| |
life isn't like a box of chocolates; it's already scripted.
Life is like a box of chocolates - you never know what you're gonna get.
Mungkin udah ratusan kali kamu denger atau ngebaca quote barusan. But hey, who's counting here? Because what really matters now is, apakah kata-kata mujarabnya Forrest Gump barusan bener atau nggak. Well, aku sendiri yakin pasti bagi sebagian besar orang, definisi hidup ya begitu. Unpredictable, full of surprises, and such.
Definisi hidup menurut Nona?
Life is like a movie script - you never know whether you do your role perfectly or not until you finally watch the result.
Sering denger ungkapan 'dunia ini hanya panggung sandiwara'? I do. And I believe in that statement. Karena pada dasarnya, yang dilakukan setiap manusia di muka bumi ini hanya memerankan perannya masing-masing. Orang jahat, orang baik, orang ketus, orang ramah, semua itu cuma label yang diciptakan manusia sendiri. Tapi pada akhirnya, orang-orang tersebut tetap harus menjalankan lakonnya dengan label-label yang menempel di diri mereka. Kenapa? Karena sekali seseorang gagal menjalankan perannya, seluruh cerita yang udah tersusun rapi di naskah bakal hancur berantakan.
Banyak yang bilang, Tuhan adalah sutradara dari hidup ini. Aku cukup setuju sama pernyataan itu. Dan menurutku, manusia itu (udah jelas ya?) aktris dan aktornya. Sekarang, pertanyaannya cuma satu. Kalo Tuhan = sutradara, dan manusia = pemerannya, lantas siapa penonton dari 'panggung sandiwara' ini?
Karena panggung selalu didirikan untuk para penontonnya, my dear.
Intinya, nggak mungkin kan suatu pertunjukan digelar kalo ga ada penontonnya? Masalahnya, dalam hal ini siapa penontonnya? Malaikat? Iblis? No, in my opinion, mereka juga termasuk dalam kategori "pemain".
I'm getting crazy, I know.
Pernah nggak, suatu hari kamu terbangun dari tidurmu dan satu-satunya hal yang terbersit di kepalamu adalah kalimat "what am I doing to my life"? It's like, everything is pitch black. And then, your brain goes blank. Real blank. Mendadak kamu kehilangan passion buat ngelarin semua pekerjaan yang udah kamu mulai. Tiba-tiba aja kamu mempertanyakan semua pilihan yang udah kamu buat dalam hidup kamu. Dan dalam sekejap, kamu pengen ngulang semuanya dari awal. Ngelakuin hal yang jauh berbeda dari apa yang kamu pilih sekarang. Ibarat main Angry Birds, kamu pengen pindah season. Dari Angry Birds Halloween ke Angrys Birds Rio, maybe?
My mind is like a big parade of mixed things. Ada banyak hal yang harusnya ga perlu kupikir tapi tetep aja terlintas di kepalaku. Gimana kalo ternyata mukaku sebenernya nggak sama kayak yang selama ini kuliat di cermin? Kan aku nggak pernah ngeliat langsung mukaku! (Random thought, it proves that orang lain kadang lebih tau tentang diri kita ketimbang kitanya sendiri - buktinya aja mereka lebih mengenal muka kita daripada kita sendiri) Atau, gimana kalo pas one day aku ngaca, aku baru nyadar kalo aku udah berumur 30 tahun - dan bukannya 16 tahun kayak sekarang? Because time runs faster than we used to think. And this case happens to my Mom.
Aku bahkan sempet kepikiran; kira-kira apa yang bakal terjadi seandainya aku ngambil jalan yang berlawanan sama pilihan yang udah aku ambil sekarang? Things like, gimana seandainya aku ngambil kelas IPS instead of kelas IPA? Gimana seandainya aku nggak masuk ke SMA Negeri 1 Samarinda, tapi masuk ke SMA lainnya? Gimana seandainya aku masuk ke SMK dan bukannya SMA? Gimana seandainya aku masuk sekolah swasta, dan bukannya sekolah negeri? Gimana seandainya aku milih homeschool daripada public school? Apa yang bakal terjadi? Gimana reaksi keluargaku?
Karena sebesar apapun kebebasan yang dikasih orang tuaku, tetep aja ya yang namanya keluarga besar lebih menghormati hal-hal 'mainstream'. Such as, jadi pegawai negeri itu much better daripada jadi wiraswasta (talking about garansi seumur hidup, if you know what I mean) dan hal-hal lainnya.
Hal-hal semacam itulah yang ngebuat aku diem-diem salut sama orang-orang semacam tokoh Wilee di film Premium Rush. You know, the one who abandoned his previous 'life'. Seorang laki-laki cerdas yang nekat meninggalkan kesempatannya mendapatkan gelar Sarjana Hukum, cuma demi mempertahankan passionnya berkendara bebas dengan fixed gear dan jadi kurir khusus. Karena orang-orang semacam itu emang ada di sekitar kita, dan untuk mengambil keputusan seperti itu sama sekali nggak mudah. Aku yakin, ada suatu keberanian yang nggak dimiliki setiap orang waktu temen kita ditanya "kenapa nekat masuk Farmasi?" dan langsung ngejawab dengan tegas, "Aku mau langsung kerja abis lulus sekolah". How I envy you, orang-orang yang gagah berani.
Aku sendiri termasuk dalam kalangan orang pengecut yang masih belom yakin mau jadi apa pas dewasa nanti. Golongan losers yang nggak berani mengambil keputusan yang 'beda dari yang lain', cuma karena takut nggak sanggup menghadapi penilaian dari orang lain. Aku terlalu banyak mikirin "what ifs" instead of doing the hell of it. Orang-orang kayak aku inilah yang kalo hidup cuma ngikutin garis lurus yang mungkin emang udah digambarin sama Allah sejak awalnya.
Probably that's why I always think that life is already scripted. Means, it's not 'a box of chocolates' at all. But hey, what can I do to my screwed life anyway?
Love,
LadyLo.
Label: About me, Daily story, Experience, Just babbling, Life, Opinion, Random thoughts
tempat untuk aku
Setiap orang pasti punya tempat bernaung masing-masing.
Sepasif apapun orang itu, pasti dia punya tempat tersendiri. Tempat dimana semua orang menerima dia. Tempat dimana semua orang merasa nyaman sama dia, dan begitu pula sebaliknya.
Harusnya sih begitu.
Tapi, belakangan ini... aku nggak merasa begitu. Aku ngerasa hampa, kayak ada sesuatu yang ilang. Tapi aku nggak tau apa itu. Yang pasti, aku ngerasa... aku nggak punya tempat dimana pun.
Rasanya kayak semua orang berpura-pura. Mereka bersikap seolah mereka nerima aku, sementara mereka nggak mau nyoba ngertiin aku sama sekali. Mereka nuduh aku egois, padahal mereka juga bersikap kayak gitu ke aku. Mereka selalu minta aku berkompromi sama mereka.
Tapi apakah mereka pernah mencoba buat ngedengerin suaraku?
Lama-lama, aku semakin ngerasa kalo semuanya itu palsu. Kadang, ketika semua orang bersikap seperti menerima kita dengan tangan terbuka, justru itulah saat dimana kita nggak punya tempat sama sekali.
Dan akhirnya aku sadar. Selama ini aku cuma numpang di tempat mereka. Tempat itu nggak pernah aku miliki. Sama sekali.
Sama kayak yang lain, aku juga pengen punya tempatku sendiri. Tapi nggak akan ada yang mau ngasih satu jeda buatku karena mereka semua terlalu sibuk menghakimi aku, tanpa sempat berkaca.
Dan bukannya kita sendiri yang harusnya menciptakan tempat itu?
Love,
LadyLo.
Label: About me, Friends, Just babbling, Random thoughts, Renungan
breaking down for breaking dawn
Friday WAS such a free day. Had much fun on Friday with the one and only--Cinday (alias Sindy). Setelah hari Minggu lalu aku gila-gilaan sama dia dan yang lainnya (baca : Miti aka Mita, Belbo aka Bella, Odi, Kak Omen, dan Yuda plus Dimas--kalo mereka bisa ikut diitung), hari Jumat kemaren pun aku dan Cinday kembali mengguncang Samarinda Central Plaza.
Hari Jumat kemaren ada premiere the famous Breaking Dawn di 21 (and, yes, Samarinda MASIH belom punya XXI atau apapun itu). Aku udah napsu banget buat nonton premiere nya dari jauh-jauh hari. Mengingat aku nggak sempet nonton Harry Potter (such a pity, huh?), kayaknya premiere Breaking Dawn merupakan pelampiasan yang cocok banget.
Sayangnya, nggak ada yang segila aku untuk berani nekat ke 21 masih dalam keadaan berseragam. Hari Kamis aku udah ngajakkin Cinday, dan dia bilang dia udah banyak diajakkin yang lain buat nonton itu film.
Ternyata, Cinday yang baru balik ke sekolah abis selesai ngedatengin festival film something ketemu aku Jumat siangnya. Waktu itu aku udah desperate banget karena nggak ada yang mau nemenin aku nonton Breaking Dawn hari itu juga... padahal aku udah bawa semuanya (minus baju ganti).
Jadi, ya udah, terjadi lah percakapan yang somehow berasa sinting di telingaku itu :
Me : "Nday, Breaking Dawn yuk?" Cinday : "Ayo!" Me : "Ayo!" Cinday : "Ayoooo!" Me : "Sekarang?" Cinday : "Iya, sekarang." Me : "Serius? Aku udah bawa duitnya nih." Cinday : "Iya! Aku juga bawa."
Setelah mencoba ngajakkin yang lain (dan percuma aja, karena tetep nggak ada yang se-nekat kami), maka dimulailah perjalanan nekat berbekal pemikiran semacam apakah-kami-bakal-dilarang-masuk-ke-21-secara-kita-masih-pake-seragam dengan duit seadanya dan angkot warna merah.
Sampe di SCP nya sih masih aman-aman aja. Di pintu masuk kami sempet disuruh ngancingin jaket masing-masing, tapi kami tetep diizinin masuk ke dalem. Dan begitu masuk ke 21 nya... baru deh dramanya terjadi.
The security told us to change our clothes. Bahkan untuk masuk sekedar beli tiketnya pun nggak boleh. Kami sempet berencana buat FREAKING beli t-shirt seadanya di lantai bawah, tapi kami disuruh ganti sampe ke rok-rok kami segala dan nggak mungkin kan kami harus beli bawahan baru juga?
Tadinya kami sempet nyaris ngebatalin planning masing-masing dan berencana buat ngabisin sisa waktu yang ada dengan main Pump di game center, tapi kok rasanya anti-klimaks gitu ya? Bukannya ngerasa down, kami malah semakin tertantang buat bikin itu security K.O.
Akhirnya, kami balik naik angkot ke... rumah Cinday. Buat ganti baju. JRENG!
Sayangnya, semuanya nggak berjalan semudah pikiran kami. Sampe di rumah Cinday, masalahnya nggak langsung selesai. Ukuran badan Cinday sama aku itu... jauh banget. Dia kurus dan baju-bajunya kecil semua, sementara aku semacam curvy dan nggak mungkin muat deh pake koleksi jeans nya dia.
Jadi, setelah dua kali ganti celana dan tiga kali ganti baju... endingnya aku make baju mamanya (koleksi baju mamanya bagus loh, ultra update dan sangat nggak ibu-ibu) dan jeggings nya yang, sejujurnya, sangat menyiksa karena bener-bener ketat banget di aku. Oh iya, dia juga minjemin aku kalungnya yang classy plus tas selempang Versace lucu yang nggak pernah dia pake semenjak KW-an nya beredar luas di pasaran (note dari mamaku : jangan pernah beli semacam Versace, Louis Vuitton, Chanel, atau Gucci kalo nggak mau dikira beli itu barang di pasar malem pinggir jalan)
Finally, kami balik lagi ke SCP dengan angkot merah, pastinya (secara kami berdua sama-sama nggak bisa naik motor, as for me : belom fasih naik motor). Sampe di sana, kami udah deg-degan banget. Kalo sampe kami kehabisan tiket, rencananya kami bakal cursing di depan Om Security yang udah ngeluarin kata-kata manis semacam "tiketnya masih banyak kok" ke kami.
Alhamdulillah, Om Security nggak bohong. Tiket buat jam 14.45 emang masih tersisa minimal seperempatnya lah, dan itu pun kami masih bisa ngedapetin bangku yang pewe banget di row F. Berhubung masih sisa setengah jam, kami memutuskan buat having lunch dulu di KFC (kami bener-bener langsung cabut dari sekolah jam 12.00 dan ga sempet lagi makan siang).
Kami berdua makannya sama-sama lama, makanya kami telat balik ke 21 nya. Sampe sana udah jam 15.00 dan udah nyampe di part Bella and Edward's wedding (hi there, Bella Cullen!).
Ternyata dua teoriku bener :
1. Aku dan Cinday pasti bakal berbagi sebungkus popcorn (yes, I was the one who bought it because Cinday had no plan to buy it and I can't watch any movie with no popcorn there).
2. Breaking Dawn is lovey-dovey couples' forever movie. 80-90% penontonnya pasti bakal ngeboyong pasangan masing-masing.
The movie was fun and exciting. Breaking Dawn satu-satunya sekuel Twilight yang novelnya belom pernah kubaca (aku cuma sempet baca sampe Eclipse), so I was a little bit clueless about the storyline but thank God, Cinday hapal mati sama isi novelnya. Jadi, Cinday dengan berapi-api nyeritain aku detail dari setiap scene versi bukunya, dan aku bisa ngerasain beberapa orang diem-diem melototin kami yang berisik, heboh sendiri, dan bentar-bentar komentar.
But hey, girls just wanna have fun, right? ;)
Abis selesai nonton part 1 yang anti klimaks itu (sekedar bocoran, yang jadi Grown-up Renesmee nggak secantik ekspektasiku, sama parahnya kayak pengganti-cast-Victoria-yang-asli), kami langsung cabut dari 21. Aku udah mulai bingung tentang gimana caranya aku pulang nanti. Untungnya, kami ketemu sama Willi yang kayaknya lagi ngantri buat main Pump, dan dia setuju buat nganterin kami pulang.
Willi tadinya cuma mau nganterin kami ke rumahnya Cinday, tapi mendadak dia berubah pikiran dan mau nganterin aku pulang dulu. Cuma, karena miskomunikasi dan misunderstanding antara kubu aku dan Cinday sama kubu Will, kami jadi harus muterin Tepian sekitar tiga kali cuma untuk sampe dengan selamat di rumahku.
Selama perjalanan itu kami ngegosip banyak hal dan seru banget, sayangnya aku lupa contoh-contoh dari obrolan kami. Padahal, biasanya aku selalu inget sama percakapan-percakapan yang remarkable.
Aaah, intinya hari Jumat itu seru banget! Sampe detik aku nulis postingan ini pun aku masih kena euforia nya Breaking Dawn. Walaupun duitku langsung abis dalam sehabis, tapi bener-bener berasa worth it deh! And yes, I'm breaking down for Breaking Dawn! :D
Love, LadyLo. Label: About me, Daily story, Experience, Friends, Fun, Just babbling, Updaties
under-pressure
Singkat kata, sedang merasa berada di bawah tekanan banyak orang dan stres minta ampun. It feels like I got into lots of problems and couldn't do anything. Stres, jenuh, lelah... Semuanya campur aduk jadi satu.
Anyway, aku baru aja ngelakuin semacam... Total make-over? Got a new haircut and new glasses! :D sekarang aku resmi pake Nautica dengan motif animal print (?). Tadinya ngincer Emporio Armani cakep warna merah, tapi itu kacamata soooo 7icons.
Ah, aku ngerasa ultra-abstrak.
Love, LadyLo. Label: About me, Daily story, Experience, Just babbling, Updaties
indah
Kadang, keindahan seseorang cuma bisa ditangkap sama orang-orang tertentu :)
Love, LadyLo. Label: Just babbling, Love, Quote, Renungan, Short Post
kebahagiaan kecil
Kebahagiaan kecil itu...
Ketika kamu ditraktir es campur sama temenmu.
Ketika kamu ngobrol bareng dua orang temen cowokmu (cowok ngomong berdasarkan logika, lan?) di bawah langit senja yang indah banget, dan mereka berdua nggak segan bertukar pikiran sama kamu.
Ketika orang yang kamu suka berinisiatif untuk menyapa kamu duluan.
Ketika kamu makan jagung bakar sambil nontonin kembang api di tepi sungai Mahakam.
Ketika kamu nyanyiin lagu "Sempurna" dan ada temen yang ngiringin nyanyianmu pake gitar.
Ketika kamu melewatkan waktu bersama adek sepupumu yang masih kecil dan paling kamu sayang dengan cara bergosip, sambil ngemil biskuit dan minum teh anget.
Ketika kamu menemukan baju yang manis dan kamu tau kalo itu cocok banget dipake sama kamu.
Ketika temenmu tau kalo kamu cinta mati sama puding dan dia ngasih itu cemilan (?) buat kamu.
Ketika kamu nggak tidur semalaman gara-gara keasyikan berdiskusi tentang "kehidupan" bareng mamamu di atas kasur, nggak peduli kalo cuma kalian berdua yang masih terjaga di rumah itu.
Kebahagiaan-kebahagiaan kecil semacam itu... yang tanpa kita sadari, justru sangat kita perlukan dalam keseharian kita.
Kalo nggak ada kebahagiaan kecil, mungkin aku udah lama menyerah dan berhenti berusaha. Label: About me, Daily story, Experience, Family, Friends, Fun, Happy, Just babbling, Life, Love, Renungan
high school pride
High School. Aku udah tau artinya dari jaman kelas 1 SD. High school. Gampang. Sekolah Menengah Atas, SMA. Atau yang sekarang udah berganti nama jadi Sekolah Menengah Umum--SMU.
Pride. Kata yyy.sederet.com, artinya "kebanggaan". "Keangkuhan". "Harga diri". Waktu SD, aku pernah denger kata ini beberapa kali, tapi aku nggak pernah tau artinya sampe aku SMP. Dan akhirnya, sekarang aku bener-bener tau apa itu "pride" dalam kehidupan.
Pride itu bersifat addicting. Tapi juga membunuh. Aku baru belajar tentang kata ini di Samarinda, kota yang bener-bener asing buatku. Well, nggak se-asing itu sih, soalnya dari kecil aku udah sering liburan ke sini. Tapi ya tetep aja....... Jogja sama Samarinda? Jauuuuuh!
Jadi, apa hubungannya antara "high school" dan "pride" kali ini?
