Lady Octopus by Nona Soedhowo. +Follow | Dashboard
Lady Octopus
Entries ~~ LadyLo ~~ Friends ~~ Connect



satu rasa
Selasa, 06 Desember 2011 | 0 comments
♫ Cause when I’m with him
I am thinking of you
Thinking of you ♫

Aku selalu menyukai sosoknya ketika bermain gitar. Ada getaran aneh yang kurasakan saat melihat jemarinya memetik satu-persatu senar itu dengan lembut. Getaran itu semakin menguat ketika dia menghentakkan kakinya ke atas lantai, mengikuti melodi yang dia mainkan dengan sepenuh hati. Ada sesuatu yang menggelitik perutku saat dia tersenyum singkat padaku, masih sambil memainkan gitar itu di tangannya.
Hari ini pun aku kembali menikmati kebiasaan lamaku; duduk di tepi ranjangnya, sambil mengamati dia yang sedang bermain gitar  di atas karpet. Kebiasaan yang entah sudah berapa bulan kutinggalkan karena aku tak bisa lagi berada di sisinya. Sesederhana itu.
Kuambil sebuah mug besar berisikan susu hangat yang dia buatkan untukku beberapa menit lalu. Kuteguk isinya dengan perlahan, sambil menikmati aroma susu yang manis dan menenangkan. Aku selalu menyukai susu buatan Gamal. Ada rasa manis yang istimewa di dalamnya. Sama seperti Gamal sendiri—manis, istimewa, dan menyenangkan.
“Sudah lama ya,” aku bersuara, lebih seperti berkata pada diri sendiri.
“Iya.” Gamal menyahut selama beberapa detik, lantas melanjutkan permainan gitarnya. “Kamu nggak pernah lagi datang ke sini.”
Aku ingat, dulu aku selalu menyempatkan diri untuk bermain ke sini. Setiap hari. Tak peduli apakah saat itu hujan sedang turun, atau aku sedang sakit. Yang kuingat, aku selalu duduk di sini mendengarkan permainan gitar Gamal, sambil sesekali mengiringinya dengan nyanyianku. Ya; aku lah yang mengiringi petikan gitar Gamal. Biasanya, gitaris selalu mengiringi penyanyinya. Namun, kami berbeda. Gamal adalah tokoh utama dari pertunjukan kecil kami. Sama seperti dia yang selalu menjadi tokoh utama dalam setiap kisahku.
“Kamu tahu kan, Mal… aku bukannya nggak mau datang, tapi nggak bisa datang.” Ada getir yang tersembunyi dalam perkataanku barusan. Aku ingin Gamal tersadar bahwa dia masih menjadi pusat dari duniaku hingga detik ini. Aku juga berharap agar dia bisa mengingat jelas kenangan-kenangan manis yang kami ukir bersama, dengan tiap harinya yang terasa seperti  mimpi indah bagiku.
Tapi, suatu hari aku sadar bahwa aku tidak bisa terus bertahan. Aku memutuskan untuk berhenti berusaha. Berhenti menyayangi. Berhenti mengejar cintanya yang terlalu jauh. Matanya selalu ada di sini  untukku—namun, hatinya tidak.
“Sherma, jangan mulai deh.” Gamal berkata pelan padaku; tak ada antusiasme yang tampak di wajahnya barang sedikit pun.
Aku menggeleng, kemudian meraih tangannya. Otomatis Gamal segera menghentikan permainannya. “Mal, aku benar-benar nggak tahan lagi. Aku pernah menyukai Rei, tapi hanya sebatas  itu. Walaupun sekarang aku sama dia, tapi yang ada di otakku… cuma kamu. Dan selalu kamu.”
“Rei nggak berhak disakiti, Sher. Kamu sudah memilih dia, jadi jalani apa yang sudah kamu pilih.”
“Nggak bisa, Mal. Aku sudah berusaha sekeras mungkin, tapi hasilnya tetap nihil. Dia memang menyayangi dan melindungiku, sayangnya aku nggak pernah merasa nyaman sama dia,” aku menarik napas. “Ada momen-momen tertentu yang cuma bisa aku bagi ke kamu, Mal…”
Aku  tidak tahu sejak kapan hubungan kami mulai membeku seperti ini. Mungkin semenjak Rei masuk dalam kehidupanku. Atau jangan-jangan jauh sebelum itu? Sewaktu aku menyadari bahwa perasaanku terhadap Gamal adalah hal yang istimewa, mungkin. Atau ketika aku mengerti bahwa sudah saatnya aku pergi dari lembaran kisah Gamal? Apapun itu, aku sangat merindukan dunia kecil kami. Rutinitas yang selalu kami jalani berdua, walaupun kami tidak pernah terikat dalam status apapun. Maksudku, apakah label “sahabat” antara seorang laki-laki dan teman perempuannya benar-benar ada di dunia ini?
“Maaf, Sher…” Gamal menggantungkan ucapannya di udara, persis seperti apa yang dia lakukan padaku selama ini. “Aku mau pergi. Kayaknya lebih baik kalau kamu juga, deh.”
Hanya itu yang dia katakan padaku. Aku sadar bahwa dia sama sekali tidak memiliki niatan untuk membalas segala perkataanku barusan. Aku juga mengerti bahwa ucapannya tadi adalah sebuah pengusiran halus yang cepat atau lambat akan dia lontarkan padaku. Aku tahu. Aku, Sherma, selalu hapal akan setiap satu millimeter hal yang ada pada diri seorang Gamal. Aku lah yang paling tahu segala macam detail tentangnya. Aku tahu wujud seorang Gamal dari berbagai sudut pandang. Aku bahkan tahu segala hal yang tidak diketahui orang lain tentangnya. Hal-hal yang hanya kami bagi berdua; rahasia kecil aku dan Gamal.
Ada saat dimana kita harus memilih pilihan yang paling  menyakitkan untuk mendapatkan yang terbaik. Bagiku, ini adalah saatnya. Aku pernah, sedang, dan akan selalu mencintai seorang Gamal. Gamal pun tahu pasti tentang hal itu, tapi dia memilih untuk menjalani segala sesuatunya dengan logika. Dengan akal sehatnya.  Meskipun, mungkin, dia ingin sekali  menarikku dari semua mimpi buruk ini, dia tetap memilih untuk membiarkan semuanya mengalir seperti apa yang seharusnya.
Aku dan Gamal tidak ditakdirkan untuk bersama; sama seperti dua sisi koin yang tidak akan pernah saling bertemu.
Dan, Rei… dia hanya lah perantara, pengantar suratan takdir kami.

