Lady Octopus by Nona Soedhowo. +Follow | Dashboard
Lady Octopus
Entries ~~ LadyLo ~~ Friends ~~ Connect



life isn't like a box of chocolates; it's already scripted.
Selasa, 09 Oktober 2012 | 0 comments
Life is like a box of chocolates - you never know what you're gonna get.


Mungkin udah ratusan kali kamu denger atau ngebaca quote barusan. But hey, who's counting here? Because what really matters now is, apakah kata-kata mujarabnya Forrest Gump barusan bener atau nggak. Well, aku sendiri yakin pasti bagi sebagian besar orang, definisi hidup ya begitu. Unpredictable, full of surprises, and such.

Definisi hidup menurut Nona?

Life is like a movie script - you never know whether you do your role perfectly or not until you finally watch the result. 

Sering denger ungkapan 'dunia ini hanya panggung sandiwara'? I do. And I believe in that statement. Karena pada dasarnya, yang dilakukan setiap manusia di muka bumi ini hanya memerankan perannya masing-masing. Orang jahat, orang baik, orang ketus, orang ramah, semua itu cuma label yang diciptakan manusia sendiri. Tapi pada akhirnya, orang-orang tersebut tetap harus menjalankan lakonnya dengan label-label yang menempel di diri mereka. Kenapa? Karena sekali seseorang gagal menjalankan perannya, seluruh cerita yang udah tersusun rapi di naskah bakal hancur berantakan.

Banyak yang bilang, Tuhan adalah sutradara dari hidup ini. Aku cukup setuju sama pernyataan itu. Dan menurutku, manusia itu (udah jelas ya?) aktris dan aktornya. Sekarang, pertanyaannya cuma satu. Kalo Tuhan = sutradara, dan manusia = pemerannya, lantas siapa penonton dari 'panggung sandiwara' ini?

Karena panggung selalu didirikan untuk para penontonnya, my dear.

Intinya, nggak mungkin kan suatu pertunjukan digelar kalo ga ada penontonnya? Masalahnya, dalam hal ini siapa penontonnya? Malaikat? Iblis? No, in my opinion, mereka juga termasuk dalam kategori "pemain".

I'm getting crazy, I know.

Pernah nggak, suatu hari kamu terbangun dari tidurmu dan satu-satunya hal yang terbersit di kepalamu adalah kalimat "what am I doing to my life"? It's like, everything is pitch black. And then, your brain goes blank. Real blank. Mendadak kamu kehilangan passion buat ngelarin semua pekerjaan yang udah kamu mulai. Tiba-tiba aja kamu mempertanyakan semua pilihan yang udah kamu buat dalam hidup kamu. Dan dalam sekejap, kamu pengen ngulang semuanya dari awal. Ngelakuin hal yang jauh berbeda dari apa yang kamu pilih sekarang. Ibarat main Angry Birds, kamu pengen pindah season. Dari Angry Birds Halloween ke Angrys Birds Rio, maybe?

My mind is like a big parade of mixed things. Ada banyak hal yang harusnya ga perlu kupikir tapi tetep aja terlintas di kepalaku. Gimana kalo ternyata mukaku sebenernya nggak sama kayak yang selama ini kuliat di cermin? Kan aku nggak pernah ngeliat langsung mukaku! (Random thought, it proves that orang lain kadang lebih tau tentang diri kita ketimbang kitanya sendiri - buktinya aja mereka lebih mengenal muka kita daripada kita sendiri) Atau, gimana kalo pas one day aku ngaca, aku baru nyadar kalo aku udah berumur 30 tahun - dan bukannya 16 tahun kayak sekarang? Because time runs faster than we used to think. And this case happens to my Mom.

Aku bahkan sempet kepikiran; kira-kira apa yang bakal terjadi seandainya aku ngambil jalan yang berlawanan sama pilihan yang udah aku ambil sekarang? Things like, gimana seandainya aku ngambil kelas IPS instead of kelas IPA? Gimana seandainya aku nggak masuk ke SMA Negeri 1 Samarinda, tapi masuk ke SMA lainnya? Gimana seandainya aku masuk ke SMK dan bukannya SMA? Gimana seandainya aku masuk sekolah swasta, dan bukannya sekolah negeri? Gimana seandainya aku milih homeschool daripada public school? Apa yang bakal terjadi? Gimana reaksi keluargaku? 

Karena sebesar apapun kebebasan yang dikasih orang tuaku, tetep aja ya yang namanya keluarga besar lebih menghormati hal-hal 'mainstream'. Such as, jadi pegawai negeri itu much better daripada jadi wiraswasta (talking about garansi seumur hidup, if you know what I mean) dan hal-hal lainnya. 

Hal-hal semacam itulah yang ngebuat aku diem-diem salut sama orang-orang semacam tokoh Wilee di film Premium Rush. You know, the one who abandoned his previous 'life'. Seorang laki-laki cerdas yang nekat meninggalkan kesempatannya mendapatkan gelar Sarjana Hukum, cuma demi mempertahankan passionnya berkendara bebas dengan fixed gear dan jadi kurir khusus. Karena orang-orang semacam itu emang ada di sekitar kita, dan untuk mengambil keputusan seperti itu sama sekali nggak mudah. Aku yakin, ada suatu keberanian yang nggak dimiliki setiap orang waktu temen kita ditanya "kenapa nekat masuk Farmasi?" dan langsung ngejawab dengan tegas, "Aku mau langsung kerja abis lulus sekolah". How I envy you, orang-orang yang gagah berani.

Aku sendiri termasuk dalam kalangan orang pengecut yang masih belom yakin mau jadi apa pas dewasa nanti. Golongan losers yang nggak berani mengambil keputusan yang 'beda dari yang lain', cuma karena takut nggak sanggup menghadapi penilaian dari orang lain. Aku terlalu banyak mikirin "what ifs" instead of doing the hell of it. Orang-orang kayak aku inilah yang kalo hidup cuma ngikutin garis lurus yang mungkin emang udah digambarin sama Allah sejak awalnya.

Probably that's why I always think that life is already scripted. Means, it's not 'a box of chocolates' at all. But hey, what can I do to my screwed life anyway?

Love, 
LadyLo.



Label: , , , , , ,


six recommended manga(s) that you totally have to read!
Rabu, 29 Agustus 2012 | 0 comments
 Pengen baca shoujo, tapi nggak tau mesti baca apa? Atau pengen tau komik apa yang bagus dan lagi populer? Ngerasa kecewa sama endingnya Faster Than A Kiss yang surprisingly terlalu klise? Atau malah bosen banget sama Kaichou wa Maid-sama dan xxme! yang somehow jadi overrated banget itu?

Well, Lady Octopus presents the latest guide for you guys! This time, I'd be glad to introduce these six awesome, remarkable manga(s) to you :D

Harus diinget, enam manga berikut ini bukan komik-komik dengan top-notch popularity macemnya Gakuen Alice atau Kaichou wa Maid-sama. Tapi, komik-komik ini tetep punya kualitas yang nggak kalah bagus, dan mungkin beberapa di antaranya bisa menandingi popularitas dua komik tersebut di masa depan? We'll see! Yang pasti, komik-komik ini merupakan manga yang lagi aku gandrungin banget selama beberapa saat terakhir ini, and are currently stepping to the next level (yes, mereka jadi makin hari makin populer!)


1. Nadeshiko Club


   
Yang pertama adalah Nadeshiko Club! Ceritanya tentang Reo, perempuan yang nggak ahli dalam hal-hal yang menyangkut rumah tangga... such as masak, menjahit, mencuci baju, dll. Surprisingly, pacarnya make kelemahannya itu sebagai alesan buat mutusin dia. Karena pengen ngajak pacarnya balikan, Reo mutusin buat bergabung sama Home Ec Club (semacam Klub PKK/Klub Rumah Tangga gitu). Di sana ada empat cowok ganteng (typical; yes I know) yang bakal ngajarin dia untuk menguasai hal-hal yang berkaitan sama rumah tangga. 

Kedengerannya pasaran, ya? Komik ini emang bukan tipe komik yang kudu dijadiin beban pikiran atau dibawa serius. What I love the most from this manga is, the point where we don't have to think too much about the storyline. It feels like, all we have to do is read the manga and enjoy it! Just go along with the flow and have fun - it's like a playground. Nggak ada drama percintaan nggak penting yang bikin gemes dan bikin kita mikir kayak "bitch please, get the fact straight how could you act dumb like that you fool?!" dan sebagainya. 

Oh iya, walaupun dari summary nya manga ini keliatan pasaran, sebenernya ceritanya nggak seklise itu loh. Yang pasti kita bisa belajar soal tugas-tugas rumah tangga di sini, dan kita bisa ngikutin cerita dari setiap karakternya. Sekali lagi, kalo kalian pengen baca komik yang nggak bikin stres, this manga is highly recommended by me. 