Simpel. FYI, aku udah 15 tahun (gonna post a special entry about my birthday bash anyway :D) dan tahun ini aku bakal resmi jadi MURID SMA. Sedikit interupsi, ini postingan pertamaku sebagai seorang....... pengangguran pasca SMP? Hehehehe. Soal sekolah...... alhamdullilah, aku udah diterima di salah satu sekolah yang, yah, kata orang bergengsi-banget-di sini lah. Lewat jalur PMDK. Nggak, aku nggak lagi nyombong kok, santai aja.
Nah, selama di Samarinda, aku udah pernah ngeliat dan ngerasain langsung berbagai macam pride di sini. Tapi kalo yang namanya "high school pride", ini (pastinya) bener-bener yang pertama kalinya. Kayak yang udah kutulis di atas, high school pride itu addicting. Tapi juga membunuh. Waktu SMP, aku udah pernah ngalamin junior high school pride (nggak beda jauh sih...), tapi, serius deh, pride yang itu nggak se-mengerikan ini!
Kalo kita salah pilih TK, kita masih bisa memperbaikinya di SD. Kalo kita salah pilih SD, kita masih bisa memperbaikinya di SMP. Kalo salah pilih SMP? Insya Allah masih bisa diperbaiki di SMA. Tapi, kalo salah pilih SMA? Memperbaiki di universitas? Udah telat, kan? Bukannya orang dewasa selalu menerapkan aturan "SMA = universitas = jawaban dari masa depan kita"? Alias kalo SMA jelek, terus dapet universitas jelek, masa depan cerah bakal sulit dateng?
Jangan nge-judge apakah aturan di atas itu benar atau salah adanya. Karena aku pun sendiri nggak tau, namanya juga aku masih....... baru-mau-masuk-SMA. Tapi, selama ini, orang-orang dewasa di sekitar aku selalu ngasih aturan yang sama. Mereka selalu ngucapin hal yang sama.
"Kamu harus dapet SMA bagus, Non. Jadi gampang masuk universitas yang bagus. Dan kemungkinan punya pekerjaan bagus pastinya bakal jadi lebih besar lagi."
Sekali lagi, orang dewasa yang menetapkan aturan semacam itu bukan cuma ada satu atau dua aja loh. Aku kenal banyak orang dewasa yang berprinsip kayak gitu, walaupun mungkin beberapa di antara kalian yang lagi ngebaca postingan ini berpikir, "orang-orang itu dangkal banget sih". Terserah kalian mau mikir apa, yang penting jangan salahin aku. Karena aku cuma semacam korban dari aturan itu :p
Nah, balik lagi ke topik awal. Dengan aturan yang udah pasaran semacam ini lah, anak-anak seusiaku (seenggaknya yang aku kenal) banyak yang kena sindrom "high school pride" tingkat akut. Mereka yang berhasil masuk ke sekolah ultra-keren-bangetngetnget bakal jadi orang-orang yang disanjung. Mereka yang "gagal"? Bakal dicap "LOSER" sama orang-orang.
Bisa dibilang, salah satu temen deketku termasuk di dalam kategori yang terakhir itu. Bukannya apa-apa, menurutku dia cuma kurang hoki aja (luck does matter loh waktu ikutan PSB). Sayangnya, semua orang udah terlanjur menggolongkan dia sebagai "another loser". Bahkan, bisa dibilang.......... keluarganya sendiri. Orang-orang yang seharusnya jadi orang pertama buat menghibur dia.
Akhirnya? Dia memutuskan buat tetep masuk ke sekolah yang mau nerima dia itu. Tapi, dia nggak bakal lama di sana. Dia bilang, dia bakal pindah ke sekolah lain (yang notabene, ehem, sekolahku) dalam waktu kurang dari enam bulan. Dan, ternyata, banyak orang lain yang juga punya planning semacam ini. Bertahan di suatu sekolah selama beberapa bulan, dan akhirnya pindah ke sekolah incerannya diawal.
Orang tuaku nggak suka hal-hal semacam ini. Mama bilang, kalo itu terjadi sama aku, Mama ga bakal mindahin aku dsb. Mama bilang, aku harus diajarin bertanggung jawab atas apapun yang terjadi karena aku. Kenapa "karena aku"? Soalnya, NEM-ku emang jelek (banget), dan, yah....... faktor hoki emang does matter, tapi paling cuma 10-20% doang.
Mama bukannya ngomong gitu karena aku termasuk orang yang beruntung. Bukan karena kami nggak ngalamin hal semacam itu. Hal kayak gini pernah terjadi sama aku kok. Aku dilempar, ditendang dan nggak diterima sama 2 sekolah favorit waktu di Jogja dulu. Dan akhirnya aku masuk ke salah satu sekolah yang favorit juga sih, tapi tetep aja itu termasuk di bawah standar awalku.
Toh, akhirnya keluargaku nggak mindahin aku segala macem. Mereka kecewa sama aku, sama kayak aku kecewa sama my bad luck. But, that's all. It doesn't mean they would do anything to get me in to those schools. Kalo emang itu jalannya, kenapa kita harus "mangkir"? Dan akhirnya, aku ended up sayaaaaaang banget sama sekolahku di Jogja itu. Nggak ada lagi kata "di bawah standar". It has been my forever TOP class even until now :) shout out to my former school, the amazing SMPN 6 Yogyakarta! Kudos to you!
Soal high school pride, Mama termasuk di antara sekian dikitnya jumlah orang yang nggak terpengaruh sama itu sindrom. Mama orang asli sini. Tapi Mama nggak pernah berambisi buat masukkin aku ke sekolah yang sekarang, like what everyone does. Mama nggak pernah nyuruh aku buat masuk ke sekolah tertentu. Justru Mama termasuk orang yang aneh. Mama pernah bilang ke aku :
"Selama di Samarinda, menurut Mama semua sekolah itu sama. Mama nggak perlu ngeforsir kamu untuk sekolah dimana pun, karena ini Samarinda."
Aneh kan? Padahal orang lain sibuk nyuruh anaknya masuk sekolah A, sekolah B, sekolah C. Ada juga yang masih nyuruh anaknya ikut les privat ini-itu, padahal semua ujian sekolah udah kelar dan mereka ngelakuin hal itu demi anaknya bisa lulus ujian masuk sekolah (dan ternyata tahun ini PSB di Samarinda mulai pake NEM! Kasian temenku D:). Tapi Mama beda. Padahal Mama orang sini, orang yang harusnya udah punya ambisi itu mendarah-daging :p
Jadi, intinya........... high school pride itu adalah hal yang sangat BESAR dan LUMRAH di Samarinda. Kota lain juga pasti punya high school pride. Tapi menurutku, high school pride levelan di sini bener-bener undeniable, incredible, a creepy one. Karena derajat orang aja bisa dibedain dari "asal sekolah".
Dan semoga, aku ga akan pernah kena sindrom ini sampe tingkat akut. Apalagi kalo sampe nyela orang dari sekolah lain. Amin. Because we would never know. "Influence nya lingkungan" itu lebih dari sekedar kata ataupun kalimat.
By the way, happy late birthday to myself! :D Dan alhamdullilah karena so far, semuanya berjalan sangat lancar. Semoga ke depannya pun begitu, amin! Semoga my upcoming high school years are gonna be a fun ones!
Terima kasih banyak buat SMPN 1 Samarinda dan SMPN 6 Yogyakarta yang udah ngajarin aku banyak hal; terutama fakta bahwa teenage life itu nggak sesimpel kedengerannya. Terima kasih buat bapak-ibu guru untuk tiga tahunnya yang berharga. Nggak ada ilmu yang nggak berguna, betul begitu kan, Pak, Bu? :) Dan terima kasih juga buat temen-temenku semuanyaaaaa, mulai dari my amazing friends waktu kelas 7 di Jogja, sampe my wonderful, gokil, awesome friends dari kelas 8 sampe kelas 9 di Samarinda. Cuma Spansa yang bisa nyewa dan nguasain satu ASTON plus ngundang SM*SH buat perpisahan sekolah yang berkedok prom night, kan? ;D
I love, love, LOVEEEE you guys!! =D
Love, LadyLo.
Label: About me, Daily story, Experience, Friends, Just babbling, Life, Renungan, School
bitter love
Bitter love. Ini bener-bener title yang sangat klise dan berbau galau khas ababil jaman sekarang. Maafin aku ya, Octopuses. Ini namanya aku lagi running out of title, hiks. Tapi bukan berarti title entry ini irrelevant sama isi nya kok. Justru aku pilih kata "bitter" karena... memang entry ini bakal berbicara tentang hal yang paling naif--dan paling diagungkan--di dunia;
Cinta.
Sebelum ngebahas lebih lanjut, aku mau meluruskan kenapa aku menganggap "cinta" sebagai hal yang paling "naif" di dunia. Well, simply just because cinta memang naif. Dan membuat orang-orang menjadi naif karenanya. Banyak orang yang percaya bahwa "love would be last forever". Dan biasanya mereka yang beranggapan seperti ini adalah remaja belasan tahun. Remaja yang sebaya sama aku.
Setiap kali ada yang menggunakan kata "forever" dalam satu kalimat yang ada kata "love" nya, aku rasanya pengen banget ngasih tau sama mereka kalo "there is NO forever". Ya memang bener kan? Nggak ada yang namanya "selamanya". Nggak usah ngambil contoh yang rumit semacam, "kita hidup cuma sementara alias nggak selamanya, kan?" deh. Cukup ambil sampel yang simpel-simpel aja (hey, it rhymes!). Makanan, pasti akhirannya bakal membusuk kan? Atau, anggaplah kita lagi ngumpul-ngumpul sama temen-temen segeng. Nggak mungkin kan kita bakal selamanya ngumpul bareng? Pasti bakal ada saatnya kita memisahkan diri. Itu pasti. Because it's fated already.
Jadi, intinya, love isn't about being forever. Cinta itu semacam game. Nggak ada kata selamanya. Yang ada cuma permainan seberapa lama kita bisa mempertahankan cinta itu sendiri. That's it. Ibarat kita lagi ikutan kompetisi game yang bernama "cinta", pemenangnya adalah orang yang lebih lama mempertahankan cinta itu. Gitu. Bahasa gampangnya; lama-lamaan cinta-cintaan. In case you couldn't get what I mean.
I, myself, hate the word "love". Bukan, bukan berarti aku nggak bisa falling in love with someone. Tapi aku cuma nggak suka aja sama kata itu. Dan ini bukan disebabkan oleh alesan paling pasaran di dunia ini--patah hati--ya. There is something that happened to me and caused me to hate the word "love". Sesuatu yang mengajarkan aku kalo :
1. Cinta itu buta 2. Cinta itu sementara 3. Cinta itu naif
Cinta itu buta. Ya jelas, kan? Contoh gampangnya, kamu bisa maki-maki orang tua kamu disaat kamu nyaris punya pacar sementara orang tua kamu ngelarang kamu pacaran. Itu contoh yang paling nyata di teen world, no?
Cinta itu sementara. Udah kujabarin dengan jelas di atas.
Cinta itu naif. Udah kujelasin juga di atas, kan? Well, sebenernya bukan pure 100% "cinta" nya yang naif, sih. Sebenernya cinta itu, bisa dibilang, kejam. Dan sangat "real". Cinta itu ajaib, memang. Hari ini kamu bisa diagung-agungkan sama seorang cowok, besoknya kamu bisa dibuang sama mereka. Kenapa? Simpel. Alasan yang paling pasaran buat kasus ini adalah :
"Aku udah nggak cinta lagi sama kamu."
Atau dalam bahasa gampangnya, "cintaku udah lari dan kabur ke cewek lain". Gitu.
Jadi...?
Jadi, yang membuat cinta itu terkesan naif adalah mereka sendiri, yang sedang hanyut dalam cinta. Aku masih belom terlalu ngerti gimana prosedur jalannya percintaan dalam dunia orang dewasa ya, karena aku sendiri belom merasa dewasa. Aku berpikiran simpel, kok. Aku cukup mengambil bahan observasi dari kasus-kasus yang ada di sekelilingku.
Kebanyakan remaja menganggap love is all about lovey-dovey things, while it isn't. Mereka nganggep kalo cinta itu cukup dengan bilang "I love you", gandengan tangan, grepe sana grepe sini, and all. Padahal cinta itu rumit. Cinta itu butuh komitmen, butuh tanggung jawab. Mereka belom punya itu semua, tapi mereka udah berani berkoar-koar "aku cinta sama dia" dan lain sebagainya.
Mereka juga mikir love is all about being happy. Salah sedikit, marah. Salah sedikit, ngambek. Berantem dikit, bilangnya "kamu udah nggak sayang lagi sama aku!" dan lain sebagainya. Ya itulah cinta. Cinta cuma salah satu part penting dalam kehidupan. Dalam dunia. Dunia berputar, cinta juga. Hari ini kamu seneng di dunia, besoknya kamu sedih. Cinta juga begitu. Hari ini kamu merasa cintaaaa banget, besok kamu merasa kadar cintamu berkurang drastis. Ya gitu deh. Intinya, semua yang ada di dunia ini..... adalah "roda". Roda yang terus berputar. Wujudnya memang nggak bulet sempurna kayak roda. Wujudnya memang nggak berporos semacam roda. Tapi ya itu tadi. Semua yang ada di dunia ini punya hukum yang sama seperti roda.
Berputar. Dan kita nggak akan pernah bisa menghentikan perputarannya. Kita cuma bisa jadi penonton. Diam dan menikmati. Kita cuma bisa jadi pemain. Mengikuti apa yang ada di naskah--yang disebut takdir--dan memerankannya dengan sempurna. Kita cuma bisa jadi figuran. Karena pemeran utama nya adalah dunia sendiri. Makanya, ada yang bilang kalo dunia itu "panggung sandiwara". Memang begitulah adanya.
Jadi, ya gitu deh. Kebanyakan orang seumuranku cuma mikir cinta itu isinya happy-happy. Gampangannya, mereka nganggep HAPPY itu pemeran utama dalam sebuah drama yang judulnya "CINTA". Kata-kata semacam "cobaan", "kesedihan", "pengkhianatan", dan lain sebagainya cuma jadi FIGURAN. Mereka salah. Justru yang jadi figuran dalam CINTA itu adalah HAPPY sendiri. Makanya mereka jadi begitu panik ketika mereka masuk dalam fase sulit, fase-fase yang memaksa mereka untuk mendewasakan diri.
Sebelumnya aku minta maaf ya atas pandanganku tentang cinta yang terlalu keras. Tapi memang begitu lah adanya. Life told me so. I've learned about these things from my life experience.
Conclusion? Orang-orang yang lagi dilamun cinta kebanyakan naif. Dan cinta jadi naif karena orang-orang tersebut. Enough said.
....oke. Aku ngerti, penjelasanku yang panjang lebar di atas sama sekali nggak memberi pencerahan maupun jawaban yang tepat dan memuaskan. I'm so sorry. But I've tried my best to tell you about my absurd, odd thoughts. Pokoknya intinya... gitulah. Ada hal-hal yang nggak bisa dijelaskan ke orang lain dengan sempurna. Dan buatku, inilah hal itu.
Alright. Sebelum aku makin off-topic, mari kita bahas inti dari entry kali ini. Kenapa aku sebut bitter love?
Simply just because I considered this kind of love as a bitter love. This kind = the awkward moment when you are falling in love with someone who doesn't even know that you are exist in this world.
So, who the heck is the guy that caused me a BIG problem like this?
It's him.
I know that this photo was taken 2 years ago. Whatever because he looked gorgeous here
His name is Kwon Jiyong. AKA GD, or G-Dragon to be exact (I hate this stage name anyway, I prefer to call him as "GD" than "G-Dragon"). Dia leader Bigbang. Yes, he is Korean. And YES, he is an idol. And of course he doesn't know that there is Winona Anindyasarathi Soedhowo in this world. Poor me, aite?
Kenapa aku suka sama dia?
Because he is amazing. He is still young. Dia good-looking. Tall enough for me. Dia fashionable. Dia smart. Dia creative. Tekun, ulet, bertanggung jawab, profesional, dan banyak hal lainnya yang selalu mencegah aku untuk berhenti belajar lebih banyak lagi dari dia.
Okay, he might be sooo rebel. Asumsiku, gaya hidupnya sangat bebas. Party everyday. Minum. Hangover pastinya. Make. Main cewek. One-night stand udah termasuk dalam kategori main cewek ya. Tapi hebatnya, dia tetep bisa jadi orang HEBAT disaat dia sangat rebel.
You know, sometimes people wouldn't even care about your sins when you are being so awesome. I told you already, right? Poin nomor satu : cinta itu buta.
Everything about him is amazing. Oke, kecuali masalah wajah, itu tolong dikecualikan ya. Menurutku dia bukan tipe orang yang bisa dikyaaaa-in dari segi fisik. Tapi ya, gitu deh. Dalam kasus kebanyakan, biasanya yang terjadi adalah kasus "talenta berbanding terbalik dengan penampilan". Bedanya, GD ini masih bisa jadi eyecandy becuase he is kinda good-looking (just like what I said).
Jujur, sebenernya aku bingung nyari alesan lagi untuk menjelaskan kenapa aku bisa suka sama dia. Bukan, bukan karena aku cuma suka sama dia dengan cara yang klise--karena dia cakep dsb--atau karena aku nggak punya alesan lain untuk suka sama dia. Justru karena terlalu banyak alesan yang aku punya, aku jadi bingung gimana cara ngejabarinnya. Sama kayak gimana aku bingung buat ngejelasin kenapa aku bisa nganggep "cinta itu naif", kayak di atas.
Awalnya memang cuma sekedar rasa kagum. Tapi tau sendiri kan, cinta bisa timbul darimana aja? (Ini salah satu kalimat paling iklan yang pernah aku tulis di blog ini. And I feel so..... gross to mention those words in this blog)
So, yeah......... I'm falling in love with this guy. Bitter love is bitter.
But no, I'm not that delusional. Okay, I might be DELUSIONAL but I'm not that creepy, okay? Mari berbicara tentang fakta. Dan logika. Aku di Indonesia, dia di South Korean. Aku cuma anak tunggal and another student in this world, dan dia idola. Nona Soedhowo x Kwon Jiyong will never happen unless it's fated already and I doubt that God would give that kind of fate to me.
Jadi...? Jadi, aku ga bakal berkhayal lebih lanjut kalo dikemudian hari aku bakal jadi Nona Kwon or else (sebenernya aku bahkan nggak bisa ngebayangin hal ini, sih). Aku cuma berharap, aku bisa dapet suami... atau seenggaknya "pacar" yang kayak dia.
Taller than me, itu pasti. Smart. Creative. Bertanggung jawab. Punya komitmen dan berpegang teguh pada prinsip. Ga klemak-klemek. Easy-going. Fun. Ulet, tekun, ga mudah putus asa, berani mencoba. Agak-sedikit-perfeksionis, boleh lah. Good-looking itu juga harus. I'm not asking for the handsome ones. But he has to be good-looking. Let's talk about reality, sekarang udah bukan jamannya "look doesn't matter", kan? Just admit it. Everyone wants a good-looking girlfriend/boyfriend.