**


♫ You said move on
Where do I go
I guess second best
Is all I will know ♫

***

Cerpen ini... it's not my best. Bahkan, bisa dibilang aku sama sekali nggak merasa puas sama cerpen ini. Tapi aku suka. Cerpen ini sengaja kubuat untuk temenku, berdasarkan kisah nyata yang dia alamin. Alhamdulillah, dia suka. Cerpen ini juga dipake temenku yang lain buat ngerjain tugasnya, hahahaha... terus, cerpen ini juga cerpen pertama yang ku-print setelah sekian lamanya (aku bahkan nggak inget kapan terakhir kali aku nge-print tulisanku). Intinya?

Aku ngerasa kalo cerpen ini, somehow membawa kebahagiaan tersendiri bagi orang-orang tertentu. Dan aku selalu seneng, kalo ternyata karyaku bisa memberikan sedikit keajaiban untuk orang lain :)

Love,
LadyLo. 

Label: , , ,


tunggu aku
Selasa, 04 Oktober 2011 | 0 comments
Langit masih kelabu, dengan awan yang menutupi cahaya matahari yang entah mengapa begitu malas menerangi pagi ini. Kita membelah kabut yang tak bertepi; kamu dan aku. Deru motormu memecahkan kesunyian yang ada, mengingatkanku akan fakta bahwa hanya kamu dan aku yang berada di jalan raya ini, telah berada dalam balutan seragam putih abu-abu kita.

Aku menarik napas dalam-dalam, berniat untuk menikmati aroma lembab hasil pertemuan air hujan dengan jalanan tadi subuh yang membuat pagi ini semakin sakral. Tapi yang masuk ke dalam rongga hidungku justru bau asap yang kau kepulkan dari rokokmu, asap yang sedaritadi mengusikku.

Tapi aku memilih untuk diam dalam tenang.

Mungkin jalan kita memang sudah berbeda. Mungkin hati kita sudah berpisah semenjak kita lulus dari SMP dan mengambil pilihan sekolah yang tak sama. Namun kita tetap memaksakan diri untuk menjadi satu; hanya karena tak ingin kalah dari ego yang menguasai diri.

"Nero," aku menyuarakan namamu. "Kita sudah jalan dua tahun, tapi kenapa aku masih belum bisa mengerti kamu?"

Sungguh, hal itu terucap begitu saja dari mulutku.

"Kamu pernah mengerti aku." Hanya itu yang kamu ucapkan, tanpa sedikit pun melirik ke arahku melalui kaca spion itu.

"Aku memang pernah," kuakui hal itu. "Tapi sekarang tidak lagi. Kamu berubah."

"Aku cuma merokok, Di."

Cuma, katamu. Seolah-olah merokok adalah aktivitas yang biasa dilakukan semua murid SMA di Nusantara ini.

"Bukan cuma, Nero, tapi sampai." Aku mendesah. Kadang, ada beberapa hal yang hanya bisa tersampaikan melalui desahan dan helaan napas abstrak. "Dulu kamu nggak begitu."

Skakmat.

Laju motormu melambat. Akhirnya kamu menyempatkan diri untuk melirikku melalui kaca spion itu. Bukannya senang, aku justru merasa takut.

"Kenapa? Kamu malu karena aku jadi berandalan seperti ini, sementara kamu tetap berhasil mempertahankan posisimu sebagai murid teladan?"

Aku terkesiap mendengar kata-katamu. Bukan itu yang kumaksud! Hal seperti itu bahkan tak pernah terlintas di otakku barang setitik pun.

Kamu tetap melanjutkan tuduhanmu, entah dengan kesinisan yang kutangkap, maupun dengan nada getir yang tersingkap.

"Atau kamu malu untuk mengakui kalau label 'pasangan sempurna' yang seenaknya orang-orang itu berikan pada kita, ternyata hanya bertahan selama dua tahun?"

Aku terdiam. Ingin rasanya aku menutup kedua telingaku, namun semuanya sudah terlambat. Aku hanya mampu menatap puntung rokok yang baru saja kau campakkan ke atas tanah dengan kasar. Bukan itu yang kumaksud, tapi aku tak mampu untuk menampiknya. Semuanya karena tatapanmu yang membunuhku, dan suara beratmu yang mencekam.

Aku takut.

Kamu menggeleng pelan. Aku mampu menangkap guratan kecewa yang tergambar jelas di wajahmu. Sungguh, teriris hati ini saat mendapatinya bergeming di sana, di dalam kedua matamu yang terlihat lelah.

"Aku tak pernah mau mengecewakanmu." Aku memberanikan diri untuk berucap. "Dan bukan itu yang kumaksud, Nero."

"Bohong." Kamu masih mendakwaku. "Pasti hal semacam itu pernah terpikirkan olehmu, kan? Kecuali kamu orang gila."

"Memang." Aku berkata mantap, mulai menguasai keadaan. "Aku memang sinting tingkat dewa. Hal seperti itu tak pernah sekalipun terpikir olehku. Aku ini tulus mencintaimu."

Kamu tak menjawab. Saat itu lah aku yakin kalau kamu sudah melunak.

"Aku bukan teroris, Nero. Tidak perlu mencurigaiku seperti ini. Kemana rasa percaya yang dulu?"

"Aku sudah berubah, Di. Aku sudah jatuh terlalu dalam, dan tak mungkin kembali lagi." Kamu berucap saat kita melewati tikungan itu.

"Nggak ada yang mustahil di dunia ini."

"Tapi butuh waktu yang lama, Di."

"Aku mau menunggu kok. Berapa lama pun itu." Karena hatiku terlanjur terikat padamu, Nero.

Kamu tersentak. "Justru itu lah yang aku takutkan. Aku nggak mau kamu terus menunggu, Di..."

"Kenapa? Bukannya kita sudah saling berjanji akan setia satu sama lain, bagaimana pun keadaannya?" Mendadak aku merasa panik. Apakah dia berbohong saat mengucapkan ikrar itu?

"Memang begitu. Tapi aku tak mau kamu menyia-nyiakan waktumu hanya untuk aku yang bodoh ini, Di," sahutmu. "Kamu masih bisa terbang bebas, beda denganku. Kamu akan melewatkan ribuan kebaikan kalau kamu terus menungguku."

Aku tak menjawab. Bingung.

"Sayapku sudah patah, Di. Kamu yang harus menggantikanku untuk terbang. Jadi, tetaplah terbang di angkasa... demi aku."

Ada sesuatu yang menghujam jantungku saat kamu mengatakannya. Wajahmu terhalangi oleh kaca helm sehingga aku tak mampu mengawasi ekspresimu. Apakah kamu sungguh-sungguh mengatakannya? Secepat itu kah kamu menyerah?

"Audi, aku mau kamu berhenti jadi pacarku begitu kamu turun dari motorku ini." Akhirnya kamu melancarkan ultimatum itu. Kata-kata yang paling aku takutkan akan meluncur dari mulutmu selama dua tahun perjalanan kisah kita.

"Aku nggak mau!" Aku mencoba melawan. Percuma. Aku tahu kalau keputusanmu sudah final.

"Kalau kamu nggak mau meninggalkan aku, terpaksa aku yang harus melakukannya untuk kamu."