Rating: 4/5



2. Taiyou no Ie




Alias House of The Sun. Dari judulnya aja udah ketawan kan betapa 'indah' nya komik ini? Well, kebalikan dari Nadeshiko Club yang emang orientasinya manga buat have fun, Taiyou no Ie jelas punya storyline yang kompleks dan serius. Komik ini punya influence yang cukup kuat buat pembacanya. Kita bisa ikut nangis, ikut mikir... ikut terhanyut dalam ceritanya.

Manga ini bercerita tentang Mao yang jarang ketemu sama orang tuanya. Dari kecil, Mao terbiasa main dan makan di rumah keluarga Nakamura, tetangganya, berhubung orang tuanya selalu sibuk kerja dan jarang pulang. Lama-kelamaan, orang tuanya bercerai dan Mao mutusin buat ikut sama papanya. Awalnya, hubungan Mao dan papanya baik-baik aja (walaupun mereka juga bukan tipe ayah dan anak yang akrab banget)... sampai akhirnya sang papa nikah lagi. Ibu tiri Mao udah punya anak dari pernikahan sebelumnya, dan dalam waktu singkat Mao ngerasa kalo dia itu cuma left-over, sementara papanya udah punya keluarga yang baru (you see; istri baru, anak baru).

Gimana pun juga, namanya waktu berlalu, bukan cuma kehidupan Mao yang berubah. Hiro, anak sulung keluarga Nakamura, juga ngerasa kalo hidupnya udah berubah drastis. Orang tua Hiro udah meninggal. Hiro yang dulunya masih SMP udah berubah jadi pegawai kantoran (PS: jarak umur Hiro sama Mao lumayan jauh, di sini Mao masih pelajar dari Hiro udah jadi karyawan). Rumah keluarga Nakamura yang dulunya lively berubah jadi dingin, berhubung dua adik Hiro mutusin buat keluar dari rumah itu dan tinggal sama sanak saudara mereka yang lain. Tapi cuma Hiro yang berusaha mempertahankan rumah itu dan nggak mau keluar dari sana. Dan akhirnya, Hiro ngajak Mao yang desperate untuk tinggal bareng.

This manga is heartbreaking and heartwarming at the same time. Kita bisa ketawa ngeliat betapa keras kepala dan angkuhnya Mao, padahal diem-diem dia berusaha untuk jadi anak yang kuat dan nanggung semua beban hidupnya sendiri. Sikapnya yang violent towards Hiro juga bikin ketawa (dan aku suka banget sama kepribadiannya yang galak dan kuat, nggak kayak tipikal fragile heroines yang gampang bikin gemes). Kita bisa nangis ngeliat betapa heartless nya papa Mao, yang dengan mudahnya ngucapin hal-hal yang bikin Mao sakit hati dan Hiro terkejut. Betapa gampangnya dia ngasih uang bulanan untuk Mao tinggal di rumah Hiro, tanpa pernah sekali pun sadar kalo sebenernya Mao selalu nunggu diajak balik pulang ke rumahnya sendiri (nanti bakal ada scene Mao ketemuan sama papanya di kafe setelah sekian lama menghindar, itu scene yang wajib dibaca karena itu juga scene yang paling bikin aku nangis). Kita juga bisa deg-degan sendiri ngeliat gimana perubahan perasaan Mao dan Hiro terhadap satu sama lain, padahal mereka udah terbiasa sama hubungan love-hate antar temen masa kecil dari dulu.

Intinya, manga ini bener-bener bagus! Kalo aku cuma bisa make satu kata buat ngedefinisiin komik ini, aku bakal milih kata "beautiful".

Rating: 5/5



 3. Yumemiru Taiyou

  Yumemiru Taiyou 
Bukan cuma judulnya yang mirip sama "Taiyou no Ie" di atas, awal ceritanya juga agak mirip. Yup, sama-sama tentang anak yang ditinggal papanya nikah lagi dan ngerasa terasing di keluarga barunya. Bedanya, ibu kandungnya meninggal dan papanya udah punya anak kandung dari istri barunya (kalo di Taiyou no Ie kan mama tirinya Mao emang udah pernah nikah dan punya anak). Dan yang pasti, Yumemiru Taiyou ini masih less drama daripada Taiyou no Ie. Tapi storylinenya tetep bagus loh!

Ceritanya, Shimana mutusin buat kabur dari rumahnya. Di tengah jalan, dia malah nggak sengaja nginjek om-om (well, he's not that old - probably age gap nya kurang lebih aja sama Mao dan Hiro) mencurigakan yang tidur di taman pake kimono. Ternyata cowok itu abis mabuk semalem dan kehilangan kunci rumahnya. Dia nawarin Shimana untuk ikut tinggal di rumahnya, kalo Shimana berhasil memenuhi tiga syarat yang dia kasih : 1. Ngasih tau kenapa Shimana kabur dari rumah; 2. Nyari "Asahi" atau "Zen", temen satu sekolahnya, karena mereka berdua sama-sama punya kunci rumahnya; 3. Memiliki mimpi dan jatuh cinta.

Hari-hari Shimana yang seru dimulai setelah dia berhasil tinggal di rumah cowok berkimono yang ternyata dipanggil "Taiga" itu. Unexpectedly, ternyata rumahnya Taiga berupa cottage yang asri dan nyaman. Di sana Shimana harus berbagi rumah sama Zen, temen sekelasnya yang maniak sama panda dan heboh, gokil, childish, plus blak-blakkan. Di sana juga ada Asahi yang cakep, kalem, baik banget, perfect deh pokoknya tapi diem-diem semacam nyamar jadi anak cupu di sekolah. Dan juga ada Taiga, sang pemilik rumah yang nyebelin, tapi juga dewasa dan selalu punya solusi buat tiga pelajar yang ngontrak di rumahnya itu.

Terus, apa lagi yang menarik dari komik ini? Well, this manga is quite a troll. Yes, the manga likes trolling on us! Sisi paling menarik dari komik ini adalah storyline nya yang sekilas keliatan bisa kebaca arahnya kemana, padahal nggak! Dalam satu momen, kita bisa mikir kalo tebakan kita pasti bener, tapi ternyata salah. It's like we think that we know, but we actually have no idea. Kalo pengen bersotoy-sotoy ria dan kamu orang yang hobi mikir "ahhhh pasti si ini bakal jadian sama si ini deh" atau "alah paling si ini bakal ngelakuin ini", manga ini cocok banget buat kamu. Karena dalam beberapa poin, komik ini bakal 
ngajarin kita untuk jadi orang yang nggak sok tau hehehe.

Menurutku pribadi, komik ini imbang antara have fun sama dramanya. It's like a mixture of two mangas above, you know. Jadi, kalo kalian pengen baca komik yang punya good balance antara sisi serius dan sisi lucunya, this manga is a must read!

Rating: 4.75/5



 4. Ao Haru Ride

 

What's so beautiful about this story is the realistic and heartwarming chemistry between the main characters. Kisahnya berawal waktu Futaba, perempuan yang manis dan populer di sekolah karena anaknya anggun dan pendiam, pertama kali kenal sama Kou di SMP. Futaba nggak suka sama cowok, tapi entah kenapa dia selalu ngerasa baik-baik aja kalo sama Kou. Menurutnya, Kou yang badannya agak pendek untuk ukuran cowok dan suaranya masih ala ababil lagi akil balig lebih approachable buat diajak temenan sama dia. Ternyata, Kou juga baik dan pengertian sama Futaba, walaupun si Kou ini anaknya juga kalem dan agak malu-malu.

Di luar dugaan, Futaba mulai naksir Kou. Mereka janjian buat nonton kembang api dan ketemuan di taman, tapi Kou nggak pernah dateng nepatin janjinya. Ternyata Kou pindah selama liburan musim panas, dan Futaba nggak pernah lagi ketemu sama Kou................

Setting waktu berpindah ke masa SMU Futaba. Futaba, yang selama tahun terakhirnya di SMP dimusuhin cewek-cewek karena dianggep ganjen and such, berhasil ngubah imagenya jadi cewek urakan yang dekil dan asal-asalan cuma demi nggak dimusuhin sama temen-temen ceweknya lagi. Di sana, dia ketemu sama cowok yang bikin dia inget sama Kou. Cuma, cowok itu punya marga yang beda dari Kou. Cowok itu juga jauh lebih tinggi, rambutnya juga lebih panjang dan ikal. Dia juga dingin, susah dideketin, blak-blakkan, pokoknya bener-bener the total opposite of Kou Tanaka deh!

Manga ini juga beberapa kali berhasil bikin aku nangis. Nangis waktu tau masa lalunya Kou. Nangis waktu ngeliat betapa cintanya Futaba sama Kou. Aku juga suka banget sama betapa kerasnya Futaba dan Kou berusaha untuk bertahan hidup dengan cara mereka masing-masing, bahkan walaupun itu berarti mereka harus mengubah diri mereka sendiri menjadi sosok yang jauh berbeda dari diri mereka yang sebenernya. Dan yang pasti, aku salut banget sama cinta Futaba dan Kou yang nggak pernah mati setelah bertahun-tahun berlalu. Gimana kuatnya chemistry antara Futaba dan Kou yang udah bisa diliat tanpa harus jadian. Oh, dan pastinya aku nggak pernah lupa sama remarkable scene antara Futaba sama Kou yang harus kalian liat: waktu Futaba dan Kou sama-sama naroh kepala mereka di meja dan ngeliat ke arah yang berlawanan, Futaba nyium rambut Kou dan Kou ngegandeng tangannya Futaba... THAT WAS SO DAMN BEAUTIFUL.