Jadi, dengan bangga saya mendeklarasikan ideal guy saya adalah......... GD! With the less rebel-ness, please. Karena aku gampang kebawa arus. Jadi punya cowok dengan tingkat kerebelan sama kayak GD is a big no.
Mungkin beberapa dari kalian mikir, "ah cuma gitu doang masa iya sih nganggep udah falling in love?". Tapi menurutku, itu lah yang terjadi. Well, semacam itu lah. Karena kadang, ngeliat video nya... ngeliat fotonya.... ngedengerin lagu-lagunya....
He makes my heart flutter.
Hiks, I'm being these pity fangirls with their bitter love. Menyedihkan, memang. Tapi aku nggak menyesal. GD, walaupun dia sangat nakal, udah ngajarin banyak hal ke aku. Termasuk poin bahwa hidup itu bukan sekedar "lalala land". Hidup itu keras. Tapi untuk menghadapi kerasnya hidup, kita hanya bisa bertahan sekuat tenaga. Kompetisi atau persaingan, itu semua cuma hiasan belaka dalam hal yang namanya "kehidupan". Hiasan yang nggak lain adalah salah satu komponen utama. Dan mau nggak mau, kita harus menghadapi hiasan hidup yang satu ini.
Kadang, kalo aku sedih, dengan mengingat perjuangan GD dan role modelsku yang lainnya (Kahi, Park Bom, Tiffany), aku jadi semangat. Kalo putus asa, cuma dengan mengingat mereka pernah melalui fase yang sama dengan apa yang lagi aku alamin, aku jadi punya kekuatan lagi buat menghadapi semua masalah yang ada. Berkat mereka, aku bisa mengatakan hal ini sama diriku sendiri :
"Kamu ada di tahap yang benar, Non. Kamu cuma harus berusaha melewati fase ini, dan tadaaah. Saat kamu sadar, kamu akan ada di tahap yang sama dengan mereka. Sukses. Berhasil."
Ini namanya agak off-topic. Jadi lebih baik obrolan soal GD, Kahi, Park Bom, dan Tiffany being my role models sebaiknya disimpan untuk next entry, gimana? ;)
Jadi, intinya, I'm falling in love with GD and want to have a hubby/bf like him. Ngomong-ngomong soal hubby, I gotta feeling that my hubby will be older than me deh. Beda umurku sama GD bahkan sekitar 7 tahunan. Whatever sih, yang penting masih bisa klik dan nyambung ke aku. Karena aku sendiri nggak bisa ngobrol dengan leluasa and being myself dengan anak-anak cowok seumuranku (just like what my parents said; jalan pikirku udah kejauhan).
Yang penting jangan sama anak-anak semacam member-member SHINee. Sama sekali nggak bikin aku nafsu (sorry, Shawols). They are talented but they aren't my type.
So, yeah.... I prefer Kwon Jiyong over Justin Bieber, is that weird?
Whatever, let's enjoy this bitter love! :D
Love, LadyLo
Label: About me, Celebrity, Daily story, Just babbling, Kpop, Life, Love, Opinion, Postingan sampah, Renungan, Sad
parents, family, and the sims
Orang tua adalah harga yang tak dapat ditawar, harta yang tak tertukar.
Kenapa tiba-tiba aku ngomong ginian? Well, simply just because I saw many tweets in my timeline. Isi tweetsnya? Beberapa orang temenku yang mengutuk orang tua mereka sendiri. Oke, mengutuk sounds a lil bit scary--walaupun kenyataannya emang ngeri. Lebih tepatnya, mereka memaki orang tua mereka sendiri.
Bukan memaki dengan kata-kata, "Orang tua gue ngeselin banget! Kerjaannya ngatur mulu!" ya. Tapi memaki dalam contoh... "Bokap nyokap gue jancok banget! Bangsat!" dan lain sebagainya yang bisa kalian bayangin sendiri.
Memang, bisa dibilang aku nggak ngerti permasalahan apa yang mereka hadapin; apa yang orang tua mereka lakuin ke mereka, apa yang mereka rasain, apa yang terjadi, dan lain sebagainya. Aku bukannya ikut campur--you could call me like that kalo sampe aku ngemention si pembuat-harsh-tweet-ini dan nasihatin dia ini-itu sementara aku sendiri nggak tau masalahnya apa. Mari kita sebut aku lagi.... ngasih komentar. Dari kacamata penonton.
Sebenernya sayang banget, mereka-mereka (yang ngebuat harsh tweets ini) sampe ngucapin hal sedemikian rupa. Walaupun kasar, mungkin kata-kata semacam "orang tuaku rese banget!" atau "asli kesel banget diceramahin ini-itu mulu!" mungkin lebih ditolerir daripada kata-kata semengerikan itu. Karena... gimana pun juga... mereka itu orang tua kita.
Call me naive. Dan mungkin kata-kata ini udah klise. Banget. Tapi itulah kenyataan. Ada hal-hal yang nggak bisa kita pertanyakan di dunia ini. Ada hal-hal yang memang nggak logis di dunia ini. Ada hal-hal yang nggak bisa kita tentang di dunia ini. Memang begitulah kodratnya. Seorang anak, sampai kapan pun juga, nggak akan pernah bisa memiliki derajat di atas orang tuanya. Which means, sampai kiamat pun, kita nggak akan pernah bisa memiliki alasan yang cukup untuk membuat kita diizinkan memaki orang tua kita.
Sekilas memang rasanya nggak adil. Disaat orang tua kita, mungkin, bisa memaki kita. Disaat orang tua kita, mungkin, sangat menyakiti hati kita. Tapi itulah dunia, kan? Apa yang bisa kita lakukan sebagai seorang anak hanya menerima, nggak lebih. Itulah hak seorang anak. Menerima.
Protes, oke lah. Kritik, boleh lah. Tapi memaki? Apalagi sampe mengeluarkan kata-kata semacam "jancok", "anjing", "bangsat", dan lain sebagainya ke orang tua kita sendiri?
Jangan lupa, kita bukannya sedang berbicara dengan teman kita, loh.
Orang-orang banyak lupa. Katanya, kita nggak boleh terlalu sering membandingkan diri kita dengan orang lain. Tapi bukannya berarti membandingkan diri dengan orang lain itu selalu membawa kejelekan, kan?
In this case... mari bandingkan diri sendiri dengan orang-orang yang nggak bisa tinggal bareng kedua orang tuanya. Atau nggak bisa tinggal dengan keluarga lengkapnya. Those people--who cursed on their parents--live with their parents. Their family. Padahal ada banyak orang-orang di luar sana, yang berharap mati-matian bisa tinggal dengan orang tuanya. Lengkap. Ada orang-orang yang berharap keluarga mereka nggak tercerai-berai. Ada orang-orang yang berharap bisa memutar ulang waktu cuma biar bisa kumpul sama kedua orang tuanya.
Like me.
Aku lagi berada dalam kondisi semacam ini; kondisi dimana kamu bener-bener ngerasa shock. Ibarat abis ngelaluin satu perjalanan, kamu lagi jetlag. Bingung dengan keadaan yang sedang kamu alami. Saking drastisnya perubahan yang kamu miliki, kamu jadi blank. Dan klimaksnya adalah ketika kamu bertanya:
Apakah benar, kalo aku pernah hidup dimasa lalu? Kok, rasanya aku cuma hidup dimasa ini? Kok, rasanya aku baru ngerasa hidup sekarang? Dimana kenangan-kenangan yang dulu aku alamin? Apakah benar semua kenangan itu pernah aku alamin?
That's it.
To be honest, I miss my dad so much. Aku kangen saat-saat aku, Mama, dan Papa ngumpul bareng. Saat-saat kami kumpul di depan tv dan makan malam bareng. I didn't mind about the menu. Mau itu pizza yang kami take-away, atau ikan bandeng presto yang Mama beli di warung, I didn't even care about it. Yang aku peduliin adalah detik-detik dimana kami ngumpul bareng. Saat-saat dimana kami ngobrol di depan tv, ngebahas semua hal yang ada. Mulai dari yang penting, sampe yang nggak worth it buat dibicarain sekalipun. I miss those moments.
Aku bahkan kangen dimarahin papaku. Saat-saat dimana aku dapet nilai-nilai jelek dan Papa marahin aku. Dan pasti Mama ngebelain aku. Saat-saat dimana aku dituntut untuk dapet banyak nilai 9. I didn't mind about that. Karena dulu--dan sekarang pun--aku hidup untuk orang tuaku. Kupikir, kalo nilaiku bagus, orang tuaku bakal bahagia. Bakal bangga sama aku. Makanya aku berusaha keras biar bisa mencapai itu semua.
Soalnya, salah satu impianku itu bisa bikin orang tuaku bahagia dan bangga sama aku. Sehingga mereka bisa ngomong ke semua orang, "Ini loh Nona, anakku."
Mungkin kamu pikir ini impian klise banget lah, bullshit lah, sok anak baiklah, or whatever it is. Tapi itulah kenyataan. I hate being naive. Atau klise. Tapi terkadang memang ada saatnya dimana kita jadi naif dan klise. Inilah saat yang tepat buatku.
Intinya, aku kangen semua saat-saat yang pernah kulaluin itu. Setiap detail terkecilnya. Setiap detiknya. Aku kangen semua itu. Dan jujur, aku ngiri sama mereka semua yang bisa ngedapetin apa yang aku paling pengenin saat ini. Tapi mereka malah nyia-nyiain semua itu. Bahkan, mereka ngebuang jauh-jauh kesempatan itu.
Dalam artian, mencaci maki orang tua mereka.
Orang tua yang ada di sana untuk mereka.
Jadi... buat kalian semua yang ngebaca ini... terutama bagi yang kesel banget sama orang tua masing-masing. Bersyukurlah. Seenggaknya kalian masih bisa ngumpul, lengkap, komplit bareng kedua orang tua kalian. Ada orang-orang di luar sana yang pengen ngumpul sama orang tuanya tapi nggak bisa atau susah. Ada orang-orang yang ngiri sama kalian.
Inget, hidup ini nggak semudah game. Nggak segampang The Sims. Oke, sebenernya The Sims itu sulit dan rumit sih. Sims-ku pernah selingkuh sama suami orang dan dia udah punya anak, mendadak dia dan keluarganya jatuh miskin and all. Tapi, kalo main The Sims, kita masih bisa melarikan diri dari kenyataan dan masalah yang ada. Kita bisa tinggal mainin family yang lain, atau ngedelete family yang bermasalah itu.
Tapi kehidupan nyata berbeda. Kita nggak bisa lari. Kita cuma bisa menghadapi dan menyelesaikan masalah yang ada. Dan mencaci-maki itu termasuk upaya melarikan diri.
Hidup jauh lebih sulit dan rumit daripada The Sims.
Dan aku bukannya ngomong tanpa pengalaman.
Jadi, mari kita bersama-sama menghadapi dunia ini... menjalani hidup, menghadapi, dan menyelesaikan masalah yang ada. Karena hidup dan masalah itu selalu berdampingan. Yang menentukan adalah diri kita sendiri; bisa, atau nggak. Kuat, atau lemah. That's it :)
Mulai sekarang, ayo kita berjuang bareng! And happy new year 2011 too! Fighting! :D
Love, LadyLo
Label: About me, Daily story, Experience, Family, Just babbling, Life, Love, Nostalgia, Opinion, Problem, Renungan
princess
Sang putri melangkahkan kakinya, beradu dengan lantai yang memantulkan cahaya lampu-lampu besar yang menggantung dari langit-langit ruangan. Sang putri berwajah sendu, namun kecantikannya tak pernah pudar. Rambut hitamnya panjang dan lurus, dengan ujung yang dibuat berputar seperti spiral. Setiap sentinya begitu diperhitungkan oleh sang penata rambut. Bulu matanya lentik, hidungnya mancung, kedua bola matanya bulat sempurna, dan bibirnya yang tipis merona merah. Wajahnya yang tirus membuatnya terlihat semakin sempurna.
Kini sang putri sedang berdiri ditengah kerinduannya. Wajahnya menyembul dari balik teralis, berusaha melihat keadaan luar melalui jendela besar yang ada di hadapannya. Orang yang dia tunggu tidak kunjung datang. Dan sang putri pun menyadari arti dari semua ini.
Sang putri sendiri.
Dan tidak akan pernah ada yang menemani.
Love, LadyLo
Label: About me, Bloglit, Cerpen, Daily story, Experience, Just babbling, Life, My Creations, Renungan
when the school makes me frustated
Do I hate school?
Nah-nah, I don't. Yah, bukan berarti aku tipikal nerd yang hobi banget dateng ke sekolah sih. Nggak. Aku masih normal kok. I hate homeworks, exams, and scary teachers. Aku juga punya banyak antis di sekolah, dan hal itu jelas bikin aku cukup males buat masuk sekolah. Tapi aku punya temen dan hal-hal asyik yang kudu diselesaiin di sekolah. Makanya aku masih ada sedikit "rasa" sama sekolah. LOL.
Terus kenapa sekolah berhasil bikin aku kelimpungan dan galau selama sebulan terakhir ini? Well, I'm worried. Karena aku udah kelas 9--which means I'm officially a senior in my school now--dan bakal menempuh ujian dalam waktu kurang dari 8 bulan, aku khawatir. Bener-bener khawatir.
Karena aku tipe orang yang mencintai nilai tinggi, atau hasil bagus dengan nilai membanggakan, atau hasil menyenangkan dengan ranking bagus, atau hasil bagus, nilai bagus, ranking bagus, whatever you called it, aku khawatir.
Sangat khawatir.
Jujur aja aku jadi pesimis tingkat tinggi setelah tahu NEM terendah di Padmanaba--SMAN 3 Yogyakarta--yang nggak lain nggak bukan adalah sekolah incaranku in case aku masih sekolah di Yogyakarta adalah, ugh, 37 koma sekian.....
Aku khawatir.
Apakah aku bisa ngedapetin NEM minimal 37,50 walaupun aku sekolah di Samarinda? Apakah aku bisa tetep mempertahankan NEM-ku dulu, walaupun aku udah nggak di Yogyakarta? Apakah aku bisa mendapatkan pendidikan yang terbaik di sini? Apakah aku bisa menyamai nilai temen-temen di Yogya? Apakah aku BISA?
Dan berbagai pertanyaan galau khas anak labil lainnya.
Oke, orang-orang bisa mengeluarkan saran-saran yang cocok masuk di buku pelajaran Bahasa Indonesia, such as "Dimana pun kamu bersekolah, asalkan kamu rajin, kamu pasti bisa!" atau "Yang penting kamu berusaha, tinggal berserah diri aja!". Kembali ke realita, faktanya adalah, tempat--lokasi, lingkungan, dan suasana sekitar kita sangat berpengaruh dalam menghadapi ujian.
Admit it, deh! Mau bukti? Bukannnya aku ngeremehin daerah luar Yogyakarta, Jawa, atau manapun juga loh ya. Tapi kenyataannya, berdasarkan pengalamanku nanya sama orang-orang, perbedaan NEM murid-murid di sana dan di sini memang jauh sekali.
Sekali lagi, bukannya aku ngeremehin. Bold those words.
Dan inilah aku. Remaja berumur 14 tahun yang lagi galau dan berada di puncak kelabilannya. Aku bener-bener berharap bisa dapet NEM minimal 37,50 walaupun aku sekolah di sini. Aku bakal berusaha dengan keras, walaupun harus ngulang kejadian kurang-lebih 2 tahun yang lalu (ikut kelas remidial waktu liburan semester, nangis-nangis karena harus belajar keras tiap hari, putus asa karena jadwal belajar yang mengikat, stres tingkat tinggi, gugup, dsb). Mungkin agak impossible, sih. Tapi dulu aku berhasil ngedapetin NEM yang, yah, pasaran sih di Yogya. Cukup susah nyari sekolah. Tapi aku berhasil ngedapetinnya walaupun aku sekolah di desa yang terpelosok. Sekarang, kenapa aku nggak bisa?
Aku masih seorang Nona Soedhowo, kok. Orang yang sama dengan anak kecil diwaktu 2 tahun yang lalu. Kenapa aku nggak bisa? Aku pasti bisa. Aku harus bisa.
Oke, please abaikan 2 paragraf di atas. Aku lagi nyoba menghibur diri sendiri waktu nulis dua paragraf tersebut. Faktanya adalah :
AKU GUGUP! AKU TAKUT!
Jadi gimana dong nih, Octopuses?? Got some advices for me? Bisa membesarkan hatiku? Pleaseeeeeeee, I really need your support right now! I beg you :(
I should stop writing this post. Kelabilan lebih mendominasi entry ini daripada keresahanku. Sekali lagi, tolong bantuin aku ya, Octopuses :'(
Love, LadyLo
Label: About me, Daily story, Experience, Just babbling, Life, Nostalgia, Obsessions, Problem, School
what should I write?
What should I write?
Pertanyaan yang absurd memang--dan juga retoris, menurutku--dan jarang ditanyakan oleh seorang Nona, haha. Well, jujur aja aku lagi bingung to the max harus nulis apa. Udah lama nggak blogging, dan aku ngerasa lagi ga ada bahan yang cocok untuk dipost di sini. Bukan berarti aku ga suka blogging lagi, atau udah ga punya passion buat nulis ya. Justru karena suka itu lah, aku jadi bingung.
Oke, aku jadi bingung sendiri sama tulisanku di atas.
Anyway, how was your score, Octopuses? Mine was... hmmm... lumayanlah, haha. Ranking juga Alhamdullilah lumayan juga. Dan sekarang, aku lagi terjebak dalam liburan yang Oh-My-God-it-is-so-boring. Seandainya aku besi, mungkin aku udah karatan saking bosennya. Hiperbol abis ya? Hehehe. Tapi serius loh, liburan kali ini bener-bener membosankaaaan! Ga ada tuh yang namanya pergi ke luar kota segala macem. I envy you, Octopuses yang sibuk hilir-mudik ke sana-ke sini.
Jadi, apa kesibukanku selama liburan ini? Ga jauh-jauh dari kata tidur, ngenet, dan makan. Kayaknya, begitu liburan selesai, berat badanku bakal nambah nih. Duh, God, I should take a diet!
Well, untuk membebaskan diri dari kebosanan yang mengenaskan, aku ngabisin hari-hariku di kamar, nerusin fanfic-fanfic yang semakin menggunung dari hari kehari. Apa aja fanficnya? In case you want to see the list, here it is :
- Love Constellation : fanfic kolaborasi bareng Aldi Oppa. Tokoh utamanya, SNSD's Im Yoona dan Jang Dae Jung (OC).