Kini, semuanya menjadi kabur. Gelap. Aku tak tahu lagi harus berbuat apa, harus mengatakan apa. Aku masih mencintaimu, dan aku tahu kalau, setidaknya, kamu juga masih menyisakan cintamu untukku.

Bukankah lebih baik kalau kita berpisah dalam keadaan saling membenci? Tapi aku tidak bisa membencimu. Sedikit apapun itu, aku tidak bisa. Mungkin karena kamu belum mengembalikan hatiku yang kamu tawan.

Maka aku hanya menutup mulutku, pasrah. Kalau memang ini harus terjadi, yang harus aku lakukan adalah menikmati detik-detik terakhir kebersaman kita, kan?

Jalanan mulai ramai. Langit juga semakin terang. Tapi hatiku tidak. Sungguh ironis; orang-orang dan dunia memulai paginya dengan ceria, namun kita justru harus mengawalinya dengan duka. Kita.

Kamu dan aku.

Beberapa saat lagi, kata 'kita' akan segera terhapus dari kehidupanmu, bukan?

Aku memutuskan untuk menyandarkan kepalaku ke punggungmu yang kokoh, dan melingkarkan tanganku di sekitar pinggangmu. Biar saja orang-orang tua itu menatap kita dengan jijik. Aku tak peduli. Mereka tidak tahu apa yang harus kita lewati.

"Di?" Kamu memanggilku, heran.

"Aku belum turun dari motormu, jadi aku masih pacarmu kan?" Aku berkata pelan. "Aku nggak akan menangis, jadi tolong biarkan aku menguasai detik-detik ini."

Kukira kamu akan menyingkirkan pelukanku dari tubuhmu. Namun apa yang kamu lakukan kemudian justru mengejutkanku. Tangan kirimu terulur ke arahku, menggenggam tangan kananku erat-erat. Mengusapnya, memijatnya lembut penuh cinta. Membuatku semakin tak rela untuk melepaskanmu, apalagi meninggalkanmu.

"Harusnya kita nggak saling jatuh cinta," gumammu putus asa.

"Salah. Harusnya kita nggak wajib berpisah," aku meralat ucapanmu. "Nero, jangan pernah menyesali apa yang sudah kita lalui bersama. Hanya itu yang kuminta darimu."

Aku dapat merasakan anggukan kepalamu. Sesaat, aku merasa bahwa dirimu yang dulu telah kembali.

Detik-detik selanjutnya berjalan dengan lambat. Ingin rasanya tetap tinggal dalam waktu yang ini, di sini, bersamamu. Tapi aku harus terbangun dari mimpi indah kita, saat mendapati motormu telah terhenti di depan sekolahku.

"Sudah saatnya, Di."

Kata-katamu bergema di batinku, seperti bel raksasa yang berdentang kencang. Ada pilu dalam hatiku, dan aku juga mendapatinya di wajahmu. Mimpi apa aku semalam, sampai harus--tiba-tiba--berpisah denganmu?

Dengan berat hati, aku menapakkan kakiku di atas tanah. Detik itu lah aku dapat mendengar bunyi semu dalam otakku. Bunyi yang menyadarkanku bahwa aku bukan siapa-siapamu lagi. Kini, Nero yang ada di hadapanku adalah orang asing yang bukan milikku lagi.

Kamu berlalu begitu saja tanpa menegurku lagi, seolah pelukan dan genggaman yang tadi tak pernah terjadi. Diam-diam justru aku bersyukur, karena aku pasti tak akan mampu membendung air mata ini kalau kamu berpamitan denganku.

Aku tak mau berpisah denganmu, dan tak sudi mendengar kalimat perpisahan darimu.

Tapi aku tak mampu mengangkat kedua kakiku, sekedar untuk menggerakkannya masuk ke pekarangan sekolah. Aku hanya bisa berdiri mematung di sini, menatap punggungmu yang menjauh. Menatap motormu yang mulai hilang dari pandanganku.

Aku akan merindukan semuanya tentangmu. Semuanya.

Aku terpaksa melanggar janjiku padamu barusan. Aku ini memang egois; sudah memiliki pelukan dan genggaman terakhirmu, tapi tetap saja meneteskan air mata. Biarlah seperti ini. Biar saja.

Aku berharap kalau kamu akan berputar balik dan kembali ke hadapanku, mengatakan kalau semua ini hanyalah leluconmu. Aku bahkan bermimpi kalau hari ini adalah hari ulang tahunku, agar aku mampu berharap kalau kamu hanya mengerjaiku. Tapi semua ini adalah kenyataan. Kamu tak juga kembali.

Yang selanjutnya terjadi begitu cepat. Aku tak peduli lagi dengan kenyataan yang ada. Aku berlari meninggalkan kerumunan, berusaha untuk mengejarmu sampai dapat. Biar saja kalau dia tak ada di sana, jadi aku bisa merasakan kekecewaan yang nyata terhadapnya, untuk yang pertama kalinya. Jadi aku memiliki alasan untuk membencinya. Jadi aku bisa melanjutkan hidup.

Sekali lagi, semuanya akan jadi lebih mudah kalau kami saling membenci.

Tapi dia ada di sana. Aku tak tahu aku sudah berlari sejauh mana, namun aku merasa baru berlari beberapa meter dari sekolah. Tak ada rasa lelah. Yang ada justru perasaan tak percaya, terkejut penuh ketakjuban. Apakah ini mimpi?

Setelah beberapa menit aku terbujur kaku, barulah aku yakin kalau ini dunia nyata. Dia ada di sana, sedang menepi sambil menatapku penuh kekalutan dan keterkejutan. Dia ada di sana! Nero-ku!

Aku kembali berlari, kali ini menghampirinya. Aku merentangkan tanganku, dan dia menyambutku dengan sigap. Kami kembali berpelukan di pinggir jalan, dihujani tatapan asing dari orang-orang di sekeliling kami. Kami tak peduli.

Kami hanya saling memeluk satu sama lain dalam diam, menikmati momen sakral ini. Tak ada pertanyaan, tak ada pernyataan. Seolah semuanya telah terjawab melalui pelukan ini. Kita memang terlalu memahami satu sama lain. Aku dan kamu.

"Aku sayang kamu, Nero. Terlalu sayang, dan nggak bisa berubah."

Kamu menyeka air mataku. "Tunggu aku, Di."

Saat itulah aku tahu, semuanya akan baik-baik saja.

Label: , , ,


princess
Kamis, 08 Juli 2010 | 0 comments
Sang putri melangkahkan kakinya, beradu dengan lantai yang memantulkan cahaya lampu-lampu besar yang menggantung dari langit-langit ruangan. Sang putri berwajah sendu, namun kecantikannya tak pernah pudar. Rambut hitamnya panjang dan lurus, dengan ujung yang dibuat berputar seperti spiral. Setiap sentinya begitu diperhitungkan oleh sang penata rambut. Bulu matanya lentik, hidungnya mancung, kedua bola matanya bulat sempurna, dan bibirnya yang tipis merona merah. Wajahnya yang tirus membuatnya terlihat semakin sempurna.

