kami nggak ngalamin hal semacam itu. Hal kayak gini pernah terjadi sama aku kok. Aku dilempar, ditendang dan nggak diterima sama 2 sekolah favorit waktu di Jogja dulu. Dan akhirnya aku masuk ke salah satu sekolah yang favorit juga sih, tapi tetep aja itu termasuk di bawah standar awalku.
Toh, akhirnya keluargaku nggak mindahin aku segala macem. Mereka kecewa sama aku, sama kayak aku kecewa sama my bad luck. But, that's all. It doesn't mean they would do anything to get me in to those schools. Kalo emang itu jalannya, kenapa kita harus "mangkir"? Dan akhirnya, aku ended up sayaaaaaang banget sama sekolahku di Jogja itu. Nggak ada lagi kata "di bawah standar". It has been my forever TOP class even until now :) shout out to my former school, the amazing SMPN 6 Yogyakarta! Kudos to you!
Soal high school pride, Mama termasuk di antara sekian dikitnya jumlah orang yang nggak terpengaruh sama itu sindrom. Mama orang asli sini. Tapi Mama nggak pernah berambisi buat masukkin aku ke sekolah yang sekarang, like what everyone does. Mama nggak pernah nyuruh aku buat masuk ke sekolah tertentu. Justru Mama termasuk orang yang aneh. Mama pernah bilang ke aku :
"Selama di Samarinda, menurut Mama semua sekolah itu sama. Mama nggak perlu ngeforsir kamu untuk sekolah dimana pun, karena ini Samarinda."
Aneh kan? Padahal orang lain sibuk nyuruh anaknya masuk sekolah A, sekolah B, sekolah C. Ada juga yang masih nyuruh anaknya ikut les privat ini-itu, padahal semua ujian sekolah udah kelar dan mereka ngelakuin hal itu demi anaknya bisa lulus ujian masuk sekolah (dan ternyata tahun ini PSB di Samarinda mulai pake NEM! Kasian temenku D:). Tapi Mama beda. Padahal Mama orang sini, orang yang harusnya udah punya ambisi itu mendarah-daging :p
Jadi, intinya........... high school pride itu adalah hal yang sangat BESAR dan LUMRAH di Samarinda. Kota lain juga pasti punya high school pride. Tapi menurutku, high school pride levelan di sini bener-bener undeniable, incredible, a creepy one. Karena derajat orang aja bisa dibedain dari "asal sekolah".
Dan semoga, aku ga akan pernah kena sindrom ini sampe tingkat akut. Apalagi kalo sampe nyela orang dari sekolah lain. Amin. Because we would never know. "Influence nya lingkungan" itu lebih dari sekedar kata ataupun kalimat.
By the way, happy late birthday to myself! :D Dan alhamdullilah karena so far, semuanya berjalan sangat lancar. Semoga ke depannya pun begitu, amin! Semoga my upcoming high school years are gonna be a fun ones!
Terima kasih banyak buat SMPN 1 Samarinda dan SMPN 6 Yogyakarta yang udah ngajarin aku banyak hal; terutama fakta bahwa teenage life itu nggak sesimpel kedengerannya. Terima kasih buat bapak-ibu guru untuk tiga tahunnya yang berharga. Nggak ada ilmu yang nggak berguna, betul begitu kan, Pak, Bu? :) Dan terima kasih juga buat temen-temenku semuanyaaaaa, mulai dari my amazing friends waktu kelas 7 di Jogja, sampe my wonderful, gokil, awesome friends dari kelas 8 sampe kelas 9 di Samarinda. Cuma Spansa yang bisa nyewa dan nguasain satu ASTON plus ngundang SM*SH buat perpisahan sekolah yang berkedok prom night, kan? ;D
I love, love, LOVEEEE you guys!! =D
Love, LadyLo.
Label: About me, Daily story, Experience, Friends, Just babbling, Life, Renungan, School
bitter love
Bitter love. Ini bener-bener title yang sangat klise dan berbau galau khas ababil jaman sekarang. Maafin aku ya, Octopuses. Ini namanya aku lagi running out of title, hiks. Tapi bukan berarti title entry ini irrelevant sama isi nya kok. Justru aku pilih kata "bitter" karena... memang entry ini bakal berbicara tentang hal yang paling naif--dan paling diagungkan--di dunia;
Cinta.
Sebelum ngebahas lebih lanjut, aku mau meluruskan kenapa aku menganggap "cinta" sebagai hal yang paling "naif" di dunia. Well, simply just because cinta memang naif. Dan membuat orang-orang menjadi naif karenanya. Banyak orang yang percaya bahwa "love would be last forever". Dan biasanya mereka yang beranggapan seperti ini adalah remaja belasan tahun. Remaja yang sebaya sama aku.