- Leaving The Sunshine : fanfic buat hadiah ulang tahunnya Giri yang, yah, udah lewat lama banget hehehe. Salahkan moodku yang selalu naik-turun, jadi jarang nerusin oneshot ini (alamat orang nggak mau disalahin). Tokoh utamanya SNSD's Im Yoona (lagi) dan 2PM's Ok Taecyeon.
- Untitled Project : fanfic rahasia, hahahahaha. Kenapa aku berani ngumumin soal fanfic ini di sini? Well, pengen aja hahahaha (ga jelas abis). Aku ngasih sebutan "Twins' Project" ke fanfic ini. Kenapa? Jawabannya akan anda ketahui setelah anda membacanya... LOL. Tokoh utamanya SNSD's Kwon Yuri dan 2PM's Nickhun. Dan ada juga guest star tersayang kita, Victoria Song dan Son Dam Bi! Yay!
Cuma 3 fanfic, emang. Tapi proses nulisnya itu lamaaaaaa dan sulit banget! Mana lagi moodku buat nulis naik-turun mulu. Duh! Wish me luck ya, biar bisa nyelesein 3 fanfic di atas dengan cepat! ;D
Ngomong-ngomong, aku juga lagi mengalami pergolakan mood buat masuk sekolah nih. Sebenernya aku ada rasa semangat buat masuk sekolah, dan perasaan ini cukup mendominasi. Cuma, kalo ngebayangin hari-hariku nanti... tiap hari harus pulang sore, belom lagi langsung cabut ke bimbel, terus di rumah belajar lagi. Duh, aku udah kelas 9 ya? Ga kerasa banget! Belom lagi nanti, pas udah semester baru, aku pasti bakal kangen hari-hari kayak gini... hari-hari yang santai dan penuh kedamaian (LOL). Oke deh, aku emang harus nikmatin dan mengenang dulu hari-hari males kayak gini, huhu.
Oh iya, poster dari Jakarta yang dikirim Kak Dhira udah nyampe di rumahku. Rasanya sayaaaaang banget mau nempelin di sekolah. Abisnya gimana dong? Hadiahnya MacBook Pro sama iPod Touch, men!! Siapa yang nggak ngiler, gitu loh??
Wuah, pada bertanya-tanya deh itu poster apaan, begitu ngebaca kata MacBook dan iPod Touch? Hehehehe. Hitung-hitung menambah pahala (apa banget deh), saya bakal berbaik hati ngasih tau kalian soal lomba ini.
Basically, lomba ini adalah lomba menulis. Honestly aku ga tau apa visi dan landasan dari kompetisi ini sih, karena aku bukan panitianya. Yang pasti, aku cuma tau kalo kamu bisa dapetin 1 MacBook Pro dan 2 iPod Touch (bagi 3 pemenang yang dipilih oleh para editor) dan 7 handphone + prepaid internet packages, kalo eBook buatan kamu termasuk dalam 10 eBook terfavorit! Yay! Mau kan? Pengen dong?
Jadi, buat kamu semua yang suka menulis dan hobi bikin eBook, tunggu apa lagi? Segera sign up di www.evolitera.co.id dan publish eBook kamu di sana sekarang juga! C'mon, Octopuses! Let's show off our power to the people! Hehehe, maap saya jadi bersemangat sekali :D
Aku ga tau banyak soal persyaratannya, tapi memang di posternya ada ditulis beberapa langkah yang harus dilakukan untuk mengikuti kompetisi ini. Tertarik? Leave me a response on the chatbox yang tersedia di page "MISC". Aku ga nunggu ada 5 respons atau berapapun itu. Asal ada satu orang dari kalian yang tertarik, aku berkenan nulis ulang step-step yang ada di poster tersebut, bahkan mungkin sama foto posternya sekalian. Ini kalo kalian pengen liat dan tau apa yang ada di poster yang aku dapetin, loh, ya :) Soalnya kan percuma aku motret sama nulis ulang di sini kalo ternyata ga ada yang berminat, hehe. Jadi...........
GO GO, LEAVE ME A RESPONSE! :D
Love, LadyLo
Label: About me, Announcement, Daily story, Experience, Fun, Info, Interests, Just babbling, Life, Updaties
so this is how does it feel
So this is how does it feel to be a sister...
:)
Love, LadyLo
Label: About me, Experience, Family, Just babbling, Life, Short Post
oh-so-random
Dunia. Sudah. Berubah.
Nope. It doesn't like I'm-so-odd from now on. Oke, oke, aku emang aneh dan abstrak. Tapi bener loh, di mataku, dunia udah berubah. Lebih tepatnya, dunia berputar terlalu cepat buatku.
Yup, terlalu cepat. Dunia ini berputar sangat amat sangat terlalu cepat buatku. Perubahan-perubahan yang terjadi, semuanya terlalu drastis dan terjadi dalam kurun waktu yang terlalu singkat. Aku nyaris nggak bisa nerima semua perubahan yang udah terjadi ini.
Perubahan yang aku maksud itu, ya... perubahan. Bagaimana tingkah laku dan sikap setiap individu ke aku. Gimana kondisiku saat ini. Gimana suasana lingkungan sekitarku. Kejadian-kejadian yang aku alamin belakangan ini. Rasanya semua itu terjadi terlalu cepat buatku. Orang-orang yang dulu akrab sama aku, sekarang semakin jauh. Bahkan beberapa diantara mereka berubah jadi 'musuh' buatku. Justru, orang yang dulu nggak pernah kusangka bakal deket sama aku, sekarang malah jadi akrab banget sama aku.
Tapi, itu semua masih belom apa-apa. Yang paling parah adalah; aku bahkan nggak bisa ngikutin perubahan yang terjadi sama diriku sendiri.
Belakangan ini aku berubah total. Aku jadi lebih sensitif dan sangat labil. Labil dalam artian, detik ini aku bisa ketawa-ketiwi, tapi detik berikutnya aku bisa diem aja, bengong, kayak orang yang nggak punya tujuan hidup. Dan bisa dibilang, semua itu terjadi karena aku depresi berat. Yup, depresi. Bukannya aku mau lebay atau gimana ya. Tapi emang itu yang terjadi sama aku. Nggak lucu kan kalo aku depresi tapi maksa mau bilang "aku cuma stres", ya nggak?
Itu satu. Masih banyak hal-hal lainnya yang menyebabkan aku berpikir kalo dunia berputar terlalu cepat. Ibaratnya nih ya, aku tuh ngerasa aku masih berada di alam mimpi, padahal sebenernya aku tau kalo aku udah berpijak di dunia nyata.
Aku harap, aku bisa ngikutin semua perputaran yang terjadi sekarang ini. Tapi yaaa itu tadi, I can't go with the flow and I don't do the trend(s). Maybe that's why I feel something awkward like this...
Yup, I DID say "trend".
Nyadar nggak sih, kalo belakangan ini banyak orang yang berubah jadi terlalu "naif"? Mereka nggak bisa nerima orang yang nggak melakukan hal yang sama dengan mereka. Kita harus ngikutin segala kebiasaan yang udah menjadi hal umum bagi mereka. Kebiasaan yang lambat-laun berubah menjadi suatu tren. Siapa yang nggak ngikutin tren tersebut, bakal dilibas. That's it.
Contoh kasusnya gini. Some people do hate me because they think I've fallen in love with someone that soooo popular in my school. Padahal aku nggak ada rasa sama sekali sama orang itu. Tapi mereka memaksakan kehendak mereka. Kehendak yang mengharuskan aku mengikuti tren yang ada; dalam hal ini yaa menyukai orang tersebut. Aku udah nyangkal semua omongan mereka, tapi mereka teteeep ga mau tau. Buat mereka, aku tuh munafik. Bohong. Di mulut bilangnya nggak, padahal sebenernya iya. Uh-oh, that cursed trend!
Tanpa sadar, mereka memaksakan kehendak mereka. Di otak mereka udah tertanam tren "menyukai-si-Mr X-ini", dan itu berarti setiap cewek yang deket sama Mr. X ini pasti suka sama dia. Padahal, bukan begitu kenyataannya. Tapi ya itu tadi, everyone must follow the trend. Ya nggak ikutan, bakal dilibas dalam berbagai cara. Ada yang digosipin munafik kayak aku, ada juga (mungkin) yang dilabrak terang-terangan and so on.
Hal-hal klise yang selalu terjadi dalam masa-masa remaja.
Back to the topic, mungkin aku ngerasa perputaran dunia terlalu cepat karena aku nggak mengikuti tren yang ada. Kalo aku ngikutin semua tren yang terjadi, mungkin aku bakal ngerasa dunia tetap sama. Dunia tetap berputar seperti biasa. Walaupun kenyataannya, kalau dilihat secara kasat mata, dunia memang berubah terlalu cepat akhir-akhir ini. Just-admit-it.
Beside, I can't go with the flow. Mungkin aku bertahan terlalu keras untuk melawan arus. Mungkin aku nggak membiarkan diriku terbawa arus, walau cuma sedikit aja. Mungkin aku emang salah dalam hal ini. Karena orang-orang kan bilangnya, just go with the flow, tapi jangan sampe kebawa arus.
Lah, emangnya gampang ngelakuin hal itu?
Okay, cukup deh ngomongin hal seriusnya. Bisa-bisa aku beneran cepet tua kalo mikirin hal serius kayak gini mulu lmao.
Aku lagi pengen handphone baru! Huhu :( Udah dapet dua calon. LG Cooky yang baru-baru ini diiklanin sama SNSD, atau Samsung Monte yang lucu itu... kalo Cooky, terakhir aku ngecek sih harganya di Korea udah Rp 3.600.000,00. Tapi aku belom tau udah ada di Indonesia atau belom. Kalo Samsung Monte, aku ada liat harganya Rp 2.200.000,00. Duh, pengen! Butuh handphone nih, secara handphone lamaku udah rusak... kapan-kapan kusubmit fotonya deh :)
Pengen, pengen, pengeeen!!
Love, LadyLo
Label: About me, Daily story, Just babbling, Life, Opinion, Problem, Renungan
bored
I'm bored... I have 5 days off but I don't have any schedules ;____;
Anyway,
Source: tuotierugif@soompi Re-uploader: totaltrainwreck Credit & Shared By: totaltrainwreck@divadetention.com
Nana at the back is sooooo cute! Gaaah! x) I want more of pigtailed Nana~
Love, LadyLo
Label: About me, English Post, Just babbling, Kpop, Photo, Short Post
Ssul-jjang!
See? I'm coming back :D I have a lot of spare times so, yeah... it's easy for me to give some updates on my bloggie~ this time, I'll spazz about The Aegyo Queen of f(x), Choi Jin Ri aka Choi Sulli!! (for those who doesn't know about this yet, even though I'm a SONE yet a Playgirlz, I love f(x) too ^^)
No more ulzzang in my dictionary right now. It's the time for Ssul-jjang! Kekekeke. Silly, eh? :p But yeah, we can't deny that Sulli is... UBER CUTE!
Yeah, I'm so random, but I think Sulli looks uber cute in this photo lol. An old one, but I love her soooo much in this pic! I love the way she looked on her hand rofl.
OMGaaaah... don't give us a smile like that, Ssul! You make me want to put you in a box and keep you safe right there lol. And anyway, I want those Micky's ears TT______TT
FYI, SNSD, After School, and f(x) are in my top 3 kekeke, so I'm going to spazz about my most fave members in those girlbands ;)
First of all, it's SNSD's Tiffany! She's my most fave member from every girlbands right now kekekeke. She used to be a bubbly and cheerful Fany, but these times seems like she changed her image into dark and mysterious Fany, eh? Whatever. I just love her devil smirk in the story mv of SNSD's Run Devil Run :)
Yeah, there's SNSD's Sunny in the second rank! (Ps : I'm a hardcore fan of SunFany, lol) She used to be an aegyo Sunny... but, yeah, right now she's a 'devil' Sunny! She looks like Cat Woman in this pic, but I love her rap part in RDR sooooo much! x)
After Tiffany and Sunny, there's After School's Uee in the third place! Many people hate her, and yeah, maybe she can't smile. But that's why I love her, lol. The way she stares on people with her icy glaze, it's sooooo cool! In SNSD, there's Sica as the Ice Princess. I think there's Uee as the Ice Princess in After School :) It's kinda rare to see her amazing sweet smile, but once she show it, omo.... I'm going to faint, lol :p
 Yup! She's the newcomer in After School; Baby Lizzy, the new maknae! Too early for being her fan, huh? But her smile already stole my heart, kekeke. I love her cheekbones that appear whenever she smile :) And I love her voice, though. Seems like she's a kind and a nice girl. I hope she's gonna has more lines in After School's songs :D
Well, I think that's enough for this time, right? My lame English, I know >_> still need more practises :D Anyway, don't forget to join these amazing forums! (My most fave forums~)
Soshified - SNSD's International Fan Forum
Diva Detention - After School's International Fan Forum
Aff(x)tion - f(x)'s International Fan Forum
Soshindo - SNSD's Indonesian Fan Forum
I'm sure you're gonna love them~ ^^ just click on the name and you'll be directed to the site ;)
Love, LadyLo
Label: About me, Celebrity, Daily story, English Post, Interests, Just babbling, Kpop, Opinion, Photo
I'm here! :)
Yeah, I'm back! And yup, I've changed my blog's layout :) I know a lot of people use this layout, but I can't handle it lol, I still want this layout as my blog's layout! I haven't done a lot of things... still need to change the icons, relink all of you, add some songs, and of course reply your chatties. Well, wish me luck for doing these things, okay? ;)
Anyway, it's official! I've made an Indonesian forum for SunFany, and it's here~
www.2Nyted.ipbfree.com
Yup... I know, it's bad and too plain. But the good news is, we're currently finding for tech admins and graphic designers! Interested? Then go for it :D
Huff... belakangan ini tenagaku bener-bener terkuras. Baru aja selesai ngerjain mid tes, eh aku malah disuruh dimintain tolong sama guruku buat jadi pager ayu nikahan anaknya. Well, since I didn't have any schedules, I accepted it lol :)
 Silly huh? Ribet sih, karena harus bangun pagi-pagi dan berangkat subuh dari rumah. But it was awesome, though. Ada saat-saat dimana rambutku jadi kayak pohon waktu disasak, ada awkward moments waktu aku baru ketemu sama Puput dan Dini (karena sebelumnya aku ga kenal mereka), ada saat-saat dimana aku ketiduran gara-gara ngantuk banget, ada saat-saat dimana aku dituduh mojok sama Rizal gara-gara aku duduk berduaan sama dia (please, dia lagi main Snakes di hapeku dan aku lagi ketiduran waktu itu -,-), ada saat-saat memalukan waktu ngedenger Anom nyanyi, ada saat-saat pengen nimpuk muka Erwin sama Gugun pake heels (hehehe peaceeee), ada saat-saat rasanya pengen pingsan waktu diajarin 'cara jalan yang baik' dan terpaksa menderita gara-gara harus berdiri lama (dengan HEELS), dan ada banyak momen-momen yang ga terlupakan hingga detik ini :) (ku-cut demi alasan biar kenangan-kenangan itu jadi our very own memories hehe) I love you guys!
Bisa dibilang kami stay dari jam 6 pagi sampe jam 3 sore. Jam 3 sore acaranya udah selesai dan kami balik ke rumah guru kami. Di sana, rumah nya Bu Guru berasa jadi rumah kami sendiri huahahaha. Puput, Gugun, sama Erwin udah pulang duluan, jadi nyisa aku, Tya, Anom, Rizal, sama Dini. Anom sama Rizal mah enak aja, tinggal buka sana buka sini selesai deh. Lah kalo kami, para cewek? Harus lepas jarik lah, kebaya lah, konde lah, dan sebagainya!
Baru aja selesai ganti baju, konde Tya langsung dilepas paksa dengan naasnya oleh si Rizal. Nggak lama kemudian, Anom ikutan ngelepasin sanggulnya Tya. Begitu selesai sanggul Tya dilepas, sanggulnya Dini jadi incaran mereka yang selanjutnya. Awalnya aku nggak mau ngelepas sanggulku, takut ketawan betapa berantakannya rambutku. Tapi... akhirnya aku tergoda juga buat ngelepas sanggulku. Alhasil, sanggulku dilepas oleh warga sekampung hahaha (baca : Tya, Anom, Rizal, Dini, Bella). Percaya atau nggak, Rizal yang banyak disukain cewek itu adalah yang paling telaten dalam hal ngelepasin konde!
Okay, selesai ganti baju dan lepas konde, kami semua tiduran di atas lantai sambil ngadem depan kipas angin. Berhubung lantainya luas, otomatis pose kami jadi nggak beraturan. Yang pasti, urutan awal posisi kami itu (dari kiri ke kanan) : Rizal-aku-Dini-Anom-Tya. Berhubung Puput tiba-tiba nelpon dan kondisi memaksaku buat ngambil hape di tas (halah), urutannya berubah lagi jadi Rizal-Dini-aku-Tya-Anom. Posisi yang ini better karena berarti di kanan-kiriku itu cewek hehehe.
Nah, bagian-bagian selanjutnya mending kuskip aja yaaaaa hehehe :D Bisa dibilang aku lagi males ngetik kekeke :p yang pasti, kesibukanku belakangan ini adalah :
1. Aku jadi moderator di divAS aka www.divadetention.com :D yup, salah satu forum internasionalnya After School ;) please join yaaaaa... dan nicknameku di sana itu "tiffanytiffyn" ;) jangan lupa sapa aku, okay? Hehehe 2. Ngurusin 2Nyted pastinya. Alamatnya : www.2Nyted.ipbfree.com 3. Aku berkolaborasi sama my beloved oppa, Aldi, buat bikin fanfic yang berjudul Love Constellation. Fanfic ini sangat istimewa buat aku, karena ini pertama kalinya aku berkolaborasi sama seseorang buat bikin suatu fanfic, dan juga fanfic ini cukup unik karena ditulis dari dua POV (Point of View) yang berbeda, yaitu dari POV cewek dan POV cowok :) 4. Semi hiatus on Soshindo, semi hiatus on Twitter, already on hiatus di Soshified. gonna miss you all, guys! divAS butuh dirawat ASAP hehehe :D 5. Tiffyn (aku sama Ina) pengen tampil di perpisahan nanti, pastinya ngecover beberapa lagu kpop dong... (most likely sih lagu-lagunya SNSD) :D
Well, itu dulu deh buat postingan kali ini hehehe. Tenang Octopuses, aku bakal berusaha kembali sering blogging kok ;) Kekekeke
Love, LadyLo
Label: About me, Daily story, Experience, Friends, Fun, Just babbling, Nostalgia, Schedule, Somethin' about my blog, Updaties
Older Post
the lady

Nona Soedhowo. 17. Indonesian. A pudding enthusiast by day, a space wanderer by night. A cynic, and yet can't stop believing in Peter Pan and the Neverland. Currently finding for her own way to The Hodge 301 Cluster - her very own pink cluster.
cool people

Ale | Cho | Nabila | Ninda |
Puti | Rania | Ratna | Sindy | Tan
octopuses united

designer
Templates: Hafni
Base Code: Caca
Editor: Nona Soedhowo
life isn't like a box of chocolates; it's already scripted.
