| |
doubts
Sometimes, there are times when you have some doubts towards yourself. A kind of thought that makes you feel like, you're not doing the right thing. It's normal to feel such a thing. But no one can deny that it's somewhat painful to do over yourself. However, the worst feeling is the one when you have doubts over your bestfriends.
Or maybe, people that you thought they WERE your bestfriends.
Hubungan-hubungan yang, katanya, long-lasting semacam persahabatan seharusnya nggak perlu semacam deklarasi tertentu. True bestfriends don't say "we are bestfriends now" to each other. It's just we feel like doing it. Tanpa sadar, kita selalu menghabiskan waktu dengan orang-orang itu. Cerita macem-macem ke mereka. Merasa definisi sesungguhnya dari "quality time" adalah ketika kita melewatkan waktu bareng mereka. Time flows, dan waktu kita sadar, dengan sendirinya kita udah menganggap mereka sebagai sahabat kita. Nggak perlu peresmian. Nggak perlu segala ikrar.
Tapi, yang paling menyakitkan adalah saat dimana TERNYATA mereka nggak merasakan hal yang sama ke kita. Oke, kita nganggep mereka sahabat. Gimana kalo ternyata ini cuma one-sided friendship? Disaat kita mengagung-agungkan mereka sebagai so-called-BFFs, mereka justru sama sekali NGGAK masukkin kita ke "daftar sahabat" nya. Yang lebih parah lagi, gimana kalo mereka menganggap kita sebagai sahabatnya, tapi mereka sama sekali nggak bersikap seperti how a bestfriend should act?
Mereka ngelakuin hal dari A sampe Z dengan mengatasnamakan kebaikan mereka. Prinsip mereka, "aku ngelakuin semua ini demi kebaikanmu, biar kamu seneng". Padahal, sebenernya semua itu cuma untuk kepuasan mereka semata. Dan bodohnya kita, as a loyal bestfriend, mau-maunya ngikutin omongan mereka?
This is bad. I have doubts over my so-called bestfriends. They DO backstab me. They talk behind me, and I've seen the proofs before. It hurts, hurts so bad until I can't stop thinking about it for the whole days. I spent the nights for thinking about my faults, but still - I couldn't find the EXACT thing which made them doing such a cruel thing to me. Why they did this to me? How long it's been since the very first time they started hating me? I don't even know whether "hate" is the perfect word or not, but one thing that I know; if they REALLY love me, they wouldn't do anything like this, right?
This isn't the first time. But I thought all of us already started a brand new page of our friendship. No matter what they do, I can't do anything but only forgiving them. Why they couldn't do the same thing to me? I'm sorry for hurting you. For making you uncomfortable with my behaviour. But if you have any unspoken words, why don't you just tell me directly instead of backstabbing me?
Now it feels like Bon Iver's Skinny Love:
Who will love you? Who will fight? Who will fall far behind?
Bohong kalo mereka bilang mereka nggak mau nyakitin perasaanku dengan berkata jujur. Kalo mereka bener-bener berniat baik, mereka pasti bakal ngomong langsung ke aku. Bukannya nunggu aku sadar sendiri. Bukannya ngomongin aku dari belakang.
Ini semua salahku yang udah ngelanggar prinsipku sendiri; untuk nggak sepenuhnya percaya sama orang lain. Untuk nggak pernah bersandar sama orang lain. The world is giving its judgement towards me. So I guess I have to come back to my oldself; the one who will never, ever believe in another person.
Maaf, maaf banget udah nyakitin kalian semua - meskipun sampe saat ini aku nggak tau apa yang bikin kalian bertindak sejauh ini. Bahkan walaupun kalian mau bilang "itu udah bulan Januari lalu kok, sekarang udah nggak lagi"..........
YOU GUYS STILL HURT ME.
I'm sorry.
Love, LadyLo.
Label: About me, Daily story, Experience, Friends, Life, Problem, Renungan, Sad
parents, family, and the sims
Orang tua adalah harga yang tak dapat ditawar, harta yang tak tertukar.
Kenapa tiba-tiba aku ngomong ginian? Well, simply just because I saw many tweets in my timeline. Isi tweetsnya? Beberapa orang temenku yang mengutuk orang tua mereka sendiri. Oke, mengutuk sounds a lil bit scary--walaupun kenyataannya emang ngeri. Lebih tepatnya, mereka memaki orang tua mereka sendiri.
Bukan memaki dengan kata-kata, "Orang tua gue ngeselin banget! Kerjaannya ngatur mulu!" ya. Tapi memaki dalam contoh... "Bokap nyokap gue jancok banget! Bangsat!" dan lain sebagainya yang bisa kalian bayangin sendiri.
Memang, bisa dibilang aku nggak ngerti permasalahan apa yang mereka hadapin; apa yang orang tua mereka lakuin ke mereka, apa yang mereka rasain, apa yang terjadi, dan lain sebagainya. Aku bukannya ikut campur--you could call me like that kalo sampe aku ngemention si pembuat-harsh-tweet-ini dan nasihatin dia ini-itu sementara aku sendiri nggak tau masalahnya apa. Mari kita sebut aku lagi.... ngasih komentar. Dari kacamata penonton.
Sebenernya sayang banget, mereka-mereka (yang ngebuat harsh tweets ini) sampe ngucapin hal sedemikian rupa. Walaupun kasar, mungkin kata-kata semacam "orang tuaku rese banget!" atau "asli kesel banget diceramahin ini-itu mulu!" mungkin lebih ditolerir daripada kata-kata semengerikan itu. Karena... gimana pun juga... mereka itu orang tua kita.
Call me naive. Dan mungkin kata-kata ini udah klise. Banget. Tapi itulah kenyataan. Ada hal-hal yang nggak bisa kita pertanyakan di dunia ini. Ada hal-hal yang memang nggak logis di dunia ini. Ada hal-hal yang nggak bisa kita tentang di dunia ini. Memang begitulah kodratnya. Seorang anak, sampai kapan pun juga, nggak akan pernah bisa memiliki derajat di atas orang tuanya. Which means, sampai kiamat pun, kita nggak akan pernah bisa memiliki alasan yang cukup untuk membuat kita diizinkan memaki orang tua kita.
Sekilas memang rasanya nggak adil. Disaat orang tua kita, mungkin, bisa memaki kita. Disaat orang tua kita, mungkin, sangat menyakiti hati kita. Tapi itulah dunia, kan? Apa yang bisa kita lakukan sebagai seorang anak hanya menerima, nggak lebih. Itulah hak seorang anak. Menerima.
Protes, oke lah. Kritik, boleh lah. Tapi memaki? Apalagi sampe mengeluarkan kata-kata semacam "jancok", "anjing", "bangsat", dan lain sebagainya ke orang tua kita sendiri?
Jangan lupa, kita bukannya sedang berbicara dengan teman kita, loh.
Orang-orang banyak lupa. Katanya, kita nggak boleh terlalu sering membandingkan diri kita dengan orang lain. Tapi bukannya berarti membandingkan diri dengan orang lain itu selalu membawa kejelekan, kan?
In this case... mari bandingkan diri sendiri dengan orang-orang yang nggak bisa tinggal bareng kedua orang tuanya. Atau nggak bisa tinggal dengan keluarga lengkapnya. Those people--who cursed on their parents--live with their parents. Their family. Padahal ada banyak orang-orang di luar sana, yang berharap mati-matian bisa tinggal dengan orang tuanya. Lengkap. Ada orang-orang yang berharap keluarga mereka nggak tercerai-berai. Ada orang-orang yang berharap bisa memutar ulang waktu cuma biar bisa kumpul sama kedua orang tuanya.