Setiap kali ada yang menggunakan kata "forever" dalam satu kalimat yang ada kata "love" nya, aku rasanya pengen banget ngasih tau sama mereka kalo "there is NO forever". Ya memang bener kan? Nggak ada yang namanya "selamanya". Nggak usah ngambil contoh yang rumit semacam, "kita hidup cuma sementara alias nggak selamanya, kan?" deh. Cukup ambil sampel yang simpel-simpel aja (hey, it rhymes!). Makanan, pasti akhirannya bakal membusuk kan? Atau, anggaplah kita lagi ngumpul-ngumpul sama temen-temen segeng. Nggak mungkin kan kita bakal selamanya ngumpul bareng? Pasti bakal ada saatnya kita memisahkan diri. Itu pasti. Because it's fated already.
Jadi, intinya, love isn't about being forever. Cinta itu semacam game. Nggak ada kata selamanya. Yang ada cuma permainan seberapa lama kita bisa mempertahankan cinta itu sendiri. That's it. Ibarat kita lagi ikutan kompetisi game yang bernama "cinta", pemenangnya adalah orang yang lebih lama mempertahankan cinta itu. Gitu. Bahasa gampangnya; lama-lamaan cinta-cintaan. In case you couldn't get what I mean.
I, myself, hate the word "love". Bukan, bukan berarti aku nggak bisa falling in love with someone. Tapi aku cuma nggak suka aja sama kata itu. Dan ini bukan disebabkan oleh alesan paling pasaran di dunia ini--patah hati--ya. There is something that happened to me and caused me to hate the word "love". Sesuatu yang mengajarkan aku kalo :
1. Cinta itu buta 2. Cinta itu sementara 3. Cinta itu naif
Cinta itu buta. Ya jelas, kan? Contoh gampangnya, kamu bisa maki-maki orang tua kamu disaat kamu nyaris punya pacar sementara orang tua kamu ngelarang kamu pacaran. Itu contoh yang paling nyata di teen world, no?
Cinta itu sementara. Udah kujabarin dengan jelas di atas.
Cinta itu naif. Udah kujelasin juga di atas, kan? Well, sebenernya bukan pure 100% "cinta" nya yang naif, sih. Sebenernya cinta itu, bisa dibilang, kejam. Dan sangat "real". Cinta itu ajaib, memang. Hari ini kamu bisa diagung-agungkan sama seorang cowok, besoknya kamu bisa dibuang sama mereka. Kenapa? Simpel. Alasan yang paling pasaran buat kasus ini adalah :
"Aku udah nggak cinta lagi sama kamu."
Atau dalam bahasa gampangnya, "cintaku udah lari dan kabur ke cewek lain". Gitu.
Jadi...?
Jadi, yang membuat cinta itu terkesan naif adalah mereka sendiri, yang sedang hanyut dalam cinta. Aku masih belom terlalu ngerti gimana prosedur jalannya percintaan dalam dunia orang dewasa ya, karena aku sendiri belom merasa dewasa. Aku berpikiran simpel, kok. Aku cukup mengambil bahan observasi dari kasus-kasus yang ada di sekelilingku.
Kebanyakan remaja menganggap love is all about lovey-dovey things, while it isn't. Mereka nganggep kalo cinta itu cukup dengan bilang "I love you", gandengan tangan, grepe sana grepe sini, and all. Padahal cinta itu rumit. Cinta itu butuh komitmen, butuh tanggung jawab. Mereka belom punya itu semua, tapi mereka udah berani berkoar-koar "aku cinta sama dia" dan lain sebagainya.
Mereka juga mikir love is all about being happy. Salah sedikit, marah. Salah sedikit, ngambek. Berantem dikit, bilangnya "kamu udah nggak sayang lagi sama aku!" dan lain sebagainya. Ya itulah cinta. Cinta cuma salah satu part penting dalam kehidupan. Dalam dunia. Dunia berputar, cinta juga. Hari ini kamu seneng di dunia, besoknya kamu sedih. Cinta juga begitu. Hari ini kamu merasa cintaaaa banget, besok kamu merasa kadar cintamu berkurang drastis. Ya gitu deh. Intinya, semua yang ada di dunia ini..... adalah "roda". Roda yang terus berputar. Wujudnya memang nggak bulet sempurna kayak roda. Wujudnya memang nggak berporos semacam roda. Tapi ya itu tadi. Semua yang ada di dunia ini punya hukum yang sama seperti roda.
Berputar. Dan kita nggak akan pernah bisa menghentikan perputarannya. Kita cuma bisa jadi penonton. Diam dan menikmati. Kita cuma bisa jadi pemain. Mengikuti apa yang ada di naskah--yang disebut takdir--dan memerankannya dengan sempurna. Kita cuma bisa jadi figuran. Karena pemeran utama nya adalah dunia sendiri. Makanya, ada yang bilang kalo dunia itu "panggung sandiwara". Memang begitulah adanya.
