Haloooo semua!! :D Rasanya udah lama banget nggak nulis di
sini, jadi sedih... padahal dulu jauh lebih rajin dan nyaris nulis setiap hari,
iya nggak sih? How are you, Octopuses? Things are eventually getting better
here. Much, much better.
Belakangan ini... rasanya kayak aku lagi hidup di mimpi.
Yang aku inget adalah momen-momen pas SMA dulu, selalu nempel
sama Nabila Ale Intan; kapanpun dimana pun. Entar sibuk ngerecokin bekalnya
Ale, terus diomelin Alief dan diketawain Raja sama Arif. Abis itu main ke IPA
3, datengin Ina-Nia-Catra-Dika atau siapapun yang bisa didatengin, just
because. Terus lanjut mlipir ke IPA 2, gangguin hidupnya Intan yang nggak tau
kenapa seringnya di kelas karena adaaaaaa aja yang kudu dia urusin di dalem.
Terus entar di tengah perjalanan ketemu Panjiiii. Baru akhirnya ketemu Nabila
waktu udah bel istirahat atau pas jam pulang, dan endingnya lanjut jalan bareng
rame-rame entah kemana.
Kalo mau nginget-nginget lebih jauh lagi, berarti bakal ada
momen aku-Sindy-Panji bablas main bareng sampe pagi—makan nasi kuning jam 2
pagi terus lanjut mlipir ngelewatin Unmul yang SUMPAH serem banget pas jam
segitu?? Atau pas jaman-jaman sibuk muter otak ngeluarin tenaga bikin short
movie bareng The Hippoes, yang lelahnya itu berkali-kali lipatnya bikin
Afternoon Tea. Terus, entar kalo udah malem diseret dateng ke birthday party
dan hebatnya mereka selalu berhasil bikin aku berangkat... padahal aku mager
abis, apalagi kalo lagi banyak download-an di waiting list dan wi-fi rumah lagi
kenceng. Oh, dan ada juga masanya bikin garage sale barang-barang Nabila di
pinggir jalan, yang endingnya jadi ga maksimal gara-gara aku bego banget
(hehehehe detail kejadiannya off the record ya :p) Setiap hari rasanya
selalu... apa ya? Rame? Lucu? Dinamis?
Tapi, sekarang kehidupan Nona udah nggak gitu lagi lagi.
I’ve been dreaming of going to UGM since I started remember
things, I think. Mulai dari jamannya masih rajin banget, jadi tengil, jadi
(terpaksa) rada rajin lagi... yang ada di otakku selalu sama; masuk Komunikasi
UGM, terus gedenya jadi newsanchor. Dan, percaya nggak percaya, sekarang aku
lagi ngejalanin yang pertama (yay! Alhamdulillah :D)
Prosesnya nggak gampang, jelas. Butuh rasa homesick yang
besar (super kangen sama Mama, Papa, dan Dara—my sis), air mata yang banyak,
keinginan buat nyerah-balik ke rumah-dan jadi bodo amat, rasa males banget
belajar tapi kudu dipaksain mempelajari materi, mental breakdown yang berujung
ke nyaris pingsan di rumah dan throwing a tantrum di jalan, belom lagi berbagai
macam jenis penyakit sering kambuh, setiap hari bangun dalam keadaan stres and
counting the remaining days...
Dan sekarang, setiap hari rasanya selalu ada satu hal baru
yang terjadi. Kalo dulu life lessons-nya nggak melulu langsung kentara,
sekarang semuanya jadi serba eksplisit. Dan, belajar hal baru itu selalu
menyenangkan. Belom lagi lingkungan baru yang isinya orang-orang yang selama
ini belom pernah kita tau, dan alhamdulillah mereka semua adalah orang-orang
yang menyenangkan dan unik . Like, I could already imagine living my university
life in the upcoming years all together with them :)
Rasanya kayak ajaib aja gitu, setiap kali nyadar kalo aku
lagi ngejalanin satu step kehidupan yang udah jauh berbeda dari apa yang aku
alamin sebelomnya. Buat semua yang kenal aku pasti bakal langsung tau, gimana
susahnya seorang Nona hidup sendiri... Nona yang nggak bisa apa-apa, yang
kerjaannya sakit, gampang ngerasa under-pressure, mikirnya kelamaan, sekarang
kudu survive seorang diri di sini. Tapi, setiap halangan yang terjadi di sini,
rasanya selalu menyenangkan. Mungkin karena emang ini kehidupan yang aku
pengenin—balik lagi ke Jogja setelah bertahun-tahun berjuang di Samarinda
supaya bisa balik ke kota kelahiran, dan akhirnya kejadian juga—jadi semua yang
terjadi di sini bisa aku terima. Like, aku jadi mikir; emang ini yang aku mau,
dan inilah konsekuensi yang harus aku hadapin. Dan aku ikhlas dalam menghadapi
semuanya.