Ao Haru Ride lebih kelam daripada Yumemiru Taiyou, tapi jangan khawatir! Walaupun kalian pastinya bakal kebawa suasana sama storyline nya, komik ini nggak melulu tentang hal yang sedih-sedih kok. Lagian, fokus utamanya itu tentang betapa affectionate nya Futaba dan Kou tentang satu sama lain. Sekali lagi, the strongest point which is the number one reason kenapa aku salut banget sama komik ini adalah, betapa berhasilnya sang mangaka dalam hal ngasih liat seberapa dalemnya perasaan Futaba dan Kou. Cinta mereka bener-bener terekspresikan dengan bagus for real.


Rating: 4.75/5


5. Orange


My first impression of this manga was: GENIUS! Komik ini merupakan percampuran antara kehidupan para pelajar, percintaan, persahabatan, konflik keluarga, dan konsep time-travelling yang udah nggak asing lagi bagi kita. Walaupun begitu, hasil yang keluar tetep memuaskan dan totally refreshing! 

Suatu hari, Naho dapet surat yang ditujukan buat dia di rumah. Yang aneh dari surat itu adalah, di situ tertulis kalo pengirimnya adalah dirinya di sepuluh tahun mendatang. Di dalem surat itu tertulis hal-hal yang Future Naho sesali. Dia ngejabarin semuanya secara mendetail dan berharap biar Present Naho nggak ngulangin kesalahan-kesalahan itu. Awalnya Naho nggak percaya dan nganggep itu semua cuma kerjaan orang jahil... sampe akhirnya salah satu hal yang ditulis di dalem surat itu bener kejadian: ada murid pindahan dari Tokyo yang namanya Kakeru.

Lama-kelamaan, Naho mulai jatuh cinta sama Kakeru. Ternyata, menurut surat yang ditulis Future Naho, dalam waktu sepuluh tahun mendatang Kakeru udah nggak ada lagi di dunia ini. Yup, dia meninggal waktu masih SMU. Future Naho minta sama Present Naho untuk sebisa mungkin ngejagain Kakeru yang masih hidup. Dia pengen supaya Naho selalu menyenangkan hati Kakeru dan ngelakuin hal-hal yang nggak bisa dia lakuin waktu masih SMU dan bikin dia nyesel. Bahkan dia juga berharap Naho dan temen-temennya bisa mencegah kematian Kakeru.

Aku masih belom bisa terlalu banyak komen soal manga ini, karena baru ada lima chapter yang udah ditranslate. However, harus kuakuin kalo manga ini bener-bener membawa angin baru dan bikin kita nggak bisa berhenti menebak-nebak; apakah Naho dan yang lainnya bisa mengubah masa depan Kakeru? Apa mereka berhasil mencegah kematian Kakeru? Oh, dan satu fakta lagi yang menarik, orang yang bikin komik ini adalah orang yang sama dengan yang bikin Yumemiru Taiyou. It's quite surprising karena perbedaan storyline antara Orange, yang dramatis, serius, dan rasanya bisa bikin nangis sewaktu-waktu, dengan storyline Yumemiru Taiyou yang juga bisa bikin nangis at some points, tapi tetep bisa bikin kita ketawa (I mean, siapa sih yang bisa bikin ketawa waktu baca Orange, sementara kita tau nyata-nyata ada kematian yang udah siap menyambut Kakeru dalam kurun waktu yang singkat?).

Rating: 4/5



 6. Tonari no Kaibutsu-kun



This manga is so damn interesting. Also, komik ini yang paling aku ikutin belakangan ini. Plot awal komik ini mungkin emang ga terlalu menarik, tapi sekali kamu baca komik ini... dijamin ketagihan deh! Ada yang suka Oresama Teacher? Nah, komik ini punya nuansa yang mirip kayak manga itu. Ada nuansa friendly, lively, dan serunya. Romance emang fokus utama dari komik ini, tapi bukan berarti komiknya berputar di sekitar percintaan melulu. Kalo kubilang malah poin terkuat dari komik ini adalah betapa 'luar biasa' nya setiap karakter yang ada di sini.

Ada Shizuku, si 'study bug' yang berambisi buat jadi pegawai kantoran kayak mamanya yang nggak pernah pulang ke rumah karena harus banting tulang demi keluarganya, berhubung somehow papanya selalu punya bad luck tiap kerja dan ujung-ujungnya pasti berhenti. Saking maniaknya Shizuku sama pelajaran, dia udah ga peduli lagi sama kehidupan sosialnya. Yang paling parah, Shizuku ini punya lidah yang tajem dan bener-bener straight-forward banget. Dia juga tipe cewek yang kuat dan nggak tinggal diem kalo diinjek-injek. Terus, Shizuku juga peduli banget sama rankingnya. Biasanya, tiap dia ulang tahun dia bakal bikin laporan tertulis tentang prestasi-prestasinya dalam setahun dan ngefax itu laporan ke mamanya. Dan dia juga perhitungan banget... dan irit sama uang hehehe.

Juga ada Haru, yang most likely punya hubungan yang buruk sama anggota keluarganya sendiri. Walaupun dia tajir, dia lebih milih tinggal sama sepupunya. Haru ini merupakan cowok yang aneh, eksentrik, ajaib lah pokoknya. Bener-bener ajaib tingkat alien. Dia ini tipe cowok yang bisa seenaknya nebang pohon di halaman sekolah dan ngebawa masuk itu pohon ke dalem kelas cuma demi bikin kelas lebih seger and all (seriously Haru, why don't you try doing normal things, such as bawa vas bunga ke kelas atau apa gitu). Dia juga selalu masuk ke kelas lewat jendela, dan jangan lupa kalo kelas mereka ada di lantai dua. Haru agak bermasalah dalam hal bersosialisasi dengan orang secara normal karena keanehannya itu beyond common people's logic, tapi sebenernya dia pengen banget punya banyak temen. Sayangnya, karena dia sering nervous tiap berhadapan sama orang asing, orang-orang justru salah tangkep dan nganggep dia itu galak dan nyeremin banget (oh, dia lugu dan naif tapi kuat banget dan jago berantem by the way).

Kebayang nggak kalo suatu hari Shizuku disuruh ngasih catetan ke tempat tinggal Haru dengan iming-iming bakal dibeliin buku sama gurunya (cuma gara-gara gurunya takut sama Haru)? Dan bayangin aja betapa kekinya Shizuku, yang selalu belajar 24/7, tiap dikalahin sama Haru, si jenius yang selalu dapet nilai tertinggi tanpa belajar sedikit pun? Kebayang juga nggak, gimana kontrasnya Shizuku yang cuma peduli belajar sama Haru yang walaupun sering berantem dan kena skors, sebenernya polos dan ceria banget?

Itu baru Shizuku sama Haru. Yang aku suka dari komik ini, walaupun tokoh utamanya mereka berdua, sang mangaka juga ngasih porsi dan peran yang besar dan banyaaaaaak banget buat karakter-karakter lainnya. Dan yang pasti, tiap karakter itu punya poin terkuatnya masing-masing yang bikin tiap karakternya berharga dan nggak bisa dihapus dari cerita.

Ada Yamaken, that rich fella that used to take advantages of Haru before. Di awal-awal diceritain kalo Yamaken dan anggota gengnya cuma nemenin Haru demi duitnya Haru doang. Menurutku pribadi, kayaknya sang mangaka nggak kepikiran buat ngembangin karakter Yamaken sampe seluas dan sepenting ini. Yamaken ini tipikal cowok cool yang digilai banyak perempuan, tapi ujung-ujungnya malah naksir Shizuku. Yang bikin lucu adalah betapa pengennya dia misahin Shizuku dari Haru, tapi tiap ada Shizuku nya dia malah nggak pernah mau ngakuin perasaannya. Dia malah bilang sama Shizuku kalo dia ga mungkin jatuh cinta sama Shizuku hahaha. Kebanyakan tokoh orang ketiga macemnya Yamaken ini nyebelin dan bikin gemes pembaca, tapi Yamaken justru beda. Somehow dia bener-bener likable dengan segala usahanya bikin Shizuku ngeliat dia. Plus, Yamaken juga anak cerdas yang satu bimbel sama Shizuku, jadi mereka selalu nyambung tiap ngomongin pelajaran (berhubung Haru is a natural born genius yang nggak pernah demen ngomongin pelajaran, but gets perfect grades anyway). Oh iya, info tambahan, di polling yang ada di MangaFox angka antara pendukung Shizuku x Haru sama pendukung Shizuku x Yamaken beda tipis loh!