Kini sang putri sedang berdiri ditengah kerinduannya. Wajahnya menyembul dari balik teralis, berusaha melihat keadaan luar melalui jendela besar yang ada di hadapannya. Orang yang dia tunggu tidak kunjung datang. Dan sang putri pun menyadari arti dari semua ini.


Sang putri sendiri.


Dan tidak akan pernah ada yang menemani.




Love,
LadyLo

Label: , , , , , , , ,


triangle
Jumat, 23 Oktober 2009 | 0 comments
Almost forget. Just like what I said, I'll post some of my photos that I took around Dhea's house with my friends. Why do I call this post with 'Triangle' name? Because... I only post 3 photos here. We took a lot of photos and I think I only need to post some of them. Enjoy them ;)




Image and video hosting by TinyPic




Image and video hosting by TinyPic




Image and video hosting by TinyPic





Love,
LadyLo

Label: , , , , , , ,


my photo session :)
Minggu, 11 Oktober 2009 | 0 comments
(PS : I had to publish this post yesterday but I couldn't do it because I must off to the bed, so I posted it today :D)

Sorry for the late replieees! I was busy these days, and I didn't have much time for blogging. And my internet connection on home is quite error, and it makes me--you know--kinda lazy for blogging. But I'm going to reply your comments, don't worry :)


What did I do today? Wow, today was an amazing day for me! I took a photo session! Well then, not a 'real' photo session, I mean. My picture was captured by my friend, and even I took some poses. Hehehe.

Today I went to Dhea's house. At first, we planned to watch a movie on a cinema, but for some reasons, one of my friend--Ilham, was cancelled it. So, we went to Dhea's house--only for take some photos. Yay!

Yuda was being the photographer. He doesn't join any photography classes or photography courses, but I think he's so good. He's talented, for me ;) Sometimes Dhea was being the photographer in Yuda's place, and her result was good too. And me?

Oh, come on. You know I can't take a good photo, hehe.

I was being the model, with Shania and Ilham. Dhea did the model's role more than the photographer's role, even though she wants to be a photographer. I captured some photos with my mobile phone secretly, and I think nobody knew about it haha. But do you know what? At first, we used Dhea's digital camera. But after that, we used my mobile phone because they thought my mobile phone's result was better. Oh I was glad to hear that :D

We did the photo session around Dhea's house. There were a lot of good places around her house and we were soooooo glad! The places made our photo amazing! And I was so happy when my friends said that I had a lot of good poses. Oh, thanks so much for you all, fashion bloggers! Because I used your poses, hehe :D

Well then, I'm kinda speechless now, haha. So I think, I should end this post ;) See you tomorrow! :D


Love,
LadyLo

P.S: I made a tribal-batik-dress myself! Hehe. Well, that was my first 50%-DIY-creation. I made it from a loose skirt and I love it soooo much! I wore it on the photo session and my friends said it was a cute dress! I'll tell you how to make the dress, as soon as I can. With the photos, too! Just wait for it ;)


Label: , , , , , ,


my new project: "TWIRTS"
Jumat, 09 Oktober 2009 | 0 comments
Hey everyone! I have a new project; a new story called "Twirts"!! And I'm featuring with Dhea, one of my besties. Yippeeeee! :D We started to write it today, on a small green notebook. We planned to send it to the local publisher, but I'm not really sure about it. I'm going to finish it first, then see what'll happen next. Hehe ;)

And I'm going to tell you about the story! Yay :D

Twirts isn't the story's real name. The real name of our story is Twins' Letters, but we call it 'Twirts' for short. Why did we name it "Twins' Letters"? As I said, I'm going to tell you! :)

This story is telling about two identical twins, Kayleen Watson and Angel Trivia. Their parents were divorced when they was 2 years old. Kayleen lived with their mother, and Angel lived with their father. Unfortunately, they didn't know that they had a twin. They just knew that their parents were divorced and lived in nowhere. Kayleen hasn't met her father and didn't know how does her father look like. Even she didn't know where is her father. And so does Angel. She hasn't met her mother and didn't know how does her mother look like and didn't know where is her mother.

But lucky them, they're living in a same town. Kayleen was enrolled in Marie Agne School (Marien), a favourite only-for-girls school. And Angel was enrolled in St. Olsment, Marien's rival. Surprisingly, they became best-pen-friends for a few years without knowing that they're twins.

They usually send their letters to the Sunrise Park, a big park that connection Marien with St. Olsment. They do the 'sending letters' activity secretly because Marien's students that called 'Maries' aren't allowed to make friends with the students from St. Olsment. And St. Olsment has the same rule too.

And based from the facts that they knew, they started to think that they have a family connection, and they started to investigating about their mysterious connection. Will they know that they are twins? Will their parents married once again? Will the schools allow their students to make friends with each others?

Oh, you should read the story~ ;)



Love,
LadyLo



Label: , , , , ,


"Maira"
Seorang gadis terduduk di kamarnya yang tidak terlalu besar, namun jauh dari kata sempit. Dia menduduki sebuah kursi hijau cerah, tepat di depan meja belajar warna hitam yang dilapisi taplak kuning--menatap layar komputer dengan majalah di tangan kirinya. Gadis itu berambut hitam kelam, sedikit di bawah bahu dengan model 'lob' (A/N: mirip dengan rambut model bob, tapi lebih panjang). Kulitnya kuning langsat dan bersih. Bola matanya bulat dan besar, dengan hidung mungil dan bibir yang kemerahan. Manis.

Diletakkannya majalah tersebut di atas meja belajarnya, kemudian dia mulai mengetik beberapa kalimat dengan komputernya. Membalas wall Facebook yang bertumpuk memang menyita waktu yang begitu lama. Kegiatan tersebut terhenti saat handphone-nya berdering keras.

"Aima?" suara diseberang sana menyapa penuh keraguan. Suara perempuan yang tidak asing lagi di telinga gadis tadi--Aima.

"Tisha? Kenapa?" tanya Aima, setengah menghela napas setelah kelelahan membalas puluhan wall yang menghiasi profil Facebook-nya dalam 20 menit belakangan ini. Tidak perlu heran. Siapa sih yang tidak kenal seorang Aima?

"Jalan ke Cliche, yuk? I've met a cute boy, and he promised to meet me at Cliche with his friend. Ini bisa jadi kesempatan yang bagus lho, Ai," Tisha menyahut, terdengar sangat antusias. Aima kembali menghela napas, sangat tidak tertarik.

"Ajak Rara aja deh, Sha. Sori, aku nggak minat," jawab Aima, terdengar datar. Tisha memang terdaftar di her bestfriends list, namun sifat Tisha yang satu ini--ganjen dan centil--adalah sisi negatifnya yang cukup Aima benci.