Like me.
Aku lagi berada dalam kondisi semacam ini; kondisi dimana kamu bener-bener ngerasa shock. Ibarat abis ngelaluin satu perjalanan, kamu lagi jetlag. Bingung dengan keadaan yang sedang kamu alami. Saking drastisnya perubahan yang kamu miliki, kamu jadi blank. Dan klimaksnya adalah ketika kamu bertanya:
Apakah benar, kalo aku pernah hidup dimasa lalu? Kok, rasanya aku cuma hidup dimasa ini? Kok, rasanya aku baru ngerasa hidup sekarang? Dimana kenangan-kenangan yang dulu aku alamin? Apakah benar semua kenangan itu pernah aku alamin?
That's it.
To be honest, I miss my dad so much. Aku kangen saat-saat aku, Mama, dan Papa ngumpul bareng. Saat-saat kami kumpul di depan tv dan makan malam bareng. I didn't mind about the menu. Mau itu pizza yang kami take-away, atau ikan bandeng presto yang Mama beli di warung, I didn't even care about it. Yang aku peduliin adalah detik-detik dimana kami ngumpul bareng. Saat-saat dimana kami ngobrol di depan tv, ngebahas semua hal yang ada. Mulai dari yang penting, sampe yang nggak worth it buat dibicarain sekalipun. I miss those moments.
Aku bahkan kangen dimarahin papaku. Saat-saat dimana aku dapet nilai-nilai jelek dan Papa marahin aku. Dan pasti Mama ngebelain aku. Saat-saat dimana aku dituntut untuk dapet banyak nilai 9. I didn't mind about that. Karena dulu--dan sekarang pun--aku hidup untuk orang tuaku. Kupikir, kalo nilaiku bagus, orang tuaku bakal bahagia. Bakal bangga sama aku. Makanya aku berusaha keras biar bisa mencapai itu semua.
Soalnya, salah satu impianku itu bisa bikin orang tuaku bahagia dan bangga sama aku. Sehingga mereka bisa ngomong ke semua orang, "Ini loh Nona, anakku."
Mungkin kamu pikir ini impian klise banget lah, bullshit lah, sok anak baiklah, or whatever it is. Tapi itulah kenyataan. I hate being naive. Atau klise. Tapi terkadang memang ada saatnya dimana kita jadi naif dan klise. Inilah saat yang tepat buatku.
Intinya, aku kangen semua saat-saat yang pernah kulaluin itu. Setiap detail terkecilnya. Setiap detiknya. Aku kangen semua itu. Dan jujur, aku ngiri sama mereka semua yang bisa ngedapetin apa yang aku paling pengenin saat ini. Tapi mereka malah nyia-nyiain semua itu. Bahkan, mereka ngebuang jauh-jauh kesempatan itu.
Dalam artian, mencaci maki orang tua mereka.
Orang tua yang ada di sana untuk mereka.
Jadi... buat kalian semua yang ngebaca ini... terutama bagi yang kesel banget sama orang tua masing-masing. Bersyukurlah. Seenggaknya kalian masih bisa ngumpul, lengkap, komplit bareng kedua orang tua kalian. Ada orang-orang di luar sana yang pengen ngumpul sama orang tuanya tapi nggak bisa atau susah. Ada orang-orang yang ngiri sama kalian.
Inget, hidup ini nggak semudah game. Nggak segampang The Sims. Oke, sebenernya The Sims itu sulit dan rumit sih. Sims-ku pernah selingkuh sama suami orang dan dia udah punya anak, mendadak dia dan keluarganya jatuh miskin and all. Tapi, kalo main The Sims, kita masih bisa melarikan diri dari kenyataan dan masalah yang ada. Kita bisa tinggal mainin family yang lain, atau ngedelete family yang bermasalah itu.
Tapi kehidupan nyata berbeda. Kita nggak bisa lari. Kita cuma bisa menghadapi dan menyelesaikan masalah yang ada. Dan mencaci-maki itu termasuk upaya melarikan diri.
Hidup jauh lebih sulit dan rumit daripada The Sims.
Dan aku bukannya ngomong tanpa pengalaman.
Jadi, mari kita bersama-sama menghadapi dunia ini... menjalani hidup, menghadapi, dan menyelesaikan masalah yang ada. Karena hidup dan masalah itu selalu berdampingan. Yang menentukan adalah diri kita sendiri; bisa, atau nggak. Kuat, atau lemah. That's it :)
Mulai sekarang, ayo kita berjuang bareng! And happy new year 2011 too! Fighting! :D
Love, LadyLo
Label: About me, Daily story, Experience, Family, Just babbling, Life, Love, Nostalgia, Opinion, Problem, Renungan
when the school makes me frustated
Do I hate school?
Nah-nah, I don't. Yah, bukan berarti aku tipikal nerd yang hobi banget dateng ke sekolah sih. Nggak. Aku masih normal kok. I hate homeworks, exams, and scary teachers. Aku juga punya banyak antis di sekolah, dan hal itu jelas bikin aku cukup males buat masuk sekolah. Tapi aku punya temen dan hal-hal asyik yang kudu diselesaiin di sekolah. Makanya aku masih ada sedikit "rasa" sama sekolah. LOL.
Terus kenapa sekolah berhasil bikin aku kelimpungan dan galau selama sebulan terakhir ini? Well, I'm worried. Karena aku udah kelas 9--which means I'm officially a senior in my school now--dan bakal menempuh ujian dalam waktu kurang dari 8 bulan, aku khawatir. Bener-bener khawatir.
Karena aku tipe orang yang mencintai nilai tinggi, atau hasil bagus dengan nilai membanggakan, atau hasil menyenangkan dengan ranking bagus, atau hasil bagus, nilai bagus, ranking bagus, whatever you called it, aku khawatir.
Sangat khawatir.
Jujur aja aku jadi pesimis tingkat tinggi setelah tahu NEM terendah di Padmanaba--SMAN 3 Yogyakarta--yang nggak lain nggak bukan adalah sekolah incaranku in case aku masih sekolah di Yogyakarta adalah, ugh, 37 koma sekian.....
Aku khawatir.
Apakah aku bisa ngedapetin NEM minimal 37,50 walaupun aku sekolah di Samarinda? Apakah aku bisa tetep mempertahankan NEM-ku dulu, walaupun aku udah nggak di Yogyakarta? Apakah aku bisa mendapatkan pendidikan yang terbaik di sini? Apakah aku bisa menyamai nilai temen-temen di Yogya? Apakah aku BISA?
Dan berbagai pertanyaan galau khas anak labil lainnya.
Oke, orang-orang bisa mengeluarkan saran-saran yang cocok masuk di buku pelajaran Bahasa Indonesia, such as "Dimana pun kamu bersekolah, asalkan kamu rajin, kamu pasti bisa!" atau "Yang penting kamu berusaha, tinggal berserah diri aja!". Kembali ke realita, faktanya adalah, tempat--lokasi, lingkungan, dan suasana sekitar kita sangat berpengaruh dalam menghadapi ujian.
Admit it, deh! Mau bukti? Bukannnya aku ngeremehin daerah luar Yogyakarta, Jawa, atau manapun juga loh ya. Tapi kenyataannya, berdasarkan pengalamanku nanya sama orang-orang, perbedaan NEM murid-murid di sana dan di sini memang jauh sekali.
Sekali lagi, bukannya aku ngeremehin. Bold those words.
