tarian kanya
Selasa, 18 Juni 2013 | 0 comments
Kanya memutar bola matanya, mengerahkan usaha terbaik untuk memandang langit-langit kamarnya. Warnanya abu-abu; satu-satunya warna yang pantas menggambarkan perasaannya saat ini. Warna yang bisa melukiskan kehampaan yang menyelimuti hatinya dengan sempurna. Tidak ada emosi sia-sia yang menggugah hatinya. Hanya ada hampa yang tak berbatas.
Kedua kakinya menggantung di udara, mulai bergerak liar ketika rasa sakit itu mulai menjalari tubuhnya. Namun tidak ada sedikitpun rasa takut yang membuncah dalam benaknya. Matanya tertutup, kemudian kembali membuka. Begitu terus selama beberapa detik.
Tidak ada rasa cinta yang mampu menandingi gelora ini.
Tidak ada amarah yang dapat melampaui gejolak ini.
Tangan Kanya ikut berayun liar, meminta perhatian dari seisi dunia yang tidak pernah dia dapatkan seumur hidupnya. Dia ingin semua orang berotak kiri itu melihatnya. Melihatnya yang sedang mengenakan kalung terindah yang pernah dia miliki sepanjang hidupnya. Kalung yang terbuat dari tali tambang, begitu pas hingga melilit lehernya.
Kanya menari, dalam balutan kalung kebanggaannya, dan emosi yang tidak pernah dia rasakan seumur hidupnya.
Sewaktu masih menjalani hidupnya sebagai seorang gadis dungu, Kanya pernah bertanya-tanya; kira-kira apa yang akan dia pikirkan pertama kali saat ajal menjemputnya? Mungkin Tuhan, tebaknya kala itu. Atau dosa-dosa yang pernah kuperbuat.
Ternyata, Kanya Dungu salah.
Yang pertama kali terbersit dalam ingatannya adalah orang-orang itu. Ibu yang meninggalkannya untuk laki-laki lain, kemudian sosok ayah yang tidak pernah menampakkan diri lagi di hadapannya. Lalu, lembaran-lembaran uang yang dikirimkan Ayah--entah dari mana asalnya. Figur Kakek dan Nenek susul-menyusul dalam otaknya, mengingatkan Kanya betapa mereka tak pernah muncul dalam hari-harinya. Dan orang-orang yang menyebut diri sebagai keluarganya itu, namun tak sekalipun mengulurkan tangan untuknya. Teman-teman yang menyambutnya dengan hangat juga tampil sempurna dalam memori otaknya, mengingatkannya akan peristiwa-peristiwa dimana Kanya--tanpa sengaja--memergoki mereka sedang membicarakannya, diam-diam.
Yang terakhir kali muncul adalah laki-laki itu. Orang yang selama ini dianggapnya sebagai seorang penyelamat, pahlawan yang berhasil menariknya keluar dari seluruh kesengsaraan itu. Ksatria yang dengan gagah berani membantu dan mendorongnya untuk memulai hidup yang baru. Pria yang telah memberikan harapan besar padanya. Manusia yang kemudian merenggut segalanya dari Kanya; seluruh harta yang selama ini selalu dia jaga. Tidak setitik pun dia sisakan. Tidak pula kepercayaan dan kesucian--dua hal yang tersisa dalam diri Kanya.
Semuanya muncul secara bergantian dalam ingatan Kanya, membuat Kanya mempertanyakan segala hal yang terjadi dalam hidupnya. Apakah dia telah menjalani takdirnya dengan baik? Mengapa dunia tidak pernah berpihak padanya, barang sekalipun?
Dan segera setelah Kanya melontarkan pertanyaan itu, Kematian datang menghapuskan segala keraguannya. Satu-satunya teman abadi yang akan menemaninya, tanpa sedikitpun pengkhianatan. Kanya tidak perlu merasa takut lagi, karena Kematian tak akan pernah meninggalkannya.
Kanya menggunakan tenaga terakhirnya untuk mengangkat kedua tangan, memeluk Kematian dalam tariannya yang tak berujung.
*****
Label: Cerpen
pesan untuk ozi
Jumat, 15 Maret 2013 | 0 comments
Setiap sudut kota ini mengingatkanku
padamu, Zi.
Langit kelabu yang senantiasa
memayungiku belakangan ini. Jok motor yang lama-kelamaan mulai tertutupi
serpihan debu. Suara bulir air hujan yang menetes ke atap rumahku. Lapangan
dekat sekolah yang semakin sepi. Bahkan hingga guratan krayon di dinding
kamarku yang kamu goreskan sewaktu kita masih kecil dulu. Semua itu meneriakkan
namamu, Zi.
Kamu ingat tidak, waktu kamu
menyelinap masuk ke rumahku pada malam tahun baru? Saat itu aku sedang perang
dingin dengan kedua orang tuaku yang tidak mengizinkanku untuk keluar rumah dan
merayakannya. Seluruh temanku menyesalinya dan berkata bahwa mereka ingin
sekali aku ikut. Tapi hanya kamu yang dengan gagah berani datang dan
menculikku, Zi. Walaupun akhirnya kamu terpaksa memboncengku dengan motorku
sendiri, hahahaha.
“Qia,
you are the one.” Teman-temanku berkata padaku dalam suatu waktu. “There is no such a girl that would make a
good pair with Ozi, but you.”
Mereka salah, Zi. I might be the one. But I’m not the best
one.
Yang mereka lihat adalah betapa
akrabnya aku dan kamu. Betapa kerasnya tawaku bersamamu, betapa rileksnya kamu
di dekatku. Tapi mereka tidak pernah menyadari betapa sempurnanya kamu ketika
berdampingan dengan June.
Ya, June. Gadis yang mungil dan rapuh
itu. Dengan kulit kuning langsat yang halus, dan rambut sekelam langit malam
pada bulan Juni. Suaranya bening, terdengar seperti nyanyian saat dia sedang
berbicara. Orang-orang bilang dia sok lemah. Tapi aku justru melihatnya sebagai
pelengkap hidupmu, Zi.
Aku telah bersamamu selama belasan
tahun lamanya. Dan aku sadar, bahwa yang bisa membuatmu komplit seperti ini
bukanlah aku, melainkan June.
Gadis itu adalah serpihan puzzle yang
selama ini kamu cari kan, Zi?
Kamu tak perlu tahu tentang betapa
hancurnya aku saat mendengar berita bahwa kamu telah memilih June. Bukan dari
mulutmu sendiri, pula. Kamu tak perlu tahu tentang seberapa banyak air mata
yang kuteteskan saat aku memarkir motorku di bagian terdalam garasi rumahku dan
berhenti memakainya. Saat aku mencari jalan memutar untuk menghindari lapangan
yang selalu kamu pakai untuk bermain sepak bola itu. Maupun saat aku
mati-matian mencoba menghapus guratan krayon itu dari dinding kamarku. Kamu tak
perlu tahu, Zi.
Harus ada yang dikorbankan. Aku tidak
menyalahkanmu yang mengorbankan persahabatan kita untuk bisa mempertahankan
hubunganmu dengan June, karena aku sendiri juga mengorbankan perasaanku demi
menyambutmu dengan senyuman setiap kali kita bertemu—seolah tak pernah terjadi
gejolak apapun dalam hatiku. Maka aku memutuskan untuk berhenti menangisimu,
mengenangmu, bahkan mencintaimu. Tapi aku berjanji dalam hati untuk tetap
menyebut namamu dalam setiap doaku. Semua ini karena aku sadar bahwa tak ada
jalan untuk kembali ke masa lalu.