Jadi, ya gitu deh. Kebanyakan orang seumuranku cuma mikir cinta itu isinya happy-happy. Gampangannya, mereka nganggep HAPPY itu pemeran utama dalam sebuah drama yang judulnya "CINTA". Kata-kata semacam "cobaan", "kesedihan", "pengkhianatan", dan lain sebagainya cuma jadi FIGURAN. Mereka salah. Justru yang jadi figuran dalam CINTA itu adalah HAPPY sendiri. Makanya mereka jadi begitu panik ketika mereka masuk dalam fase sulit, fase-fase yang memaksa mereka untuk mendewasakan diri.
Sebelumnya aku minta maaf ya atas pandanganku tentang cinta yang terlalu keras. Tapi memang begitu lah adanya. Life told me so. I've learned about these things from my life experience.
Conclusion? Orang-orang yang lagi dilamun cinta kebanyakan naif. Dan cinta jadi naif karena orang-orang tersebut. Enough said.
....oke. Aku ngerti, penjelasanku yang panjang lebar di atas sama sekali nggak memberi pencerahan maupun jawaban yang tepat dan memuaskan. I'm so sorry. But I've tried my best to tell you about my absurd, odd thoughts. Pokoknya intinya... gitulah. Ada hal-hal yang nggak bisa dijelaskan ke orang lain dengan sempurna. Dan buatku, inilah hal itu.
Alright. Sebelum aku makin off-topic, mari kita bahas inti dari entry kali ini. Kenapa aku sebut bitter love?
Simply just because I considered this kind of love as a bitter love. This kind = the awkward moment when you are falling in love with someone who doesn't even know that you are exist in this world.
So, who the heck is the guy that caused me a BIG problem like this?
It's him.
I know that this photo was taken 2 years ago. Whatever because he looked gorgeous here
His name is Kwon Jiyong. AKA GD, or G-Dragon to be exact (I hate this stage name anyway, I prefer to call him as "GD" than "G-Dragon"). Dia leader Bigbang. Yes, he is Korean. And YES, he is an idol. And of course he doesn't know that there is Winona Anindyasarathi Soedhowo in this world. Poor me, aite?
Kenapa aku suka sama dia?
Because he is amazing. He is still young. Dia good-looking. Tall enough for me. Dia fashionable. Dia smart. Dia creative. Tekun, ulet, bertanggung jawab, profesional, dan banyak hal lainnya yang selalu mencegah aku untuk berhenti belajar lebih banyak lagi dari dia.
Okay, he might be sooo rebel. Asumsiku, gaya hidupnya sangat bebas. Party everyday. Minum. Hangover pastinya. Make. Main cewek. One-night stand udah termasuk dalam kategori main cewek ya. Tapi hebatnya, dia tetep bisa jadi orang HEBAT disaat dia sangat rebel.
You know, sometimes people wouldn't even care about your sins when you are being so awesome. I told you already, right? Poin nomor satu : cinta itu buta.
Everything about him is amazing. Oke, kecuali masalah wajah, itu tolong dikecualikan ya. Menurutku dia bukan tipe orang yang bisa dikyaaaa-in dari segi fisik. Tapi ya, gitu deh. Dalam kasus kebanyakan, biasanya yang terjadi adalah kasus "talenta berbanding terbalik dengan penampilan". Bedanya, GD ini masih bisa jadi eyecandy becuase he is kinda good-looking (just like what I said).
Jujur, sebenernya aku bingung nyari alesan lagi untuk menjelaskan kenapa aku bisa suka sama dia. Bukan, bukan karena aku cuma suka sama dia dengan cara yang klise--karena dia cakep dsb--atau karena aku nggak punya alesan lain untuk suka sama dia. Justru karena terlalu banyak alesan yang aku punya, aku jadi bingung gimana cara ngejabarinnya. Sama kayak gimana aku bingung buat ngejelasin kenapa aku bisa nganggep "cinta itu naif", kayak di atas.
Awalnya memang cuma sekedar rasa kagum. Tapi tau sendiri kan, cinta bisa timbul darimana aja? (Ini salah satu kalimat paling iklan yang pernah aku tulis di blog ini. And I feel so..... gross to mention those words in this blog)
So, yeah......... I'm falling in love with this guy. Bitter love is bitter.
But no, I'm not that delusional. Okay, I might be DELUSIONAL but I'm not that creepy, okay? Mari berbicara tentang fakta. Dan logika. Aku di Indonesia, dia di South Korean. Aku cuma anak tunggal and another student in this world, dan dia idola. Nona Soedhowo x Kwon Jiyong will never happen unless it's fated already and I doubt that God would give that kind of fate to me.