Dan inilah aku. Remaja berumur 14 tahun yang lagi galau dan berada di puncak kelabilannya. Aku bener-bener berharap bisa dapet NEM minimal 37,50 walaupun aku sekolah di sini. Aku bakal berusaha dengan keras, walaupun harus ngulang kejadian kurang-lebih 2 tahun yang lalu (ikut kelas remidial waktu liburan semester, nangis-nangis karena harus belajar keras tiap hari, putus asa karena jadwal belajar yang mengikat, stres tingkat tinggi, gugup, dsb). Mungkin agak impossible, sih. Tapi dulu aku berhasil ngedapetin NEM yang, yah, pasaran sih di Yogya. Cukup susah nyari sekolah. Tapi aku berhasil ngedapetinnya walaupun aku sekolah di desa yang terpelosok. Sekarang, kenapa aku nggak bisa?
Aku masih seorang Nona Soedhowo, kok. Orang yang sama dengan anak kecil diwaktu 2 tahun yang lalu. Kenapa aku nggak bisa? Aku pasti bisa. Aku harus bisa.
Oke, please abaikan 2 paragraf di atas. Aku lagi nyoba menghibur diri sendiri waktu nulis dua paragraf tersebut. Faktanya adalah :
AKU GUGUP! AKU TAKUT!
Jadi gimana dong nih, Octopuses?? Got some advices for me? Bisa membesarkan hatiku? Pleaseeeeeeee, I really need your support right now! I beg you :(
I should stop writing this post. Kelabilan lebih mendominasi entry ini daripada keresahanku. Sekali lagi, tolong bantuin aku ya, Octopuses :'(
Love, LadyLo
Label: About me, Daily story, Experience, Just babbling, Life, Nostalgia, Obsessions, Problem, School
oh-so-random
Dunia. Sudah. Berubah.
Nope. It doesn't like I'm-so-odd from now on. Oke, oke, aku emang aneh dan abstrak. Tapi bener loh, di mataku, dunia udah berubah. Lebih tepatnya, dunia berputar terlalu cepat buatku.
Yup, terlalu cepat. Dunia ini berputar sangat amat sangat terlalu cepat buatku. Perubahan-perubahan yang terjadi, semuanya terlalu drastis dan terjadi dalam kurun waktu yang terlalu singkat. Aku nyaris nggak bisa nerima semua perubahan yang udah terjadi ini.
Perubahan yang aku maksud itu, ya... perubahan. Bagaimana tingkah laku dan sikap setiap individu ke aku. Gimana kondisiku saat ini. Gimana suasana lingkungan sekitarku. Kejadian-kejadian yang aku alamin belakangan ini. Rasanya semua itu terjadi terlalu cepat buatku. Orang-orang yang dulu akrab sama aku, sekarang semakin jauh. Bahkan beberapa diantara mereka berubah jadi 'musuh' buatku. Justru, orang yang dulu nggak pernah kusangka bakal deket sama aku, sekarang malah jadi akrab banget sama aku.
Tapi, itu semua masih belom apa-apa. Yang paling parah adalah; aku bahkan nggak bisa ngikutin perubahan yang terjadi sama diriku sendiri.
Belakangan ini aku berubah total. Aku jadi lebih sensitif dan sangat labil. Labil dalam artian, detik ini aku bisa ketawa-ketiwi, tapi detik berikutnya aku bisa diem aja, bengong, kayak orang yang nggak punya tujuan hidup. Dan bisa dibilang, semua itu terjadi karena aku depresi berat. Yup, depresi. Bukannya aku mau lebay atau gimana ya. Tapi emang itu yang terjadi sama aku. Nggak lucu kan kalo aku depresi tapi maksa mau bilang "aku cuma stres", ya nggak?
Itu satu. Masih banyak hal-hal lainnya yang menyebabkan aku berpikir kalo dunia berputar terlalu cepat. Ibaratnya nih ya, aku tuh ngerasa aku masih berada di alam mimpi, padahal sebenernya aku tau kalo aku udah berpijak di dunia nyata.
Aku harap, aku bisa ngikutin semua perputaran yang terjadi sekarang ini. Tapi yaaa itu tadi, I can't go with the flow and I don't do the trend(s). Maybe that's why I feel something awkward like this...
Yup, I DID say "trend".
Nyadar nggak sih, kalo belakangan ini banyak orang yang berubah jadi terlalu "naif"? Mereka nggak bisa nerima orang yang nggak melakukan hal yang sama dengan mereka. Kita harus ngikutin segala kebiasaan yang udah menjadi hal umum bagi mereka. Kebiasaan yang lambat-laun berubah menjadi suatu tren. Siapa yang nggak ngikutin tren tersebut, bakal dilibas. That's it.
Contoh kasusnya gini. Some people do hate me because they think I've fallen in love with someone that soooo popular in my school. Padahal aku nggak ada rasa sama sekali sama orang itu. Tapi mereka memaksakan kehendak mereka. Kehendak yang mengharuskan aku mengikuti tren yang ada; dalam hal ini yaa menyukai orang tersebut. Aku udah nyangkal semua omongan mereka, tapi mereka teteeep ga mau tau. Buat mereka, aku tuh munafik. Bohong. Di mulut bilangnya nggak, padahal sebenernya iya. Uh-oh, that cursed trend!
Tanpa sadar, mereka memaksakan kehendak mereka. Di otak mereka udah tertanam tren "menyukai-si-Mr X-ini", dan itu berarti setiap cewek yang deket sama Mr. X ini pasti suka sama dia. Padahal, bukan begitu kenyataannya. Tapi ya itu tadi, everyone must follow the trend. Ya nggak ikutan, bakal dilibas dalam berbagai cara. Ada yang digosipin munafik kayak aku, ada juga (mungkin) yang dilabrak terang-terangan and so on.
Hal-hal klise yang selalu terjadi dalam masa-masa remaja.
Back to the topic, mungkin aku ngerasa perputaran dunia terlalu cepat karena aku nggak mengikuti tren yang ada. Kalo aku ngikutin semua tren yang terjadi, mungkin aku bakal ngerasa dunia tetap sama. Dunia tetap berputar seperti biasa. Walaupun kenyataannya, kalau dilihat secara kasat mata, dunia memang berubah terlalu cepat akhir-akhir ini. Just-admit-it.
Beside, I can't go with the flow. Mungkin aku bertahan terlalu keras untuk melawan arus. Mungkin aku nggak membiarkan diriku terbawa arus, walau cuma sedikit aja. Mungkin aku emang salah dalam hal ini. Karena orang-orang kan bilangnya, just go with the flow, tapi jangan sampe kebawa arus.
Lah, emangnya gampang ngelakuin hal itu?
Okay, cukup deh ngomongin hal seriusnya. Bisa-bisa aku beneran cepet tua kalo mikirin hal serius kayak gini mulu lmao.
Aku lagi pengen handphone baru! Huhu :( Udah dapet dua calon. LG Cooky yang baru-baru ini diiklanin sama SNSD, atau Samsung Monte yang lucu itu... kalo Cooky, terakhir aku ngecek sih harganya di Korea udah Rp 3.600.000,00. Tapi aku belom tau udah ada di Indonesia atau belom. Kalo Samsung Monte, aku ada liat harganya Rp 2.200.000,00. Duh, pengen! Butuh handphone nih, secara handphone lamaku udah rusak... kapan-kapan kusubmit fotonya deh :)
Pengen, pengen, pengeeen!!