"Hah? Ngaco ah! Rara kan baru jadian sama Andri! Mana mungkin dia mau ikut ke Cliche..." Tisha terdengar putus asa. Aima menggeleng hebat.

"Nggak! Pokoknya nggak!" Aima menyahut, setengah memekik. Panik.

Tisha terdiam. Dia tahu, kalau Aima sampai berteriak, itu artinya dia benar-benar tidak mau. Dia mengambil napas dalam-dalam, dan mulai mengeluarkan suara.

"Iya deh... tapi nggak usah teriak gitu dong, Ai," kata Tisha. "Kalo kamu terus-terusan bersikap 'anti cowok' gini, kamu nggak akan pernah punya pacar loh, Ai."

Aima mendesah pelan. Kenapa sih, Tisha tidak juga bisa mengerti maksud dari sikapnya? Bukannya Aima anti cowok. Dia malah memiliki banyak sahabat laki-laki. Namun, sikap Tisha yang terlalu agresif lah yang membuatnya kesal. Lagipula, dia punya alasan tersendiri kok, untuk menolak sekian banyak laki-laki yang pernah menyatakan perasaan padanya.

"Tisha, kamu tahu kenapa aku kayak gini," Aima bergumam, dengan suara yang bergetar.

"...okay, then. Tapi aku nggak akan pernah bosen ngasih tahu kamu, Ai, kalau nggak semua yang telah terjadi sama kakakmu bakal terjadi sama kamu juga."

Klik. Telepon diputus.

Aima melemparkan handphone-nya ke atas ranjang. Kemudian dia membenamkan wajah manisnya ke dalam majalah kesayangannya tersebut. Sedih dan kesal, mengingat apa yang telah terjadi tiga tahun lalu.

Bila kejadian tragis itu tidak terjadi, mungkin saat ini dia sedang bercanda dan tertawa bersama dengan kakak semata wayangnya, Aira. Namun sayang, waktu tidak pernah dapat diputar ulang.

Saat itu Aima baru duduk di kelas dua SMP. Dia sangat akrab dengan kakak kesayangannya, Aira. Meskipun terkadang mereka bertengkar, namun mereka sangat kompak. Aira, yang telah berkuliah di sebuah universitas ternama, adalah seorang kakak yang lembut, ramah, dan pendengar yang baik. Dia selalu punya solusi untuk setiap permasalahan Aima. Dan dialah yang tahu berbagai macam rahasia Aima--bukan ibu mereka.

Aima ingat, Aira terlihat depresi dan penuh kekalutan beberapa hari sebelum kepergiannya. Namun, pagi itu Aira tetap berusaha terlihat ceria di hadapan adiknya--tidak ingin membuat adiknya yang akan menempuh ujian kenaikan kelas khawatir. Sayang, usaha Aira untuk menyembunyikan kekalutannya tetap sia-sia.

Saat akan mengerjakan soal ujian, Aima merasakan sesuatu yang aneh--perasaan yang membuatnya khawatir. Bahkan, saat tengah menyelesaikan soal-soal tersebut, tiba-tiba saja dia meneteskan air mata. Karena dia merasa aneh, dia segera pulang lebih awal dari biasanya--setelah menyelesaikan pekerjaannya.

Dia menyalakan handphone-nya, dan tiba-tiba ayahnya menelpon. Suara ayahnya terdengar begitu sedih, lemas, dan bergetar hebat. Terdengar isak tangis diantara hembusan napasnya.

"Aima, kakakmu meninggal... kecelakaan."

BRUK! Spontan, Aima segera menjatuhkan buku tulis yang ia pegang dengan tangan kanannya. Tubuhnya terasa lemas, jantungnya berdetak begitu kencang.

"Kak... Aira...? B--bohong... kenapa...??" tanyanya pelan, masih belum percaya, namun telah meneteskan air mata. Masih dengan seragam putih biru, dia terisak.

"Mobilnya masuk ke jurang dekat tikungan... pokoknya kamu ke RS dekat rumah, sekarang... Papa tunggu kamu di pintu masuk. Mama pingsan," jawab ayahnya, terdengar tak berdaya. Aima mengangguk pelan, kemudian memutuskan telpon sambil menangis. Dan barulah dia tersadar, kalau dia menerima SMS dari kakaknya... beberapa jam yang lalu, saat dia sedang mengerjakan soal-soal ujian.

"Ai... kata Lodi, temen kuliah Kakak, Thezar selingkuh sama anak Hukum... sebenernya udah dari seminggu yang lalu Lodi ngasih tahu Kakak, dan Kakak juga udah agak lama nyelidikin soal ini... tapi maaf ya, Kakak baru bisa kasih tahu kamu sekarang. Kakak nggak mau kamu kepikiran soal ini. Sekarang Kakak mau ke Sunrise Cinema. Kata Lodi, dia ngelihat Thezar lagi nonton bareng selingkuhannya di sana. Tapi sebentar lagi filmnya selesai, jadi Kakak harus cepet-cepet kesana. Kakak harus bisa mergokkin dia hari ini. Kakak mau nyelesain semuanya hari ini. Doain Kakak ya, Ai. Kalo Kakak berhasil mergokkin dan nyelesain masalah Kakak sama Thezar hari ini, kita makan banana split di Cliche, oke? ;)", begitulah bunyi SMS itu.

Aima menggeleng. Air matanya semakin deras.

"Nggak ada lagi makan banana split di Cliche, Kak....!" gumamnya pelan, sambil berlari ke tepi jalan raya, mencari bus kota.

Dan ternyata benar dugaan Aima. Aira terperosok di jurang karena mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi di dekat tikungan, demi memergokki Thezar--seorang laki-laki yang telah berpacaran dengannya selama 2 tahun. Dan dugaan Aira serta informasi dari Lodi benar-benar tepat. Thezar tengah berkencan dengan seorang gadis dari Fakultas Hukum, Karila, di Sunrise Cinema. Seharusnya Aira bisa memergokki mereka berdua... namun sayang, keinginan terakhirnya tidak sempat terpenuhi.

Dan apa yang Thezar lakukan? Dia malah menghilang begitu saja dari kehidupan Aira. Aima pernah mencoba datang ke kostnya, mengunjungi kampusnya, atau menunggu di berbagai tempat yang biasa Thezar kunjungi. Namun dia benar-benar menghilang secara misterius. Seolah takut bertemu dengan semua orang yang berhubungan dengan Aira.

Tiga tahun berlalu, namun Aima belum bisa memaafkan Thezar. Dan traumanya akan laki-laki yang tidak setia belum juga bisa membuatnya berpacaran dengan siapapun. Dia masih takut dan benci.

Seandainya Thezar tidak pernah melakukan perbuatan bodoh seperti itu, saat ini Aima pasti sedang bertukar pikiran dengan Aira. Bagaimana pun juga, Aima kehilangan banyak momen berharga dengan Aira.