Ada Natsume, which is tokoh favoritku and it's quite surprising to see, karena biasanya tokoh favoritku itu ya tokoh utamanya. Natsume ini anak yang cantik banget dan populer dari kecil di kalangan cowok-cowok. Dia sering banget ditembak tapi selalu nolak orang-orang itu secara kasar dan mentah-mentah. Dia juga keliatan dingin, galak, dan unapproachable bagi cowok kebanyakan. Padahal, sebenernya dia cuma pengen punya banyak temen cewek. Saking desperatenya dia, dia malah pernah membangun pencitraan akut di internet, tapi selalu ngabur tiap diajak kopdar karena takut ditaksir sama cowok-cowok itu (which always happens). Walaupun bagi orang kebanyakan dia keliatan galak, sebenernya Natsume ini anaknya kocak banget. Asli lucu deh pokoknya. Dia juga airhead banget - entah kenapa dia selalu gagal di tiap ujian dan kudu ikut remedial berulang kali, thank God ada Shizuku sama Haru; those genius people. Oh iya, Natsume ini temen gokil-gokilannya Haru. Berhubung Shizuku anaknya strict dan males ngelakuin hal yang aneh-aneh, otomatis Natsume sama Haru selalu klop kalo udah mau ngelakuin hal-hal ekstrim (misalnya lompat dari tebing yang tinggi dsb). Satu lagi, cowok yang bisa ditemenin sama Natsume cuma ada dua orang: Haru dan Sasayan, karena menurutnya Haru cuma 'ngeliat' Shizuku dan Sasayan bisa dipercaya.

Kalo Sasayan, dia kadang terlupakan. Sasayan ini bukan cowok yang cakep atau cerdas, tapi dia orang yang baik dan ramah. Bisa dibilang, dia satu-satunya orang yang sociable di antara dia, Shizuku, Haru, dan Natsume (Yamaken beda sekolah dan beda geng). Jadi, dia ini semacam penghubungnya tiga orang itu sama dunia luar. Sasayan juga lumayan populer dan punya temen di sana-sini. Selain itu, dia juga pemain baseball sekolah. Orangnya rasional dan objektif, dia nggak pernah mihak salah satu orang. Dia selalu netral dan jadi penengah di gengnya. Walaupun dia yang paling jarang disorot dalam cerita di antara mereka berempat, sebenernya Sasayan ini merupakan benang merah yang penting bagi Shizuku, Haru, dan Natsume. Dia itu ibarat magnet yang bikin tiga orang itu selalu berkumpul jadi satu. Plus karena dia orang yang paling 'normal' di antara mereka berempat, dia juga yang selalu ngebantu mereka mecahin hal-hal yang berhubungan dengan 'hal-hal umum'. Yang jelas, aku paling suka sisi pengertiannya terhadap Natsume. Kalo Haru lebih agresif dan posesif dalam ngelindungin Natsume (such as mukul orang yang bikin Natsume nangis - sebenernya tokoh utamanya Natsume apa Shizuku sih? Huehehehe), Sasayan ini tipe orang yang bakal negur Natsume dan nggak segan-segan dimusuhin Natsume asalkan dia bisa bikin Natsume merenungkan hal yang bener.

Masih ada banyak tokoh-tokoh lainnya yang sama pentingnya. Ada Micchan, sepupunya Haru yang punya batting game centre, tempat nongkrongnya geng Shizuku sekaligus tempat tinggalnya Haru. Micchan ini tipikal pria dewasa yang selalu mengayomi, dan otomatis bikin Natsume jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Ada Yuuzan, kakak Haru yang selalu dibenci sama Haru sendiri. Haru selalu lari menghindar tiap Yuuzan dateng. Anehnya, Yuuzan justru minta Shizuku supaya bikin Haru tetep tinggal bareng Micchan, walaupun papanya pengen Haru pulang ke rumah. 

Juga ada Ooshima-san, cewek kalem tapi populer yang naksir sama Haru, tapi nggak berani menghalangi percintaan Haru sama Shizuku. Terus ada Yuu-chan, sahabatnya Ooshima-san yang terlalu blak-blakkan dan hobi ikut campur urusannya Ooshima-san (dan dengan terang-terangannya nanya ke Shizuku, dia lebih milih Haru atau Yamaken). Belakangan ini juga muncul Andou, supirnya Yuuzan yang entah kenapa lagi hobi banget ngedatengin Haru. Si Andou ini masih muda dan ganjen, plus dia berambisi banget sama cewek-cewek SMU yang masih 'seger'. Dan ada Iyo juga, adeknya Yamaken yang agresif, over-pede sama kecantikannya sendiri (menurutnya cuma Natsume yang bisa nandingin kecantikannya) dan naksir Haru, tapi berusaha keras buat ngelupain si Haru cuma gara-gara Haru 'temenan' sama kakaknya (dia bilang, makhluk bernama 'kakak laki-laki' nggak pernah mau mengakui 'adik perempuan'nya sampe ke akar-akarnya). 

Yang jelas, komik ini bener-bener beda dari komik kebanyakan. Udah ada adegan tembak-menembak yang konyol di chapter pertama. Adegan ciuman juga terjadi di momen yang sama sekali nggak ada tanda-tandanya kalo bakal ditaroh adegan ciuman di situ (it's hella surprising, you know. It's like one of them was walking away and suddenly the other one popped out from nowhere and kissed the other party!). Dan yang paling gila adalah adegan ngajak pacaran, yang lagi-lagi ga disangka-sangka bakal muncul di situ (serius deh, kukira mereka jadiannya masih di chapter-chapter selanjutnya).

Aku juga suka fakta bahwa komik ini nggak melulu soal Shizuku dan Haru. At some points, I even thought of Natsume being the main lead. Abisnya sempet ada beberapa chapter yang fokusnya adalah Natsume, dan bahkan walaupun ceritanya lagi nggak terfokus di dia, dia tetep ditempatin di paling depan/di tengah pas di gambar pembukanya! 

Dan yang pasti, poin bahwa persahabatan sesama karakternya di sini itu seru dan asik banget juga nggak bisa diabaikan. Gengnya Shizuku yang terdiri dari dirinya sendiri, Haru, Natsume, dan Sasayan jelas nggak usah ditanya. Terus, orang-orang yang dulunya cuma manfaatin Haru (baca: gengnya Yamaken)? Sekarang malah akrab banget tuh! Malah mereka sampe main ski dan camping bareng segala. Shizuku juga bahkan berteman sama Ooshima-san dan Iyo yang notabene adalah rivalnya. Dan banyak banget hal-hal lainnya yang bikin manga ini jadi bener-bener seru buat dibaca. Pastinya masih ada beberapa misteri yang patut disingkap, terutama soal keluarganya Haru, tapi komik ini nggak melulu soal drama yang bikin pembacanya pusing tujuh keliling.

Oh iya, berhubung tokoh favoritku Natsume, jelas aku paling suka sama hal-hal yang menyangkut Natsume. Biasanya aku cuma bakal ngedukung satu pairing yang melibatkan tokoh favoritku. Tapi, sama Natsume rasanya beda banget. Dia itu terlalu lucu, konyol, dan lovable sampe rasanya aku bisa nerima semua pairing yang ada dianya. Baik itu Natsume x Micchan, Natsume x Sasayan, apalagi Natsume x Haru! Oh, and by the way, aku suka banget ngeliat hubungannya Natsume sama Haru. Pengen rasanya ngeliat mereka jadian (sayangnya mereka berdua sama-sama nggak punya perasaan semacam itu terhadap satu sama lain, hiks). Seru aja rasanya ngeliat mereka gokil-gokilan berdua, ngelakuin hal-hal di luar logika orang kebanyakan bareng-bareng. Terus nanti Natsume curhat sama Haru sampe nangis-nangis dan Haru nya cuma bisa dengerin karena dia bingung mesti bilang apa (jarang kan ngeliat cowok-cewek murni sahabatan tanpa salah satunya jatuh cinta dan ngerusak percintaan dua sahabatnya?). Aku juga suka banget waktu Haru ngancem Micchan, bilang dia ga boleh bikin Natsume nangis segala macem. Dan pastinya waktu Haru berantem abis-abisan sama Micchan gara-gara Natsume dibikin nangis... (ups! Spoiler, hehe)

Well, whatever. Pokoknya ini komik kudu dibaca. Harus. Mesti. Wajib.

Rating: 5/5


 Bingung kenapa tumben-tumbenan aku bermurah hati ngasih rating empat ke atas? Well, karena ini sesi 'ngerekomendasiin', bukan sesi 'ngereview', pastinya aku bakal ngasih tau komik-komik yang menurutku bagus kan? That's why manga yang dimuat di postingan ini merupakan manga yang udah disaring dari sekian banyak manga yang belakangan aku ikutin..... dan pastinya punya nilai tertinggi di antara lainnya :)



Love,
LadyLo.