Life is like a box of chocolates - you never know what you're gonna get.
Mungkin udah ratusan kali kamu denger atau ngebaca quote barusan. But hey, who's counting here? Because what really matters now is, apakah kata-kata mujarabnya Forrest Gump barusan bener atau nggak. Well, aku sendiri yakin pasti bagi sebagian besar orang, definisi hidup ya begitu. Unpredictable, full of surprises, and such.
Definisi hidup menurut Nona?
Life is like a movie script - you never know whether you do your role perfectly or not until you finally watch the result.
Sering denger ungkapan 'dunia ini hanya panggung sandiwara'? I do. And I believe in that statement. Karena pada dasarnya, yang dilakukan setiap manusia di muka bumi ini hanya memerankan perannya masing-masing. Orang jahat, orang baik, orang ketus, orang ramah, semua itu cuma label yang diciptakan manusia sendiri. Tapi pada akhirnya, orang-orang tersebut tetap harus menjalankan lakonnya dengan label-label yang menempel di diri mereka. Kenapa? Karena sekali seseorang gagal menjalankan perannya, seluruh cerita yang udah tersusun rapi di naskah bakal hancur berantakan.
Banyak yang bilang, Tuhan adalah sutradara dari hidup ini. Aku cukup setuju sama pernyataan itu. Dan menurutku, manusia itu (udah jelas ya?) aktris dan aktornya. Sekarang, pertanyaannya cuma satu. Kalo Tuhan = sutradara, dan manusia = pemerannya, lantas siapa penonton dari 'panggung sandiwara' ini?
Karena panggung selalu didirikan untuk para penontonnya, my dear.
Intinya, nggak mungkin kan suatu pertunjukan digelar kalo ga ada penontonnya? Masalahnya, dalam hal ini siapa penontonnya? Malaikat? Iblis? No, in my opinion, mereka juga termasuk dalam kategori "pemain".
I'm getting crazy, I know.
Pernah nggak, suatu hari kamu terbangun dari tidurmu dan satu-satunya hal yang terbersit di kepalamu adalah kalimat "what am I doing to my life"? It's like, everything is pitch black. And then, your brain goes blank. Real blank. Mendadak kamu kehilangan passion buat ngelarin semua pekerjaan yang udah kamu mulai. Tiba-tiba aja kamu mempertanyakan semua pilihan yang udah kamu buat dalam hidup kamu. Dan dalam sekejap, kamu pengen ngulang semuanya dari awal. Ngelakuin hal yang jauh berbeda dari apa yang kamu pilih sekarang. Ibarat main Angry Birds, kamu pengen pindah season. Dari Angry Birds Halloween ke Angrys Birds Rio, maybe?
My mind is like a big parade of mixed things. Ada banyak hal yang harusnya ga perlu kupikir tapi tetep aja terlintas di kepalaku. Gimana kalo ternyata mukaku sebenernya nggak sama kayak yang selama ini kuliat di cermin? Kan aku nggak pernah ngeliat langsung mukaku! (Random thought, it proves that orang lain kadang lebih tau tentang diri kita ketimbang kitanya sendiri - buktinya aja mereka lebih mengenal muka kita daripada kita sendiri) Atau, gimana kalo pas one day aku ngaca, aku baru nyadar kalo aku udah berumur 30 tahun - dan bukannya 16 tahun kayak sekarang? Because time runs faster than we used to think. And this case happens to my Mom.
Aku bahkan sempet kepikiran; kira-kira apa yang bakal terjadi seandainya aku ngambil jalan yang berlawanan sama pilihan yang udah aku ambil sekarang? Things like, gimana seandainya aku ngambil kelas IPS instead of kelas IPA? Gimana seandainya aku nggak masuk ke SMA Negeri 1 Samarinda, tapi masuk ke SMA lainnya? Gimana seandainya aku masuk ke SMK dan bukannya SMA? Gimana seandainya aku masuk sekolah swasta, dan bukannya sekolah negeri? Gimana seandainya aku milih homeschool daripada public school? Apa yang bakal terjadi? Gimana reaksi keluargaku?
Karena sebesar apapun kebebasan yang dikasih orang tuaku, tetep aja ya yang namanya keluarga besar lebih menghormati hal-hal 'mainstream'. Such as, jadi pegawai negeri itu much better daripada jadi wiraswasta (talking about garansi seumur hidup, if you know what I mean) dan hal-hal lainnya.
Hal-hal semacam itulah yang ngebuat aku diem-diem salut sama orang-orang semacam tokoh Wilee di film Premium Rush. You know, the one who abandoned his previous 'life'. Seorang laki-laki cerdas yang nekat meninggalkan kesempatannya mendapatkan gelar Sarjana Hukum, cuma demi mempertahankan passionnya berkendara bebas dengan fixed gear dan jadi kurir khusus. Karena orang-orang semacam itu emang ada di sekitar kita, dan untuk mengambil keputusan seperti itu sama sekali nggak mudah. Aku yakin, ada suatu keberanian yang nggak dimiliki setiap orang waktu temen kita ditanya "kenapa nekat masuk Farmasi?" dan langsung ngejawab dengan tegas, "Aku mau langsung kerja abis lulus sekolah". How I envy you, orang-orang yang gagah berani.
Aku sendiri termasuk dalam kalangan orang pengecut yang masih belom yakin mau jadi apa pas dewasa nanti. Golongan losers yang nggak berani mengambil keputusan yang 'beda dari yang lain', cuma karena takut nggak sanggup menghadapi penilaian dari orang lain. Aku terlalu banyak mikirin "what ifs" instead of doing the hell of it. Orang-orang kayak aku inilah yang kalo hidup cuma ngikutin garis lurus yang mungkin emang udah digambarin sama Allah sejak awalnya.
Probably that's why I always think that life is already scripted. Means, it's not 'a box of chocolates' at all. But hey, what can I do to my screwed life anyway?
Love,
LadyLo.
Label: About me, Daily story, Experience, Just babbling, Life, Opinion, Random thoughts
tempat untuk aku
Setiap orang pasti punya tempat bernaung masing-masing.
Sepasif apapun orang itu, pasti dia punya tempat tersendiri. Tempat dimana semua orang menerima dia. Tempat dimana semua orang merasa nyaman sama dia, dan begitu pula sebaliknya.
Harusnya sih begitu.
Tapi, belakangan ini... aku nggak merasa begitu. Aku ngerasa hampa, kayak ada sesuatu yang ilang. Tapi aku nggak tau apa itu. Yang pasti, aku ngerasa... aku nggak punya tempat dimana pun.
Rasanya kayak semua orang berpura-pura. Mereka bersikap seolah mereka nerima aku, sementara mereka nggak mau nyoba ngertiin aku sama sekali. Mereka nuduh aku egois, padahal mereka juga bersikap kayak gitu ke aku. Mereka selalu minta aku berkompromi sama mereka.
Tapi apakah mereka pernah mencoba buat ngedengerin suaraku?
Lama-lama, aku semakin ngerasa kalo semuanya itu palsu. Kadang, ketika semua orang bersikap seperti menerima kita dengan tangan terbuka, justru itulah saat dimana kita nggak punya tempat sama sekali.
Dan akhirnya aku sadar. Selama ini aku cuma numpang di tempat mereka. Tempat itu nggak pernah aku miliki. Sama sekali.
Sama kayak yang lain, aku juga pengen punya tempatku sendiri. Tapi nggak akan ada yang mau ngasih satu jeda buatku karena mereka semua terlalu sibuk menghakimi aku, tanpa sempat berkaca.
Dan bukannya kita sendiri yang harusnya menciptakan tempat itu?
Love,
LadyLo.
Label: About me, Friends, Just babbling, Random thoughts, Renungan
breaking down for breaking dawn
Friday WAS such a free day. Had much fun on Friday with the one and only--Cinday (alias Sindy). Setelah hari Minggu lalu aku gila-gilaan sama dia dan yang lainnya (baca : Miti aka Mita, Belbo aka Bella, Odi, Kak Omen, dan Yuda plus Dimas--kalo mereka bisa ikut diitung), hari Jumat kemaren pun aku dan Cinday kembali mengguncang Samarinda Central Plaza.
Hari Jumat kemaren ada premiere the famous Breaking Dawn di 21 (and, yes, Samarinda MASIH belom punya XXI atau apapun itu). Aku udah napsu banget buat nonton premiere nya dari jauh-jauh hari. Mengingat aku nggak sempet nonton Harry Potter (such a pity, huh?), kayaknya premiere Breaking Dawn merupakan pelampiasan yang cocok banget.
Sayangnya, nggak ada yang segila aku untuk berani nekat ke 21 masih dalam keadaan berseragam. Hari Kamis aku udah ngajakkin Cinday, dan dia bilang dia udah banyak diajakkin yang lain buat nonton itu film.
Ternyata, Cinday yang baru balik ke sekolah abis selesai ngedatengin festival film something ketemu aku Jumat siangnya. Waktu itu aku udah desperate banget karena nggak ada yang mau nemenin aku nonton Breaking Dawn hari itu juga... padahal aku udah bawa semuanya (minus baju ganti).
Jadi, ya udah, terjadi lah percakapan yang somehow berasa sinting di telingaku itu :
Me : "Nday, Breaking Dawn yuk?" Cinday : "Ayo!" Me : "Ayo!" Cinday : "Ayoooo!" Me : "Sekarang?" Cinday : "Iya, sekarang." Me : "Serius? Aku udah bawa duitnya nih." Cinday : "Iya! Aku juga bawa."
Setelah mencoba ngajakkin yang lain (dan percuma aja, karena tetep nggak ada yang se-nekat kami), maka dimulailah perjalanan nekat berbekal pemikiran semacam apakah-kami-bakal-dilarang-masuk-ke-21-secara-kita-masih-pake-seragam dengan duit seadanya dan angkot warna merah.
Sampe di SCP nya sih masih aman-aman aja. Di pintu masuk kami sempet disuruh ngancingin jaket masing-masing, tapi kami tetep diizinin masuk ke dalem. Dan begitu masuk ke 21 nya... baru deh dramanya terjadi.
The security told us to change our clothes. Bahkan untuk masuk sekedar beli tiketnya pun nggak boleh. Kami sempet berencana buat FREAKING beli t-shirt seadanya di lantai bawah, tapi kami disuruh ganti sampe ke rok-rok kami segala dan nggak mungkin kan kami harus beli bawahan baru juga?
Tadinya kami sempet nyaris ngebatalin planning masing-masing dan berencana buat ngabisin sisa waktu yang ada dengan main Pump di game center, tapi kok rasanya anti-klimaks gitu ya? Bukannya ngerasa down, kami malah semakin tertantang buat bikin itu security K.O.
Akhirnya, kami balik naik angkot ke... rumah Cinday. Buat ganti baju. JRENG!
Sayangnya, semuanya nggak berjalan semudah pikiran kami. Sampe di rumah Cinday, masalahnya nggak langsung selesai. Ukuran badan Cinday sama aku itu... jauh banget. Dia kurus dan baju-bajunya kecil semua, sementara aku semacam curvy dan nggak mungkin muat deh pake koleksi jeans nya dia.
Jadi, setelah dua kali ganti celana dan tiga kali ganti baju... endingnya aku make baju mamanya (koleksi baju mamanya bagus loh, ultra update dan sangat nggak ibu-ibu) dan jeggings nya yang, sejujurnya, sangat menyiksa karena bener-bener ketat banget di aku. Oh iya, dia juga minjemin aku kalungnya yang classy plus tas selempang Versace lucu yang nggak pernah dia pake semenjak KW-an nya beredar luas di pasaran (note dari mamaku : jangan pernah beli semacam Versace, Louis Vuitton, Chanel, atau Gucci kalo nggak mau dikira beli itu barang di pasar malem pinggir jalan)
Finally, kami balik lagi ke SCP dengan angkot merah, pastinya (secara kami berdua sama-sama nggak bisa naik motor, as for me : belom fasih naik motor). Sampe di sana, kami udah deg-degan banget. Kalo sampe kami kehabisan tiket, rencananya kami bakal cursing di depan Om Security yang udah ngeluarin kata-kata manis semacam "tiketnya masih banyak kok" ke kami.
Alhamdulillah, Om Security nggak bohong. Tiket buat jam 14.45 emang masih tersisa minimal seperempatnya lah, dan itu pun kami masih bisa ngedapetin bangku yang pewe banget di row F. Berhubung masih sisa setengah jam, kami memutuskan buat having lunch dulu di KFC (kami bener-bener langsung cabut dari sekolah jam 12.00 dan ga sempet lagi makan siang).
Kami berdua makannya sama-sama lama, makanya kami telat balik ke 21 nya. Sampe sana udah jam 15.00 dan udah nyampe di part Bella and Edward's wedding (hi there, Bella Cullen!).
Ternyata dua teoriku bener :
1. Aku dan Cinday pasti bakal berbagi sebungkus popcorn (yes, I was the one who bought it because Cinday had no plan to buy it and I can't watch any movie with no popcorn there).
2. Breaking Dawn is lovey-dovey couples' forever movie. 80-90% penontonnya pasti bakal ngeboyong pasangan masing-masing.
The movie was fun and exciting. Breaking Dawn satu-satunya sekuel Twilight yang novelnya belom pernah kubaca (aku cuma sempet baca sampe Eclipse), so I was a little bit clueless about the storyline but thank God, Cinday hapal mati sama isi novelnya. Jadi, Cinday dengan berapi-api nyeritain aku detail dari setiap scene versi bukunya, dan aku bisa ngerasain beberapa orang diem-diem melototin kami yang berisik, heboh sendiri, dan bentar-bentar komentar.
But hey, girls just wanna have fun, right? ;)
Abis selesai nonton part 1 yang anti klimaks itu (sekedar bocoran, yang jadi Grown-up Renesmee nggak secantik ekspektasiku, sama parahnya kayak pengganti-cast-Victoria-yang-asli), kami langsung cabut dari 21. Aku udah mulai bingung tentang gimana caranya aku pulang nanti. Untungnya, kami ketemu sama Willi yang kayaknya lagi ngantri buat main Pump, dan dia setuju buat nganterin kami pulang.
Willi tadinya cuma mau nganterin kami ke rumahnya Cinday, tapi mendadak dia berubah pikiran dan mau nganterin aku pulang dulu. Cuma, karena miskomunikasi dan misunderstanding antara kubu aku dan Cinday sama kubu Will, kami jadi harus muterin Tepian sekitar tiga kali cuma untuk sampe dengan selamat di rumahku.
Selama perjalanan itu kami ngegosip banyak hal dan seru banget, sayangnya aku lupa contoh-contoh dari obrolan kami. Padahal, biasanya aku selalu inget sama percakapan-percakapan yang remarkable.
Aaah, intinya hari Jumat itu seru banget! Sampe detik aku nulis postingan ini pun aku masih kena euforia nya Breaking Dawn. Walaupun duitku langsung abis dalam sehabis, tapi bener-bener berasa worth it deh! And yes, I'm breaking down for Breaking Dawn! :D
Love, LadyLo. Label: About me, Daily story, Experience, Friends, Fun, Just babbling, Updaties
under-pressure
Singkat kata, sedang merasa berada di bawah tekanan banyak orang dan stres minta ampun. It feels like I got into lots of problems and couldn't do anything. Stres, jenuh, lelah... Semuanya campur aduk jadi satu.
Anyway, aku baru aja ngelakuin semacam... Total make-over? Got a new haircut and new glasses! :D sekarang aku resmi pake Nautica dengan motif animal print (?). Tadinya ngincer Emporio Armani cakep warna merah, tapi itu kacamata soooo 7icons.
Ah, aku ngerasa ultra-abstrak.
Love, LadyLo. Label: About me, Daily story, Experience, Just babbling, Updaties
indah
Kadang, keindahan seseorang cuma bisa ditangkap sama orang-orang tertentu :)
Love, LadyLo. Label: Just babbling, Love, Quote, Renungan, Short Post
kebahagiaan kecil
Kebahagiaan kecil itu...
Ketika kamu ditraktir es campur sama temenmu.
Ketika kamu ngobrol bareng dua orang temen cowokmu (cowok ngomong berdasarkan logika, lan?) di bawah langit senja yang indah banget, dan mereka berdua nggak segan bertukar pikiran sama kamu.
Ketika orang yang kamu suka berinisiatif untuk menyapa kamu duluan.
Ketika kamu makan jagung bakar sambil nontonin kembang api di tepi sungai Mahakam.
Ketika kamu nyanyiin lagu "Sempurna" dan ada temen yang ngiringin nyanyianmu pake gitar.
Ketika kamu melewatkan waktu bersama adek sepupumu yang masih kecil dan paling kamu sayang dengan cara bergosip, sambil ngemil biskuit dan minum teh anget.
Ketika kamu menemukan baju yang manis dan kamu tau kalo itu cocok banget dipake sama kamu.
Ketika temenmu tau kalo kamu cinta mati sama puding dan dia ngasih itu cemilan (?) buat kamu.
Ketika kamu nggak tidur semalaman gara-gara keasyikan berdiskusi tentang "kehidupan" bareng mamamu di atas kasur, nggak peduli kalo cuma kalian berdua yang masih terjaga di rumah itu.
Kebahagiaan-kebahagiaan kecil semacam itu... yang tanpa kita sadari, justru sangat kita perlukan dalam keseharian kita.
Kalo nggak ada kebahagiaan kecil, mungkin aku udah lama menyerah dan berhenti berusaha. Label: About me, Daily story, Experience, Family, Friends, Fun, Happy, Just babbling, Life, Love, Renungan
high school pride
High School. Aku udah tau artinya dari jaman kelas 1 SD. High school. Gampang. Sekolah Menengah Atas, SMA. Atau yang sekarang udah berganti nama jadi Sekolah Menengah Umum--SMU.
Pride. Kata yyy.sederet.com, artinya "kebanggaan". "Keangkuhan". "Harga diri". Waktu SD, aku pernah denger kata ini beberapa kali, tapi aku nggak pernah tau artinya sampe aku SMP. Dan akhirnya, sekarang aku bener-bener tau apa itu "pride" dalam kehidupan.
Pride itu bersifat addicting. Tapi juga membunuh. Aku baru belajar tentang kata ini di Samarinda, kota yang bener-bener asing buatku. Well, nggak se-asing itu sih, soalnya dari kecil aku udah sering liburan ke sini. Tapi ya tetep aja....... Jogja sama Samarinda? Jauuuuuh!
Jadi, apa hubungannya antara "high school" dan "pride" kali ini?