Izinkan aku untuk melepaskanmu, Zi.
***
Label: Cerpen
Ternyata
Minggu, 26 Februari 2012 | 0 comments
Ada gadis aneh di kelas sebelah.
Rambut sebahunya dibiarkan tergerai bebas dengan poni yang dijepit ke atas, membuat dahinya gampang terlihat. Wajahnya bulat, dan ada kacamata berlensa persegi panjang dengan frame warna hitam yang selalu menghiasinya. Kedua lengan seragamnya selalu digulung hingga siku. Rok abu-abu semata kakinya robek sampai ke betis, dan hanya dibiarkan begitu saja. Seolah-olah dia sama sekali tidak mempedulikan kerusakan yang ada pada roknya itu.
Dia selalu menghabiskan sebagian besar waktunya dengan bercanda tawa bersama sahabatnya; seorang perempuan bertubuh tinggi menjulang dan kurus yang rambutnya selalu dikuncir kuda. Qiara juga sering mendapatinya sedang membaca sebuah novel yang biasanya cukup tebal. Belakangan ini Qiara baru menyadari bahwa novel yang dia bawa selalu berbeda setiap harinya.
Awalnya Qiara tidak terlalu memperhatikan gadis itu, hingga akhirnya dia menemukan gadis tersebut di balkon sekolah pada suatu senja. Setiap sore, gadis itu selalu menyempatkan diri untuk datang ke balkon dan menyanyikan lagu-lagu bernada sedih dalam bahasa asing yang tidak dikenal Qiara. Hanya saja, wajahnya tidak pernah terlihat benar-benar sedih. Tatapan matanya kosong, namun kedua alisnya dan sudut-sudut bibirnya selalu memancarkan emosi yang berbeda. Qiara tidak pernah mengerti bagaimana bisa gadis itu menyanyikan lagu-lagu sedih dengan wajah penuh amarah seperti itu.
Terkadang Qiara tergoda untuk menyapa gadis aneh itu. Tapi Qiara selalu berhasil menahan diri. Tidak seharusnya dia bergaul dengan orang-orang semacam itu, kan? Qiara harus tetap berada di dalam lingkarannya yang aman. Lingkaran yang bersinar, dan menjanjikan kehidupan sosial yang menyenangkan.
**
Hari ini Qiara memergoki gadis itu sedang menatapnya tajam. Saat itu mereka sedang berada di kantin dengan teman mereka masing-masing. Setelah dipikir ulang, ini bukan kali pertama Qiara mendapati gadis itu sedang memelototinya. Rasa penasaran sempat merayapi hati Qiara. Namun orang-orang seperti Qiara memang mudah mengundang rasa benci di sekolah, sehingga dia memutuskan untuk mengabaikannya tepat saat Aksa menggandeng tangannya.
Aksa adalah kekasih Qiara. Satu sekolah jelas sudah mengetahui hal itu. Aksa yang tampan, Qiara yang cantik; mereka berdua adalah jenis pasangan langka yang hanya sering terjadi di komik-komik—atau sinetron. Ketika Qiara lebih memilih untuk memperlihatkan kemesraan mereka berdua pada kalangan terbatas saja, Aksa adalah tipe laki-laki yang suka mengumbar aktivitas mereka dimana-mana. Menggandeng Qiara di koridor sekolah, merangkulnya di kantin, duduk sebangku dengannya di kelas—di setiap sudut selalu saja muncul aura percintaan mereka.
Tentu saja Qiara merasa asing pada awalnya. Meskipun teman-temannya sudah terbiasa dengan gaya berpacaran macam itu, Qiara termasuk perempuan alim yang selalu menjaga diri dalam lingkarannya. Aksa juga bukannya sejak dulu bertingkah aneh seperti itu. Aksa yang pertama kali Qiara kenal merupakan sosok yang hangat, sosok yang melindungi, yang segan untuk sembarangan menyentuh Qiara, seolah Qiara adalah gelas kaca yang ringkih dan mudah pecah. Lama-kelamaan Aksa berubah, seiring dengan meningkatnya intensitas pertemuan mereka.
Selama tiga bulan belakangan ini, Aksa selalu memandangnya dengan tatapan mata kosong. Tanpa siluet Qiara yang terpantul di kedua bola matanya yang bulat sempurna layaknya manik-manik yang indah. Ingatannya seperti menguap entah kemana, meninggalkan tubuhnya di hadapan Qiara.
Saat ini, kedua bola mata itu tengah menatap Qiara dengan nanar. Ada rasa sakit yang tak terhingga di sana.
**
“Aku capek.” Aksa mengucapkannya dengan cukup lantang ketika hanya ada dia dan Qiara di dalam mobilnya.
Capek. Lelah. Qiara lah satu-satunya orang yang mengerti maksud dari perkataan Aksa. Artinya dia ingin berhenti berjuang. Ingin meninggalkan Qiara. Ingin memutuskan hubungan ini.
Qiara bersandar pada jok mobil yang dia dudukki saat ini. Pada saat-saat normal, mungkin dia sudah memaki Aksa habis-habisan. Seharusnya dia melakukan itu. Setelah satu tahun bergulir dengan ujian di sana-sini dalam hubungan mereka, justru Aksa—yang menjanjikan keabadian dalam hubungan mereka—lah yang memutuskan untuk berhenti. Qiara menatap kedua telapak tangannya, menghitung kira-kira sudah berapa lama Aksa merasakan kejenuhan yang tak bertepi itu.
Menjadi orang yang perhitungan itu cukup sulit. Qiara baru menyadarinya ketika dia menutup kedua matanya, menimbang-nimbang siapa yang paling banyak memberikan keuntungan dan manfaat dalam hubungan ini, dan apa yang harus dia lakukan dalam menghadapi situasi ini. Apakah dia harus menangis meraung-raung? Apakah dia harus mengiba pada Aksa agar bersedia memikirkan ulang keputusannya? Apakah semua itu bisa membuat Aksa kembali kepadanya?
Sesak memenuhi dada Qiara. Rasanya seperti ada asap yang memenuhi pikirannya saat ini. Hatinya terasa sangat panas hingga ke ubun-ubun. Qiara sendiri tidak tahu apakah rasa panas tersebut diakibatkan oleh amarah, atau justru kesedihan yang kini menghinggapi hatinya. Otaknya seperti baru saja tersetrum listrik ribuan Watt. Tubuhnya gemetar hebat. Ujung-ujung bahunya mulai goyah. Pertahanannya mulai luntur. Sebenarnya, Qiara ingin menangis.
Tapi Qiara harus tetap berdiri tegak di atas keyakinannya. Dia tidak boleh terlihat lemah di depan laki-laki ini. Dia tidak mengizinkan dirinya untuk memberikan suatu kepuasan pada laki-laki ini. Kepuasan karena telah sukses mencampakkannya. Kenyataan sudah cukup membuatnya terlihat menyedihkan, tak perlu lagi ditambah dengan deraian air mata yang sia-sia.
Qiara menarik napas dalam-dalam, berusaha agar suaranya terdengar sebulat mungkin. “Oh.”
Hanya itu jawabnya.