Sekarang selalu ada kesempatan buat ketemu sama orang baru,
atau bahkan sekalian ketemu sama temen-temen lama dari jaman SD atau SMP yang
dulu, dan lama-lama mulai bisa nginget lagi hal-hal yang entah kenapa mendadak
hilang dari ingetanku begitu aku pindah ke Samarinda, and no matter how hard I
tried, those things wouldn’t come back into my brain and I ended up failing at
recognising things. Dan yang lebih ajaib lagi, jalanan yang dulu biasa aku
lewatin waktu kecil bareng orang tuaku, sekarang aku lewatin lagi sama
temen-temen SMA yang asalnya dari pulau yang lain dan kalo dipikir-pikir lagi
dulu, logikanya nggak mungkin pada bakal bisa lewat situ, bareng aku pula.
Jadi, tujuan dari aku nulis postingan ini adalah, aku pengen
buat semua temen-temen yang ngebaca tulisan ini dan merasa lagi ada di helpless
state untuk nggak berhenti berjuang dan terus percaya, things will eventually
get better. It will get better, at last. Aku dulu juga pernah mikir, that
things couldn’t get any worse than this, that I was stuck in an inevitable
rotten situation and I didn’t deserve any kind of kindness in this world. Tapi
toh, alhamdulillah aku tetep berhasil sampe di fase ini, still alive and
stuffs. Yang penting adalah selalu percaya bahwa Allah itu ada, Allah nggak
tidur dan selalu melindungi kita. Dan betapa mudahnya bagi Allah untuk
memutarbalikkan dunia kita. Mungkin belum sekarang, tapi nanti. Ada saatnya,
dan saat itu bakal tiba, selama kita mau tetap bersabar dan berjuang.
Dan, percaya deh, waktu saat itu tiba, kamu bakal bersyukuuuuuuuur
banget dan semua hal jadi terasa menyenangkan :)
Jadi, semangaaattttt dan jangan menyerah dulu, ya. Allah
sayang sama kamu, sama kita semua, dan Allah pasti selalu menyimpan kebaikan
untuk setiap makhluk-Nya. Kita semua bisa sampe di sini karena Allah, dan bukan
nggak mungkin bagi Allah untuk membawa kita ke tempat yang lebih, lebih baik
lagi. Setiap orang punya tempatnya sendiri kok di dunia ini ;)
Oh iya, dan buat beberapa temen yang in case lagi baca
postingan ini, aku bener-bener berterima kasih banget udah punya kalian dalam
hidup ini. Terima kasih sekali untuk Ale, Intan, Nabila, Alief, Raja, Arif yang
bikin masa SMA selalu jadi indah dikenang. Buat Ina, Kenken, dan Nia yang
sabarnya luar biasa dalam ngadepin Nona. Buat Cho sama Danang, yang nggak
pernah capek dan selalu ada buat Nona, nggak peduli seberapa besar jarak
misahin kita. Buat Puti, Balqiz, Nuri, Fifi, Adam, Zaki atas masa kecil yang
super bahagia. Buat Sindy, Panji, Amma, dan temen-temen OSIS lainnya atas waktu
yang bermanfaat dan pengalaman yang berharga banget. Buat semua temen-temen les
dan kegiatan selama ini yang nggak mungkin kusebutin satu-satu, terima kasih
banyak udah bikin kehidupan di luar sekolah jadi super menyenangkan dan selalu
ditunggu-tunggu! Terus buat semua temenku dari jaman kecil sampe sekarang, orang-orang
yang pernah aku temuin dalam hidup ini; setiap orang punya artinya
masing-masing di hati Nona dan kamu juga salah satunya. Terima kasih banyak
yaaaa! :D
Dan special thanks buat anak-anak YUHU; Intan Agil Catra Dika
Diko Haryo, terima kasih banyak karena udah selalu ada buat Nona di sini. Kalian
bikin tempat aku tumbuh besar, yang sesaat sempet kerasa asing ini, jadi jauh
terasa seperti rumah. Makasi banyak ya, walaupun aku sering dikerjain aku tetep
sayang kalian kok heheheheh.