Love, LadyLo
Label: About me, Daily story, Just babbling, Life, Opinion, Problem, Renungan
waktunya rekoleksi soal blogku!
Oh I miss you so much, octopuses! Hmm... what should I say now? Ah, yeah. Even though I posted a new post here, that doesn't mean if my exam already over. Even it hasn't started yet! The big day is tomorrow, so I must study hard tonight. Ah, I'm so nervous! Wish me luck yaa octopuses :')
Okay, kali ini aku mau ngomongin soal... konsep blogku.
FYI, aku sering bingung soal konsep blogku. Banyak banget yang kupikirin soal konsep blogku, dan yang paling sering kupikirin adalah: gimana caraku menjabarkan apa yang pengen aku katakan disini. Misalnya...
Apa aku harus blogging dengan bahasa Inggris kayak Sabila Anata? Apa aku harus blogging dengan bahasa sehari-hari kayak Raditya Dika? Apa aku harus blogging dengan bahasa resmi kayak Nona Dita? Atau apa?
Jujur aja, aku sendiri nyadar kalau blogku masih belum terkonsep rapi. Makanya, octopuses bisa ngeliat banyak postinganku yang nggak 'satu konsep'. Misalnya, di postingan A aku berbahasa Inggris. Di postingan B aku berbahasa nyeleneh. Di postingan C aku berbahasa resmi. Di postingan D aku berbahasa nyampur (resmi, tapi juga ada nyelenehnya. Atau sebaliknya).
Aku bingung!
FYI, aku udah blogging dari kelas 5 SD (which means 3-4 tahun yang lalu) tapi baru-baru ini aja bikin blog lewat Blogger/Blogspot. Dan selama 4 tahunan blogging, ada banyak transisi yang aku alamin dalam dunia blogging.
Dulu aku sempet blogging dengan bahasa yang... yah, alay deh. Abis itu, karena aku addicted sama Bang Dika alias Raditya Dika, bahasa bloggingku sempet ketularan bahasanya. Bahkan bisa dibilang, caraku blogging mirip sama caranya deh! But lucky me, ada seorang sahabat yang ngingetin aku kalau bahasaku terlalu mirip sama bahasanya Raditya Dika. Walaupun aku udah enjoy banget dengan bahasa ala Bang Dika--dan bahkan banyak blogger yang muji kalau "blogku lucu", "blogku asik buat dibaca", "blogku bener-bener fun", dsb--aku tetep ngerasa risih setiap keinget kalau bahasaku sama kayak bahasa blogging orang lain.
I mean, aku ngerasa risih karena aku cukup 'mengopi' cara orang lagi blogging.
Sejak itu, aku berhenti make "bahasa Kambing"-nya Bang Dika *LOL* dan sampai sekarang aku masih bingung soal 'identitas blog'ku.
Di blog WordPressku, aku udah mengonsep bahasa blogku dengan bahasa resmi. And guess what? Pengunjung blog terbanyakku itu orang-orang dewasa. Jarang banget yang umurnya masih belasan tahun. Dan karena merasa nggak nyaman sama bahasaku yang terlalu resmi, akhirnya aku mutusin buat pake bahasa sehari-hari.
Dan sekarang? Aku masih juga nyari identitas blogku! Aaaah... rasanya blogging aja kok rumit banget ya? :D
Tapi belakangan ini aku sadar, kalau aku nggak perlu terburu-buru nyari identitas blogku. Aku berusaha buat nikmatin apa yang ada di jiwa bloggingku. Menurutku, selama kita jadi 'original' alias nggak ngopi gaya siapapun, blog kita bakal jadi blog yang baik kok. Lagian, bukannya cara kita blogging itu menjabarkan personality kita ya? Jadi, cara bloggingku yang gado-gado itu bener-bener mencerminkan sifatku yang abstrak itu, kan? *ngeles aja deh hehe*
Oh iya, waktu baca salah satu manga one-shot (lupa apa judulnya), aku jadi dapet kata-kata bagus deh:
"Kamu bukannya tidak menemukan identitas dirimu. Kamu hanya belum menemukannya. Jangan terburu-buru, karena suatu saat nanti kamu pasti akan menemukannya. Ini hanya masalah waktu."
Cieeeeeeh mantep dah haha :D
Oke deh, kayaknya cukup sampe situ dulu deh perenunganku soal dunia blogging. Dan hal yang lebih penting dari identitas bloggingku adalaaah:
as I said, besok aku udah ujiaaaaan! Wish me luck yah, octopuses! >< Nervous abis nih :)
Well then, see you soon ;)
Love, LadyLo
Label: About me, Daily story, Experience, Just babbling, Nostalgia, Opinion, Problem, Renungan, Somethin' about my blog
you made me laugh :D
Finally I'm in a good mood for posting something! Yay! Sorry for the previous post in my bloggie; yup, that was only a quote! I didn't have any inspiration for my bloggie so I wrote that quote. But finally, I wanted to post something today!
Well, finally I got some of my exam results again. I won't post it until I know all of my exam results :3
Today I brought my netbook to school. I promised to bring my netbook for Ina. We watched 2NE1's mv from my netbook, then she took all of my SNSD's pics (I've told you that she's a huge fan of SNSD, right?). We sang SNSD's songs, and danced just like what SNSD did on their MVs. Everyone was staring at us and started yell something like "CRAZY GIRLS". That was embarassing but I used to hear it, because they were right; I'm a freak girl! *and proud about it*
One of my classmates, Rizal, did something funny and he made me LAUGH OUT LOUD. Thankies, dearest pal :D (don't think something wrong about the 'dearest' word, I just love someone that can make me laugh out loud like that--loving them as friend, okay?). He stood up on the Tya's table, then he danced like what I did. He danced like SNSD on Gee!
OMG!
I laughed out loud, just like what Ina did. I already knew that he's a kind of freakish, but I didn't know that he's as freak like that.
Maybe I should remove him from my blacklist (after he broke my lovely fan >:|). Hahaha, I still can't forget about his weird attitude! :4
I sat on his seat, near Ina's seat. Then, when I realized, he sat between me and Helmi. They were on my left side. And Ina was on my right side. I was (quite) angry when Rizal and Helmi made a joke about Jewel's mv. They said Jewel's mv was a kind of 'that' movie (please say that you know what I mean). I glared at them, and they shutted their mouth. Well, I wasn't angry at all because I'm not a fan of Jewel, though. But I just didn't like their way of thinking something. Huh, that's what boys do, right? :p (no offense)
That's one of good parts of my life today. The bad part is; someone is copycating me. Again. No offense, but I know I have a lot of copycaters until know. But this girl is really something. She's the worst copycater, after one of my bestie when I was an elementary student. Even she copied my tweet! OMG, my tweet! She copied my tweet!
Is she that uncreative so she copied my tweet?!
God, how should I face this girl? Should I glare at her, shout everything bad and leave her alone when she can make everyone hate me? Or should I shut my mouth, act like nothing happens? I can't let her copies everything for me; my style, my creations, even MY TWEET. But I don't want to make an enemy. I'm too lazy for doing it.
Please, fellas, tell me what should I do :( I let her doing everything that she wants for these long times, and she has done it A LOT. She has copied A LOT OF THINGS from me!