Dia ingin menceritakan berbagai macam hal.

Tentang MOS-nya di SMU, kakak kelas yang tampan, sekolah baru yang luas, teman 'gokil' seperti Tisha, Rara, dan Meidi, seragam barunya yang kebesaran, nilai kenaikan kelasnya yang memuaskan, terkenal di SMU-nya, menjadi murid kelas 11 yang populer, dan banyak lagi.

Dia juga ingin mengalami berbagai macam hal bersama Aira.

Merayakan ulang tahunnya, menerima hadiah dari Aira, shopping bareng, bergosip, mengajak Aira ke prom nite SMP-nya, travelling, dan banyak lagi.

Namun, semua kebahagiaan itu telah direbut oleh seorang laki-laki brengsek bernama Thezar--yang meminta maaf saja tidak berani. PENGECUT.

Aima kembali meneteskan air matanya. "Bukan itu yang Kak Aira inginkan dari kamu, Aima Sayang," ucap Mama setiap Aima murung, meratapi kepergian Aira. Aima berusaha tersenyum, karena dia tahu bila orang tuanya juga merasa sakit sekali akan kepergian Aira.

Aima menyeka air matanya, kemudian berusaha mengusir rasa sakitnya. Dia segera mengenakan sweater dengan turtle-neck warna hijau tuanya, shorts sedikit di atas lutut warna putih, dan bando warna putih. Diambilnya handbag warna hijau emerald hadiah dari Aira saat dia berulang tahun yang ke-13, dan dia segera memakai flats warna hijau tua. Kemudian, dia berjalan menyusuri jalan raya kecil yang tidak terlalu ramai. Rumahnya dekat dengan Cliche, sebuah kafe terkenal di kotanya. Jadi dia bisa pergi kesana hanya dengan berjalan kaki.

Diraihnya handphone dari handbagnya. Lalu, dia mengetik SMS untuk Tisha.

"Aku OTW ke Cliche. Semoga kamu seneng," begitulah bunyi SMS tersebut. Klik! Dia kirim SMS tersebut untuk Tisha.

Baru saja beberapa langkah dia berjalan, langkahnya terhenti di dekat toko buku kecil. Ditatapnya sosok laki-laki tersebut lekat-lekat--sosok yang begitu dia kenal.

Thezar.


(BERSAMBUNG)





Love,
LadyLo


Label: ,


i love mangas :D
Sabtu, 03 Oktober 2009 | 2 comments
Waktu aku ngomongin soal manga, ada beberapa orang yang langsung pasang tampang surprised dan dengan polosnya bilang "Ternyata kamu juga suka manga toh?". Sayangnya, ekspresi mereka berkata "Ya ampun, seorang Nona bisa suka manga?!".

Come on! Aku emang ketum osis, aku emang suka baca buku, aku emang berkacamata, and yes, I wear belt everyday in school, but so what? I'm still a normal teen, right? Nggak peduli orang mau bilang aku bertampang galak, pinter (kata mereka sih), ketua umum osis, or anything else--aku tetep seorang remaja biasa yang berumur 13 tahun. And FYI, I'm freaker than you know :)

Mungkin buat mereka yang udah menghabiskan waktu lama sama aku tau gimana aku yang aseli. I'm freak. And crazy. Bisa dibilang 'nggak punya malu'. Perlu contoh?

- Aku adalah satu-satunya anak OSIS Spenyk '08 yang masuk ke kelas 7-a sambil melenggang dengan mantapnya dan nyanyi-nyanyi nggak jelas dihadapan para junior waktu MOS
- Apa hobiku di kelas? Nyanyi. Dan joget.
- Harap maklum kalo aku udah megang hape. It means aku bakal foto-foto sampe puluhan kali di depan kamu
- Danbanyaklagi.

See? Aku nggak sekalem keliatannya. Dan mungkin aku emang selalu bertampang serius kalo lagi rapat OSIS, tapi kalo kamu tanya mereka, percaya deh, nggak ada hari tanpa aku jadi seorang Nona yang sinting.

Singkat kata: NGGAK USAH LEBAY DAN BERSIKAP SEOLAH-OLAH AKU BARU TAU YANG NAMANYA MANGA DALAM WAKTU 1 MENIT DEH!

Helloooo~ even I've read manga since I was 6 years old!!! Grrr....

Enough blabbing about that stupid thing. Off to the main topic! ;)


Dalam postingan kali ini, aku mau ngasih tau daftar manga yang kubaca belakangan ini. Enjoy! :D


1. Giri Koi (out from list for temporary--belom diupdate hiks)
Mao Tominaga terpaksa masuk ke SMP yang berbeda dari teman-teman SD nya karena rayon rumahnya berubah. Di sekolah barunya, dia bertemu dengan Riku Matsuda yang telah membantunya bergaul dengan teman-teman barunya. Setelah mereka bersahabat, baru Mao sadari jika dia menyukai Riku. Namun, siapakah Miu Takahashi yang selalu ada di sisi Riku itu?

2. Gakuen Alice / Alice Academy
Demi mengejar sahabatnya, Hotaru Imai, Mikan Sakura nekat pindah ke Tokyo dan masuk ke Gakuen Alice; yang ternyata bukan sekolah biasa. Tanpa dia sadari, dia telah terseret berbagai macam masalah rumit dan gawat karena dia masuk ke sekolah itu... apakah masalah itu? Dan apa penyebabnya beberapa petinggi sekolah tersebut menganggapnya sebagai 'anak bermasalah'? Apa yang pernah orang tuanya, yang menghilang dan tak pernah dia lihat sejak kecil, lakukan pada sekolah tersebut?

3. Arisa
Tsubasa berencana untuk menemui saudara kembarnya, Arisa, yang telah hidup terpisah darinya selama 3 tahun karena orang tua mereka bercerai. Saat Tsubasa menganggap hidup Arisa sangat sempurna dan jauh lebih baik darinya, Arisa menawarkan Tsubasa untuk berpura-pura menjadi dirinya selama satu hari di sekolahnya. Tsubasa menerima tawaran tersebut dan mendapati bahwa hidup Arisa memang sempurna; memiliki pacar yang tampan, nilai yang bagus, dan teman-teman yang baik dan menyukainya. Namun, saat Arisa terjatuh dari jendela dan harus dirawat di rumah sakit, Tsubasa baru menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh dari kelas Arisa... sesuatu yang berbahaya dan harus dia selidiki, demi keselamatan nyawa Arisa. Apakah itu?

4. Shugo Chara!
Amu Hinamori adalah seorang siswi SD Seiyo yang cool dan misterius. Namun dibalik semua itu, dia sangat ingin menemui sosoknya yang sebenarnya. Dan suatu hari, dia menemukan 3 telur di bawah badannya saat dia baru terbangun dari tidurnya. Dan telur-telur itu lah, yang membawanya ke sebuah organisasi elit milik sekolahnya yang bernama Guardian, dan semenjak itulah hidupnya berubah...