Label: , , , ,


bitter love
Jumat, 07 Januari 2011 | 0 comments
Bitter love. Ini bener-bener title yang sangat klise dan berbau galau khas ababil jaman sekarang. Maafin aku ya, Octopuses. Ini namanya aku lagi running out of title, hiks. Tapi bukan berarti title entry ini irrelevant sama isi nya kok. Justru aku pilih kata "bitter" karena... memang entry ini bakal berbicara tentang hal yang paling naif--dan paling diagungkan--di dunia;

Cinta.

Sebelum ngebahas lebih lanjut, aku mau meluruskan kenapa aku menganggap "cinta" sebagai hal yang paling "naif" di dunia. Well, simply just because cinta memang naif. Dan membuat orang-orang menjadi naif karenanya. Banyak orang yang percaya bahwa "love would be last forever". Dan biasanya mereka yang beranggapan seperti ini adalah remaja belasan tahun. Remaja yang sebaya sama aku.

Setiap kali ada yang menggunakan kata "forever" dalam satu kalimat yang ada kata "love" nya, aku rasanya pengen banget ngasih tau sama mereka kalo "there is NO forever". Ya memang bener kan? Nggak ada yang namanya "selamanya". Nggak usah ngambil contoh yang rumit semacam, "kita hidup cuma sementara alias nggak selamanya, kan?" deh. Cukup ambil sampel yang simpel-simpel aja (hey, it rhymes!). Makanan, pasti akhirannya bakal membusuk kan? Atau, anggaplah kita lagi ngumpul-ngumpul sama temen-temen segeng. Nggak mungkin kan kita bakal selamanya ngumpul bareng? Pasti bakal ada saatnya kita memisahkan diri. Itu pasti. Because it's fated already.

Jadi, intinya, love isn't about being forever. Cinta itu semacam game. Nggak ada kata selamanya. Yang ada cuma permainan seberapa lama kita bisa mempertahankan cinta itu sendiri. That's it. Ibarat kita lagi ikutan kompetisi game yang bernama "cinta", pemenangnya adalah orang yang lebih lama mempertahankan cinta itu. Gitu. Bahasa gampangnya; lama-lamaan cinta-cintaan. In case you couldn't get what I mean.

I, myself, hate the word "love". Bukan, bukan berarti aku nggak bisa falling in love with someone. Tapi aku cuma nggak suka aja sama kata itu. Dan ini bukan disebabkan oleh alesan paling pasaran di dunia ini--patah hati--ya. There is something that happened to me and caused me to hate the word "love". Sesuatu yang mengajarkan aku kalo :

1. Cinta itu buta
2. Cinta itu sementara
3. Cinta itu naif

Cinta itu buta. Ya jelas, kan? Contoh gampangnya, kamu bisa maki-maki orang tua kamu disaat kamu nyaris punya pacar sementara orang tua kamu ngelarang kamu pacaran. Itu contoh yang paling nyata di teen world, no?

Cinta itu sementara. Udah kujabarin dengan jelas di atas.

Cinta itu naif. Udah kujelasin juga di atas, kan? Well, sebenernya bukan pure 100% "cinta" nya yang naif, sih. Sebenernya cinta itu, bisa dibilang, kejam. Dan sangat "real". Cinta itu ajaib, memang. Hari ini kamu bisa diagung-agungkan sama seorang cowok, besoknya kamu bisa dibuang sama mereka. Kenapa? Simpel. Alasan yang paling pasaran buat kasus ini adalah :

"Aku udah nggak cinta lagi sama kamu."

Atau dalam bahasa gampangnya, "cintaku udah lari dan kabur ke cewek lain". Gitu.

Jadi...?

Jadi, yang membuat cinta itu terkesan naif adalah mereka sendiri, yang sedang hanyut dalam cinta. Aku masih belom terlalu ngerti gimana prosedur jalannya percintaan dalam dunia orang dewasa ya, karena aku sendiri belom merasa dewasa. Aku berpikiran simpel, kok. Aku cukup mengambil bahan observasi dari kasus-kasus yang ada di sekelilingku.

Kebanyakan remaja menganggap love is all about lovey-dovey things, while it isn't. Mereka nganggep kalo cinta itu cukup dengan bilang "I love you", gandengan tangan, grepe sana grepe sini, and all. Padahal cinta itu rumit. Cinta itu butuh komitmen, butuh tanggung jawab. Mereka belom punya itu semua, tapi mereka udah berani berkoar-koar "aku cinta sama dia" dan lain sebagainya.

Mereka juga mikir love is all about being happy. Salah sedikit, marah. Salah sedikit, ngambek. Berantem dikit, bilangnya "kamu udah nggak sayang lagi sama aku!" dan lain sebagainya. Ya itulah cinta. Cinta cuma salah satu part penting dalam kehidupan. Dalam dunia. Dunia berputar, cinta juga. Hari ini kamu seneng di dunia, besoknya kamu sedih. Cinta juga begitu. Hari ini kamu merasa cintaaaa banget, besok kamu merasa kadar cintamu berkurang drastis. Ya gitu deh. Intinya, semua yang ada di dunia ini..... adalah "roda". Roda yang terus berputar. Wujudnya memang nggak bulet sempurna kayak roda. Wujudnya memang nggak berporos semacam roda. Tapi ya itu tadi. Semua yang ada di dunia ini punya hukum yang sama seperti roda.

Berputar. Dan kita nggak akan pernah bisa menghentikan perputarannya. Kita cuma bisa jadi penonton. Diam dan menikmati. Kita cuma bisa jadi pemain. Mengikuti apa yang ada di naskah--yang disebut takdir--dan memerankannya dengan sempurna. Kita cuma bisa jadi figuran. Karena pemeran utama nya adalah dunia sendiri. Makanya, ada yang bilang kalo dunia itu "panggung sandiwara". Memang begitulah adanya.

Jadi, ya gitu deh. Kebanyakan orang seumuranku cuma mikir cinta itu isinya happy-happy. Gampangannya, mereka nganggep HAPPY itu pemeran utama dalam sebuah drama yang judulnya "CINTA". Kata-kata semacam "cobaan", "kesedihan", "pengkhianatan", dan lain sebagainya cuma jadi FIGURAN. Mereka salah. Justru yang jadi figuran dalam CINTA itu adalah HAPPY sendiri. Makanya mereka jadi begitu panik ketika mereka masuk dalam fase sulit, fase-fase yang memaksa mereka untuk mendewasakan diri.

Sebelumnya aku minta maaf ya atas pandanganku tentang cinta yang terlalu keras. Tapi memang begitu lah adanya. Life told me so. I've learned about these things from my life experience.

Conclusion? Orang-orang yang lagi dilamun cinta kebanyakan naif. Dan cinta jadi naif karena orang-orang tersebut. Enough said.



....oke. Aku ngerti, penjelasanku yang panjang lebar di atas sama sekali nggak memberi pencerahan maupun jawaban yang tepat dan memuaskan. I'm so sorry. But I've tried my best to tell you about my absurd, odd thoughts. Pokoknya intinya... gitulah. Ada hal-hal yang nggak bisa dijelaskan ke orang lain dengan sempurna. Dan buatku, inilah hal itu.

Alright. Sebelum aku makin off-topic, mari kita bahas inti dari entry kali ini. Kenapa aku sebut bitter love?

Simply just because I considered this kind of love as a bitter love. This kind = the awkward moment when you are falling in love with someone who doesn't even know that you are exist in this world.

So, who the heck is the guy that caused me a BIG problem like this?

It's him.




I know that this photo was taken 2 years ago. Whatever because he looked gorgeous here

His name is Kwon Jiyong. AKA GD, or G-Dragon to be exact (I hate this stage name anyway, I prefer to call him as "GD" than "G-Dragon"). Dia leader Bigbang. Yes, he is Korean. And YES, he is an idol. And of course he doesn't know that there is Winona Anindyasarathi Soedhowo in this world. Poor me, aite?

Kenapa aku suka sama dia?

Because he is amazing. He is still young. Dia good-looking. Tall enough for me. Dia fashionable. Dia smart. Dia creative. Tekun, ulet, bertanggung jawab, profesional, dan banyak hal lainnya yang selalu mencegah aku untuk berhenti belajar lebih banyak lagi dari dia.

Okay, he might be sooo rebel. Asumsiku, gaya hidupnya sangat bebas. Party everyday. Minum. Hangover pastinya. Make. Main cewek. One-night stand udah termasuk dalam kategori main cewek ya. Tapi hebatnya, dia tetep bisa jadi orang HEBAT disaat dia sangat rebel.

You know, sometimes people wouldn't even care about your sins when you are being so awesome. I told you already, right? Poin nomor satu : cinta itu buta.

Everything about him is amazing. Oke, kecuali masalah wajah, itu tolong dikecualikan ya. Menurutku dia bukan tipe orang yang bisa dikyaaaa-in dari segi fisik. Tapi ya, gitu deh. Dalam kasus kebanyakan, biasanya yang terjadi adalah kasus "talenta berbanding terbalik dengan penampilan". Bedanya, GD ini masih bisa jadi eyecandy becuase he is kinda good-looking (just like what I said).