Jadi...? Jadi, aku ga bakal berkhayal lebih lanjut kalo dikemudian hari aku bakal jadi Nona Kwon or else (sebenernya aku bahkan nggak bisa ngebayangin hal ini, sih). Aku cuma berharap, aku bisa dapet suami... atau seenggaknya "pacar" yang kayak dia.
Taller than me, itu pasti. Smart. Creative. Bertanggung jawab. Punya komitmen dan berpegang teguh pada prinsip. Ga klemak-klemek. Easy-going. Fun. Ulet, tekun, ga mudah putus asa, berani mencoba. Agak-sedikit-perfeksionis, boleh lah. Good-looking itu juga harus. I'm not asking for the handsome ones. But he has to be good-looking. Let's talk about reality, sekarang udah bukan jamannya "look doesn't matter", kan? Just admit it. Everyone wants a good-looking girlfriend/boyfriend.
Jadi, dengan bangga saya mendeklarasikan ideal guy saya adalah......... GD! With the less rebel-ness, please. Karena aku gampang kebawa arus. Jadi punya cowok dengan tingkat kerebelan sama kayak GD is a big no.
Mungkin beberapa dari kalian mikir, "ah cuma gitu doang masa iya sih nganggep udah falling in love?". Tapi menurutku, itu lah yang terjadi. Well, semacam itu lah. Karena kadang, ngeliat video nya... ngeliat fotonya.... ngedengerin lagu-lagunya....
He makes my heart flutter.
Hiks, I'm being these pity fangirls with their bitter love. Menyedihkan, memang. Tapi aku nggak menyesal. GD, walaupun dia sangat nakal, udah ngajarin banyak hal ke aku. Termasuk poin bahwa hidup itu bukan sekedar "lalala land". Hidup itu keras. Tapi untuk menghadapi kerasnya hidup, kita hanya bisa bertahan sekuat tenaga. Kompetisi atau persaingan, itu semua cuma hiasan belaka dalam hal yang namanya "kehidupan". Hiasan yang nggak lain adalah salah satu komponen utama. Dan mau nggak mau, kita harus menghadapi hiasan hidup yang satu ini.
Kadang, kalo aku sedih, dengan mengingat perjuangan GD dan role modelsku yang lainnya (Kahi, Park Bom, Tiffany), aku jadi semangat. Kalo putus asa, cuma dengan mengingat mereka pernah melalui fase yang sama dengan apa yang lagi aku alamin, aku jadi punya kekuatan lagi buat menghadapi semua masalah yang ada. Berkat mereka, aku bisa mengatakan hal ini sama diriku sendiri :
"Kamu ada di tahap yang benar, Non. Kamu cuma harus berusaha melewati fase ini, dan tadaaah. Saat kamu sadar, kamu akan ada di tahap yang sama dengan mereka. Sukses. Berhasil."
Ini namanya agak off-topic. Jadi lebih baik obrolan soal GD, Kahi, Park Bom, dan Tiffany being my role models sebaiknya disimpan untuk next entry, gimana? ;)
Jadi, intinya, I'm falling in love with GD and want to have a hubby/bf like him. Ngomong-ngomong soal hubby, I gotta feeling that my hubby will be older than me deh. Beda umurku sama GD bahkan sekitar 7 tahunan. Whatever sih, yang penting masih bisa klik dan nyambung ke aku. Karena aku sendiri nggak bisa ngobrol dengan leluasa and being myself dengan anak-anak cowok seumuranku (just like what my parents said; jalan pikirku udah kejauhan).
Yang penting jangan sama anak-anak semacam member-member SHINee. Sama sekali nggak bikin aku nafsu (sorry, Shawols). They are talented but they aren't my type.
So, yeah.... I prefer Kwon Jiyong over Justin Bieber, is that weird?
Whatever, let's enjoy this bitter love! :D
Love, LadyLo
Label: About me, Celebrity, Daily story, Just babbling, Kpop, Life, Love, Opinion, Postingan sampah, Renungan, Sad
parents, family, and the sims
Orang tua adalah harga yang tak dapat ditawar, harta yang tak tertukar.
Kenapa tiba-tiba aku ngomong ginian? Well, simply just because I saw many tweets in my timeline. Isi tweetsnya? Beberapa orang temenku yang mengutuk orang tua mereka sendiri. Oke, mengutuk sounds a lil bit scary--walaupun kenyataannya emang ngeri. Lebih tepatnya, mereka memaki orang tua mereka sendiri.
Bukan memaki dengan kata-kata, "Orang tua gue ngeselin banget! Kerjaannya ngatur mulu!" ya. Tapi memaki dalam contoh... "Bokap nyokap gue jancok banget! Bangsat!" dan lain sebagainya yang bisa kalian bayangin sendiri.