Bismillah, insya Allah Nona siap ngejalanin hidup yang baru:)
Sometimes, there are times when you have some doubts towards yourself. A kind of thought that makes you feel like, you're not doing the right thing. It's normal to feel such a thing. But no one can deny that it's somewhat painful to do over yourself. However, the worst feeling is the one when you have doubts over your bestfriends.
Or maybe, people that you thought they WERE your bestfriends.
Hubungan-hubungan yang, katanya, long-lasting semacam persahabatan seharusnya nggak perlu semacam deklarasi tertentu. True bestfriends don't say "we are bestfriends now" to each other. It's just we feel like doing it. Tanpa sadar, kita selalu menghabiskan waktu dengan orang-orang itu. Cerita macem-macem ke mereka. Merasa definisi sesungguhnya dari "quality time" adalah ketika kita melewatkan waktu bareng mereka. Time flows, dan waktu kita sadar, dengan sendirinya kita udah menganggap mereka sebagai sahabat kita. Nggak perlu peresmian. Nggak perlu segala ikrar.
Tapi, yang paling menyakitkan adalah saat dimana TERNYATA mereka nggak merasakan hal yang sama ke kita. Oke, kita nganggep mereka sahabat. Gimana kalo ternyata ini cuma one-sided friendship? Disaat kita mengagung-agungkan mereka sebagai so-called-BFFs, mereka justru sama sekali NGGAK masukkin kita ke "daftar sahabat" nya. Yang lebih parah lagi, gimana kalo mereka menganggap kita sebagai sahabatnya, tapi mereka sama sekali nggak bersikap seperti how a bestfriend should act?
Mereka ngelakuin hal dari A sampe Z dengan mengatasnamakan kebaikan mereka. Prinsip mereka, "aku ngelakuin semua ini demi kebaikanmu, biar kamu seneng". Padahal, sebenernya semua itu cuma untuk kepuasan mereka semata. Dan bodohnya kita, as a loyal bestfriend, mau-maunya ngikutin omongan mereka?
This is bad. I have doubts over my so-called bestfriends. They DO backstab me. They talk behind me, and I've seen the proofs before. It hurts, hurts so bad until I can't stop thinking about it for the whole days. I spent the nights for thinking about my faults, but still - I couldn't find the EXACT thing which made them doing such a cruel thing to me. Why they did this to me? How long it's been since the very first time they started hating me? I don't even know whether "hate" is the perfect word or not, but one thing that I know; if they REALLY love me, they wouldn't do anything like this, right?
This isn't the first time. But I thought all of us already started a brand new page of our friendship. No matter what they do, I can't do anything but only forgiving them. Why they couldn't do the same thing to me? I'm sorry for hurting you. For making you uncomfortable with my behaviour. But if you have any unspoken words, why don't you just tell me directly instead of backstabbing me?
Now it feels like Bon Iver's Skinny Love:
Who will love you?
Who will fight?
Who will fall far behind?
Bohong kalo mereka bilang mereka nggak mau nyakitin perasaanku dengan berkata jujur. Kalo mereka bener-bener berniat baik, mereka pasti bakal ngomong langsung ke aku. Bukannya nunggu aku sadar sendiri. Bukannya ngomongin aku dari belakang.
Ini semua salahku yang udah ngelanggar prinsipku sendiri; untuk nggak sepenuhnya percaya sama orang lain. Untuk nggak pernah bersandar sama orang lain. The world is giving its judgement towards me. So I guess I have to come back to my oldself; the one who will never, ever believe in another person.