Jujur, sebenernya aku bingung nyari alesan lagi untuk menjelaskan kenapa aku bisa suka sama dia. Bukan, bukan karena aku cuma suka sama dia dengan cara yang klise--karena dia cakep dsb--atau karena aku nggak punya alesan lain untuk suka sama dia. Justru karena terlalu banyak alesan yang aku punya, aku jadi bingung gimana cara ngejabarinnya. Sama kayak gimana aku bingung buat ngejelasin kenapa aku bisa nganggep "cinta itu naif", kayak di atas.

Awalnya memang cuma sekedar rasa kagum. Tapi tau sendiri kan, cinta bisa timbul darimana aja? (Ini salah satu kalimat paling iklan yang pernah aku tulis di blog ini. And I feel so..... gross to mention those words in this blog)

So, yeah......... I'm falling in love with this guy. Bitter love is bitter.


But no, I'm not that delusional. Okay, I might be DELUSIONAL but I'm not that creepy, okay? Mari berbicara tentang fakta. Dan logika. Aku di Indonesia, dia di South Korean. Aku cuma anak tunggal and another student in this world, dan dia idola. Nona Soedhowo x Kwon Jiyong will never happen unless it's fated already and I doubt that God would give that kind of fate to me.

Jadi...? Jadi, aku ga bakal berkhayal lebih lanjut kalo dikemudian hari aku bakal jadi Nona Kwon or else (sebenernya aku bahkan nggak bisa ngebayangin hal ini, sih). Aku cuma berharap, aku bisa dapet suami... atau seenggaknya "pacar" yang kayak dia.

Taller than me, itu pasti. Smart. Creative. Bertanggung jawab. Punya komitmen dan berpegang teguh pada prinsip. Ga klemak-klemek. Easy-going. Fun. Ulet, tekun, ga mudah putus asa, berani mencoba. Agak-sedikit-perfeksionis, boleh lah. Good-looking itu juga harus. I'm not asking for the handsome ones. But he has to be good-looking. Let's talk about reality, sekarang udah bukan jamannya "look doesn't matter", kan? Just admit it. Everyone wants a good-looking girlfriend/boyfriend.

Jadi, dengan bangga saya mendeklarasikan ideal guy saya adalah......... GD! With the less rebel-ness, please. Karena aku gampang kebawa arus. Jadi punya cowok dengan tingkat kerebelan sama kayak GD is a big no.

Mungkin beberapa dari kalian mikir, "ah cuma gitu doang masa iya sih nganggep udah falling in love?". Tapi menurutku, itu lah yang terjadi. Well, semacam itu lah. Karena kadang, ngeliat video nya... ngeliat fotonya.... ngedengerin lagu-lagunya....

He makes my heart flutter.

Hiks, I'm being these pity fangirls with their bitter love. Menyedihkan, memang. Tapi aku nggak menyesal. GD, walaupun dia sangat nakal, udah ngajarin banyak hal ke aku. Termasuk poin bahwa hidup itu bukan sekedar "lalala land". Hidup itu keras. Tapi untuk menghadapi kerasnya hidup, kita hanya bisa bertahan sekuat tenaga. Kompetisi atau persaingan, itu semua cuma hiasan belaka dalam hal yang namanya "kehidupan". Hiasan yang nggak lain adalah salah satu komponen utama. Dan mau nggak mau, kita harus menghadapi hiasan hidup yang satu ini.

Kadang, kalo aku sedih, dengan mengingat perjuangan GD dan role modelsku yang lainnya (Kahi, Park Bom, Tiffany), aku jadi semangat. Kalo putus asa, cuma dengan mengingat mereka pernah melalui fase yang sama dengan apa yang lagi aku alamin, aku jadi punya kekuatan lagi buat menghadapi semua masalah yang ada. Berkat mereka, aku bisa mengatakan hal ini sama diriku sendiri :

"Kamu ada di tahap yang benar, Non. Kamu cuma harus berusaha melewati fase ini, dan tadaaah. Saat kamu sadar, kamu akan ada di tahap yang sama dengan mereka. Sukses. Berhasil."

Ini namanya agak off-topic. Jadi lebih baik obrolan soal GD, Kahi, Park Bom, dan Tiffany being my role models sebaiknya disimpan untuk next entry, gimana? ;)


Jadi, intinya, I'm falling in love with GD and want to have a hubby/bf like him. Ngomong-ngomong soal hubby, I gotta feeling that my hubby will be older than me deh. Beda umurku sama GD bahkan sekitar 7 tahunan. Whatever sih, yang penting masih bisa klik dan nyambung ke aku. Karena aku sendiri nggak bisa ngobrol dengan leluasa and being myself dengan anak-anak cowok seumuranku (just like what my parents said; jalan pikirku udah kejauhan).

Yang penting jangan sama anak-anak semacam member-member SHINee. Sama sekali nggak bikin aku nafsu (sorry, Shawols). They are talented but they aren't my type.


So, yeah.... I prefer Kwon Jiyong over Justin Bieber, is that weird?

Whatever, let's enjoy this bitter love! :D


Love,
LadyLo

Label: , , , , , , , , , ,


parents, family, and the sims
Rabu, 05 Januari 2011 | 0 comments
Orang tua adalah harga yang tak dapat ditawar, harta yang tak tertukar.


Kenapa tiba-tiba aku ngomong ginian? Well, simply just because I saw many tweets in my timeline. Isi tweetsnya? Beberapa orang temenku yang mengutuk orang tua mereka sendiri. Oke, mengutuk sounds a lil bit scary--walaupun kenyataannya emang ngeri. Lebih tepatnya, mereka memaki orang tua mereka sendiri.

Bukan memaki dengan kata-kata, "Orang tua gue ngeselin banget! Kerjaannya ngatur mulu!" ya. Tapi memaki dalam contoh... "Bokap nyokap gue jancok banget! Bangsat!" dan lain sebagainya yang bisa kalian bayangin sendiri.

Memang, bisa dibilang aku nggak ngerti permasalahan apa yang mereka hadapin; apa yang orang tua mereka lakuin ke mereka, apa yang mereka rasain, apa yang terjadi, dan lain sebagainya. Aku bukannya ikut campur--you could call me like that kalo sampe aku ngemention si pembuat-harsh-tweet-ini dan nasihatin dia ini-itu sementara aku sendiri nggak tau masalahnya apa. Mari kita sebut aku lagi.... ngasih komentar. Dari kacamata penonton.

Sebenernya sayang banget, mereka-mereka (yang ngebuat harsh tweets ini) sampe ngucapin hal sedemikian rupa. Walaupun kasar, mungkin kata-kata semacam "orang tuaku rese banget!" atau "asli kesel banget diceramahin ini-itu mulu!" mungkin lebih ditolerir daripada kata-kata semengerikan itu. Karena... gimana pun juga... mereka itu orang tua kita.

Call me naive. Dan mungkin kata-kata ini udah klise. Banget. Tapi itulah kenyataan. Ada hal-hal yang nggak bisa kita pertanyakan di dunia ini. Ada hal-hal yang memang nggak logis di dunia ini. Ada hal-hal yang nggak bisa kita tentang di dunia ini. Memang begitulah kodratnya. Seorang anak, sampai kapan pun juga, nggak akan pernah bisa memiliki derajat di atas orang tuanya. Which means, sampai kiamat pun, kita nggak akan pernah bisa memiliki alasan yang cukup untuk membuat kita diizinkan memaki orang tua kita.

Sekilas memang rasanya nggak adil. Disaat orang tua kita, mungkin, bisa memaki kita. Disaat orang tua kita, mungkin, sangat menyakiti hati kita. Tapi itulah dunia, kan? Apa yang bisa kita lakukan sebagai seorang anak hanya menerima, nggak lebih. Itulah hak seorang anak. Menerima.

Protes, oke lah. Kritik, boleh lah. Tapi memaki? Apalagi sampe mengeluarkan kata-kata semacam "jancok", "anjing", "bangsat", dan lain sebagainya ke orang tua kita sendiri?

Jangan lupa, kita bukannya sedang berbicara dengan teman kita, loh.

Orang-orang banyak lupa. Katanya, kita nggak boleh terlalu sering membandingkan diri kita dengan orang lain. Tapi bukannya berarti membandingkan diri dengan orang lain itu selalu membawa kejelekan, kan?

In this case... mari bandingkan diri sendiri dengan orang-orang yang nggak bisa tinggal bareng kedua orang tuanya. Atau nggak bisa tinggal dengan keluarga lengkapnya. Those people--who cursed on their parents--live with their parents. Their family. Padahal ada banyak orang-orang di luar sana, yang berharap mati-matian bisa tinggal dengan orang tuanya. Lengkap. Ada orang-orang yang berharap keluarga mereka nggak tercerai-berai. Ada orang-orang yang berharap bisa memutar ulang waktu cuma biar bisa kumpul sama kedua orang tuanya.