Tell me your opinions, please :(
Label: About me, Friends, Just babbling, Life, Problem
Older Post
the lady

Nona Soedhowo. 17. Indonesian. A pudding enthusiast by day, a space wanderer by night. A cynic, and yet can't stop believing in Peter Pan and the Neverland. Currently finding for her own way to The Hodge 301 Cluster - her very own pink cluster.
cool people

Ale | Cho | Nabila | Ninda |
Puti | Rania | Ratna | Sindy | Tan
octopuses united

designer
Templates: Hafni
Base Code: Caca
Editor: Nona Soedhowo
doubts
Sometimes, there are times when you have some doubts towards yourself. A kind of thought that makes you feel like, you're not doing the right thing. It's normal to feel such a thing. But no one can deny that it's somewhat painful to do over yourself. However, the worst feeling is the one when you have doubts over your bestfriends.
Or maybe, people that you thought they WERE your bestfriends.
Hubungan-hubungan yang, katanya, long-lasting semacam persahabatan seharusnya nggak perlu semacam deklarasi tertentu. True bestfriends don't say "we are bestfriends now" to each other. It's just we feel like doing it. Tanpa sadar, kita selalu menghabiskan waktu dengan orang-orang itu. Cerita macem-macem ke mereka. Merasa definisi sesungguhnya dari "quality time" adalah ketika kita melewatkan waktu bareng mereka. Time flows, dan waktu kita sadar, dengan sendirinya kita udah menganggap mereka sebagai sahabat kita. Nggak perlu peresmian. Nggak perlu segala ikrar.
Tapi, yang paling menyakitkan adalah saat dimana TERNYATA mereka nggak merasakan hal yang sama ke kita. Oke, kita nganggep mereka sahabat. Gimana kalo ternyata ini cuma one-sided friendship? Disaat kita mengagung-agungkan mereka sebagai so-called-BFFs, mereka justru sama sekali NGGAK masukkin kita ke "daftar sahabat" nya. Yang lebih parah lagi, gimana kalo mereka menganggap kita sebagai sahabatnya, tapi mereka sama sekali nggak bersikap seperti how a bestfriend should act?
Mereka ngelakuin hal dari A sampe Z dengan mengatasnamakan kebaikan mereka. Prinsip mereka, "aku ngelakuin semua ini demi kebaikanmu, biar kamu seneng". Padahal, sebenernya semua itu cuma untuk kepuasan mereka semata. Dan bodohnya kita, as a loyal bestfriend, mau-maunya ngikutin omongan mereka?
This is bad. I have doubts over my so-called bestfriends. They DO backstab me. They talk behind me, and I've seen the proofs before. It hurts, hurts so bad until I can't stop thinking about it for the whole days. I spent the nights for thinking about my faults, but still - I couldn't find the EXACT thing which made them doing such a cruel thing to me. Why they did this to me? How long it's been since the very first time they started hating me? I don't even know whether "hate" is the perfect word or not, but one thing that I know; if they REALLY love me, they wouldn't do anything like this, right?
This isn't the first time. But I thought all of us already started a brand new page of our friendship. No matter what they do, I can't do anything but only forgiving them. Why they couldn't do the same thing to me? I'm sorry for hurting you. For making you uncomfortable with my behaviour. But if you have any unspoken words, why don't you just tell me directly instead of backstabbing me?
Now it feels like Bon Iver's Skinny Love:
Who will love you? Who will fight? Who will fall far behind?
Bohong kalo mereka bilang mereka nggak mau nyakitin perasaanku dengan berkata jujur. Kalo mereka bener-bener berniat baik, mereka pasti bakal ngomong langsung ke aku. Bukannya nunggu aku sadar sendiri. Bukannya ngomongin aku dari belakang.
Ini semua salahku yang udah ngelanggar prinsipku sendiri; untuk nggak sepenuhnya percaya sama orang lain. Untuk nggak pernah bersandar sama orang lain. The world is giving its judgement towards me. So I guess I have to come back to my oldself; the one who will never, ever believe in another person.
Maaf, maaf banget udah nyakitin kalian semua - meskipun sampe saat ini aku nggak tau apa yang bikin kalian bertindak sejauh ini. Bahkan walaupun kalian mau bilang "itu udah bulan Januari lalu kok, sekarang udah nggak lagi"..........
YOU GUYS STILL HURT ME.
I'm sorry.
Love, LadyLo.
Label: About me, Daily story, Experience, Friends, Life, Problem, Renungan, Sad
parents, family, and the sims
Orang tua adalah harga yang tak dapat ditawar, harta yang tak tertukar.
Kenapa tiba-tiba aku ngomong ginian? Well, simply just because I saw many tweets in my timeline. Isi tweetsnya? Beberapa orang temenku yang mengutuk orang tua mereka sendiri. Oke, mengutuk sounds a lil bit scary--walaupun kenyataannya emang ngeri. Lebih tepatnya, mereka memaki orang tua mereka sendiri.
Bukan memaki dengan kata-kata, "Orang tua gue ngeselin banget! Kerjaannya ngatur mulu!" ya. Tapi memaki dalam contoh... "Bokap nyokap gue jancok banget! Bangsat!" dan lain sebagainya yang bisa kalian bayangin sendiri.
Memang, bisa dibilang aku nggak ngerti permasalahan apa yang mereka hadapin; apa yang orang tua mereka lakuin ke mereka, apa yang mereka rasain, apa yang terjadi, dan lain sebagainya. Aku bukannya ikut campur--you could call me like that kalo sampe aku ngemention si pembuat-harsh-tweet-ini dan nasihatin dia ini-itu sementara aku sendiri nggak tau masalahnya apa. Mari kita sebut aku lagi.... ngasih komentar. Dari kacamata penonton.
Sebenernya sayang banget, mereka-mereka (yang ngebuat harsh tweets ini) sampe ngucapin hal sedemikian rupa. Walaupun kasar, mungkin kata-kata semacam "orang tuaku rese banget!" atau "asli kesel banget diceramahin ini-itu mulu!" mungkin lebih ditolerir daripada kata-kata semengerikan itu. Karena... gimana pun juga... mereka itu orang tua kita.
Call me naive. Dan mungkin kata-kata ini udah klise. Banget. Tapi itulah kenyataan. Ada hal-hal yang nggak bisa kita pertanyakan di dunia ini. Ada hal-hal yang memang nggak logis di dunia ini. Ada hal-hal yang nggak bisa kita tentang di dunia ini. Memang begitulah kodratnya. Seorang anak, sampai kapan pun juga, nggak akan pernah bisa memiliki derajat di atas orang tuanya. Which means, sampai kiamat pun, kita nggak akan pernah bisa memiliki alasan yang cukup untuk membuat kita diizinkan memaki orang tua kita.
Sekilas memang rasanya nggak adil. Disaat orang tua kita, mungkin, bisa memaki kita. Disaat orang tua kita, mungkin, sangat menyakiti hati kita. Tapi itulah dunia, kan? Apa yang bisa kita lakukan sebagai seorang anak hanya menerima, nggak lebih. Itulah hak seorang anak. Menerima.
Protes, oke lah. Kritik, boleh lah. Tapi memaki? Apalagi sampe mengeluarkan kata-kata semacam "jancok", "anjing", "bangsat", dan lain sebagainya ke orang tua kita sendiri?
Jangan lupa, kita bukannya sedang berbicara dengan teman kita, loh.
Orang-orang banyak lupa. Katanya, kita nggak boleh terlalu sering membandingkan diri kita dengan orang lain. Tapi bukannya berarti membandingkan diri dengan orang lain itu selalu membawa kejelekan, kan?