Lalu Qiara membuka pintu mobil Aksa dan melangkah keluar dengan mantap. Rambutnya yang panjang sepunggung dan diikat satu dengan sempurna itu bergoyang perlahan, seperti memberikan lambaian selamat tinggal yang permanen ke arah Aksa. Dia membuka pintu pagar rumahnya, kemudian berjalan masuk tanpa menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang lagi. Sayup-sayup, deru mobil Aksa yang menjauh mulai merasuki telinganya.
Pertahanan Qiara yang begitu teguh mulai runtuh setelah masuk ke rumah. Di dalam kamar, dia menangis semalaman.
Keesokan harinya, dia melihat Aksa sedang merangkul gadis aneh dari kelas sebelah itu di ujung koridor.
***
Label: Cerpen
satu rasa
Selasa, 06 Desember 2011 | 0 comments
♫ Cause when I’m with him
I am thinking of you
Thinking of you ♫
Aku selalu menyukai sosoknya ketika bermain gitar. Ada getaran aneh yang kurasakan saat melihat jemarinya memetik satu-persatu senar itu dengan lembut. Getaran itu semakin menguat ketika dia menghentakkan kakinya ke atas lantai, mengikuti melodi yang dia mainkan dengan sepenuh hati. Ada sesuatu yang menggelitik perutku saat dia tersenyum singkat padaku, masih sambil memainkan gitar itu di tangannya.
Hari ini pun aku kembali menikmati kebiasaan lamaku; duduk di tepi ranjangnya, sambil mengamati dia yang sedang bermain gitar di atas karpet. Kebiasaan yang entah sudah berapa bulan kutinggalkan karena aku tak bisa lagi berada di sisinya. Sesederhana itu.
Kuambil sebuah mug besar berisikan susu hangat yang dia buatkan untukku beberapa menit lalu. Kuteguk isinya dengan perlahan, sambil menikmati aroma susu yang manis dan menenangkan. Aku selalu menyukai susu buatan Gamal. Ada rasa manis yang istimewa di dalamnya. Sama seperti Gamal sendiri—manis, istimewa, dan menyenangkan.
“Sudah lama ya,” aku bersuara, lebih seperti berkata pada diri sendiri.
“Iya.” Gamal menyahut selama beberapa detik, lantas melanjutkan permainan gitarnya. “Kamu nggak pernah lagi datang ke sini.”
Aku ingat, dulu aku selalu menyempatkan diri untuk bermain ke sini. Setiap hari. Tak peduli apakah saat itu hujan sedang turun, atau aku sedang sakit. Yang kuingat, aku selalu duduk di sini mendengarkan permainan gitar Gamal, sambil sesekali mengiringinya dengan nyanyianku. Ya; aku lah yang mengiringi petikan gitar Gamal. Biasanya, gitaris selalu mengiringi penyanyinya. Namun, kami berbeda. Gamal adalah tokoh utama dari pertunjukan kecil kami. Sama seperti dia yang selalu menjadi tokoh utama dalam setiap kisahku.
“Kamu tahu kan, Mal… aku bukannya nggak mau datang, tapi nggak bisa datang.” Ada getir yang tersembunyi dalam perkataanku barusan. Aku ingin Gamal tersadar bahwa dia masih menjadi pusat dari duniaku hingga detik ini. Aku juga berharap agar dia bisa mengingat jelas kenangan-kenangan manis yang kami ukir bersama, dengan tiap harinya yang terasa seperti mimpi indah bagiku.
Tapi, suatu hari aku sadar bahwa aku tidak bisa terus bertahan. Aku memutuskan untuk berhenti berusaha. Berhenti menyayangi. Berhenti mengejar cintanya yang terlalu jauh. Matanya selalu ada di sini untukku—namun, hatinya tidak.
“Sherma, jangan mulai deh.” Gamal berkata pelan padaku; tak ada antusiasme yang tampak di wajahnya barang sedikit pun.
Aku menggeleng, kemudian meraih tangannya. Otomatis Gamal segera menghentikan permainannya. “Mal, aku benar-benar nggak tahan lagi. Aku pernah menyukai Rei, tapi hanya sebatas itu. Walaupun sekarang aku sama dia, tapi yang ada di otakku… cuma kamu. Dan selalu kamu.”
“Rei nggak berhak disakiti, Sher. Kamu sudah memilih dia, jadi jalani apa yang sudah kamu pilih.”
“Nggak bisa, Mal. Aku sudah berusaha sekeras mungkin, tapi hasilnya tetap nihil. Dia memang menyayangi dan melindungiku, sayangnya aku nggak pernah merasa nyaman sama dia,” aku menarik napas. “Ada momen-momen tertentu yang cuma bisa aku bagi ke kamu, Mal…”
Aku tidak tahu sejak kapan hubungan kami mulai membeku seperti ini. Mungkin semenjak Rei masuk dalam kehidupanku. Atau jangan-jangan jauh sebelum itu? Sewaktu aku menyadari bahwa perasaanku terhadap Gamal adalah hal yang istimewa, mungkin. Atau ketika aku mengerti bahwa sudah saatnya aku pergi dari lembaran kisah Gamal? Apapun itu, aku sangat merindukan dunia kecil kami. Rutinitas yang selalu kami jalani berdua, walaupun kami tidak pernah terikat dalam status apapun. Maksudku, apakah label “sahabat” antara seorang laki-laki dan teman perempuannya benar-benar ada di dunia ini?
“Maaf, Sher…” Gamal menggantungkan ucapannya di udara, persis seperti apa yang dia lakukan padaku selama ini. “Aku mau pergi. Kayaknya lebih baik kalau kamu juga, deh.”
Hanya itu yang dia katakan padaku. Aku sadar bahwa dia sama sekali tidak memiliki niatan untuk membalas segala perkataanku barusan. Aku juga mengerti bahwa ucapannya tadi adalah sebuah pengusiran halus yang cepat atau lambat akan dia lontarkan padaku. Aku tahu. Aku, Sherma, selalu hapal akan setiap satu millimeter hal yang ada pada diri seorang Gamal. Aku lah yang paling tahu segala macam detail tentangnya. Aku tahu wujud seorang Gamal dari berbagai sudut pandang. Aku bahkan tahu segala hal yang tidak diketahui orang lain tentangnya. Hal-hal yang hanya kami bagi berdua; rahasia kecil aku dan Gamal.
Ada saat dimana kita harus memilih pilihan yang paling menyakitkan untuk mendapatkan yang terbaik. Bagiku, ini adalah saatnya. Aku pernah, sedang, dan akan selalu mencintai seorang Gamal. Gamal pun tahu pasti tentang hal itu, tapi dia memilih untuk menjalani segala sesuatunya dengan logika. Dengan akal sehatnya. Meskipun, mungkin, dia ingin sekali menarikku dari semua mimpi buruk ini, dia tetap memilih untuk membiarkan semuanya mengalir seperti apa yang seharusnya.
Aku dan Gamal tidak ditakdirkan untuk bersama; sama seperti dua sisi koin yang tidak akan pernah saling bertemu.
Dan, Rei… dia hanya lah perantara, pengantar suratan takdir kami.