Like me.


Aku lagi berada dalam kondisi semacam ini; kondisi dimana kamu bener-bener ngerasa shock. Ibarat abis ngelaluin satu perjalanan, kamu lagi jetlag. Bingung dengan keadaan yang sedang kamu alami. Saking drastisnya perubahan yang kamu miliki, kamu jadi blank. Dan klimaksnya adalah ketika kamu bertanya:

Apakah benar, kalo aku pernah hidup dimasa lalu? Kok, rasanya aku cuma hidup dimasa ini? Kok, rasanya aku baru ngerasa hidup sekarang? Dimana kenangan-kenangan yang dulu aku alamin? Apakah benar semua kenangan itu pernah aku alamin?

That's it.

To be honest, I miss my dad so much. Aku kangen saat-saat aku, Mama, dan Papa ngumpul bareng. Saat-saat kami kumpul di depan tv dan makan malam bareng. I didn't mind about the menu. Mau itu pizza yang kami take-away, atau ikan bandeng presto yang Mama beli di warung, I didn't even care about it. Yang aku peduliin adalah detik-detik dimana kami ngumpul bareng. Saat-saat dimana kami ngobrol di depan tv, ngebahas semua hal yang ada. Mulai dari yang penting, sampe yang nggak worth it buat dibicarain sekalipun. I miss those moments.

Aku bahkan kangen dimarahin papaku. Saat-saat dimana aku dapet nilai-nilai jelek dan Papa marahin aku. Dan pasti Mama ngebelain aku. Saat-saat dimana aku dituntut untuk dapet banyak nilai 9. I didn't mind about that. Karena dulu--dan sekarang pun--aku hidup untuk orang tuaku. Kupikir, kalo nilaiku bagus, orang tuaku bakal bahagia. Bakal bangga sama aku. Makanya aku berusaha keras biar bisa mencapai itu semua.

Soalnya, salah satu impianku itu bisa bikin orang tuaku bahagia dan bangga sama aku. Sehingga mereka bisa ngomong ke semua orang, "Ini loh Nona, anakku."

Mungkin kamu pikir ini impian klise banget lah, bullshit lah, sok anak baiklah, or whatever it is. Tapi itulah kenyataan. I hate being naive. Atau klise. Tapi terkadang memang ada saatnya dimana kita jadi naif dan klise. Inilah saat yang tepat buatku.

Intinya, aku kangen semua saat-saat yang pernah kulaluin itu. Setiap detail terkecilnya. Setiap detiknya. Aku kangen semua itu. Dan jujur, aku ngiri sama mereka semua yang bisa ngedapetin apa yang aku paling pengenin saat ini. Tapi mereka malah nyia-nyiain semua itu. Bahkan, mereka ngebuang jauh-jauh kesempatan itu.

Dalam artian, mencaci maki orang tua mereka.

Orang tua yang ada di sana untuk mereka.


Jadi... buat kalian semua yang ngebaca ini... terutama bagi yang kesel banget sama orang tua masing-masing. Bersyukurlah. Seenggaknya kalian masih bisa ngumpul, lengkap, komplit bareng kedua orang tua kalian. Ada orang-orang di luar sana yang pengen ngumpul sama orang tuanya tapi nggak bisa atau susah. Ada orang-orang yang ngiri sama kalian.

Inget, hidup ini nggak semudah game. Nggak segampang The Sims. Oke, sebenernya The Sims itu sulit dan rumit sih. Sims-ku pernah selingkuh sama suami orang dan dia udah punya anak, mendadak dia dan keluarganya jatuh miskin and all. Tapi, kalo main The Sims, kita masih bisa melarikan diri dari kenyataan dan masalah yang ada. Kita bisa tinggal mainin family yang lain, atau ngedelete family yang bermasalah itu.

Tapi kehidupan nyata berbeda. Kita nggak bisa lari. Kita cuma bisa menghadapi dan menyelesaikan masalah yang ada. Dan mencaci-maki itu termasuk upaya melarikan diri.

Hidup jauh lebih sulit dan rumit daripada The Sims.

Dan aku bukannya ngomong tanpa pengalaman.

Jadi, mari kita bersama-sama menghadapi dunia ini... menjalani hidup, menghadapi, dan menyelesaikan masalah yang ada. Karena hidup dan masalah itu selalu berdampingan. Yang menentukan adalah diri kita sendiri; bisa, atau nggak. Kuat, atau lemah. That's it :)

Mulai sekarang, ayo kita berjuang bareng! And happy new year 2011 too! Fighting! :D


Love,
LadyLo

Label: , , , , , , , , , ,


oh-so-random
Minggu, 02 Mei 2010 | 0 comments
Dunia. Sudah. Berubah.

Nope. It doesn't like I'm-so-odd from now on. Oke, oke, aku emang aneh dan abstrak. Tapi bener loh, di mataku, dunia udah berubah. Lebih tepatnya, dunia berputar terlalu cepat buatku.

Yup, terlalu cepat. Dunia ini berputar sangat amat sangat terlalu cepat buatku. Perubahan-perubahan yang terjadi, semuanya terlalu drastis dan terjadi dalam kurun waktu yang terlalu singkat. Aku nyaris nggak bisa nerima semua perubahan yang udah terjadi ini.

Perubahan yang aku maksud itu, ya... perubahan. Bagaimana tingkah laku dan sikap setiap individu ke aku. Gimana kondisiku saat ini. Gimana suasana lingkungan sekitarku. Kejadian-kejadian yang aku alamin belakangan ini. Rasanya semua itu terjadi terlalu cepat buatku. Orang-orang yang dulu akrab sama aku, sekarang semakin jauh. Bahkan beberapa diantara mereka berubah jadi 'musuh' buatku. Justru, orang yang dulu nggak pernah kusangka bakal deket sama aku, sekarang malah jadi akrab banget sama aku.

Tapi, itu semua masih belom apa-apa. Yang paling parah adalah; aku bahkan nggak bisa ngikutin perubahan yang terjadi sama diriku sendiri.

Belakangan ini aku berubah total. Aku jadi lebih sensitif dan sangat labil. Labil dalam artian, detik ini aku bisa ketawa-ketiwi, tapi detik berikutnya aku bisa diem aja, bengong, kayak orang yang nggak punya tujuan hidup. Dan bisa dibilang, semua itu terjadi karena aku depresi berat. Yup, depresi. Bukannya aku mau lebay atau gimana ya. Tapi emang itu yang terjadi sama aku. Nggak lucu kan kalo aku depresi tapi maksa mau bilang "aku cuma stres", ya nggak?

Itu satu. Masih banyak hal-hal lainnya yang menyebabkan aku berpikir kalo dunia berputar terlalu cepat. Ibaratnya nih ya, aku tuh ngerasa aku masih berada di alam mimpi, padahal sebenernya aku tau kalo aku udah berpijak di dunia nyata.

Aku harap, aku bisa ngikutin semua perputaran yang terjadi sekarang ini. Tapi yaaa itu tadi, I can't go with the flow and I don't do the trend(s). Maybe that's why I feel something awkward like this...

Yup, I DID say "trend".

Nyadar nggak sih, kalo belakangan ini banyak orang yang berubah jadi terlalu "naif"? Mereka nggak bisa nerima orang yang nggak melakukan hal yang sama dengan mereka. Kita harus ngikutin segala kebiasaan yang udah menjadi hal umum bagi mereka. Kebiasaan yang lambat-laun berubah menjadi suatu tren. Siapa yang nggak ngikutin tren tersebut, bakal dilibas. That's it.

Contoh kasusnya gini. Some people do hate me because they think I've fallen in love with someone that soooo popular in my school. Padahal aku nggak ada rasa sama sekali sama orang itu. Tapi mereka memaksakan kehendak mereka. Kehendak yang mengharuskan aku mengikuti tren yang ada; dalam hal ini yaa menyukai orang tersebut. Aku udah nyangkal semua omongan mereka, tapi mereka teteeep ga mau tau. Buat mereka, aku tuh munafik. Bohong. Di mulut bilangnya nggak, padahal sebenernya iya. Uh-oh, that cursed trend!

Tanpa sadar, mereka memaksakan kehendak mereka. Di otak mereka udah tertanam tren "menyukai-si-Mr X-ini", dan itu berarti setiap cewek yang deket sama Mr. X ini pasti suka sama dia. Padahal, bukan begitu kenyataannya. Tapi ya itu tadi, everyone must follow the trend. Ya nggak ikutan, bakal dilibas dalam berbagai cara. Ada yang digosipin munafik kayak aku, ada juga (mungkin) yang dilabrak terang-terangan and so on.

Hal-hal klise yang selalu terjadi dalam masa-masa remaja.

Back to the topic, mungkin aku ngerasa perputaran dunia terlalu cepat karena aku nggak mengikuti tren yang ada. Kalo aku ngikutin semua tren yang terjadi, mungkin aku bakal ngerasa dunia tetap sama. Dunia tetap berputar seperti biasa. Walaupun kenyataannya, kalau dilihat secara kasat mata, dunia memang berubah terlalu cepat akhir-akhir ini. Just-admit-it.