Memang, bisa dibilang aku nggak ngerti permasalahan apa yang mereka hadapin; apa yang orang tua mereka lakuin ke mereka, apa yang mereka rasain, apa yang terjadi, dan lain sebagainya. Aku bukannya ikut campur--you could call me like that kalo sampe aku ngemention si pembuat-harsh-tweet-ini dan nasihatin dia ini-itu sementara aku sendiri nggak tau masalahnya apa. Mari kita sebut aku lagi.... ngasih komentar. Dari kacamata penonton.
Sebenernya sayang banget, mereka-mereka (yang ngebuat harsh tweets ini) sampe ngucapin hal sedemikian rupa. Walaupun kasar, mungkin kata-kata semacam "orang tuaku rese banget!" atau "asli kesel banget diceramahin ini-itu mulu!" mungkin lebih ditolerir daripada kata-kata semengerikan itu. Karena... gimana pun juga... mereka itu orang tua kita.
Call me naive. Dan mungkin kata-kata ini udah klise. Banget. Tapi itulah kenyataan. Ada hal-hal yang nggak bisa kita pertanyakan di dunia ini. Ada hal-hal yang memang nggak logis di dunia ini. Ada hal-hal yang nggak bisa kita tentang di dunia ini. Memang begitulah kodratnya. Seorang anak, sampai kapan pun juga, nggak akan pernah bisa memiliki derajat di atas orang tuanya. Which means, sampai kiamat pun, kita nggak akan pernah bisa memiliki alasan yang cukup untuk membuat kita diizinkan memaki orang tua kita.
Sekilas memang rasanya nggak adil. Disaat orang tua kita, mungkin, bisa memaki kita. Disaat orang tua kita, mungkin, sangat menyakiti hati kita. Tapi itulah dunia, kan? Apa yang bisa kita lakukan sebagai seorang anak hanya menerima, nggak lebih. Itulah hak seorang anak. Menerima.
Protes, oke lah. Kritik, boleh lah. Tapi memaki? Apalagi sampe mengeluarkan kata-kata semacam "jancok", "anjing", "bangsat", dan lain sebagainya ke orang tua kita sendiri?
Jangan lupa, kita bukannya sedang berbicara dengan teman kita, loh.
Orang-orang banyak lupa. Katanya, kita nggak boleh terlalu sering membandingkan diri kita dengan orang lain. Tapi bukannya berarti membandingkan diri dengan orang lain itu selalu membawa kejelekan, kan?
In this case... mari bandingkan diri sendiri dengan orang-orang yang nggak bisa tinggal bareng kedua orang tuanya. Atau nggak bisa tinggal dengan keluarga lengkapnya. Those people--who cursed on their parents--live with their parents. Their family. Padahal ada banyak orang-orang di luar sana, yang berharap mati-matian bisa tinggal dengan orang tuanya. Lengkap. Ada orang-orang yang berharap keluarga mereka nggak tercerai-berai. Ada orang-orang yang berharap bisa memutar ulang waktu cuma biar bisa kumpul sama kedua orang tuanya.
Like me.
Aku lagi berada dalam kondisi semacam ini; kondisi dimana kamu bener-bener ngerasa shock. Ibarat abis ngelaluin satu perjalanan, kamu lagi jetlag. Bingung dengan keadaan yang sedang kamu alami. Saking drastisnya perubahan yang kamu miliki, kamu jadi blank. Dan klimaksnya adalah ketika kamu bertanya:
Apakah benar, kalo aku pernah hidup dimasa lalu? Kok, rasanya aku cuma hidup dimasa ini? Kok, rasanya aku baru ngerasa hidup sekarang? Dimana kenangan-kenangan yang dulu aku alamin? Apakah benar semua kenangan itu pernah aku alamin?
That's it.
To be honest, I miss my dad so much. Aku kangen saat-saat aku, Mama, dan Papa ngumpul bareng. Saat-saat kami kumpul di depan tv dan makan malam bareng. I didn't mind about the menu. Mau itu pizza yang kami take-away, atau ikan bandeng presto yang Mama beli di warung, I didn't even care about it. Yang aku peduliin adalah detik-detik dimana kami ngumpul bareng. Saat-saat dimana kami ngobrol di depan tv, ngebahas semua hal yang ada. Mulai dari yang penting, sampe yang nggak worth it buat dibicarain sekalipun. I miss those moments.
Aku bahkan kangen dimarahin papaku. Saat-saat dimana aku dapet nilai-nilai jelek dan Papa marahin aku. Dan pasti Mama ngebelain aku. Saat-saat dimana aku dituntut untuk dapet banyak nilai 9. I didn't mind about that. Karena dulu--dan sekarang pun--aku hidup untuk orang tuaku. Kupikir, kalo nilaiku bagus, orang tuaku bakal bahagia. Bakal bangga sama aku. Makanya aku berusaha keras biar bisa mencapai itu semua.