In this case... mari bandingkan diri sendiri dengan orang-orang yang nggak bisa tinggal bareng kedua orang tuanya. Atau nggak bisa tinggal dengan keluarga lengkapnya. Those people--who cursed on their parents--live with their parents. Their family. Padahal ada banyak orang-orang di luar sana, yang berharap mati-matian bisa tinggal dengan orang tuanya. Lengkap. Ada orang-orang yang berharap keluarga mereka nggak tercerai-berai. Ada orang-orang yang berharap bisa memutar ulang waktu cuma biar bisa kumpul sama kedua orang tuanya.
Like me.
Aku lagi berada dalam kondisi semacam ini; kondisi dimana kamu bener-bener ngerasa shock. Ibarat abis ngelaluin satu perjalanan, kamu lagi jetlag. Bingung dengan keadaan yang sedang kamu alami. Saking drastisnya perubahan yang kamu miliki, kamu jadi blank. Dan klimaksnya adalah ketika kamu bertanya:
Apakah benar, kalo aku pernah hidup dimasa lalu? Kok, rasanya aku cuma hidup dimasa ini? Kok, rasanya aku baru ngerasa hidup sekarang? Dimana kenangan-kenangan yang dulu aku alamin? Apakah benar semua kenangan itu pernah aku alamin?
That's it.
To be honest, I miss my dad so much. Aku kangen saat-saat aku, Mama, dan Papa ngumpul bareng. Saat-saat kami kumpul di depan tv dan makan malam bareng. I didn't mind about the menu. Mau itu pizza yang kami take-away, atau ikan bandeng presto yang Mama beli di warung, I didn't even care about it. Yang aku peduliin adalah detik-detik dimana kami ngumpul bareng. Saat-saat dimana kami ngobrol di depan tv, ngebahas semua hal yang ada. Mulai dari yang penting, sampe yang nggak worth it buat dibicarain sekalipun. I miss those moments.
Aku bahkan kangen dimarahin papaku. Saat-saat dimana aku dapet nilai-nilai jelek dan Papa marahin aku. Dan pasti Mama ngebelain aku. Saat-saat dimana aku dituntut untuk dapet banyak nilai 9. I didn't mind about that. Karena dulu--dan sekarang pun--aku hidup untuk orang tuaku. Kupikir, kalo nilaiku bagus, orang tuaku bakal bahagia. Bakal bangga sama aku. Makanya aku berusaha keras biar bisa mencapai itu semua.
Soalnya, salah satu impianku itu bisa bikin orang tuaku bahagia dan bangga sama aku. Sehingga mereka bisa ngomong ke semua orang, "Ini loh Nona, anakku."
Mungkin kamu pikir ini impian klise banget lah, bullshit lah, sok anak baiklah, or whatever it is. Tapi itulah kenyataan. I hate being naive. Atau klise. Tapi terkadang memang ada saatnya dimana kita jadi naif dan klise. Inilah saat yang tepat buatku.
Intinya, aku kangen semua saat-saat yang pernah kulaluin itu. Setiap detail terkecilnya. Setiap detiknya. Aku kangen semua itu. Dan jujur, aku ngiri sama mereka semua yang bisa ngedapetin apa yang aku paling pengenin saat ini. Tapi mereka malah nyia-nyiain semua itu. Bahkan, mereka ngebuang jauh-jauh kesempatan itu.
Dalam artian, mencaci maki orang tua mereka.
Orang tua yang ada di sana untuk mereka.
Jadi... buat kalian semua yang ngebaca ini... terutama bagi yang kesel banget sama orang tua masing-masing. Bersyukurlah. Seenggaknya kalian masih bisa ngumpul, lengkap, komplit bareng kedua orang tua kalian. Ada orang-orang di luar sana yang pengen ngumpul sama orang tuanya tapi nggak bisa atau susah. Ada orang-orang yang ngiri sama kalian.
Inget, hidup ini nggak semudah game. Nggak segampang The Sims. Oke, sebenernya The Sims itu sulit dan rumit sih. Sims-ku pernah selingkuh sama suami orang dan dia udah punya anak, mendadak dia dan keluarganya jatuh miskin and all. Tapi, kalo main The Sims, kita masih bisa melarikan diri dari kenyataan dan masalah yang ada. Kita bisa tinggal mainin family yang lain, atau ngedelete family yang bermasalah itu.
Tapi kehidupan nyata berbeda. Kita nggak bisa lari. Kita cuma bisa menghadapi dan menyelesaikan masalah yang ada. Dan mencaci-maki itu termasuk upaya melarikan diri.
Hidup jauh lebih sulit dan rumit daripada The Sims.
Dan aku bukannya ngomong tanpa pengalaman.
Jadi, mari kita bersama-sama menghadapi dunia ini... menjalani hidup, menghadapi, dan menyelesaikan masalah yang ada. Karena hidup dan masalah itu selalu berdampingan. Yang menentukan adalah diri kita sendiri; bisa, atau nggak. Kuat, atau lemah. That's it :)
Mulai sekarang, ayo kita berjuang bareng! And happy new year 2011 too! Fighting! :D
Love, LadyLo
Label: About me, Daily story, Experience, Family, Just babbling, Life, Love, Nostalgia, Opinion, Problem, Renungan
when the school makes me frustated
Do I hate school?
Nah-nah, I don't. Yah, bukan berarti aku tipikal nerd yang hobi banget dateng ke sekolah sih. Nggak. Aku masih normal kok. I hate homeworks, exams, and scary teachers. Aku juga punya banyak antis di sekolah, dan hal itu jelas bikin aku cukup males buat masuk sekolah. Tapi aku punya temen dan hal-hal asyik yang kudu diselesaiin di sekolah. Makanya aku masih ada sedikit "rasa" sama sekolah. LOL.
Terus kenapa sekolah berhasil bikin aku kelimpungan dan galau selama sebulan terakhir ini? Well, I'm worried. Karena aku udah kelas 9--which means I'm officially a senior in my school now--dan bakal menempuh ujian dalam waktu kurang dari 8 bulan, aku khawatir. Bener-bener khawatir.
Karena aku tipe orang yang mencintai nilai tinggi, atau hasil bagus dengan nilai membanggakan, atau hasil menyenangkan dengan ranking bagus, atau hasil bagus, nilai bagus, ranking bagus, whatever you called it, aku khawatir.
Sangat khawatir.
Jujur aja aku jadi pesimis tingkat tinggi setelah tahu NEM terendah di Padmanaba--SMAN 3 Yogyakarta--yang nggak lain nggak bukan adalah sekolah incaranku in case aku masih sekolah di Yogyakarta adalah, ugh, 37 koma sekian.....
Aku khawatir.
Apakah aku bisa ngedapetin NEM minimal 37,50 walaupun aku sekolah di Samarinda? Apakah aku bisa tetep mempertahankan NEM-ku dulu, walaupun aku udah nggak di Yogyakarta? Apakah aku bisa mendapatkan pendidikan yang terbaik di sini? Apakah aku bisa menyamai nilai temen-temen di Yogya? Apakah aku BISA?
Dan berbagai pertanyaan galau khas anak labil lainnya.
Oke, orang-orang bisa mengeluarkan saran-saran yang cocok masuk di buku pelajaran Bahasa Indonesia, such as "Dimana pun kamu bersekolah, asalkan kamu rajin, kamu pasti bisa!" atau "Yang penting kamu berusaha, tinggal berserah diri aja!". Kembali ke realita, faktanya adalah, tempat--lokasi, lingkungan, dan suasana sekitar kita sangat berpengaruh dalam menghadapi ujian.