**
♫ You said move on
Where do I go
I guess second best
Is all I will know ♫
***
Cerpen ini... it's not my best. Bahkan, bisa dibilang aku sama sekali nggak merasa puas sama cerpen ini. Tapi aku suka. Cerpen ini sengaja kubuat untuk temenku, berdasarkan kisah nyata yang dia alamin. Alhamdulillah, dia suka. Cerpen ini juga dipake temenku yang lain buat ngerjain tugasnya, hahahaha... terus, cerpen ini juga cerpen pertama yang ku-print setelah sekian lamanya (aku bahkan nggak inget kapan terakhir kali aku nge-print tulisanku). Intinya?
Aku ngerasa kalo cerpen ini, somehow membawa kebahagiaan tersendiri bagi orang-orang tertentu. Dan aku selalu seneng, kalo ternyata karyaku bisa memberikan sedikit keajaiban untuk orang lain :)
Love,
LadyLo.
Label: About me, Cerpen, Love, My Creations
tunggu aku
Selasa, 04 Oktober 2011 | 0 comments
Langit masih kelabu, dengan awan yang menutupi cahaya matahari yang entah mengapa begitu malas menerangi pagi ini. Kita membelah kabut yang tak bertepi; kamu dan aku. Deru motormu memecahkan kesunyian yang ada, mengingatkanku akan fakta bahwa hanya kamu dan aku yang berada di jalan raya ini, telah berada dalam balutan seragam putih abu-abu kita.
Aku menarik napas dalam-dalam, berniat untuk menikmati aroma lembab hasil pertemuan air hujan dengan jalanan tadi subuh yang membuat pagi ini semakin sakral. Tapi yang masuk ke dalam rongga hidungku justru bau asap yang kau kepulkan dari rokokmu, asap yang sedaritadi mengusikku.
Tapi aku memilih untuk diam dalam tenang.
Mungkin jalan kita memang sudah berbeda. Mungkin hati kita sudah berpisah semenjak kita lulus dari SMP dan mengambil pilihan sekolah yang tak sama. Namun kita tetap memaksakan diri untuk menjadi satu; hanya karena tak ingin kalah dari ego yang menguasai diri.
"Nero," aku menyuarakan namamu. "Kita sudah jalan dua tahun, tapi kenapa aku masih belum bisa mengerti kamu?"
Sungguh, hal itu terucap begitu saja dari mulutku.
"Kamu pernah mengerti aku." Hanya itu yang kamu ucapkan, tanpa sedikit pun melirik ke arahku melalui kaca spion itu.
"Aku memang pernah," kuakui hal itu. "Tapi sekarang tidak lagi. Kamu berubah."
"Aku cuma merokok, Di."
Cuma, katamu. Seolah-olah merokok adalah aktivitas yang biasa dilakukan semua murid SMA di Nusantara ini.
"Bukan cuma, Nero, tapi sampai." Aku mendesah. Kadang, ada beberapa hal yang hanya bisa tersampaikan melalui desahan dan helaan napas abstrak. "Dulu kamu nggak begitu."
Skakmat.
Laju motormu melambat. Akhirnya kamu menyempatkan diri untuk melirikku melalui kaca spion itu. Bukannya senang, aku justru merasa takut.
"Kenapa? Kamu malu karena aku jadi berandalan seperti ini, sementara kamu tetap berhasil mempertahankan posisimu sebagai murid teladan?"
Aku terkesiap mendengar kata-katamu. Bukan itu yang kumaksud! Hal seperti itu bahkan tak pernah terlintas di otakku barang setitik pun.
Kamu tetap melanjutkan tuduhanmu, entah dengan kesinisan yang kutangkap, maupun dengan nada getir yang tersingkap.
"Atau kamu malu untuk mengakui kalau label 'pasangan sempurna' yang seenaknya orang-orang itu berikan pada kita, ternyata hanya bertahan selama dua tahun?"
Aku terdiam. Ingin rasanya aku menutup kedua telingaku, namun semuanya sudah terlambat. Aku hanya mampu menatap puntung rokok yang baru saja kau campakkan ke atas tanah dengan kasar. Bukan itu yang kumaksud, tapi aku tak mampu untuk menampiknya. Semuanya karena tatapanmu yang membunuhku, dan suara beratmu yang mencekam.
Aku takut.
Kamu menggeleng pelan. Aku mampu menangkap guratan kecewa yang tergambar jelas di wajahmu. Sungguh, teriris hati ini saat mendapatinya bergeming di sana, di dalam kedua matamu yang terlihat lelah.
"Aku tak pernah mau mengecewakanmu." Aku memberanikan diri untuk berucap. "Dan bukan itu yang kumaksud, Nero."
"Bohong." Kamu masih mendakwaku. "Pasti hal semacam itu pernah terpikirkan olehmu, kan? Kecuali kamu orang gila."
"Memang." Aku berkata mantap, mulai menguasai keadaan. "Aku memang sinting tingkat dewa. Hal seperti itu tak pernah sekalipun terpikir olehku. Aku ini tulus mencintaimu."
Kamu tak menjawab. Saat itu lah aku yakin kalau kamu sudah melunak.
"Aku bukan teroris, Nero. Tidak perlu mencurigaiku seperti ini. Kemana rasa percaya yang dulu?"
"Aku sudah berubah, Di. Aku sudah jatuh terlalu dalam, dan tak mungkin kembali lagi." Kamu berucap saat kita melewati tikungan itu.
"Nggak ada yang mustahil di dunia ini."
"Tapi butuh waktu yang lama, Di."
"Aku mau menunggu kok. Berapa lama pun itu." Karena hatiku terlanjur terikat padamu, Nero.
Kamu tersentak. "Justru itu lah yang aku takutkan. Aku nggak mau kamu terus menunggu, Di..."
"Kenapa? Bukannya kita sudah saling berjanji akan setia satu sama lain, bagaimana pun keadaannya?" Mendadak aku merasa panik. Apakah dia berbohong saat mengucapkan ikrar itu?
"Memang begitu. Tapi aku tak mau kamu menyia-nyiakan waktumu hanya untuk aku yang bodoh ini, Di," sahutmu. "Kamu masih bisa terbang bebas, beda denganku. Kamu akan melewatkan ribuan kebaikan kalau kamu terus menungguku."
Aku tak menjawab. Bingung.
"Sayapku sudah patah, Di. Kamu yang harus menggantikanku untuk terbang. Jadi, tetaplah terbang di angkasa... demi aku."
Ada sesuatu yang menghujam jantungku saat kamu mengatakannya. Wajahmu terhalangi oleh kaca helm sehingga aku tak mampu mengawasi ekspresimu. Apakah kamu sungguh-sungguh mengatakannya? Secepat itu kah kamu menyerah?
"Audi, aku mau kamu berhenti jadi pacarku begitu kamu turun dari motorku ini." Akhirnya kamu melancarkan ultimatum itu. Kata-kata yang paling aku takutkan akan meluncur dari mulutmu selama dua tahun perjalanan kisah kita.
"Aku nggak mau!" Aku mencoba melawan. Percuma. Aku tahu kalau keputusanmu sudah final.
"Kalau kamu nggak mau meninggalkan aku, terpaksa aku yang harus melakukannya untuk kamu."
Kini, semuanya menjadi kabur. Gelap. Aku tak tahu lagi harus berbuat apa, harus mengatakan apa. Aku masih mencintaimu, dan aku tahu kalau, setidaknya, kamu juga masih menyisakan cintamu untukku.