Simpel. FYI, aku udah 15 tahun (gonna post a special entry about my birthday bash anyway :D) dan tahun ini aku bakal resmi jadi MURID SMA. Sedikit interupsi, ini postingan pertamaku sebagai seorang....... pengangguran pasca SMP? Hehehehe. Soal sekolah...... alhamdullilah, aku udah diterima di salah satu sekolah yang, yah, kata orang bergengsi-banget-di sini lah. Lewat jalur PMDK. Nggak, aku nggak lagi nyombong kok, santai aja.
Nah, selama di Samarinda, aku udah pernah ngeliat dan ngerasain langsung berbagai macam pride di sini. Tapi kalo yang namanya "high school pride", ini (pastinya) bener-bener yang pertama kalinya. Kayak yang udah kutulis di atas, high school pride itu addicting. Tapi juga membunuh. Waktu SMP, aku udah pernah ngalamin junior high school pride (nggak beda jauh sih...), tapi, serius deh, pride yang itu nggak se-mengerikan ini!
Kalo kita salah pilih TK, kita masih bisa memperbaikinya di SD. Kalo kita salah pilih SD, kita masih bisa memperbaikinya di SMP. Kalo salah pilih SMP? Insya Allah masih bisa diperbaiki di SMA. Tapi, kalo salah pilih SMA? Memperbaiki di universitas? Udah telat, kan? Bukannya orang dewasa selalu menerapkan aturan "SMA = universitas = jawaban dari masa depan kita"? Alias kalo SMA jelek, terus dapet universitas jelek, masa depan cerah bakal sulit dateng?
Jangan nge-judge apakah aturan di atas itu benar atau salah adanya. Karena aku pun sendiri nggak tau, namanya juga aku masih....... baru-mau-masuk-SMA. Tapi, selama ini, orang-orang dewasa di sekitar aku selalu ngasih aturan yang sama. Mereka selalu ngucapin hal yang sama.
"Kamu harus dapet SMA bagus, Non. Jadi gampang masuk universitas yang bagus. Dan kemungkinan punya pekerjaan bagus pastinya bakal jadi lebih besar lagi."
Sekali lagi, orang dewasa yang menetapkan aturan semacam itu bukan cuma ada satu atau dua aja loh. Aku kenal banyak orang dewasa yang berprinsip kayak gitu, walaupun mungkin beberapa di antara kalian yang lagi ngebaca postingan ini berpikir, "orang-orang itu dangkal banget sih". Terserah kalian mau mikir apa, yang penting jangan salahin aku. Karena aku cuma semacam korban dari aturan itu :p
Nah, balik lagi ke topik awal. Dengan aturan yang udah pasaran semacam ini lah, anak-anak seusiaku (seenggaknya yang aku kenal) banyak yang kena sindrom "high school pride" tingkat akut. Mereka yang berhasil masuk ke sekolah ultra-keren-bangetngetnget bakal jadi orang-orang yang disanjung. Mereka yang "gagal"? Bakal dicap "LOSER" sama orang-orang.
Bisa dibilang, salah satu temen deketku termasuk di dalam kategori yang terakhir itu. Bukannya apa-apa, menurutku dia cuma kurang hoki aja (luck does matter loh waktu ikutan PSB). Sayangnya, semua orang udah terlanjur menggolongkan dia sebagai "another loser". Bahkan, bisa dibilang.......... keluarganya sendiri. Orang-orang yang seharusnya jadi orang pertama buat menghibur dia.
Akhirnya? Dia memutuskan buat tetep masuk ke sekolah yang mau nerima dia itu. Tapi, dia nggak bakal lama di sana. Dia bilang, dia bakal pindah ke sekolah lain (yang notabene, ehem, sekolahku) dalam waktu kurang dari enam bulan. Dan, ternyata, banyak orang lain yang juga punya planning semacam ini. Bertahan di suatu sekolah selama beberapa bulan, dan akhirnya pindah ke sekolah incerannya diawal.
Orang tuaku nggak suka hal-hal semacam ini. Mama bilang, kalo itu terjadi sama aku, Mama ga bakal mindahin aku dsb. Mama bilang, aku harus diajarin bertanggung jawab atas apapun yang terjadi karena aku. Kenapa "karena aku"? Soalnya, NEM-ku emang jelek (banget), dan, yah....... faktor hoki emang does matter, tapi paling cuma 10-20% doang.
Mama bukannya ngomong gitu karena aku termasuk orang yang beruntung. Bukan karena kami nggak ngalamin hal semacam itu. Hal kayak gini pernah terjadi sama aku kok. Aku dilempar, ditendang dan nggak diterima sama 2 sekolah favorit waktu di Jogja dulu. Dan akhirnya aku masuk ke salah satu sekolah yang favorit juga sih, tapi tetep aja itu termasuk di bawah standar awalku.
Toh, akhirnya keluargaku nggak mindahin aku segala macem. Mereka kecewa sama aku, sama kayak aku kecewa sama my bad luck. But, that's all. It doesn't mean they would do anything to get me in to those schools. Kalo emang itu jalannya, kenapa kita harus "mangkir"? Dan akhirnya, aku ended up sayaaaaaang banget sama sekolahku di Jogja itu. Nggak ada lagi kata "di bawah standar". It has been my forever TOP class even until now :) shout out to my former school, the amazing SMPN 6 Yogyakarta! Kudos to you!
Soal high school pride, Mama termasuk di antara sekian dikitnya jumlah orang yang nggak terpengaruh sama itu sindrom. Mama orang asli sini. Tapi Mama nggak pernah berambisi buat masukkin aku ke sekolah yang sekarang, like what everyone does. Mama nggak pernah nyuruh aku buat masuk ke sekolah tertentu. Justru Mama termasuk orang yang aneh. Mama pernah bilang ke aku :
"Selama di Samarinda, menurut Mama semua sekolah itu sama. Mama nggak perlu ngeforsir kamu untuk sekolah dimana pun, karena ini Samarinda."
Aneh kan? Padahal orang lain sibuk nyuruh anaknya masuk sekolah A, sekolah B, sekolah C. Ada juga yang masih nyuruh anaknya ikut les privat ini-itu, padahal semua ujian sekolah udah kelar dan mereka ngelakuin hal itu demi anaknya bisa lulus ujian masuk sekolah (dan ternyata tahun ini PSB di Samarinda mulai pake NEM! Kasian temenku D:). Tapi Mama beda. Padahal Mama orang sini, orang yang harusnya udah punya ambisi itu mendarah-daging :p
Jadi, intinya........... high school pride itu adalah hal yang sangat BESAR dan LUMRAH di Samarinda. Kota lain juga pasti punya high school pride. Tapi menurutku, high school pride levelan di sini bener-bener undeniable, incredible, a creepy one. Karena derajat orang aja bisa dibedain dari "asal sekolah".
Dan semoga, aku ga akan pernah kena sindrom ini sampe tingkat akut. Apalagi kalo sampe nyela orang dari sekolah lain. Amin. Because we would never know. "Influence nya lingkungan" itu lebih dari sekedar kata ataupun kalimat.
By the way, happy late birthday to myself! :D Dan alhamdullilah karena so far, semuanya berjalan sangat lancar. Semoga ke depannya pun begitu, amin! Semoga my upcoming high school years are gonna be a fun ones!
Terima kasih banyak buat SMPN 1 Samarinda dan SMPN 6 Yogyakarta yang udah ngajarin aku banyak hal; terutama fakta bahwa teenage life itu nggak sesimpel kedengerannya. Terima kasih buat bapak-ibu guru untuk tiga tahunnya yang berharga. Nggak ada ilmu yang nggak berguna, betul begitu kan, Pak, Bu? :) Dan terima kasih juga buat temen-temenku semuanyaaaaa, mulai dari my amazing friends waktu kelas 7 di Jogja, sampe my wonderful, gokil, awesome friends dari kelas 8 sampe kelas 9 di Samarinda. Cuma Spansa yang bisa nyewa dan nguasain satu ASTON plus ngundang SM*SH buat perpisahan sekolah yang berkedok prom night, kan? ;D
I love, love, LOVEEEE you guys!! =D
Love, LadyLo.
Label: About me, Daily story, Experience, Friends, Just babbling, Life, Renungan, School
bitter love
Bitter love. Ini bener-bener title yang sangat klise dan berbau galau khas ababil jaman sekarang. Maafin aku ya, Octopuses. Ini namanya aku lagi running out of title, hiks. Tapi bukan berarti title entry ini irrelevant sama isi nya kok. Justru aku pilih kata "bitter" karena... memang entry ini bakal berbicara tentang hal yang paling naif--dan paling diagungkan--di dunia;
Cinta.
Sebelum ngebahas lebih lanjut, aku mau meluruskan kenapa aku menganggap "cinta" sebagai hal yang paling "naif" di dunia. Well, simply just because cinta memang naif. Dan membuat orang-orang menjadi naif karenanya. Banyak orang yang percaya bahwa "love would be last forever". Dan biasanya mereka yang beranggapan seperti ini adalah remaja belasan tahun. Remaja yang sebaya sama aku.
Setiap kali ada yang menggunakan kata "forever" dalam satu kalimat yang ada kata "love" nya, aku rasanya pengen banget ngasih tau sama mereka kalo "there is NO forever". Ya memang bener kan? Nggak ada yang namanya "selamanya". Nggak usah ngambil contoh yang rumit semacam, "kita hidup cuma sementara alias nggak selamanya, kan?" deh. Cukup ambil sampel yang simpel-simpel aja (hey, it rhymes!). Makanan, pasti akhirannya bakal membusuk kan? Atau, anggaplah kita lagi ngumpul-ngumpul sama temen-temen segeng. Nggak mungkin kan kita bakal selamanya ngumpul bareng? Pasti bakal ada saatnya kita memisahkan diri. Itu pasti. Because it's fated already.
Jadi, intinya, love isn't about being forever. Cinta itu semacam game. Nggak ada kata selamanya. Yang ada cuma permainan seberapa lama kita bisa mempertahankan cinta itu sendiri. That's it. Ibarat kita lagi ikutan kompetisi game yang bernama "cinta", pemenangnya adalah orang yang lebih lama mempertahankan cinta itu. Gitu. Bahasa gampangnya; lama-lamaan cinta-cintaan. In case you couldn't get what I mean.
I, myself, hate the word "love". Bukan, bukan berarti aku nggak bisa falling in love with someone. Tapi aku cuma nggak suka aja sama kata itu. Dan ini bukan disebabkan oleh alesan paling pasaran di dunia ini--patah hati--ya. There is something that happened to me and caused me to hate the word "love". Sesuatu yang mengajarkan aku kalo :
1. Cinta itu buta 2. Cinta itu sementara 3. Cinta itu naif
Cinta itu buta. Ya jelas, kan? Contoh gampangnya, kamu bisa maki-maki orang tua kamu disaat kamu nyaris punya pacar sementara orang tua kamu ngelarang kamu pacaran. Itu contoh yang paling nyata di teen world, no?
Cinta itu sementara. Udah kujabarin dengan jelas di atas.
Cinta itu naif. Udah kujelasin juga di atas, kan? Well, sebenernya bukan pure 100% "cinta" nya yang naif, sih. Sebenernya cinta itu, bisa dibilang, kejam. Dan sangat "real". Cinta itu ajaib, memang. Hari ini kamu bisa diagung-agungkan sama seorang cowok, besoknya kamu bisa dibuang sama mereka. Kenapa? Simpel. Alasan yang paling pasaran buat kasus ini adalah :
"Aku udah nggak cinta lagi sama kamu."
Atau dalam bahasa gampangnya, "cintaku udah lari dan kabur ke cewek lain". Gitu.
Jadi...?
Jadi, yang membuat cinta itu terkesan naif adalah mereka sendiri, yang sedang hanyut dalam cinta. Aku masih belom terlalu ngerti gimana prosedur jalannya percintaan dalam dunia orang dewasa ya, karena aku sendiri belom merasa dewasa. Aku berpikiran simpel, kok. Aku cukup mengambil bahan observasi dari kasus-kasus yang ada di sekelilingku.
Kebanyakan remaja menganggap love is all about lovey-dovey things, while it isn't. Mereka nganggep kalo cinta itu cukup dengan bilang "I love you", gandengan tangan, grepe sana grepe sini, and all. Padahal cinta itu rumit. Cinta itu butuh komitmen, butuh tanggung jawab. Mereka belom punya itu semua, tapi mereka udah berani berkoar-koar "aku cinta sama dia" dan lain sebagainya.
Mereka juga mikir love is all about being happy. Salah sedikit, marah. Salah sedikit, ngambek. Berantem dikit, bilangnya "kamu udah nggak sayang lagi sama aku!" dan lain sebagainya. Ya itulah cinta. Cinta cuma salah satu part penting dalam kehidupan. Dalam dunia. Dunia berputar, cinta juga. Hari ini kamu seneng di dunia, besoknya kamu sedih. Cinta juga begitu. Hari ini kamu merasa cintaaaa banget, besok kamu merasa kadar cintamu berkurang drastis. Ya gitu deh. Intinya, semua yang ada di dunia ini..... adalah "roda". Roda yang terus berputar. Wujudnya memang nggak bulet sempurna kayak roda. Wujudnya memang nggak berporos semacam roda. Tapi ya itu tadi. Semua yang ada di dunia ini punya hukum yang sama seperti roda.
Berputar. Dan kita nggak akan pernah bisa menghentikan perputarannya. Kita cuma bisa jadi penonton. Diam dan menikmati. Kita cuma bisa jadi pemain. Mengikuti apa yang ada di naskah--yang disebut takdir--dan memerankannya dengan sempurna. Kita cuma bisa jadi figuran. Karena pemeran utama nya adalah dunia sendiri. Makanya, ada yang bilang kalo dunia itu "panggung sandiwara". Memang begitulah adanya.
Jadi, ya gitu deh. Kebanyakan orang seumuranku cuma mikir cinta itu isinya happy-happy. Gampangannya, mereka nganggep HAPPY itu pemeran utama dalam sebuah drama yang judulnya "CINTA". Kata-kata semacam "cobaan", "kesedihan", "pengkhianatan", dan lain sebagainya cuma jadi FIGURAN. Mereka salah. Justru yang jadi figuran dalam CINTA itu adalah HAPPY sendiri. Makanya mereka jadi begitu panik ketika mereka masuk dalam fase sulit, fase-fase yang memaksa mereka untuk mendewasakan diri.
Sebelumnya aku minta maaf ya atas pandanganku tentang cinta yang terlalu keras. Tapi memang begitu lah adanya. Life told me so. I've learned about these things from my life experience.
Conclusion? Orang-orang yang lagi dilamun cinta kebanyakan naif. Dan cinta jadi naif karena orang-orang tersebut. Enough said.
....oke. Aku ngerti, penjelasanku yang panjang lebar di atas sama sekali nggak memberi pencerahan maupun jawaban yang tepat dan memuaskan. I'm so sorry. But I've tried my best to tell you about my absurd, odd thoughts. Pokoknya intinya... gitulah. Ada hal-hal yang nggak bisa dijelaskan ke orang lain dengan sempurna. Dan buatku, inilah hal itu.
Alright. Sebelum aku makin off-topic, mari kita bahas inti dari entry kali ini. Kenapa aku sebut bitter love?
Simply just because I considered this kind of love as a bitter love. This kind = the awkward moment when you are falling in love with someone who doesn't even know that you are exist in this world.
So, who the heck is the guy that caused me a BIG problem like this?
It's him.
I know that this photo was taken 2 years ago. Whatever because he looked gorgeous here
His name is Kwon Jiyong. AKA GD, or G-Dragon to be exact (I hate this stage name anyway, I prefer to call him as "GD" than "G-Dragon"). Dia leader Bigbang. Yes, he is Korean. And YES, he is an idol. And of course he doesn't know that there is Winona Anindyasarathi Soedhowo in this world. Poor me, aite?
Kenapa aku suka sama dia?
Because he is amazing. He is still young. Dia good-looking. Tall enough for me. Dia fashionable. Dia smart. Dia creative. Tekun, ulet, bertanggung jawab, profesional, dan banyak hal lainnya yang selalu mencegah aku untuk berhenti belajar lebih banyak lagi dari dia.
Okay, he might be sooo rebel. Asumsiku, gaya hidupnya sangat bebas. Party everyday. Minum. Hangover pastinya. Make. Main cewek. One-night stand udah termasuk dalam kategori main cewek ya. Tapi hebatnya, dia tetep bisa jadi orang HEBAT disaat dia sangat rebel.
You know, sometimes people wouldn't even care about your sins when you are being so awesome. I told you already, right? Poin nomor satu : cinta itu buta.
Everything about him is amazing. Oke, kecuali masalah wajah, itu tolong dikecualikan ya. Menurutku dia bukan tipe orang yang bisa dikyaaaa-in dari segi fisik. Tapi ya, gitu deh. Dalam kasus kebanyakan, biasanya yang terjadi adalah kasus "talenta berbanding terbalik dengan penampilan". Bedanya, GD ini masih bisa jadi eyecandy becuase he is kinda good-looking (just like what I said).
Jujur, sebenernya aku bingung nyari alesan lagi untuk menjelaskan kenapa aku bisa suka sama dia. Bukan, bukan karena aku cuma suka sama dia dengan cara yang klise--karena dia cakep dsb--atau karena aku nggak punya alesan lain untuk suka sama dia. Justru karena terlalu banyak alesan yang aku punya, aku jadi bingung gimana cara ngejabarinnya. Sama kayak gimana aku bingung buat ngejelasin kenapa aku bisa nganggep "cinta itu naif", kayak di atas.
Awalnya memang cuma sekedar rasa kagum. Tapi tau sendiri kan, cinta bisa timbul darimana aja? (Ini salah satu kalimat paling iklan yang pernah aku tulis di blog ini. And I feel so..... gross to mention those words in this blog)
So, yeah......... I'm falling in love with this guy. Bitter love is bitter.
But no, I'm not that delusional. Okay, I might be DELUSIONAL but I'm not that creepy, okay? Mari berbicara tentang fakta. Dan logika. Aku di Indonesia, dia di South Korean. Aku cuma anak tunggal and another student in this world, dan dia idola. Nona Soedhowo x Kwon Jiyong will never happen unless it's fated already and I doubt that God would give that kind of fate to me.
Jadi...? Jadi, aku ga bakal berkhayal lebih lanjut kalo dikemudian hari aku bakal jadi Nona Kwon or else (sebenernya aku bahkan nggak bisa ngebayangin hal ini, sih). Aku cuma berharap, aku bisa dapet suami... atau seenggaknya "pacar" yang kayak dia.