Beside, I can't go with the flow. Mungkin aku bertahan terlalu keras untuk melawan arus. Mungkin aku nggak membiarkan diriku terbawa arus, walau cuma sedikit aja. Mungkin aku emang salah dalam hal ini. Karena orang-orang kan bilangnya, just go with the flow, tapi jangan sampe kebawa arus.

Lah, emangnya gampang ngelakuin hal itu?

Okay, cukup deh ngomongin hal seriusnya. Bisa-bisa aku beneran cepet tua kalo mikirin hal serius kayak gini mulu lmao.

Aku lagi pengen handphone baru! Huhu :( Udah dapet dua calon. LG Cooky yang baru-baru ini diiklanin sama SNSD, atau Samsung Monte yang lucu itu... kalo Cooky, terakhir aku ngecek sih harganya di Korea udah Rp 3.600.000,00. Tapi aku belom tau udah ada di Indonesia atau belom. Kalo Samsung Monte, aku ada liat harganya Rp 2.200.000,00. Duh, pengen! Butuh handphone nih, secara handphone lamaku udah rusak... kapan-kapan kusubmit fotonya deh :)

Pengen, pengen, pengeeen!!


Love,
LadyLo


Label: , , , , , ,


Ssul-jjang!
Selasa, 30 Maret 2010 | 0 comments
See? I'm coming back :D I have a lot of spare times so, yeah... it's easy for me to give some updates on my bloggie~ this time, I'll spazz about The Aegyo Queen of f(x), Choi Jin Ri aka Choi Sulli!! (for those who doesn't know about this yet, even though I'm a SONE yet a Playgirlz, I love f(x) too ^^)

No more ulzzang in my dictionary right now. It's the time for Ssul-jjang! Kekekeke. Silly, eh? :p But yeah, we can't deny that Sulli is... UBER CUTE!

Image and video hosting by TinyPic

Yeah, I'm so random, but I think Sulli looks uber cute in this photo lol. An old one, but I love her soooo much in this pic! I love the way she looked on her hand rofl.

Image and video hosting by TinyPic

OMGaaaah... don't give us a smile like that, Ssul! You make me want to put you in a box and keep you safe right there lol. And anyway, I want those Micky's ears TT______TT


FYI, SNSD, After School, and f(x) are in my top 3 kekeke, so I'm going to spazz about my most fave members in those girlbands ;)

Image and video hosting by TinyPic

First of all, it's SNSD's Tiffany! She's my most fave member from every girlbands right now kekekeke. She used to be a bubbly and cheerful Fany, but these times seems like she changed her image into dark and mysterious Fany, eh? Whatever. I just love her devil smirk in the story mv of SNSD's Run Devil Run :)

Image and video hosting by TinyPic

Yeah, there's SNSD's Sunny in the second rank! (Ps : I'm a hardcore fan of SunFany, lol) She used to be an aegyo Sunny... but, yeah, right now she's a 'devil' Sunny! She looks like Cat Woman in this pic, but I love her rap part in RDR sooooo much! x)

Image and video hosting by TinyPic

After Tiffany and Sunny, there's After School's Uee in the third place! Many people hate her, and yeah, maybe she can't smile. But that's why I love her, lol. The way she stares on people with her icy glaze, it's sooooo cool! In SNSD, there's Sica as the Ice Princess. I think there's Uee as the Ice Princess in After School :) It's kinda rare to see her amazing sweet smile, but once she show it, omo.... I'm going to faint, lol :p

Image and video hosting by TinyPic

Yup! She's the newcomer in After School; Baby Lizzy, the new maknae! Too early for being her fan, huh? But her smile already stole my heart, kekeke. I love her cheekbones that appear whenever she smile :) And I love her voice, though. Seems like she's a kind and a nice girl. I hope she's gonna has more lines in After School's songs :D

Well, I think that's enough for this time, right? My lame English, I know >_> still need more practises :D Anyway, don't forget to join these amazing forums! (My most fave forums~)

Soshified - SNSD's International Fan Forum

Diva Detention - After School's International Fan Forum

Aff(x)tion - f(x)'s International Fan Forum

Soshindo - SNSD's Indonesian Fan Forum



I'm sure you're gonna love them~ ^^ just click on the name and you'll be directed to the site ;)

Love,
LadyLo







Label: , , , , , , , ,


waktunya rekoleksi soal blogku!
Rabu, 16 Desember 2009 | 0 comments
Oh I miss you so much, octopuses! Hmm... what should I say now? Ah, yeah. Even though I posted a new post here, that doesn't mean if my exam already over. Even it hasn't started yet! The big day is tomorrow, so I must study hard tonight. Ah, I'm so nervous! Wish me luck yaa octopuses :')

Okay, kali ini aku mau ngomongin soal... konsep blogku.

FYI, aku sering bingung soal konsep blogku. Banyak banget yang kupikirin soal konsep blogku, dan yang paling sering kupikirin adalah: gimana caraku menjabarkan apa yang pengen aku katakan disini. Misalnya...

Apa aku harus blogging dengan bahasa Inggris kayak Sabila Anata?
Apa aku harus blogging dengan bahasa sehari-hari kayak Raditya Dika?
Apa aku harus blogging dengan bahasa resmi kayak Nona Dita?
Atau apa?

Jujur aja, aku sendiri nyadar kalau blogku masih belum terkonsep rapi. Makanya, octopuses bisa ngeliat banyak postinganku yang nggak 'satu konsep'. Misalnya, di postingan A aku berbahasa Inggris. Di postingan B aku berbahasa nyeleneh. Di postingan C aku berbahasa resmi. Di postingan D aku berbahasa nyampur (resmi, tapi juga ada nyelenehnya. Atau sebaliknya).

Aku bingung!

FYI, aku udah blogging dari kelas 5 SD (which means 3-4 tahun yang lalu) tapi baru-baru ini aja bikin blog lewat Blogger/Blogspot. Dan selama 4 tahunan blogging, ada banyak transisi yang aku alamin dalam dunia blogging.

Dulu aku sempet blogging dengan bahasa yang... yah, alay deh. Abis itu, karena aku addicted sama Bang Dika alias Raditya Dika, bahasa bloggingku sempet ketularan bahasanya. Bahkan bisa dibilang, caraku blogging mirip sama caranya deh! But lucky me, ada seorang sahabat yang ngingetin aku kalau bahasaku terlalu mirip sama bahasanya Raditya Dika. Walaupun aku udah enjoy banget dengan bahasa ala Bang Dika--dan bahkan banyak blogger yang muji kalau "blogku lucu", "blogku asik buat dibaca", "blogku bener-bener fun", dsb--aku tetep ngerasa risih setiap keinget kalau bahasaku sama kayak bahasa blogging orang lain.

I mean, aku ngerasa risih karena aku cukup 'mengopi' cara orang lagi blogging.

Sejak itu, aku berhenti make "bahasa Kambing"-nya Bang Dika *LOL* dan sampai sekarang aku masih bingung soal 'identitas blog'ku.

Di blog WordPressku, aku udah mengonsep bahasa blogku dengan bahasa resmi. And guess what? Pengunjung blog terbanyakku itu orang-orang dewasa. Jarang banget yang umurnya masih belasan tahun. Dan karena merasa nggak nyaman sama bahasaku yang terlalu resmi, akhirnya aku mutusin buat pake bahasa sehari-hari.

Dan sekarang? Aku masih juga nyari identitas blogku! Aaaah... rasanya blogging aja kok rumit banget ya? :D

Tapi belakangan ini aku sadar, kalau aku nggak perlu terburu-buru nyari identitas blogku. Aku berusaha buat nikmatin apa yang ada di jiwa bloggingku. Menurutku, selama kita jadi 'original' alias nggak ngopi gaya siapapun, blog kita bakal jadi blog yang baik kok. Lagian, bukannya cara kita blogging itu menjabarkan personality kita ya? Jadi, cara bloggingku yang gado-gado itu bener-bener mencerminkan sifatku yang abstrak itu, kan? *ngeles aja deh hehe*

Oh iya, waktu baca salah satu manga one-shot (lupa apa judulnya), aku jadi dapet kata-kata bagus deh:

"Kamu bukannya tidak menemukan identitas dirimu. Kamu hanya belum menemukannya. Jangan terburu-buru, karena suatu saat nanti kamu pasti akan menemukannya. Ini hanya masalah waktu."


Cieeeeeeh mantep dah haha :D



Oke deh, kayaknya cukup sampe situ dulu deh perenunganku soal dunia blogging. Dan hal yang lebih penting dari identitas bloggingku adalaaah:

as I said, besok aku udah ujiaaaaan! Wish me luck yah, octopuses! >< Nervous abis nih :)


Well then, see you soon ;)




Love,
LadyLo




Label: , , , , , , , ,


Older Post