Bukankah lebih baik kalau kita berpisah dalam keadaan saling membenci? Tapi aku tidak bisa membencimu. Sedikit apapun itu, aku tidak bisa. Mungkin karena kamu belum mengembalikan hatiku yang kamu tawan.
Maka aku hanya menutup mulutku, pasrah. Kalau memang ini harus terjadi, yang harus aku lakukan adalah menikmati detik-detik terakhir kebersaman kita, kan?
Jalanan mulai ramai. Langit juga semakin terang. Tapi hatiku tidak. Sungguh ironis; orang-orang dan dunia memulai paginya dengan ceria, namun kita justru harus mengawalinya dengan duka. Kita.
Kamu dan aku.
Beberapa saat lagi, kata 'kita' akan segera terhapus dari kehidupanmu, bukan?
Aku memutuskan untuk menyandarkan kepalaku ke punggungmu yang kokoh, dan melingkarkan tanganku di sekitar pinggangmu. Biar saja orang-orang tua itu menatap kita dengan jijik. Aku tak peduli. Mereka tidak tahu apa yang harus kita lewati.
"Di?" Kamu memanggilku, heran.
"Aku belum turun dari motormu, jadi aku masih pacarmu kan?" Aku berkata pelan. "Aku nggak akan menangis, jadi tolong biarkan aku menguasai detik-detik ini."
Kukira kamu akan menyingkirkan pelukanku dari tubuhmu. Namun apa yang kamu lakukan kemudian justru mengejutkanku. Tangan kirimu terulur ke arahku, menggenggam tangan kananku erat-erat. Mengusapnya, memijatnya lembut penuh cinta. Membuatku semakin tak rela untuk melepaskanmu, apalagi meninggalkanmu.
"Harusnya kita nggak saling jatuh cinta," gumammu putus asa.
"Salah. Harusnya kita nggak wajib berpisah," aku meralat ucapanmu. "Nero, jangan pernah menyesali apa yang sudah kita lalui bersama. Hanya itu yang kuminta darimu."
Aku dapat merasakan anggukan kepalamu. Sesaat, aku merasa bahwa dirimu yang dulu telah kembali.
Detik-detik selanjutnya berjalan dengan lambat. Ingin rasanya tetap tinggal dalam waktu yang ini, di sini, bersamamu. Tapi aku harus terbangun dari mimpi indah kita, saat mendapati motormu telah terhenti di depan sekolahku.
"Sudah saatnya, Di."
Kata-katamu bergema di batinku, seperti bel raksasa yang berdentang kencang. Ada pilu dalam hatiku, dan aku juga mendapatinya di wajahmu. Mimpi apa aku semalam, sampai harus--tiba-tiba--berpisah denganmu?
Dengan berat hati, aku menapakkan kakiku di atas tanah. Detik itu lah aku dapat mendengar bunyi semu dalam otakku. Bunyi yang menyadarkanku bahwa aku bukan siapa-siapamu lagi. Kini, Nero yang ada di hadapanku adalah orang asing yang bukan milikku lagi.
Kamu berlalu begitu saja tanpa menegurku lagi, seolah pelukan dan genggaman yang tadi tak pernah terjadi. Diam-diam justru aku bersyukur, karena aku pasti tak akan mampu membendung air mata ini kalau kamu berpamitan denganku.
Aku tak mau berpisah denganmu, dan tak sudi mendengar kalimat perpisahan darimu.
Tapi aku tak mampu mengangkat kedua kakiku, sekedar untuk menggerakkannya masuk ke pekarangan sekolah. Aku hanya bisa berdiri mematung di sini, menatap punggungmu yang menjauh. Menatap motormu yang mulai hilang dari pandanganku.
Aku akan merindukan semuanya tentangmu. Semuanya.
Aku terpaksa melanggar janjiku padamu barusan. Aku ini memang egois; sudah memiliki pelukan dan genggaman terakhirmu, tapi tetap saja meneteskan air mata. Biarlah seperti ini. Biar saja.
Aku berharap kalau kamu akan berputar balik dan kembali ke hadapanku, mengatakan kalau semua ini hanyalah leluconmu. Aku bahkan bermimpi kalau hari ini adalah hari ulang tahunku, agar aku mampu berharap kalau kamu hanya mengerjaiku. Tapi semua ini adalah kenyataan. Kamu tak juga kembali.
Yang selanjutnya terjadi begitu cepat. Aku tak peduli lagi dengan kenyataan yang ada. Aku berlari meninggalkan kerumunan, berusaha untuk mengejarmu sampai dapat. Biar saja kalau dia tak ada di sana, jadi aku bisa merasakan kekecewaan yang nyata terhadapnya, untuk yang pertama kalinya. Jadi aku memiliki alasan untuk membencinya. Jadi aku bisa melanjutkan hidup.
Sekali lagi, semuanya akan jadi lebih mudah kalau kami saling membenci.
Tapi dia ada di sana. Aku tak tahu aku sudah berlari sejauh mana, namun aku merasa baru berlari beberapa meter dari sekolah. Tak ada rasa lelah. Yang ada justru perasaan tak percaya, terkejut penuh ketakjuban. Apakah ini mimpi?
Setelah beberapa menit aku terbujur kaku, barulah aku yakin kalau ini dunia nyata. Dia ada di sana, sedang menepi sambil menatapku penuh kekalutan dan keterkejutan. Dia ada di sana! Nero-ku!
Aku kembali berlari, kali ini menghampirinya. Aku merentangkan tanganku, dan dia menyambutku dengan sigap. Kami kembali berpelukan di pinggir jalan, dihujani tatapan asing dari orang-orang di sekeliling kami. Kami tak peduli.
Kami hanya saling memeluk satu sama lain dalam diam, menikmati momen sakral ini. Tak ada pertanyaan, tak ada pernyataan. Seolah semuanya telah terjawab melalui pelukan ini. Kita memang terlalu memahami satu sama lain. Aku dan kamu.
"Aku sayang kamu, Nero. Terlalu sayang, dan nggak bisa berubah."
Kamu menyeka air mataku. "Tunggu aku, Di."
Saat itulah aku tahu, semuanya akan baik-baik saja.
Label: Cerpen, Happy, Love, My Creations
princess
Kamis, 08 Juli 2010 | 0 comments
Sang putri melangkahkan kakinya, beradu dengan lantai yang memantulkan cahaya lampu-lampu besar yang menggantung dari langit-langit ruangan. Sang putri berwajah sendu, namun kecantikannya tak pernah pudar. Rambut hitamnya panjang dan lurus, dengan ujung yang dibuat berputar seperti spiral. Setiap sentinya begitu diperhitungkan oleh sang penata rambut. Bulu matanya lentik, hidungnya mancung, kedua bola matanya bulat sempurna, dan bibirnya yang tipis merona merah. Wajahnya yang tirus membuatnya terlihat semakin sempurna.
Kini sang putri sedang berdiri ditengah kerinduannya. Wajahnya menyembul dari balik teralis, berusaha melihat keadaan luar melalui jendela besar yang ada di hadapannya. Orang yang dia tunggu tidak kunjung datang. Dan sang putri pun menyadari arti dari semua ini.
Sang putri sendiri.
Dan tidak akan pernah ada yang menemani.