Soalnya, salah satu impianku itu bisa bikin orang tuaku bahagia dan bangga sama aku. Sehingga mereka bisa ngomong ke semua orang, "Ini loh Nona, anakku."
Mungkin kamu pikir ini impian klise banget lah, bullshit lah, sok anak baiklah, or whatever it is. Tapi itulah kenyataan. I hate being naive. Atau klise. Tapi terkadang memang ada saatnya dimana kita jadi naif dan klise. Inilah saat yang tepat buatku.
Intinya, aku kangen semua saat-saat yang pernah kulaluin itu. Setiap detail terkecilnya. Setiap detiknya. Aku kangen semua itu. Dan jujur, aku ngiri sama mereka semua yang bisa ngedapetin apa yang aku paling pengenin saat ini. Tapi mereka malah nyia-nyiain semua itu. Bahkan, mereka ngebuang jauh-jauh kesempatan itu.
Dalam artian, mencaci maki orang tua mereka.
Orang tua yang ada di sana untuk mereka.
Jadi... buat kalian semua yang ngebaca ini... terutama bagi yang kesel banget sama orang tua masing-masing. Bersyukurlah. Seenggaknya kalian masih bisa ngumpul, lengkap, komplit bareng kedua orang tua kalian. Ada orang-orang di luar sana yang pengen ngumpul sama orang tuanya tapi nggak bisa atau susah. Ada orang-orang yang ngiri sama kalian.
Inget, hidup ini nggak semudah game. Nggak segampang The Sims. Oke, sebenernya The Sims itu sulit dan rumit sih. Sims-ku pernah selingkuh sama suami orang dan dia udah punya anak, mendadak dia dan keluarganya jatuh miskin and all. Tapi, kalo main The Sims, kita masih bisa melarikan diri dari kenyataan dan masalah yang ada. Kita bisa tinggal mainin family yang lain, atau ngedelete family yang bermasalah itu.
Tapi kehidupan nyata berbeda. Kita nggak bisa lari. Kita cuma bisa menghadapi dan menyelesaikan masalah yang ada. Dan mencaci-maki itu termasuk upaya melarikan diri.
Hidup jauh lebih sulit dan rumit daripada The Sims.
Dan aku bukannya ngomong tanpa pengalaman.
Jadi, mari kita bersama-sama menghadapi dunia ini... menjalani hidup, menghadapi, dan menyelesaikan masalah yang ada. Karena hidup dan masalah itu selalu berdampingan. Yang menentukan adalah diri kita sendiri; bisa, atau nggak. Kuat, atau lemah. That's it :)
Mulai sekarang, ayo kita berjuang bareng! And happy new year 2011 too! Fighting! :D
Love, LadyLo
Label: About me, Daily story, Experience, Family, Just babbling, Life, Love, Nostalgia, Opinion, Problem, Renungan
princess
Sang putri melangkahkan kakinya, beradu dengan lantai yang memantulkan cahaya lampu-lampu besar yang menggantung dari langit-langit ruangan. Sang putri berwajah sendu, namun kecantikannya tak pernah pudar. Rambut hitamnya panjang dan lurus, dengan ujung yang dibuat berputar seperti spiral. Setiap sentinya begitu diperhitungkan oleh sang penata rambut. Bulu matanya lentik, hidungnya mancung, kedua bola matanya bulat sempurna, dan bibirnya yang tipis merona merah. Wajahnya yang tirus membuatnya terlihat semakin sempurna.
Kini sang putri sedang berdiri ditengah kerinduannya. Wajahnya menyembul dari balik teralis, berusaha melihat keadaan luar melalui jendela besar yang ada di hadapannya. Orang yang dia tunggu tidak kunjung datang. Dan sang putri pun menyadari arti dari semua ini.
Sang putri sendiri.
Dan tidak akan pernah ada yang menemani.
Love, LadyLo
Label: About me, Bloglit, Cerpen, Daily story, Experience, Just babbling, Life, My Creations, Renungan
when the school makes me frustated
Do I hate school?
Nah-nah, I don't. Yah, bukan berarti aku tipikal nerd yang hobi banget dateng ke sekolah sih. Nggak. Aku masih normal kok. I hate homeworks, exams, and scary teachers. Aku juga punya banyak antis di sekolah, dan hal itu jelas bikin aku cukup males buat masuk sekolah. Tapi aku punya temen dan hal-hal asyik yang kudu diselesaiin di sekolah. Makanya aku masih ada sedikit "rasa" sama sekolah. LOL.
Terus kenapa sekolah berhasil bikin aku kelimpungan dan galau selama sebulan terakhir ini? Well, I'm worried. Karena aku udah kelas 9--which means I'm officially a senior in my school now--dan bakal menempuh ujian dalam waktu kurang dari 8 bulan, aku khawatir. Bener-bener khawatir.