Admit it, deh! Mau bukti? Bukannnya aku ngeremehin daerah luar Yogyakarta, Jawa, atau manapun juga loh ya. Tapi kenyataannya, berdasarkan pengalamanku nanya sama orang-orang, perbedaan NEM murid-murid di sana dan di sini memang jauh sekali.
Sekali lagi, bukannya aku ngeremehin. Bold those words.
Dan inilah aku. Remaja berumur 14 tahun yang lagi galau dan berada di puncak kelabilannya. Aku bener-bener berharap bisa dapet NEM minimal 37,50 walaupun aku sekolah di sini. Aku bakal berusaha dengan keras, walaupun harus ngulang kejadian kurang-lebih 2 tahun yang lalu (ikut kelas remidial waktu liburan semester, nangis-nangis karena harus belajar keras tiap hari, putus asa karena jadwal belajar yang mengikat, stres tingkat tinggi, gugup, dsb). Mungkin agak impossible, sih. Tapi dulu aku berhasil ngedapetin NEM yang, yah, pasaran sih di Yogya. Cukup susah nyari sekolah. Tapi aku berhasil ngedapetinnya walaupun aku sekolah di desa yang terpelosok. Sekarang, kenapa aku nggak bisa?
Aku masih seorang Nona Soedhowo, kok. Orang yang sama dengan anak kecil diwaktu 2 tahun yang lalu. Kenapa aku nggak bisa? Aku pasti bisa. Aku harus bisa.
Oke, please abaikan 2 paragraf di atas. Aku lagi nyoba menghibur diri sendiri waktu nulis dua paragraf tersebut. Faktanya adalah :
AKU GUGUP! AKU TAKUT!
Jadi gimana dong nih, Octopuses?? Got some advices for me? Bisa membesarkan hatiku? Pleaseeeeeeee, I really need your support right now! I beg you :(
I should stop writing this post. Kelabilan lebih mendominasi entry ini daripada keresahanku. Sekali lagi, tolong bantuin aku ya, Octopuses :'(
Love, LadyLo
Label: About me, Daily story, Experience, Just babbling, Life, Nostalgia, Obsessions, Problem, School
oh-so-random
Dunia. Sudah. Berubah.
Nope. It doesn't like I'm-so-odd from now on. Oke, oke, aku emang aneh dan abstrak. Tapi bener loh, di mataku, dunia udah berubah. Lebih tepatnya, dunia berputar terlalu cepat buatku.
Yup, terlalu cepat. Dunia ini berputar sangat amat sangat terlalu cepat buatku. Perubahan-perubahan yang terjadi, semuanya terlalu drastis dan terjadi dalam kurun waktu yang terlalu singkat. Aku nyaris nggak bisa nerima semua perubahan yang udah terjadi ini.
Perubahan yang aku maksud itu, ya... perubahan. Bagaimana tingkah laku dan sikap setiap individu ke aku. Gimana kondisiku saat ini. Gimana suasana lingkungan sekitarku. Kejadian-kejadian yang aku alamin belakangan ini. Rasanya semua itu terjadi terlalu cepat buatku. Orang-orang yang dulu akrab sama aku, sekarang semakin jauh. Bahkan beberapa diantara mereka berubah jadi 'musuh' buatku. Justru, orang yang dulu nggak pernah kusangka bakal deket sama aku, sekarang malah jadi akrab banget sama aku.
Tapi, itu semua masih belom apa-apa. Yang paling parah adalah; aku bahkan nggak bisa ngikutin perubahan yang terjadi sama diriku sendiri.
Belakangan ini aku berubah total. Aku jadi lebih sensitif dan sangat labil. Labil dalam artian, detik ini aku bisa ketawa-ketiwi, tapi detik berikutnya aku bisa diem aja, bengong, kayak orang yang nggak punya tujuan hidup. Dan bisa dibilang, semua itu terjadi karena aku depresi berat. Yup, depresi. Bukannya aku mau lebay atau gimana ya. Tapi emang itu yang terjadi sama aku. Nggak lucu kan kalo aku depresi tapi maksa mau bilang "aku cuma stres", ya nggak?
Itu satu. Masih banyak hal-hal lainnya yang menyebabkan aku berpikir kalo dunia berputar terlalu cepat. Ibaratnya nih ya, aku tuh ngerasa aku masih berada di alam mimpi, padahal sebenernya aku tau kalo aku udah berpijak di dunia nyata.
Aku harap, aku bisa ngikutin semua perputaran yang terjadi sekarang ini. Tapi yaaa itu tadi, I can't go with the flow and I don't do the trend(s). Maybe that's why I feel something awkward like this...
Yup, I DID say "trend".
Nyadar nggak sih, kalo belakangan ini banyak orang yang berubah jadi terlalu "naif"? Mereka nggak bisa nerima orang yang nggak melakukan hal yang sama dengan mereka. Kita harus ngikutin segala kebiasaan yang udah menjadi hal umum bagi mereka. Kebiasaan yang lambat-laun berubah menjadi suatu tren. Siapa yang nggak ngikutin tren tersebut, bakal dilibas. That's it.
Contoh kasusnya gini. Some people do hate me because they think I've fallen in love with someone that soooo popular in my school. Padahal aku nggak ada rasa sama sekali sama orang itu. Tapi mereka memaksakan kehendak mereka. Kehendak yang mengharuskan aku mengikuti tren yang ada; dalam hal ini yaa menyukai orang tersebut. Aku udah nyangkal semua omongan mereka, tapi mereka teteeep ga mau tau. Buat mereka, aku tuh munafik. Bohong. Di mulut bilangnya nggak, padahal sebenernya iya. Uh-oh, that cursed trend!
Tanpa sadar, mereka memaksakan kehendak mereka. Di otak mereka udah tertanam tren "menyukai-si-Mr X-ini", dan itu berarti setiap cewek yang deket sama Mr. X ini pasti suka sama dia. Padahal, bukan begitu kenyataannya. Tapi ya itu tadi, everyone must follow the trend. Ya nggak ikutan, bakal dilibas dalam berbagai cara. Ada yang digosipin munafik kayak aku, ada juga (mungkin) yang dilabrak terang-terangan and so on.
Hal-hal klise yang selalu terjadi dalam masa-masa remaja.
Back to the topic, mungkin aku ngerasa perputaran dunia terlalu cepat karena aku nggak mengikuti tren yang ada. Kalo aku ngikutin semua tren yang terjadi, mungkin aku bakal ngerasa dunia tetap sama. Dunia tetap berputar seperti biasa. Walaupun kenyataannya, kalau dilihat secara kasat mata, dunia memang berubah terlalu cepat akhir-akhir ini. Just-admit-it.
Beside, I can't go with the flow. Mungkin aku bertahan terlalu keras untuk melawan arus. Mungkin aku nggak membiarkan diriku terbawa arus, walau cuma sedikit aja. Mungkin aku emang salah dalam hal ini. Karena orang-orang kan bilangnya, just go with the flow, tapi jangan sampe kebawa arus.
Lah, emangnya gampang ngelakuin hal itu?
Okay, cukup deh ngomongin hal seriusnya. Bisa-bisa aku beneran cepet tua kalo mikirin hal serius kayak gini mulu lmao.
Aku lagi pengen handphone baru! Huhu :( Udah dapet dua calon. LG Cooky yang baru-baru ini diiklanin sama SNSD, atau Samsung Monte yang lucu itu... kalo Cooky, terakhir aku ngecek sih harganya di Korea udah Rp 3.600.000,00. Tapi aku belom tau udah ada di Indonesia atau belom. Kalo Samsung Monte, aku ada liat harganya Rp 2.200.000,00. Duh, pengen! Butuh handphone nih, secara handphone lamaku udah rusak... kapan-kapan kusubmit fotonya deh :)
Pengen, pengen, pengeeen!!