Love,
LadyLo
Kini sang putri sedang berdiri ditengah kerinduannya. Wajahnya menyembul dari balik teralis, berusaha melihat keadaan luar melalui jendela besar yang ada di hadapannya. Orang yang dia tunggu tidak kunjung datang. Dan sang putri pun menyadari arti dari semua ini.
Sang putri sendiri.
Dan tidak akan pernah ada yang menemani.
Love,
LadyLo
Label: About me, Bloglit, Cerpen, Daily story, Experience, Just babbling, Life, My Creations, Renungan
"Maira"
Jumat, 09 Oktober 2009 | 0 comments
Seorang gadis terduduk di kamarnya yang tidak terlalu besar, namun jauh dari kata sempit. Dia menduduki sebuah kursi hijau cerah, tepat di depan meja belajar warna hitam yang dilapisi taplak kuning--menatap layar komputer dengan majalah di tangan kirinya. Gadis itu berambut hitam kelam, sedikit di bawah bahu dengan model 'lob' (A/N: mirip dengan rambut model bob, tapi lebih panjang). Kulitnya kuning langsat dan bersih. Bola matanya bulat dan besar, dengan hidung mungil dan bibir yang kemerahan. Manis.
Diletakkannya majalah tersebut di atas meja belajarnya, kemudian dia mulai mengetik beberapa kalimat dengan komputernya. Membalas wall Facebook yang bertumpuk memang menyita waktu yang begitu lama. Kegiatan tersebut terhenti saat handphone-nya berdering keras.
"Aima?" suara diseberang sana menyapa penuh keraguan. Suara perempuan yang tidak asing lagi di telinga gadis tadi--Aima.
"Tisha? Kenapa?" tanya Aima, setengah menghela napas setelah kelelahan membalas puluhan wall yang menghiasi profil Facebook-nya dalam 20 menit belakangan ini. Tidak perlu heran. Siapa sih yang tidak kenal seorang Aima?
"Jalan ke Cliche, yuk? I've met a cute boy, and he promised to meet me at Cliche with his friend. Ini bisa jadi kesempatan yang bagus lho, Ai," Tisha menyahut, terdengar sangat antusias. Aima kembali menghela napas, sangat tidak tertarik.
"Ajak Rara aja deh, Sha. Sori, aku nggak minat," jawab Aima, terdengar datar. Tisha memang terdaftar di her bestfriends list, namun sifat Tisha yang satu ini--ganjen dan centil--adalah sisi negatifnya yang cukup Aima benci.
"Hah? Ngaco ah! Rara kan baru jadian sama Andri! Mana mungkin dia mau ikut ke Cliche..." Tisha terdengar putus asa. Aima menggeleng hebat.
"Nggak! Pokoknya nggak!" Aima menyahut, setengah memekik. Panik.
Tisha terdiam. Dia tahu, kalau Aima sampai berteriak, itu artinya dia benar-benar tidak mau. Dia mengambil napas dalam-dalam, dan mulai mengeluarkan suara.
"Iya deh... tapi nggak usah teriak gitu dong, Ai," kata Tisha. "Kalo kamu terus-terusan bersikap 'anti cowok' gini, kamu nggak akan pernah punya pacar loh, Ai."
Aima mendesah pelan. Kenapa sih, Tisha tidak juga bisa mengerti maksud dari sikapnya? Bukannya Aima anti cowok. Dia malah memiliki banyak sahabat laki-laki. Namun, sikap Tisha yang terlalu agresif lah yang membuatnya kesal. Lagipula, dia punya alasan tersendiri kok, untuk menolak sekian banyak laki-laki yang pernah menyatakan perasaan padanya.
"Tisha, kamu tahu kenapa aku kayak gini," Aima bergumam, dengan suara yang bergetar.
"...okay, then. Tapi aku nggak akan pernah bosen ngasih tahu kamu, Ai, kalau nggak semua yang telah terjadi sama kakakmu bakal terjadi sama kamu juga."
Klik. Telepon diputus.
Aima melemparkan handphone-nya ke atas ranjang. Kemudian dia membenamkan wajah manisnya ke dalam majalah kesayangannya tersebut. Sedih dan kesal, mengingat apa yang telah terjadi tiga tahun lalu.
Bila kejadian tragis itu tidak terjadi, mungkin saat ini dia sedang bercanda dan tertawa bersama dengan kakak semata wayangnya, Aira. Namun sayang, waktu tidak pernah dapat diputar ulang.
Saat itu Aima baru duduk di kelas dua SMP. Dia sangat akrab dengan kakak kesayangannya, Aira. Meskipun terkadang mereka bertengkar, namun mereka sangat kompak. Aira, yang telah berkuliah di sebuah universitas ternama, adalah seorang kakak yang lembut, ramah, dan pendengar yang baik. Dia selalu punya solusi untuk setiap permasalahan Aima. Dan dialah yang tahu berbagai macam rahasia Aima--bukan ibu mereka.
Aima ingat, Aira terlihat depresi dan penuh kekalutan beberapa hari sebelum kepergiannya. Namun, pagi itu Aira tetap berusaha terlihat ceria di hadapan adiknya--tidak ingin membuat adiknya yang akan menempuh ujian kenaikan kelas khawatir. Sayang, usaha Aira untuk menyembunyikan kekalutannya tetap sia-sia.
Saat akan mengerjakan soal ujian, Aima merasakan sesuatu yang aneh--perasaan yang membuatnya khawatir. Bahkan, saat tengah menyelesaikan soal-soal tersebut, tiba-tiba saja dia meneteskan air mata. Karena dia merasa aneh, dia segera pulang lebih awal dari biasanya--setelah menyelesaikan pekerjaannya.
Dia menyalakan handphone-nya, dan tiba-tiba ayahnya menelpon. Suara ayahnya terdengar begitu sedih, lemas, dan bergetar hebat. Terdengar isak tangis diantara hembusan napasnya.
"Aima, kakakmu meninggal... kecelakaan."
BRUK! Spontan, Aima segera menjatuhkan buku tulis yang ia pegang dengan tangan kanannya. Tubuhnya terasa lemas, jantungnya berdetak begitu kencang.
"Kak... Aira...? B--bohong... kenapa...??" tanyanya pelan, masih belum percaya, namun telah meneteskan air mata. Masih dengan seragam putih biru, dia terisak.
"Mobilnya masuk ke jurang dekat tikungan... pokoknya kamu ke RS dekat rumah, sekarang... Papa tunggu kamu di pintu masuk. Mama pingsan," jawab ayahnya, terdengar tak berdaya. Aima mengangguk pelan, kemudian memutuskan telpon sambil menangis. Dan barulah dia tersadar, kalau dia menerima SMS dari kakaknya... beberapa jam yang lalu, saat dia sedang mengerjakan soal-soal ujian.
"Ai... kata Lodi, temen kuliah Kakak, Thezar selingkuh sama anak Hukum... sebenernya udah dari seminggu yang lalu Lodi ngasih tahu Kakak, dan Kakak juga udah agak lama nyelidikin soal ini... tapi maaf ya, Kakak baru bisa kasih tahu kamu sekarang. Kakak nggak mau kamu kepikiran soal ini. Sekarang Kakak mau ke Sunrise Cinema. Kata Lodi, dia ngelihat Thezar lagi nonton bareng selingkuhannya di sana. Tapi sebentar lagi filmnya selesai, jadi Kakak harus cepet-cepet kesana. Kakak harus bisa mergokkin dia hari ini. Kakak mau nyelesain semuanya hari ini. Doain Kakak ya, Ai. Kalo Kakak berhasil mergokkin dan nyelesain masalah Kakak sama Thezar hari ini, kita makan banana split di Cliche, oke? ;)", begitulah bunyi SMS itu.