Karena aku tipe orang yang mencintai nilai tinggi, atau hasil bagus dengan nilai membanggakan, atau hasil menyenangkan dengan ranking bagus, atau hasil bagus, nilai bagus, ranking bagus, whatever you called it, aku khawatir.
Sangat khawatir.
Jujur aja aku jadi pesimis tingkat tinggi setelah tahu NEM terendah di Padmanaba--SMAN 3 Yogyakarta--yang nggak lain nggak bukan adalah sekolah incaranku in case aku masih sekolah di Yogyakarta adalah, ugh, 37 koma sekian.....
Aku khawatir.
Apakah aku bisa ngedapetin NEM minimal 37,50 walaupun aku sekolah di Samarinda? Apakah aku bisa tetep mempertahankan NEM-ku dulu, walaupun aku udah nggak di Yogyakarta? Apakah aku bisa mendapatkan pendidikan yang terbaik di sini? Apakah aku bisa menyamai nilai temen-temen di Yogya? Apakah aku BISA?
Dan berbagai pertanyaan galau khas anak labil lainnya.
Oke, orang-orang bisa mengeluarkan saran-saran yang cocok masuk di buku pelajaran Bahasa Indonesia, such as "Dimana pun kamu bersekolah, asalkan kamu rajin, kamu pasti bisa!" atau "Yang penting kamu berusaha, tinggal berserah diri aja!". Kembali ke realita, faktanya adalah, tempat--lokasi, lingkungan, dan suasana sekitar kita sangat berpengaruh dalam menghadapi ujian.
Admit it, deh! Mau bukti? Bukannnya aku ngeremehin daerah luar Yogyakarta, Jawa, atau manapun juga loh ya. Tapi kenyataannya, berdasarkan pengalamanku nanya sama orang-orang, perbedaan NEM murid-murid di sana dan di sini memang jauh sekali.
Sekali lagi, bukannya aku ngeremehin. Bold those words.
Dan inilah aku. Remaja berumur 14 tahun yang lagi galau dan berada di puncak kelabilannya. Aku bener-bener berharap bisa dapet NEM minimal 37,50 walaupun aku sekolah di sini. Aku bakal berusaha dengan keras, walaupun harus ngulang kejadian kurang-lebih 2 tahun yang lalu (ikut kelas remidial waktu liburan semester, nangis-nangis karena harus belajar keras tiap hari, putus asa karena jadwal belajar yang mengikat, stres tingkat tinggi, gugup, dsb). Mungkin agak impossible, sih. Tapi dulu aku berhasil ngedapetin NEM yang, yah, pasaran sih di Yogya. Cukup susah nyari sekolah. Tapi aku berhasil ngedapetinnya walaupun aku sekolah di desa yang terpelosok. Sekarang, kenapa aku nggak bisa?
Aku masih seorang Nona Soedhowo, kok. Orang yang sama dengan anak kecil diwaktu 2 tahun yang lalu. Kenapa aku nggak bisa? Aku pasti bisa. Aku harus bisa.
Oke, please abaikan 2 paragraf di atas. Aku lagi nyoba menghibur diri sendiri waktu nulis dua paragraf tersebut. Faktanya adalah :
AKU GUGUP! AKU TAKUT!
Jadi gimana dong nih, Octopuses?? Got some advices for me? Bisa membesarkan hatiku? Pleaseeeeeeee, I really need your support right now! I beg you :(
I should stop writing this post. Kelabilan lebih mendominasi entry ini daripada keresahanku. Sekali lagi, tolong bantuin aku ya, Octopuses :'(
Love, LadyLo
Label: About me, Daily story, Experience, Just babbling, Life, Nostalgia, Obsessions, Problem, School
what should I write?
What should I write?
Pertanyaan yang absurd memang--dan juga retoris, menurutku--dan jarang ditanyakan oleh seorang Nona, haha. Well, jujur aja aku lagi bingung to the max harus nulis apa. Udah lama nggak blogging, dan aku ngerasa lagi ga ada bahan yang cocok untuk dipost di sini. Bukan berarti aku ga suka blogging lagi, atau udah ga punya passion buat nulis ya. Justru karena suka itu lah, aku jadi bingung.
Oke, aku jadi bingung sendiri sama tulisanku di atas.
Anyway, how was your score, Octopuses? Mine was... hmmm... lumayanlah, haha. Ranking juga Alhamdullilah lumayan juga. Dan sekarang, aku lagi terjebak dalam liburan yang Oh-My-God-it-is-so-boring. Seandainya aku besi, mungkin aku udah karatan saking bosennya. Hiperbol abis ya? Hehehe. Tapi serius loh, liburan kali ini bener-bener membosankaaaan! Ga ada tuh yang namanya pergi ke luar kota segala macem. I envy you, Octopuses yang sibuk hilir-mudik ke sana-ke sini.