Taller than me, itu pasti. Smart. Creative. Bertanggung jawab. Punya komitmen dan berpegang teguh pada prinsip. Ga klemak-klemek. Easy-going. Fun. Ulet, tekun, ga mudah putus asa, berani mencoba. Agak-sedikit-perfeksionis, boleh lah. Good-looking itu juga harus. I'm not asking for the handsome ones. But he has to be good-looking. Let's talk about reality, sekarang udah bukan jamannya "look doesn't matter", kan? Just admit it. Everyone wants a good-looking girlfriend/boyfriend.
Jadi, dengan bangga saya mendeklarasikan ideal guy saya adalah......... GD! With the less rebel-ness, please. Karena aku gampang kebawa arus. Jadi punya cowok dengan tingkat kerebelan sama kayak GD is a big no.
Mungkin beberapa dari kalian mikir, "ah cuma gitu doang masa iya sih nganggep udah falling in love?". Tapi menurutku, itu lah yang terjadi. Well, semacam itu lah. Karena kadang, ngeliat video nya... ngeliat fotonya.... ngedengerin lagu-lagunya....
He makes my heart flutter.
Hiks, I'm being these pity fangirls with their bitter love. Menyedihkan, memang. Tapi aku nggak menyesal. GD, walaupun dia sangat nakal, udah ngajarin banyak hal ke aku. Termasuk poin bahwa hidup itu bukan sekedar "lalala land". Hidup itu keras. Tapi untuk menghadapi kerasnya hidup, kita hanya bisa bertahan sekuat tenaga. Kompetisi atau persaingan, itu semua cuma hiasan belaka dalam hal yang namanya "kehidupan". Hiasan yang nggak lain adalah salah satu komponen utama. Dan mau nggak mau, kita harus menghadapi hiasan hidup yang satu ini.
Kadang, kalo aku sedih, dengan mengingat perjuangan GD dan role modelsku yang lainnya (Kahi, Park Bom, Tiffany), aku jadi semangat. Kalo putus asa, cuma dengan mengingat mereka pernah melalui fase yang sama dengan apa yang lagi aku alamin, aku jadi punya kekuatan lagi buat menghadapi semua masalah yang ada. Berkat mereka, aku bisa mengatakan hal ini sama diriku sendiri :
"Kamu ada di tahap yang benar, Non. Kamu cuma harus berusaha melewati fase ini, dan tadaaah. Saat kamu sadar, kamu akan ada di tahap yang sama dengan mereka. Sukses. Berhasil."
Ini namanya agak off-topic. Jadi lebih baik obrolan soal GD, Kahi, Park Bom, dan Tiffany being my role models sebaiknya disimpan untuk next entry, gimana? ;)
Jadi, intinya, I'm falling in love with GD and want to have a hubby/bf like him. Ngomong-ngomong soal hubby, I gotta feeling that my hubby will be older than me deh. Beda umurku sama GD bahkan sekitar 7 tahunan. Whatever sih, yang penting masih bisa klik dan nyambung ke aku. Karena aku sendiri nggak bisa ngobrol dengan leluasa and being myself dengan anak-anak cowok seumuranku (just like what my parents said; jalan pikirku udah kejauhan).
Yang penting jangan sama anak-anak semacam member-member SHINee. Sama sekali nggak bikin aku nafsu (sorry, Shawols). They are talented but they aren't my type.
So, yeah.... I prefer Kwon Jiyong over Justin Bieber, is that weird?
Whatever, let's enjoy this bitter love! :D
Love, LadyLo
Label: About me, Celebrity, Daily story, Just babbling, Kpop, Life, Love, Opinion, Postingan sampah, Renungan, Sad
parents, family, and the sims
Orang tua adalah harga yang tak dapat ditawar, harta yang tak tertukar.
Kenapa tiba-tiba aku ngomong ginian? Well, simply just because I saw many tweets in my timeline. Isi tweetsnya? Beberapa orang temenku yang mengutuk orang tua mereka sendiri. Oke, mengutuk sounds a lil bit scary--walaupun kenyataannya emang ngeri. Lebih tepatnya, mereka memaki orang tua mereka sendiri.
Bukan memaki dengan kata-kata, "Orang tua gue ngeselin banget! Kerjaannya ngatur mulu!" ya. Tapi memaki dalam contoh... "Bokap nyokap gue jancok banget! Bangsat!" dan lain sebagainya yang bisa kalian bayangin sendiri.
Memang, bisa dibilang aku nggak ngerti permasalahan apa yang mereka hadapin; apa yang orang tua mereka lakuin ke mereka, apa yang mereka rasain, apa yang terjadi, dan lain sebagainya. Aku bukannya ikut campur--you could call me like that kalo sampe aku ngemention si pembuat-harsh-tweet-ini dan nasihatin dia ini-itu sementara aku sendiri nggak tau masalahnya apa. Mari kita sebut aku lagi.... ngasih komentar. Dari kacamata penonton.
Sebenernya sayang banget, mereka-mereka (yang ngebuat harsh tweets ini) sampe ngucapin hal sedemikian rupa. Walaupun kasar, mungkin kata-kata semacam "orang tuaku rese banget!" atau "asli kesel banget diceramahin ini-itu mulu!" mungkin lebih ditolerir daripada kata-kata semengerikan itu. Karena... gimana pun juga... mereka itu orang tua kita.
Call me naive. Dan mungkin kata-kata ini udah klise. Banget. Tapi itulah kenyataan. Ada hal-hal yang nggak bisa kita pertanyakan di dunia ini. Ada hal-hal yang memang nggak logis di dunia ini. Ada hal-hal yang nggak bisa kita tentang di dunia ini. Memang begitulah kodratnya. Seorang anak, sampai kapan pun juga, nggak akan pernah bisa memiliki derajat di atas orang tuanya. Which means, sampai kiamat pun, kita nggak akan pernah bisa memiliki alasan yang cukup untuk membuat kita diizinkan memaki orang tua kita.
Sekilas memang rasanya nggak adil. Disaat orang tua kita, mungkin, bisa memaki kita. Disaat orang tua kita, mungkin, sangat menyakiti hati kita. Tapi itulah dunia, kan? Apa yang bisa kita lakukan sebagai seorang anak hanya menerima, nggak lebih. Itulah hak seorang anak. Menerima.
Protes, oke lah. Kritik, boleh lah. Tapi memaki? Apalagi sampe mengeluarkan kata-kata semacam "jancok", "anjing", "bangsat", dan lain sebagainya ke orang tua kita sendiri?
Jangan lupa, kita bukannya sedang berbicara dengan teman kita, loh.
Orang-orang banyak lupa. Katanya, kita nggak boleh terlalu sering membandingkan diri kita dengan orang lain. Tapi bukannya berarti membandingkan diri dengan orang lain itu selalu membawa kejelekan, kan?
In this case... mari bandingkan diri sendiri dengan orang-orang yang nggak bisa tinggal bareng kedua orang tuanya. Atau nggak bisa tinggal dengan keluarga lengkapnya. Those people--who cursed on their parents--live with their parents. Their family. Padahal ada banyak orang-orang di luar sana, yang berharap mati-matian bisa tinggal dengan orang tuanya. Lengkap. Ada orang-orang yang berharap keluarga mereka nggak tercerai-berai. Ada orang-orang yang berharap bisa memutar ulang waktu cuma biar bisa kumpul sama kedua orang tuanya.
Like me.
Aku lagi berada dalam kondisi semacam ini; kondisi dimana kamu bener-bener ngerasa shock. Ibarat abis ngelaluin satu perjalanan, kamu lagi jetlag. Bingung dengan keadaan yang sedang kamu alami. Saking drastisnya perubahan yang kamu miliki, kamu jadi blank. Dan klimaksnya adalah ketika kamu bertanya:
Apakah benar, kalo aku pernah hidup dimasa lalu? Kok, rasanya aku cuma hidup dimasa ini? Kok, rasanya aku baru ngerasa hidup sekarang? Dimana kenangan-kenangan yang dulu aku alamin? Apakah benar semua kenangan itu pernah aku alamin?
That's it.
To be honest, I miss my dad so much. Aku kangen saat-saat aku, Mama, dan Papa ngumpul bareng. Saat-saat kami kumpul di depan tv dan makan malam bareng. I didn't mind about the menu. Mau itu pizza yang kami take-away, atau ikan bandeng presto yang Mama beli di warung, I didn't even care about it. Yang aku peduliin adalah detik-detik dimana kami ngumpul bareng. Saat-saat dimana kami ngobrol di depan tv, ngebahas semua hal yang ada. Mulai dari yang penting, sampe yang nggak worth it buat dibicarain sekalipun. I miss those moments.
Aku bahkan kangen dimarahin papaku. Saat-saat dimana aku dapet nilai-nilai jelek dan Papa marahin aku. Dan pasti Mama ngebelain aku. Saat-saat dimana aku dituntut untuk dapet banyak nilai 9. I didn't mind about that. Karena dulu--dan sekarang pun--aku hidup untuk orang tuaku. Kupikir, kalo nilaiku bagus, orang tuaku bakal bahagia. Bakal bangga sama aku. Makanya aku berusaha keras biar bisa mencapai itu semua.
Soalnya, salah satu impianku itu bisa bikin orang tuaku bahagia dan bangga sama aku. Sehingga mereka bisa ngomong ke semua orang, "Ini loh Nona, anakku."
Mungkin kamu pikir ini impian klise banget lah, bullshit lah, sok anak baiklah, or whatever it is. Tapi itulah kenyataan. I hate being naive. Atau klise. Tapi terkadang memang ada saatnya dimana kita jadi naif dan klise. Inilah saat yang tepat buatku.
Intinya, aku kangen semua saat-saat yang pernah kulaluin itu. Setiap detail terkecilnya. Setiap detiknya. Aku kangen semua itu. Dan jujur, aku ngiri sama mereka semua yang bisa ngedapetin apa yang aku paling pengenin saat ini. Tapi mereka malah nyia-nyiain semua itu. Bahkan, mereka ngebuang jauh-jauh kesempatan itu.
Dalam artian, mencaci maki orang tua mereka.
Orang tua yang ada di sana untuk mereka.
Jadi... buat kalian semua yang ngebaca ini... terutama bagi yang kesel banget sama orang tua masing-masing. Bersyukurlah. Seenggaknya kalian masih bisa ngumpul, lengkap, komplit bareng kedua orang tua kalian. Ada orang-orang di luar sana yang pengen ngumpul sama orang tuanya tapi nggak bisa atau susah. Ada orang-orang yang ngiri sama kalian.
Inget, hidup ini nggak semudah game. Nggak segampang The Sims. Oke, sebenernya The Sims itu sulit dan rumit sih. Sims-ku pernah selingkuh sama suami orang dan dia udah punya anak, mendadak dia dan keluarganya jatuh miskin and all. Tapi, kalo main The Sims, kita masih bisa melarikan diri dari kenyataan dan masalah yang ada. Kita bisa tinggal mainin family yang lain, atau ngedelete family yang bermasalah itu.
Tapi kehidupan nyata berbeda. Kita nggak bisa lari. Kita cuma bisa menghadapi dan menyelesaikan masalah yang ada. Dan mencaci-maki itu termasuk upaya melarikan diri.
Hidup jauh lebih sulit dan rumit daripada The Sims.
Dan aku bukannya ngomong tanpa pengalaman.
Jadi, mari kita bersama-sama menghadapi dunia ini... menjalani hidup, menghadapi, dan menyelesaikan masalah yang ada. Karena hidup dan masalah itu selalu berdampingan. Yang menentukan adalah diri kita sendiri; bisa, atau nggak. Kuat, atau lemah. That's it :)
Mulai sekarang, ayo kita berjuang bareng! And happy new year 2011 too! Fighting! :D
Love, LadyLo
Label: About me, Daily story, Experience, Family, Just babbling, Life, Love, Nostalgia, Opinion, Problem, Renungan
princess
Sang putri melangkahkan kakinya, beradu dengan lantai yang memantulkan cahaya lampu-lampu besar yang menggantung dari langit-langit ruangan. Sang putri berwajah sendu, namun kecantikannya tak pernah pudar. Rambut hitamnya panjang dan lurus, dengan ujung yang dibuat berputar seperti spiral. Setiap sentinya begitu diperhitungkan oleh sang penata rambut. Bulu matanya lentik, hidungnya mancung, kedua bola matanya bulat sempurna, dan bibirnya yang tipis merona merah. Wajahnya yang tirus membuatnya terlihat semakin sempurna.
Kini sang putri sedang berdiri ditengah kerinduannya. Wajahnya menyembul dari balik teralis, berusaha melihat keadaan luar melalui jendela besar yang ada di hadapannya. Orang yang dia tunggu tidak kunjung datang. Dan sang putri pun menyadari arti dari semua ini.
Sang putri sendiri.
Dan tidak akan pernah ada yang menemani.
Love, LadyLo
Label: About me, Bloglit, Cerpen, Daily story, Experience, Just babbling, Life, My Creations, Renungan
when the school makes me frustated
Do I hate school?
Nah-nah, I don't. Yah, bukan berarti aku tipikal nerd yang hobi banget dateng ke sekolah sih. Nggak. Aku masih normal kok. I hate homeworks, exams, and scary teachers. Aku juga punya banyak antis di sekolah, dan hal itu jelas bikin aku cukup males buat masuk sekolah. Tapi aku punya temen dan hal-hal asyik yang kudu diselesaiin di sekolah. Makanya aku masih ada sedikit "rasa" sama sekolah. LOL.
Terus kenapa sekolah berhasil bikin aku kelimpungan dan galau selama sebulan terakhir ini? Well, I'm worried. Karena aku udah kelas 9--which means I'm officially a senior in my school now--dan bakal menempuh ujian dalam waktu kurang dari 8 bulan, aku khawatir. Bener-bener khawatir.
Karena aku tipe orang yang mencintai nilai tinggi, atau hasil bagus dengan nilai membanggakan, atau hasil menyenangkan dengan ranking bagus, atau hasil bagus, nilai bagus, ranking bagus, whatever you called it, aku khawatir.
Sangat khawatir.
Jujur aja aku jadi pesimis tingkat tinggi setelah tahu NEM terendah di Padmanaba--SMAN 3 Yogyakarta--yang nggak lain nggak bukan adalah sekolah incaranku in case aku masih sekolah di Yogyakarta adalah, ugh, 37 koma sekian.....
Aku khawatir.
Apakah aku bisa ngedapetin NEM minimal 37,50 walaupun aku sekolah di Samarinda? Apakah aku bisa tetep mempertahankan NEM-ku dulu, walaupun aku udah nggak di Yogyakarta? Apakah aku bisa mendapatkan pendidikan yang terbaik di sini? Apakah aku bisa menyamai nilai temen-temen di Yogya? Apakah aku BISA?
Dan berbagai pertanyaan galau khas anak labil lainnya.
Oke, orang-orang bisa mengeluarkan saran-saran yang cocok masuk di buku pelajaran Bahasa Indonesia, such as "Dimana pun kamu bersekolah, asalkan kamu rajin, kamu pasti bisa!" atau "Yang penting kamu berusaha, tinggal berserah diri aja!". Kembali ke realita, faktanya adalah, tempat--lokasi, lingkungan, dan suasana sekitar kita sangat berpengaruh dalam menghadapi ujian.
Admit it, deh! Mau bukti? Bukannnya aku ngeremehin daerah luar Yogyakarta, Jawa, atau manapun juga loh ya. Tapi kenyataannya, berdasarkan pengalamanku nanya sama orang-orang, perbedaan NEM murid-murid di sana dan di sini memang jauh sekali.
Sekali lagi, bukannya aku ngeremehin. Bold those words.
Dan inilah aku. Remaja berumur 14 tahun yang lagi galau dan berada di puncak kelabilannya. Aku bener-bener berharap bisa dapet NEM minimal 37,50 walaupun aku sekolah di sini. Aku bakal berusaha dengan keras, walaupun harus ngulang kejadian kurang-lebih 2 tahun yang lalu (ikut kelas remidial waktu liburan semester, nangis-nangis karena harus belajar keras tiap hari, putus asa karena jadwal belajar yang mengikat, stres tingkat tinggi, gugup, dsb). Mungkin agak impossible, sih. Tapi dulu aku berhasil ngedapetin NEM yang, yah, pasaran sih di Yogya. Cukup susah nyari sekolah. Tapi aku berhasil ngedapetinnya walaupun aku sekolah di desa yang terpelosok. Sekarang, kenapa aku nggak bisa?
Aku masih seorang Nona Soedhowo, kok. Orang yang sama dengan anak kecil diwaktu 2 tahun yang lalu. Kenapa aku nggak bisa? Aku pasti bisa. Aku harus bisa.
Oke, please abaikan 2 paragraf di atas. Aku lagi nyoba menghibur diri sendiri waktu nulis dua paragraf tersebut. Faktanya adalah :
AKU GUGUP! AKU TAKUT!
Jadi gimana dong nih, Octopuses?? Got some advices for me? Bisa membesarkan hatiku? Pleaseeeeeeee, I really need your support right now! I beg you :(
I should stop writing this post. Kelabilan lebih mendominasi entry ini daripada keresahanku. Sekali lagi, tolong bantuin aku ya, Octopuses :'(
Love, LadyLo
Label: About me, Daily story, Experience, Just babbling, Life, Nostalgia, Obsessions, Problem, School
what should I write?
What should I write?
Pertanyaan yang absurd memang--dan juga retoris, menurutku--dan jarang ditanyakan oleh seorang Nona, haha. Well, jujur aja aku lagi bingung to the max harus nulis apa. Udah lama nggak blogging, dan aku ngerasa lagi ga ada bahan yang cocok untuk dipost di sini. Bukan berarti aku ga suka blogging lagi, atau udah ga punya passion buat nulis ya. Justru karena suka itu lah, aku jadi bingung.
Oke, aku jadi bingung sendiri sama tulisanku di atas.
Anyway, how was your score, Octopuses? Mine was... hmmm... lumayanlah, haha. Ranking juga Alhamdullilah lumayan juga. Dan sekarang, aku lagi terjebak dalam liburan yang Oh-My-God-it-is-so-boring. Seandainya aku besi, mungkin aku udah karatan saking bosennya. Hiperbol abis ya? Hehehe. Tapi serius loh, liburan kali ini bener-bener membosankaaaan! Ga ada tuh yang namanya pergi ke luar kota segala macem. I envy you, Octopuses yang sibuk hilir-mudik ke sana-ke sini.
Jadi, apa kesibukanku selama liburan ini? Ga jauh-jauh dari kata tidur, ngenet, dan makan. Kayaknya, begitu liburan selesai, berat badanku bakal nambah nih. Duh, God, I should take a diet!
Well, untuk membebaskan diri dari kebosanan yang mengenaskan, aku ngabisin hari-hariku di kamar, nerusin fanfic-fanfic yang semakin menggunung dari hari kehari. Apa aja fanficnya? In case you want to see the list, here it is :
- Love Constellation : fanfic kolaborasi bareng Aldi Oppa. Tokoh utamanya, SNSD's Im Yoona dan Jang Dae Jung (OC).