Aima menggeleng. Air matanya semakin deras.
"Nggak ada lagi makan banana split di Cliche, Kak....!" gumamnya pelan, sambil berlari ke tepi jalan raya, mencari bus kota.
Dan ternyata benar dugaan Aima. Aira terperosok di jurang karena mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi di dekat tikungan, demi memergokki Thezar--seorang laki-laki yang telah berpacaran dengannya selama 2 tahun. Dan dugaan Aira serta informasi dari Lodi benar-benar tepat. Thezar tengah berkencan dengan seorang gadis dari Fakultas Hukum, Karila, di Sunrise Cinema. Seharusnya Aira bisa memergokki mereka berdua... namun sayang, keinginan terakhirnya tidak sempat terpenuhi.
Dan apa yang Thezar lakukan? Dia malah menghilang begitu saja dari kehidupan Aira. Aima pernah mencoba datang ke kostnya, mengunjungi kampusnya, atau menunggu di berbagai tempat yang biasa Thezar kunjungi. Namun dia benar-benar menghilang secara misterius. Seolah takut bertemu dengan semua orang yang berhubungan dengan Aira.
Tiga tahun berlalu, namun Aima belum bisa memaafkan Thezar. Dan traumanya akan laki-laki yang tidak setia belum juga bisa membuatnya berpacaran dengan siapapun. Dia masih takut dan benci.
Seandainya Thezar tidak pernah melakukan perbuatan bodoh seperti itu, saat ini Aima pasti sedang bertukar pikiran dengan Aira. Bagaimana pun juga, Aima kehilangan banyak momen berharga dengan Aira.
Dia ingin menceritakan berbagai macam hal.
Tentang MOS-nya di SMU, kakak kelas yang tampan, sekolah baru yang luas, teman 'gokil' seperti Tisha, Rara, dan Meidi, seragam barunya yang kebesaran, nilai kenaikan kelasnya yang memuaskan, terkenal di SMU-nya, menjadi murid kelas 11 yang populer, dan banyak lagi.
Dia juga ingin mengalami berbagai macam hal bersama Aira.
Merayakan ulang tahunnya, menerima hadiah dari Aira, shopping bareng, bergosip, mengajak Aira ke prom nite SMP-nya, travelling, dan banyak lagi.
Namun, semua kebahagiaan itu telah direbut oleh seorang laki-laki brengsek bernama Thezar--yang meminta maaf saja tidak berani. PENGECUT.
Aima kembali meneteskan air matanya. "Bukan itu yang Kak Aira inginkan dari kamu, Aima Sayang," ucap Mama setiap Aima murung, meratapi kepergian Aira. Aima berusaha tersenyum, karena dia tahu bila orang tuanya juga merasa sakit sekali akan kepergian Aira.
Aima menyeka air matanya, kemudian berusaha mengusir rasa sakitnya. Dia segera mengenakan sweater dengan turtle-neck warna hijau tuanya, shorts sedikit di atas lutut warna putih, dan bando warna putih. Diambilnya handbag warna hijau emerald hadiah dari Aira saat dia berulang tahun yang ke-13, dan dia segera memakai flats warna hijau tua. Kemudian, dia berjalan menyusuri jalan raya kecil yang tidak terlalu ramai. Rumahnya dekat dengan Cliche, sebuah kafe terkenal di kotanya. Jadi dia bisa pergi kesana hanya dengan berjalan kaki.
Diraihnya handphone dari handbagnya. Lalu, dia mengetik SMS untuk Tisha.
"Aku OTW ke Cliche. Semoga kamu seneng," begitulah bunyi SMS tersebut. Klik! Dia kirim SMS tersebut untuk Tisha.
Baru saja beberapa langkah dia berjalan, langkahnya terhenti di dekat toko buku kecil. Ditatapnya sosok laki-laki tersebut lekat-lekat--sosok yang begitu dia kenal.
Thezar.
(BERSAMBUNG)
Love,
LadyLo
Diletakkannya majalah tersebut di atas meja belajarnya, kemudian dia mulai mengetik beberapa kalimat dengan komputernya. Membalas wall Facebook yang bertumpuk memang menyita waktu yang begitu lama. Kegiatan tersebut terhenti saat handphone-nya berdering keras.
"Aima?" suara diseberang sana menyapa penuh keraguan. Suara perempuan yang tidak asing lagi di telinga gadis tadi--Aima.
"Tisha? Kenapa?" tanya Aima, setengah menghela napas setelah kelelahan membalas puluhan wall yang menghiasi profil Facebook-nya dalam 20 menit belakangan ini. Tidak perlu heran. Siapa sih yang tidak kenal seorang Aima?
"Jalan ke Cliche, yuk? I've met a cute boy, and he promised to meet me at Cliche with his friend. Ini bisa jadi kesempatan yang bagus lho, Ai," Tisha menyahut, terdengar sangat antusias. Aima kembali menghela napas, sangat tidak tertarik.
"Ajak Rara aja deh, Sha. Sori, aku nggak minat," jawab Aima, terdengar datar. Tisha memang terdaftar di her bestfriends list, namun sifat Tisha yang satu ini--ganjen dan centil--adalah sisi negatifnya yang cukup Aima benci.
"Hah? Ngaco ah! Rara kan baru jadian sama Andri! Mana mungkin dia mau ikut ke Cliche..." Tisha terdengar putus asa. Aima menggeleng hebat.
"Nggak! Pokoknya nggak!" Aima menyahut, setengah memekik. Panik.
Tisha terdiam. Dia tahu, kalau Aima sampai berteriak, itu artinya dia benar-benar tidak mau. Dia mengambil napas dalam-dalam, dan mulai mengeluarkan suara.
"Iya deh... tapi nggak usah teriak gitu dong, Ai," kata Tisha. "Kalo kamu terus-terusan bersikap 'anti cowok' gini, kamu nggak akan pernah punya pacar loh, Ai."
Aima mendesah pelan. Kenapa sih, Tisha tidak juga bisa mengerti maksud dari sikapnya? Bukannya Aima anti cowok. Dia malah memiliki banyak sahabat laki-laki. Namun, sikap Tisha yang terlalu agresif lah yang membuatnya kesal. Lagipula, dia punya alasan tersendiri kok, untuk menolak sekian banyak laki-laki yang pernah menyatakan perasaan padanya.
"Tisha, kamu tahu kenapa aku kayak gini," Aima bergumam, dengan suara yang bergetar.
"...okay, then. Tapi aku nggak akan pernah bosen ngasih tahu kamu, Ai, kalau nggak semua yang telah terjadi sama kakakmu bakal terjadi sama kamu juga."
Klik. Telepon diputus.
Aima melemparkan handphone-nya ke atas ranjang. Kemudian dia membenamkan wajah manisnya ke dalam majalah kesayangannya tersebut. Sedih dan kesal, mengingat apa yang telah terjadi tiga tahun lalu.
Bila kejadian tragis itu tidak terjadi, mungkin saat ini dia sedang bercanda dan tertawa bersama dengan kakak semata wayangnya, Aira. Namun sayang, waktu tidak pernah dapat diputar ulang.