Love, LadyLo
Label: About me, Daily story, Just babbling, Life, Opinion, Problem, Renungan
waktunya rekoleksi soal blogku!
Oh I miss you so much, octopuses! Hmm... what should I say now? Ah, yeah. Even though I posted a new post here, that doesn't mean if my exam already over. Even it hasn't started yet! The big day is tomorrow, so I must study hard tonight. Ah, I'm so nervous! Wish me luck yaa octopuses :')
Okay, kali ini aku mau ngomongin soal... konsep blogku.
FYI, aku sering bingung soal konsep blogku. Banyak banget yang kupikirin soal konsep blogku, dan yang paling sering kupikirin adalah: gimana caraku menjabarkan apa yang pengen aku katakan disini. Misalnya...
Apa aku harus blogging dengan bahasa Inggris kayak Sabila Anata? Apa aku harus blogging dengan bahasa sehari-hari kayak Raditya Dika? Apa aku harus blogging dengan bahasa resmi kayak Nona Dita? Atau apa?
Jujur aja, aku sendiri nyadar kalau blogku masih belum terkonsep rapi. Makanya, octopuses bisa ngeliat banyak postinganku yang nggak 'satu konsep'. Misalnya, di postingan A aku berbahasa Inggris. Di postingan B aku berbahasa nyeleneh. Di postingan C aku berbahasa resmi. Di postingan D aku berbahasa nyampur (resmi, tapi juga ada nyelenehnya. Atau sebaliknya).
Aku bingung!
FYI, aku udah blogging dari kelas 5 SD (which means 3-4 tahun yang lalu) tapi baru-baru ini aja bikin blog lewat Blogger/Blogspot. Dan selama 4 tahunan blogging, ada banyak transisi yang aku alamin dalam dunia blogging.
Dulu aku sempet blogging dengan bahasa yang... yah, alay deh. Abis itu, karena aku addicted sama Bang Dika alias Raditya Dika, bahasa bloggingku sempet ketularan bahasanya. Bahkan bisa dibilang, caraku blogging mirip sama caranya deh! But lucky me, ada seorang sahabat yang ngingetin aku kalau bahasaku terlalu mirip sama bahasanya Raditya Dika. Walaupun aku udah enjoy banget dengan bahasa ala Bang Dika--dan bahkan banyak blogger yang muji kalau "blogku lucu", "blogku asik buat dibaca", "blogku bener-bener fun", dsb--aku tetep ngerasa risih setiap keinget kalau bahasaku sama kayak bahasa blogging orang lain.
I mean, aku ngerasa risih karena aku cukup 'mengopi' cara orang lagi blogging.
Sejak itu, aku berhenti make "bahasa Kambing"-nya Bang Dika *LOL* dan sampai sekarang aku masih bingung soal 'identitas blog'ku.
Di blog WordPressku, aku udah mengonsep bahasa blogku dengan bahasa resmi. And guess what? Pengunjung blog terbanyakku itu orang-orang dewasa. Jarang banget yang umurnya masih belasan tahun. Dan karena merasa nggak nyaman sama bahasaku yang terlalu resmi, akhirnya aku mutusin buat pake bahasa sehari-hari.
Dan sekarang? Aku masih juga nyari identitas blogku! Aaaah... rasanya blogging aja kok rumit banget ya? :D
Tapi belakangan ini aku sadar, kalau aku nggak perlu terburu-buru nyari identitas blogku. Aku berusaha buat nikmatin apa yang ada di jiwa bloggingku. Menurutku, selama kita jadi 'original' alias nggak ngopi gaya siapapun, blog kita bakal jadi blog yang baik kok. Lagian, bukannya cara kita blogging itu menjabarkan personality kita ya? Jadi, cara bloggingku yang gado-gado itu bener-bener mencerminkan sifatku yang abstrak itu, kan? *ngeles aja deh hehe*
Oh iya, waktu baca salah satu manga one-shot (lupa apa judulnya), aku jadi dapet kata-kata bagus deh:
"Kamu bukannya tidak menemukan identitas dirimu. Kamu hanya belum menemukannya. Jangan terburu-buru, karena suatu saat nanti kamu pasti akan menemukannya. Ini hanya masalah waktu."
Cieeeeeeh mantep dah haha :D
Oke deh, kayaknya cukup sampe situ dulu deh perenunganku soal dunia blogging. Dan hal yang lebih penting dari identitas bloggingku adalaaah:
as I said, besok aku udah ujiaaaaan! Wish me luck yah, octopuses! >< Nervous abis nih :)
Well then, see you soon ;)
Love, LadyLo
Label: About me, Daily story, Experience, Just babbling, Nostalgia, Opinion, Problem, Renungan, Somethin' about my blog
you made me laugh :D
Finally I'm in a good mood for posting something! Yay! Sorry for the previous post in my bloggie; yup, that was only a quote! I didn't have any inspiration for my bloggie so I wrote that quote. But finally, I wanted to post something today!
Well, finally I got some of my exam results again. I won't post it until I know all of my exam results :3
Today I brought my netbook to school. I promised to bring my netbook for Ina. We watched 2NE1's mv from my netbook, then she took all of my SNSD's pics (I've told you that she's a huge fan of SNSD, right?). We sang SNSD's songs, and danced just like what SNSD did on their MVs. Everyone was staring at us and started yell something like "CRAZY GIRLS". That was embarassing but I used to hear it, because they were right; I'm a freak girl! *and proud about it*
One of my classmates, Rizal, did something funny and he made me LAUGH OUT LOUD. Thankies, dearest pal :D (don't think something wrong about the 'dearest' word, I just love someone that can make me laugh out loud like that--loving them as friend, okay?). He stood up on the Tya's table, then he danced like what I did. He danced like SNSD on Gee!
OMG!
I laughed out loud, just like what Ina did. I already knew that he's a kind of freakish, but I didn't know that he's as freak like that.
Maybe I should remove him from my blacklist (after he broke my lovely fan >:|). Hahaha, I still can't forget about his weird attitude! :4
I sat on his seat, near Ina's seat. Then, when I realized, he sat between me and Helmi. They were on my left side. And Ina was on my right side. I was (quite) angry when Rizal and Helmi made a joke about Jewel's mv. They said Jewel's mv was a kind of 'that' movie (please say that you know what I mean). I glared at them, and they shutted their mouth. Well, I wasn't angry at all because I'm not a fan of Jewel, though. But I just didn't like their way of thinking something. Huh, that's what boys do, right? :p (no offense)
That's one of good parts of my life today. The bad part is; someone is copycating me. Again. No offense, but I know I have a lot of copycaters until know. But this girl is really something. She's the worst copycater, after one of my bestie when I was an elementary student. Even she copied my tweet! OMG, my tweet! She copied my tweet!
Is she that uncreative so she copied my tweet?!
God, how should I face this girl? Should I glare at her, shout everything bad and leave her alone when she can make everyone hate me? Or should I shut my mouth, act like nothing happens? I can't let her copies everything for me; my style, my creations, even MY TWEET. But I don't want to make an enemy. I'm too lazy for doing it.
Please, fellas, tell me what should I do :( I let her doing everything that she wants for these long times, and she has done it A LOT. She has copied A LOT OF THINGS from me!
Tell me your opinions, please :(
Label: About me, Friends, Just babbling, Life, Problem
Older Post
|