- Leaving The Sunshine : fanfic buat hadiah ulang tahunnya Giri yang, yah, udah lewat lama banget hehehe. Salahkan moodku yang selalu naik-turun, jadi jarang nerusin oneshot ini (alamat orang nggak mau disalahin). Tokoh utamanya SNSD's Im Yoona (lagi) dan 2PM's Ok Taecyeon.
- Untitled Project : fanfic rahasia, hahahahaha. Kenapa aku berani ngumumin soal fanfic ini di sini? Well, pengen aja hahahaha (ga jelas abis). Aku ngasih sebutan "Twins' Project" ke fanfic ini. Kenapa? Jawabannya akan anda ketahui setelah anda membacanya... LOL. Tokoh utamanya SNSD's Kwon Yuri dan 2PM's Nickhun. Dan ada juga guest star tersayang kita, Victoria Song dan Son Dam Bi! Yay!
Cuma 3 fanfic, emang. Tapi proses nulisnya itu lamaaaaaa dan sulit banget! Mana lagi moodku buat nulis naik-turun mulu. Duh! Wish me luck ya, biar bisa nyelesein 3 fanfic di atas dengan cepat! ;D
Ngomong-ngomong, aku juga lagi mengalami pergolakan mood buat masuk sekolah nih. Sebenernya aku ada rasa semangat buat masuk sekolah, dan perasaan ini cukup mendominasi. Cuma, kalo ngebayangin hari-hariku nanti... tiap hari harus pulang sore, belom lagi langsung cabut ke bimbel, terus di rumah belajar lagi. Duh, aku udah kelas 9 ya? Ga kerasa banget! Belom lagi nanti, pas udah semester baru, aku pasti bakal kangen hari-hari kayak gini... hari-hari yang santai dan penuh kedamaian (LOL). Oke deh, aku emang harus nikmatin dan mengenang dulu hari-hari males kayak gini, huhu.
Oh iya, poster dari Jakarta yang dikirim Kak Dhira udah nyampe di rumahku. Rasanya sayaaaaang banget mau nempelin di sekolah. Abisnya gimana dong? Hadiahnya MacBook Pro sama iPod Touch, men!! Siapa yang nggak ngiler, gitu loh??
Wuah, pada bertanya-tanya deh itu poster apaan, begitu ngebaca kata MacBook dan iPod Touch? Hehehehe. Hitung-hitung menambah pahala (apa banget deh), saya bakal berbaik hati ngasih tau kalian soal lomba ini.
Basically, lomba ini adalah lomba menulis. Honestly aku ga tau apa visi dan landasan dari kompetisi ini sih, karena aku bukan panitianya. Yang pasti, aku cuma tau kalo kamu bisa dapetin 1 MacBook Pro dan 2 iPod Touch (bagi 3 pemenang yang dipilih oleh para editor) dan 7 handphone + prepaid internet packages, kalo eBook buatan kamu termasuk dalam 10 eBook terfavorit! Yay! Mau kan? Pengen dong?
Jadi, buat kamu semua yang suka menulis dan hobi bikin eBook, tunggu apa lagi? Segera sign up di www.evolitera.co.id dan publish eBook kamu di sana sekarang juga! C'mon, Octopuses! Let's show off our power to the people! Hehehe, maap saya jadi bersemangat sekali :D
Aku ga tau banyak soal persyaratannya, tapi memang di posternya ada ditulis beberapa langkah yang harus dilakukan untuk mengikuti kompetisi ini. Tertarik? Leave me a response on the chatbox yang tersedia di page "MISC". Aku ga nunggu ada 5 respons atau berapapun itu. Asal ada satu orang dari kalian yang tertarik, aku berkenan nulis ulang step-step yang ada di poster tersebut, bahkan mungkin sama foto posternya sekalian. Ini kalo kalian pengen liat dan tau apa yang ada di poster yang aku dapetin, loh, ya :) Soalnya kan percuma aku motret sama nulis ulang di sini kalo ternyata ga ada yang berminat, hehe. Jadi...........
GO GO, LEAVE ME A RESPONSE! :D
Love, LadyLo
Label: About me, Announcement, Daily story, Experience, Fun, Info, Interests, Just babbling, Life, Updaties
so this is how does it feel
So this is how does it feel to be a sister...
:)
Love, LadyLo
Label: About me, Experience, Family, Just babbling, Life, Short Post
oh-so-random
Dunia. Sudah. Berubah.
Nope. It doesn't like I'm-so-odd from now on. Oke, oke, aku emang aneh dan abstrak. Tapi bener loh, di mataku, dunia udah berubah. Lebih tepatnya, dunia berputar terlalu cepat buatku.
Yup, terlalu cepat. Dunia ini berputar sangat amat sangat terlalu cepat buatku. Perubahan-perubahan yang terjadi, semuanya terlalu drastis dan terjadi dalam kurun waktu yang terlalu singkat. Aku nyaris nggak bisa nerima semua perubahan yang udah terjadi ini.
Perubahan yang aku maksud itu, ya... perubahan. Bagaimana tingkah laku dan sikap setiap individu ke aku. Gimana kondisiku saat ini. Gimana suasana lingkungan sekitarku. Kejadian-kejadian yang aku alamin belakangan ini. Rasanya semua itu terjadi terlalu cepat buatku. Orang-orang yang dulu akrab sama aku, sekarang semakin jauh. Bahkan beberapa diantara mereka berubah jadi 'musuh' buatku. Justru, orang yang dulu nggak pernah kusangka bakal deket sama aku, sekarang malah jadi akrab banget sama aku.
Tapi, itu semua masih belom apa-apa. Yang paling parah adalah; aku bahkan nggak bisa ngikutin perubahan yang terjadi sama diriku sendiri.
Belakangan ini aku berubah total. Aku jadi lebih sensitif dan sangat labil. Labil dalam artian, detik ini aku bisa ketawa-ketiwi, tapi detik berikutnya aku bisa diem aja, bengong, kayak orang yang nggak punya tujuan hidup. Dan bisa dibilang, semua itu terjadi karena aku depresi berat. Yup, depresi. Bukannya aku mau lebay atau gimana ya. Tapi emang itu yang terjadi sama aku. Nggak lucu kan kalo aku depresi tapi maksa mau bilang "aku cuma stres", ya nggak?
Itu satu. Masih banyak hal-hal lainnya yang menyebabkan aku berpikir kalo dunia berputar terlalu cepat. Ibaratnya nih ya, aku tuh ngerasa aku masih berada di alam mimpi, padahal sebenernya aku tau kalo aku udah berpijak di dunia nyata.
Aku harap, aku bisa ngikutin semua perputaran yang terjadi sekarang ini. Tapi yaaa itu tadi, I can't go with the flow and I don't do the trend(s). Maybe that's why I feel something awkward like this...
Yup, I DID say "trend".
Nyadar nggak sih, kalo belakangan ini banyak orang yang berubah jadi terlalu "naif"? Mereka nggak bisa nerima orang yang nggak melakukan hal yang sama dengan mereka. Kita harus ngikutin segala kebiasaan yang udah menjadi hal umum bagi mereka. Kebiasaan yang lambat-laun berubah menjadi suatu tren. Siapa yang nggak ngikutin tren tersebut, bakal dilibas. That's it.
Contoh kasusnya gini. Some people do hate me because they think I've fallen in love with someone that soooo popular in my school. Padahal aku nggak ada rasa sama sekali sama orang itu. Tapi mereka memaksakan kehendak mereka. Kehendak yang mengharuskan aku mengikuti tren yang ada; dalam hal ini yaa menyukai orang tersebut. Aku udah nyangkal semua omongan mereka, tapi mereka teteeep ga mau tau. Buat mereka, aku tuh munafik. Bohong. Di mulut bilangnya nggak, padahal sebenernya iya. Uh-oh, that cursed trend!
Tanpa sadar, mereka memaksakan kehendak mereka. Di otak mereka udah tertanam tren "menyukai-si-Mr X-ini", dan itu berarti setiap cewek yang deket sama Mr. X ini pasti suka sama dia. Padahal, bukan begitu kenyataannya. Tapi ya itu tadi, everyone must follow the trend. Ya nggak ikutan, bakal dilibas dalam berbagai cara. Ada yang digosipin munafik kayak aku, ada juga (mungkin) yang dilabrak terang-terangan and so on.
Hal-hal klise yang selalu terjadi dalam masa-masa remaja.
Back to the topic, mungkin aku ngerasa perputaran dunia terlalu cepat karena aku nggak mengikuti tren yang ada. Kalo aku ngikutin semua tren yang terjadi, mungkin aku bakal ngerasa dunia tetap sama. Dunia tetap berputar seperti biasa. Walaupun kenyataannya, kalau dilihat secara kasat mata, dunia memang berubah terlalu cepat akhir-akhir ini. Just-admit-it.
Beside, I can't go with the flow. Mungkin aku bertahan terlalu keras untuk melawan arus. Mungkin aku nggak membiarkan diriku terbawa arus, walau cuma sedikit aja. Mungkin aku emang salah dalam hal ini. Karena orang-orang kan bilangnya, just go with the flow, tapi jangan sampe kebawa arus.
Lah, emangnya gampang ngelakuin hal itu?
Okay, cukup deh ngomongin hal seriusnya. Bisa-bisa aku beneran cepet tua kalo mikirin hal serius kayak gini mulu lmao.
Aku lagi pengen handphone baru! Huhu :( Udah dapet dua calon. LG Cooky yang baru-baru ini diiklanin sama SNSD, atau Samsung Monte yang lucu itu... kalo Cooky, terakhir aku ngecek sih harganya di Korea udah Rp 3.600.000,00. Tapi aku belom tau udah ada di Indonesia atau belom. Kalo Samsung Monte, aku ada liat harganya Rp 2.200.000,00. Duh, pengen! Butuh handphone nih, secara handphone lamaku udah rusak... kapan-kapan kusubmit fotonya deh :)
Pengen, pengen, pengeeen!!
Love, LadyLo
Label: About me, Daily story, Just babbling, Life, Opinion, Problem, Renungan
bored
I'm bored... I have 5 days off but I don't have any schedules ;____;
Anyway,
Source: tuotierugif@soompi Re-uploader: totaltrainwreck Credit & Shared By: totaltrainwreck@divadetention.com
Nana at the back is sooooo cute! Gaaah! x) I want more of pigtailed Nana~
Love, LadyLo
Label: About me, English Post, Just babbling, Kpop, Photo, Short Post
Ssul-jjang!
See? I'm coming back :D I have a lot of spare times so, yeah... it's easy for me to give some updates on my bloggie~ this time, I'll spazz about The Aegyo Queen of f(x), Choi Jin Ri aka Choi Sulli!! (for those who doesn't know about this yet, even though I'm a SONE yet a Playgirlz, I love f(x) too ^^)
No more ulzzang in my dictionary right now. It's the time for Ssul-jjang! Kekekeke. Silly, eh? :p But yeah, we can't deny that Sulli is... UBER CUTE!
Yeah, I'm so random, but I think Sulli looks uber cute in this photo lol. An old one, but I love her soooo much in this pic! I love the way she looked on her hand rofl.
OMGaaaah... don't give us a smile like that, Ssul! You make me want to put you in a box and keep you safe right there lol. And anyway, I want those Micky's ears TT______TT
FYI, SNSD, After School, and f(x) are in my top 3 kekeke, so I'm going to spazz about my most fave members in those girlbands ;)
First of all, it's SNSD's Tiffany! She's my most fave member from every girlbands right now kekekeke. She used to be a bubbly and cheerful Fany, but these times seems like she changed her image into dark and mysterious Fany, eh? Whatever. I just love her devil smirk in the story mv of SNSD's Run Devil Run :)
Yeah, there's SNSD's Sunny in the second rank! (Ps : I'm a hardcore fan of SunFany, lol) She used to be an aegyo Sunny... but, yeah, right now she's a 'devil' Sunny! She looks like Cat Woman in this pic, but I love her rap part in RDR sooooo much! x)
After Tiffany and Sunny, there's After School's Uee in the third place! Many people hate her, and yeah, maybe she can't smile. But that's why I love her, lol. The way she stares on people with her icy glaze, it's sooooo cool! In SNSD, there's Sica as the Ice Princess. I think there's Uee as the Ice Princess in After School :) It's kinda rare to see her amazing sweet smile, but once she show it, omo.... I'm going to faint, lol :p
 Yup! She's the newcomer in After School; Baby Lizzy, the new maknae! Too early for being her fan, huh? But her smile already stole my heart, kekeke. I love her cheekbones that appear whenever she smile :) And I love her voice, though. Seems like she's a kind and a nice girl. I hope she's gonna has more lines in After School's songs :D
Well, I think that's enough for this time, right? My lame English, I know >_> still need more practises :D Anyway, don't forget to join these amazing forums! (My most fave forums~)
Soshified - SNSD's International Fan Forum
Diva Detention - After School's International Fan Forum
Aff(x)tion - f(x)'s International Fan Forum
Soshindo - SNSD's Indonesian Fan Forum
I'm sure you're gonna love them~ ^^ just click on the name and you'll be directed to the site ;)
Love, LadyLo
Label: About me, Celebrity, Daily story, English Post, Interests, Just babbling, Kpop, Opinion, Photo
I'm here! :)
Yeah, I'm back! And yup, I've changed my blog's layout :) I know a lot of people use this layout, but I can't handle it lol, I still want this layout as my blog's layout! I haven't done a lot of things... still need to change the icons, relink all of you, add some songs, and of course reply your chatties. Well, wish me luck for doing these things, okay? ;)
Anyway, it's official! I've made an Indonesian forum for SunFany, and it's here~
www.2Nyted.ipbfree.com
Yup... I know, it's bad and too plain. But the good news is, we're currently finding for tech admins and graphic designers! Interested? Then go for it :D
Huff... belakangan ini tenagaku bener-bener terkuras. Baru aja selesai ngerjain mid tes, eh aku malah disuruh dimintain tolong sama guruku buat jadi pager ayu nikahan anaknya. Well, since I didn't have any schedules, I accepted it lol :)
 Silly huh? Ribet sih, karena harus bangun pagi-pagi dan berangkat subuh dari rumah. But it was awesome, though. Ada saat-saat dimana rambutku jadi kayak pohon waktu disasak, ada awkward moments waktu aku baru ketemu sama Puput dan Dini (karena sebelumnya aku ga kenal mereka), ada saat-saat dimana aku ketiduran gara-gara ngantuk banget, ada saat-saat dimana aku dituduh mojok sama Rizal gara-gara aku duduk berduaan sama dia (please, dia lagi main Snakes di hapeku dan aku lagi ketiduran waktu itu -,-), ada saat-saat memalukan waktu ngedenger Anom nyanyi, ada saat-saat pengen nimpuk muka Erwin sama Gugun pake heels (hehehe peaceeee), ada saat-saat rasanya pengen pingsan waktu diajarin 'cara jalan yang baik' dan terpaksa menderita gara-gara harus berdiri lama (dengan HEELS), dan ada banyak momen-momen yang ga terlupakan hingga detik ini :) (ku-cut demi alasan biar kenangan-kenangan itu jadi our very own memories hehe) I love you guys!
Bisa dibilang kami stay dari jam 6 pagi sampe jam 3 sore. Jam 3 sore acaranya udah selesai dan kami balik ke rumah guru kami. Di sana, rumah nya Bu Guru berasa jadi rumah kami sendiri huahahaha. Puput, Gugun, sama Erwin udah pulang duluan, jadi nyisa aku, Tya, Anom, Rizal, sama Dini. Anom sama Rizal mah enak aja, tinggal buka sana buka sini selesai deh. Lah kalo kami, para cewek? Harus lepas jarik lah, kebaya lah, konde lah, dan sebagainya!
Baru aja selesai ganti baju, konde Tya langsung dilepas paksa dengan naasnya oleh si Rizal. Nggak lama kemudian, Anom ikutan ngelepasin sanggulnya Tya. Begitu selesai sanggul Tya dilepas, sanggulnya Dini jadi incaran mereka yang selanjutnya. Awalnya aku nggak mau ngelepas sanggulku, takut ketawan betapa berantakannya rambutku. Tapi... akhirnya aku tergoda juga buat ngelepas sanggulku. Alhasil, sanggulku dilepas oleh warga sekampung hahaha (baca : Tya, Anom, Rizal, Dini, Bella). Percaya atau nggak, Rizal yang banyak disukain cewek itu adalah yang paling telaten dalam hal ngelepasin konde!
Okay, selesai ganti baju dan lepas konde, kami semua tiduran di atas lantai sambil ngadem depan kipas angin. Berhubung lantainya luas, otomatis pose kami jadi nggak beraturan. Yang pasti, urutan awal posisi kami itu (dari kiri ke kanan) : Rizal-aku-Dini-Anom-Tya. Berhubung Puput tiba-tiba nelpon dan kondisi memaksaku buat ngambil hape di tas (halah), urutannya berubah lagi jadi Rizal-Dini-aku-Tya-Anom. Posisi yang ini better karena berarti di kanan-kiriku itu cewek hehehe.
Nah, bagian-bagian selanjutnya mending kuskip aja yaaaaa hehehe :D Bisa dibilang aku lagi males ngetik kekeke :p yang pasti, kesibukanku belakangan ini adalah :
1. Aku jadi moderator di divAS aka www.divadetention.com :D yup, salah satu forum internasionalnya After School ;) please join yaaaaa... dan nicknameku di sana itu "tiffanytiffyn" ;) jangan lupa sapa aku, okay? Hehehe 2. Ngurusin 2Nyted pastinya. Alamatnya : www.2Nyted.ipbfree.com 3. Aku berkolaborasi sama my beloved oppa, Aldi, buat bikin fanfic yang berjudul Love Constellation. Fanfic ini sangat istimewa buat aku, karena ini pertama kalinya aku berkolaborasi sama seseorang buat bikin suatu fanfic, dan juga fanfic ini cukup unik karena ditulis dari dua POV (Point of View) yang berbeda, yaitu dari POV cewek dan POV cowok :) 4. Semi hiatus on Soshindo, semi hiatus on Twitter, already on hiatus di Soshified. gonna miss you all, guys! divAS butuh dirawat ASAP hehehe :D 5. Tiffyn (aku sama Ina) pengen tampil di perpisahan nanti, pastinya ngecover beberapa lagu kpop dong... (most likely sih lagu-lagunya SNSD) :D
Well, itu dulu deh buat postingan kali ini hehehe. Tenang Octopuses, aku bakal berusaha kembali sering blogging kok ;) Kekekeke
Love, LadyLo
Label: About me, Daily story, Experience, Friends, Fun, Just babbling, Nostalgia, Schedule, Somethin' about my blog, Updaties
Older Post
|