Jadi, apa kesibukanku selama liburan ini? Ga jauh-jauh dari kata tidur, ngenet, dan makan. Kayaknya, begitu liburan selesai, berat badanku bakal nambah nih. Duh, God, I should take a diet!
Well, untuk membebaskan diri dari kebosanan yang mengenaskan, aku ngabisin hari-hariku di kamar, nerusin fanfic-fanfic yang semakin menggunung dari hari kehari. Apa aja fanficnya? In case you want to see the list, here it is :
- Love Constellation : fanfic kolaborasi bareng Aldi Oppa. Tokoh utamanya, SNSD's Im Yoona dan Jang Dae Jung (OC).
- Leaving The Sunshine : fanfic buat hadiah ulang tahunnya Giri yang, yah, udah lewat lama banget hehehe. Salahkan moodku yang selalu naik-turun, jadi jarang nerusin oneshot ini (alamat orang nggak mau disalahin). Tokoh utamanya SNSD's Im Yoona (lagi) dan 2PM's Ok Taecyeon.
- Untitled Project : fanfic rahasia, hahahahaha. Kenapa aku berani ngumumin soal fanfic ini di sini? Well, pengen aja hahahaha (ga jelas abis). Aku ngasih sebutan "Twins' Project" ke fanfic ini. Kenapa? Jawabannya akan anda ketahui setelah anda membacanya... LOL. Tokoh utamanya SNSD's Kwon Yuri dan 2PM's Nickhun. Dan ada juga guest star tersayang kita, Victoria Song dan Son Dam Bi! Yay!
Cuma 3 fanfic, emang. Tapi proses nulisnya itu lamaaaaaa dan sulit banget! Mana lagi moodku buat nulis naik-turun mulu. Duh! Wish me luck ya, biar bisa nyelesein 3 fanfic di atas dengan cepat! ;D
Ngomong-ngomong, aku juga lagi mengalami pergolakan mood buat masuk sekolah nih. Sebenernya aku ada rasa semangat buat masuk sekolah, dan perasaan ini cukup mendominasi. Cuma, kalo ngebayangin hari-hariku nanti... tiap hari harus pulang sore, belom lagi langsung cabut ke bimbel, terus di rumah belajar lagi. Duh, aku udah kelas 9 ya? Ga kerasa banget! Belom lagi nanti, pas udah semester baru, aku pasti bakal kangen hari-hari kayak gini... hari-hari yang santai dan penuh kedamaian (LOL). Oke deh, aku emang harus nikmatin dan mengenang dulu hari-hari males kayak gini, huhu.
Oh iya, poster dari Jakarta yang dikirim Kak Dhira udah nyampe di rumahku. Rasanya sayaaaaang banget mau nempelin di sekolah. Abisnya gimana dong? Hadiahnya MacBook Pro sama iPod Touch, men!! Siapa yang nggak ngiler, gitu loh??
Wuah, pada bertanya-tanya deh itu poster apaan, begitu ngebaca kata MacBook dan iPod Touch? Hehehehe. Hitung-hitung menambah pahala (apa banget deh), saya bakal berbaik hati ngasih tau kalian soal lomba ini.
Basically, lomba ini adalah lomba menulis. Honestly aku ga tau apa visi dan landasan dari kompetisi ini sih, karena aku bukan panitianya. Yang pasti, aku cuma tau kalo kamu bisa dapetin 1 MacBook Pro dan 2 iPod Touch (bagi 3 pemenang yang dipilih oleh para editor) dan 7 handphone + prepaid internet packages, kalo eBook buatan kamu termasuk dalam 10 eBook terfavorit! Yay! Mau kan? Pengen dong?
Jadi, buat kamu semua yang suka menulis dan hobi bikin eBook, tunggu apa lagi? Segera sign up di www.evolitera.co.id dan publish eBook kamu di sana sekarang juga! C'mon, Octopuses! Let's show off our power to the people! Hehehe, maap saya jadi bersemangat sekali :D
Aku ga tau banyak soal persyaratannya, tapi memang di posternya ada ditulis beberapa langkah yang harus dilakukan untuk mengikuti kompetisi ini. Tertarik? Leave me a response on the chatbox yang tersedia di page "MISC". Aku ga nunggu ada 5 respons atau berapapun itu. Asal ada satu orang dari kalian yang tertarik, aku berkenan nulis ulang step-step yang ada di poster tersebut, bahkan mungkin sama foto posternya sekalian. Ini kalo kalian pengen liat dan tau apa yang ada di poster yang aku dapetin, loh, ya :) Soalnya kan percuma aku motret sama nulis ulang di sini kalo ternyata ga ada yang berminat, hehe. Jadi...........
GO GO, LEAVE ME A RESPONSE! :D
Love, LadyLo
Label: About me, Announcement, Daily story, Experience, Fun, Info, Interests, Just babbling, Life, Updaties
Older Post
|