Saat itu Aima baru duduk di kelas dua SMP. Dia sangat akrab dengan kakak kesayangannya, Aira. Meskipun terkadang mereka bertengkar, namun mereka sangat kompak. Aira, yang telah berkuliah di sebuah universitas ternama, adalah seorang kakak yang lembut, ramah, dan pendengar yang baik. Dia selalu punya solusi untuk setiap permasalahan Aima. Dan dialah yang tahu berbagai macam rahasia Aima--bukan ibu mereka.
Aima ingat, Aira terlihat depresi dan penuh kekalutan beberapa hari sebelum kepergiannya. Namun, pagi itu Aira tetap berusaha terlihat ceria di hadapan adiknya--tidak ingin membuat adiknya yang akan menempuh ujian kenaikan kelas khawatir. Sayang, usaha Aira untuk menyembunyikan kekalutannya tetap sia-sia.
Saat akan mengerjakan soal ujian, Aima merasakan sesuatu yang aneh--perasaan yang membuatnya khawatir. Bahkan, saat tengah menyelesaikan soal-soal tersebut, tiba-tiba saja dia meneteskan air mata. Karena dia merasa aneh, dia segera pulang lebih awal dari biasanya--setelah menyelesaikan pekerjaannya.
Dia menyalakan handphone-nya, dan tiba-tiba ayahnya menelpon. Suara ayahnya terdengar begitu sedih, lemas, dan bergetar hebat. Terdengar isak tangis diantara hembusan napasnya.
"Aima, kakakmu meninggal... kecelakaan."
BRUK! Spontan, Aima segera menjatuhkan buku tulis yang ia pegang dengan tangan kanannya. Tubuhnya terasa lemas, jantungnya berdetak begitu kencang.
"Kak... Aira...? B--bohong... kenapa...??" tanyanya pelan, masih belum percaya, namun telah meneteskan air mata. Masih dengan seragam putih biru, dia terisak.
"Mobilnya masuk ke jurang dekat tikungan... pokoknya kamu ke RS dekat rumah, sekarang... Papa tunggu kamu di pintu masuk. Mama pingsan," jawab ayahnya, terdengar tak berdaya. Aima mengangguk pelan, kemudian memutuskan telpon sambil menangis. Dan barulah dia tersadar, kalau dia menerima SMS dari kakaknya... beberapa jam yang lalu, saat dia sedang mengerjakan soal-soal ujian.
"Ai... kata Lodi, temen kuliah Kakak, Thezar selingkuh sama anak Hukum... sebenernya udah dari seminggu yang lalu Lodi ngasih tahu Kakak, dan Kakak juga udah agak lama nyelidikin soal ini... tapi maaf ya, Kakak baru bisa kasih tahu kamu sekarang. Kakak nggak mau kamu kepikiran soal ini. Sekarang Kakak mau ke Sunrise Cinema. Kata Lodi, dia ngelihat Thezar lagi nonton bareng selingkuhannya di sana. Tapi sebentar lagi filmnya selesai, jadi Kakak harus cepet-cepet kesana. Kakak harus bisa mergokkin dia hari ini. Kakak mau nyelesain semuanya hari ini. Doain Kakak ya, Ai. Kalo Kakak berhasil mergokkin dan nyelesain masalah Kakak sama Thezar hari ini, kita makan banana split di Cliche, oke? ;)", begitulah bunyi SMS itu.
Aima menggeleng. Air matanya semakin deras.
"Nggak ada lagi makan banana split di Cliche, Kak....!" gumamnya pelan, sambil berlari ke tepi jalan raya, mencari bus kota.
Dan ternyata benar dugaan Aima. Aira terperosok di jurang karena mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi di dekat tikungan, demi memergokki Thezar--seorang laki-laki yang telah berpacaran dengannya selama 2 tahun. Dan dugaan Aira serta informasi dari Lodi benar-benar tepat. Thezar tengah berkencan dengan seorang gadis dari Fakultas Hukum, Karila, di Sunrise Cinema. Seharusnya Aira bisa memergokki mereka berdua... namun sayang, keinginan terakhirnya tidak sempat terpenuhi.
Dan apa yang Thezar lakukan? Dia malah menghilang begitu saja dari kehidupan Aira. Aima pernah mencoba datang ke kostnya, mengunjungi kampusnya, atau menunggu di berbagai tempat yang biasa Thezar kunjungi. Namun dia benar-benar menghilang secara misterius. Seolah takut bertemu dengan semua orang yang berhubungan dengan Aira.
Tiga tahun berlalu, namun Aima belum bisa memaafkan Thezar. Dan traumanya akan laki-laki yang tidak setia belum juga bisa membuatnya berpacaran dengan siapapun. Dia masih takut dan benci.
Seandainya Thezar tidak pernah melakukan perbuatan bodoh seperti itu, saat ini Aima pasti sedang bertukar pikiran dengan Aira. Bagaimana pun juga, Aima kehilangan banyak momen berharga dengan Aira.
Dia ingin menceritakan berbagai macam hal.
Tentang MOS-nya di SMU, kakak kelas yang tampan, sekolah baru yang luas, teman 'gokil' seperti Tisha, Rara, dan Meidi, seragam barunya yang kebesaran, nilai kenaikan kelasnya yang memuaskan, terkenal di SMU-nya, menjadi murid kelas 11 yang populer, dan banyak lagi.
Dia juga ingin mengalami berbagai macam hal bersama Aira.
Merayakan ulang tahunnya, menerima hadiah dari Aira, shopping bareng, bergosip, mengajak Aira ke prom nite SMP-nya, travelling, dan banyak lagi.
Namun, semua kebahagiaan itu telah direbut oleh seorang laki-laki brengsek bernama Thezar--yang meminta maaf saja tidak berani. PENGECUT.
Aima kembali meneteskan air matanya. "Bukan itu yang Kak Aira inginkan dari kamu, Aima Sayang," ucap Mama setiap Aima murung, meratapi kepergian Aira. Aima berusaha tersenyum, karena dia tahu bila orang tuanya juga merasa sakit sekali akan kepergian Aira.
Aima menyeka air matanya, kemudian berusaha mengusir rasa sakitnya. Dia segera mengenakan sweater dengan turtle-neck warna hijau tuanya, shorts sedikit di atas lutut warna putih, dan bando warna putih. Diambilnya handbag warna hijau emerald hadiah dari Aira saat dia berulang tahun yang ke-13, dan dia segera memakai flats warna hijau tua. Kemudian, dia berjalan menyusuri jalan raya kecil yang tidak terlalu ramai. Rumahnya dekat dengan Cliche, sebuah kafe terkenal di kotanya. Jadi dia bisa pergi kesana hanya dengan berjalan kaki.
Diraihnya handphone dari handbagnya. Lalu, dia mengetik SMS untuk Tisha.
"Aku OTW ke Cliche. Semoga kamu seneng," begitulah bunyi SMS tersebut. Klik! Dia kirim SMS tersebut untuk Tisha.
Baru saja beberapa langkah dia berjalan, langkahnya terhenti di dekat toko buku kecil. Ditatapnya sosok laki-laki tersebut lekat-lekat--sosok yang begitu dia kenal.
Thezar.
(BERSAMBUNG)
Love,
LadyLo
Label: Cerpen, My Creations