5. Chocolate Cosmos
Sayuki adalah seorang gadis yang memiliki sedikit teman dan ditakuti hanya karena alasan sepele; tatapan matanya yang tajam--padahal dia memang terlahir seperti itu. Hingga suatu hari, dia bertemu dengan seorang laki-laki yang baik dan beraroma cokelat--yang ternyata 'satu sekolah' dengannya. Sayuki berjanji akan menemukan laki-laki itu di sekolah dan akan membuatnya memberitahu nama aslinya. Dan Sayuki menepati janjinya; dia menemukan laki-laki itu--Hagiwara, yang ternyata salah satu gurunya! Walau Hagi tidak menunjukkan tanda-tanda memiliki perasaan spesial pada Sayuki--mengingat dia ramah pada semua orang--dan entah mengapa seperti trauma dengan hal berpacaran dengan muridnya, Sayuki tetap bersikeras untuk merebut hatinya. Hingga suatu hari, Sayuki menyadari bahwa mantan pacar Hagi adalah kakak kelasnya, murid kelas 3, sendiri...

6. Love Berrish!
Yuuya telah pindah dari sekolah lamanya ke sebuah sekolah berasrama. Awalnya dia sangat tertarik dengan sekolah barunya; mengingat dia memang ingin bersekolah di sekolah berasrama. Anehnya, dia ditempatkan di sebuah asrama campuran laki-laki dan perempuan, padahal di sekolahnya ada asrama khusus perempuan dan asrama khusus laki-laki. Parahnya, penghuni asrama tersebut sangat sedikit--dan orang-orang mengucilkan serta membenci mereka. Loh, ada apa nih?

7. Cat Street
Keito adalah seorang aktris berbakat yang amat terkenal saat dia kecil. Namun, karena ambisi ibunya dalam mempekerjakan dirinya, dia tidak memiliki seorang pun teman. Dan hal itulah, salah satu alasan yang telah menghancurkan karirnya. Akhirnya dia berhenti dari dunia entertainment setelah suatu 'insiden' yang membuat karirnya hancur terjadi. Dia melalui hari-hari dengan kebosanan dan kesedihan, hingga suatu hari dia diundang oleh seorang pria tua ke sebuah 'free school'. Mulai dari situlah, kisahnya dimulai...

Dan banyak lagi :)

Perhatian, semua manga yang kutulis bergenre shoujo (sejenis cerita yang plotnya diambil dari kehidupan sehari-hari kita) karena aku emang paling suka shoujo. Jadi, bagi kalian yang juga suka manga-manga bergenre shoujo, dijamin manga-manga tsb bisa menghibur kalian :D

Dan karena aku baik + rajin (wkwk), Nona bakal ngasihin link buat kalian baca online :) But please, these links just for preview :) support the mangakas by buy the mangas :D Saya sendiri berniat beli kalo nemu, hehehe :p

- Giri Koi
- Gakuen Alice/Alice Academy
- Arisa
- Shugo Chara!
- Chocolate Cosmos
- Love Berrish!
- Cat Street

Enjoy them ;)


Love,
LadyLo

Label: , , , , , , , ,


my 'fake' (ex)bestfriend
Jumat, 02 Oktober 2009 | 1 comments
Jujur sampai saat ini aku bingung
Apa sih kesalahanku
Aku tak tahu
Aku coba bertanya padamu
Tak kau gubris apalagi kau sahut

Aku walling aku komen aku SMS aku sapa
Tak kau jawab
Tak kau lihat
Tak kau balas

Kamu hanya membuatku penasaran saja
Aku jadi pusing tujuh keliling memikirkannya
Bila memang aku salah
Tolong katakan

Ternyata aku memang salah mengira
Ternyata aku memang salah menilai dirinya

Awalnya kukira kamu berbeda
Tulus menyayangiku dan apa adanya
Ternyata kamu sama saja dengan dirinya
Yang begitu beda sekolah langsung berubah

Padahal perpisahan kita begitu indah
Kita berpelukan dengan menitikkan air mata
Namun kini kusapa saja tak kau balas
Ternyata kau memang tega
Apa salahku tak pernah kau jawab

Ternyata memang aku yang salah
Ternyata kamu memang sama dengannya
Tadinya aku berharap kita terus bersahabat
Namun ternyata kamu malah jadi mantan sahabatku

Goodbye, my fake (ex)bestfriend!


Love,
LadyLo

Label: , , , ,


Kaulah Pangeranku ;)
Kamis, 17 September 2009 | 0 comments
Di suatu senja yang indah
dengan langit oranye
yang bersenada dengan biru tua
Angin bertiup pelan
dan pasir melayang, terhempas

Di depan kita, terhampar lautan lepas
Warnanya biru kelam, sekelam bola matamu
Airnya begitu jernih
Dan ombaknya begitu besar
Buih-buih beterbangan, mengisi atmosfer kita

Kita duduk di tebing itu,
tebing yang besar dan begitu kokoh
Warnanya kelabu dan tampak kasar
Kita menatap mentari itu,
mentari yang nyaris tertelan bumi
Yang hendak menghilang di balik lautan

Aku menoleh padamu
dan aku ingat, kau menatapku dalam
Senja itu, bola matamu begitu pekat
dan aku terbawa dalam pekatnya bola matamu

Aku terhisap
Aku terhempas
dalam kepekatan bola matamu

Aku dapat melihat, sesuatu yang begitu asing bagiku;
sesuatu yang tak pernah dapat kusentuh
sesuatu yang belum pernah kumiliki

Dan aku melihatnya di dalam bola matamu
Sesuatu yang kau sebut cinta
Entah apakah artinya.

Kau menarik tanganku
Mengurung telapak tanganku
dalam balutan telapak tanganmu yang besar
dan kokoh

Aku terkejut
dan sesaat aku merasa takut
Kau yang seperti ini bukanlah dirimu yang aku kenal
Kau yang seperti ini bukanlah dirimu yang biasa kulihat

Aku terus menatap bola matamu
Berusaha mencari dirimu
yang selama ini ada di sisiku
Dan aku sadar
bahwa kau yang ada di hadapanku saat itu
adalah dirimu yang seutuhnya.

Aku mengaku; aku tak mengenal dirimu
sejauh yang aku kira

Kau mulai membuka mulutmu
Dan entah mengapa, suaramu terdengar asing
terdengar begitu berbeda

Kali itu, suaramu terdengar lebih dalam
Kali itu, suaramu terdengar lebih berat
Dan intonasimu bebicara, jadi terdengar lebih lembut

Aku pun bertanya dalam hati;
kemana suaramu yang selalu menggodaku itu?
kemana sosokmu yang selalu berlari nakal itu?
kemana sosokmu yang selalu penuh tawa itu?

Kau menjawab
dengan pernyataan yang lain
dengan kata-kata yang terdengar asing di telingaku

"Aku mencintaimu,"
begitulah ucapmu saat itu

Maafkan aku, namun jujur aku ragu untuk sesaat
Saat itu aku begitu naif
Saat itu aku begitu polos

Dan dalam hati aku bertanya;

Benarkah kau pangeranku?
Benarkah kau orang yang tepat untukku?
Benarkah kau orang yang akan mendampingiku?
Benarkah kau jawaban atas semua penantianku selama ini?
Benarkah aku pantas denganmu?
Benarkah kita akan berjalan bersama, mengarungi kehidupan ini?

Dan setelah aku mencoba untuk menerimamu
Dan setelah kita mencoba berjalan bersama
Aku dapatkan satu jawaban
dari semua pertanyaan kliseku:

Ya.

Kaulah pangeranku.

Label: , , ,


Seandainya
Aku tak tahu apa yang di dalam otakmu
dan aku tak tahu apakah kau sadar
akan perasaanku

Aku tak tahu apa alasanmu memilihnya
dan aku tak tahu bagaimana kau dapat
bersama dengannya

Namun melihat kalian berjalan bersama
Namun melihat kalian tertawa bersama
Namun melihat kalian melalui hari-hari dengan indah
Hatiku terasa sakit
Hatiku terasa pilu

Huh,
seandainya kalau gadis yang berjalan denganmu itu aku
seandainya kalau gadis yang kau gandeng itu aku
seandainya kalau gadis yang kau kirimi SMS itu aku
seandainya kalau gadis yang kau nanti-nantikan itu aku
seandainya kalau gadis yang ada di hatimu itu aku
seandainya kalau gadis yang ada di sisimu itu aku

Mengapa kau memilih dirinya?
Mengapa kau tidak mencoba menengok ke arahku?
Mengapa kau tidak berusaha menganggapku ada?

Entahlah.
Namun, seandainya saja gadis itu aku....


Label: , , ,


finally this is it!
Senin, 14 September 2009 | 0 comments
Aku udah cerita kaan tentang beberapa statusku di FB yang ngomongin soal masalah cinta itu? Well, this is iiiiit!

Free Image Hosting at www.ImageShack.us

QuickPost


What do you think? Click for enlarge! ;)

Love,
LadyLo

Label: , , , , ,


Citra yang Menentukan
Sabtu, 12 September 2009 | 0 comments
Seorang gadis terduduk diam di atas bangku taman. Ditatapnya langit dengan pandangan kosong, seolah mencoba untuk membunuh waktu. Bola matanya bergerak pelan, menyapu langit yang begitu luas. Dia tetap sabar menunggu.

Gadis itu begitu manis. Bola matanya berwarna karamel, cemerlang. Kulitnya kuning langsat, halus dan lembut. Rambutnya hitam kelam, tergerai dengan indah menutupi bahu mungilnya. Dan pipinya merona merah, dibasahi peluh yang menetes karena udara yang begitu panas--hanya pepohonan rindang yang melindunginya. Ditariknya cardigan hijau dari tas kecilnya, kemudian dia bentangkan untuk menutupi tangannya dari cahaya matahari yang begitu panas.

Kini dia duduk sendiri, sebuah bangku taman yang panjang. Mengamati gerak-gerik anak-anak kecil yang sedang asyik bermain--berlari-lari di jalan setapak, bersembunyi di balik semak, atau sekedar bermain perosotan--dengan seksama, dan dia pandangi dalam-dalam gestur pasangan yang asyik bercengkerama tepat di depannya. Dia mendelik, mendesah pelan, dan menatap jam tangannya.

Dia mulai mengetuk-ngetukkan kakinya ke atas tanah yang kasar, bosan menunggu. Dia kembali mendesah, bergerak kecil, dan kembali merapikan pakaiannya--dia tidak mau ada kerutan kecil di bajunya, saat lelaki yang dia tunggu datang dan menghampirinya.

Akhirnya dia menghela napas, lelah menunggu setelah satu setengah jam dia terduduk di bangku itu. Kemudian dia membenamkan wajahnya di balik cardigan hijaunya. Menyesal karena tidak menuruti perkataan Aifa.

"Sudahlah, Shaloom! Besok kamu tidak perlu datang ke taman! Laki-laki yang mengundangmu itu Azka--seseorang yang telah menyakiti hati banyak wanita! Jangan sampai kamu mau termakan tipu dayanya!" begitulah perkataan Aifa padanya semalam.

Dan kini dia menyesal, menerka apa yang ada di otaknya selama ini hingga dia mau rela menunggu satu setengah jam hanya demi seorang Azka, yang belum tentu akan menjadi miliknya.

Benar kata Aifa. Aku tertipu. Seorang Azka takkan mungkin menyukai aku yang begitu sederhana seperti ini. Aku hanya jadi mainannya!, batinnya. Apa yang hebat dariku dimatanya? Aku tidak sekaya Audrey. Aku tidak se-glamor Maia. Aku tidak seanggun Letiva. Aku tidak secerdas Ruma. Aku tidak sesempurna Kiana. Tidak ada satu hal pun dalam diriku yang dapat dibandingkan dengan semua mantannya. Apa yang aku harapkan selama ini?

Dia mulai mengusap wajahnya, berusaha menjernihkan pikiran. Lalu dia mulai memutar otaknya, memikirkan apa yang akan dia lakukan dalam beberapa detik ke depan.

Dan dia memilih untuk pergi. Menunggu selama satu setengah jam bukan waktu yang singkat, kan?


Beberapa detik setelah kepergian gadis itu--Shaloom, seorang laki-laki menghampiri bangku yang telah kosong itu. Azka, sosok yang selama ini ditunggu Shaloom.

Ditatapnya bangku kosong tersebuk dengan pandangan sedih. Ya, dia tahu bahwa menunggu selama satu setengah jam bukanlah hal yang mudah. Namun mengantri selama satu setengah jam demi membelikan tiket konser yang paling ditunggu-tunggu oleh perempuan tercinta juga bukan waktu yang singkat, kan?

Padahal baru saja dia ingin mengungkapkan perasaannya. Perasaannya yang begitu berbeda dari sebelum-sebelumnya. Pengakuannya bahwa dia benar-benar jatuh cinta pada perempuan yang ini. Perempuan polos bernama Shaloom yang benar-benar mencuri hatinya. Perempuan yang membuatnya bertekad tidak akan meninggalkannya atau menyakitinya.

Namun memang citra lah yang menentukan.


***

Hehehe batal deh nulis puisinya :p jadi pengen nulis cerpen aja ehehehe. Maap ya cerpennya ancur :( biasanya bahasa penulisanku nggak serius kayak gini. Cuma lagi pengen aja gitu nulis kayak gitu. Hehehehehe.


Love,
LadyLo

Label: ,


Older Post