Maaf, maaf banget udah nyakitin kalian semua - meskipun sampe saat ini aku nggak tau apa yang bikin kalian bertindak sejauh ini. Bahkan walaupun kalian mau bilang "itu udah bulan Januari lalu kok, sekarang udah nggak lagi"..........
Setiap orang pasti punya tempat bernaung masing-masing.
Sepasif apapun orang itu, pasti dia punya tempat tersendiri. Tempat dimana semua orang menerima dia. Tempat dimana semua orang merasa nyaman sama dia, dan begitu pula sebaliknya.
Harusnya sih begitu.
Tapi, belakangan ini... aku nggak merasa begitu. Aku ngerasa hampa, kayak ada sesuatu yang ilang. Tapi aku nggak tau apa itu. Yang pasti, aku ngerasa... aku nggak punya tempat dimana pun.
Rasanya kayak semua orang berpura-pura. Mereka bersikap seolah mereka nerima aku, sementara mereka nggak mau nyoba ngertiin aku sama sekali. Mereka nuduh aku egois, padahal mereka juga bersikap kayak gitu ke aku. Mereka selalu minta aku berkompromi sama mereka.
Tapi apakah mereka pernah mencoba buat ngedengerin suaraku?
Lama-lama, aku semakin ngerasa kalo semuanya itu palsu. Kadang, ketika semua orang bersikap seperti menerima kita dengan tangan terbuka, justru itulah saat dimana kita nggak punya tempat sama sekali.
Dan akhirnya aku sadar. Selama ini aku cuma numpang di tempat mereka. Tempat itu nggak pernah aku miliki. Sama sekali.
Sama kayak yang lain, aku juga pengen punya tempatku sendiri. Tapi nggak akan ada yang mau ngasih satu jeda buatku karena mereka semua terlalu sibuk menghakimi aku, tanpa sempat berkaca.
Dan bukannya kita sendiri yang harusnya menciptakan tempat itu?
Friday WAS such a free day. Had much fun on Friday with the one and only--Cinday (alias Sindy). Setelah hari Minggu lalu aku gila-gilaan sama dia dan yang lainnya (baca : Miti aka Mita, Belbo aka Bella, Odi, Kak Omen, dan Yuda plus Dimas--kalo mereka bisa ikut diitung), hari Jumat kemaren pun aku dan Cinday kembali mengguncang Samarinda Central Plaza.
Hari Jumat kemaren ada premiere the famous Breaking Dawn di 21 (and, yes, Samarinda MASIH belom punya XXI atau apapun itu). Aku udah napsu banget buat nonton premiere nya dari jauh-jauh hari. Mengingat aku nggak sempet nonton Harry Potter (such a pity, huh?), kayaknya premiere Breaking Dawn merupakan pelampiasan yang cocok banget.
Sayangnya, nggak ada yang segila aku untuk berani nekat ke 21 masih dalam keadaan berseragam. Hari Kamis aku udah ngajakkin Cinday, dan dia bilang dia udah banyak diajakkin yang lain buat nonton itu film.
Ternyata, Cinday yang baru balik ke sekolah abis selesai ngedatengin festival film something ketemu aku Jumat siangnya. Waktu itu aku udah desperate banget karena nggak ada yang mau nemenin aku nonton Breaking Dawn hari itu juga... padahal aku udah bawa semuanya (minus baju ganti).
Jadi, ya udah, terjadi lah percakapan yang somehow berasa sinting di telingaku itu :
Me : "Nday, Breaking Dawn yuk?"
Cinday : "Ayo!"
Me : "Ayo!"
Cinday : "Ayoooo!"
Me : "Sekarang?"
Cinday : "Iya, sekarang."
Me : "Serius? Aku udah bawa duitnya nih."
Cinday : "Iya! Aku juga bawa."
Setelah mencoba ngajakkin yang lain (dan percuma aja, karena tetep nggak ada yang se-nekat kami), maka dimulailah perjalanan nekat berbekal pemikiran semacam apakah-kami-bakal-dilarang-masuk-ke-21-secara-kita-masih-pake-seragam dengan duit seadanya dan angkot warna merah.
Sampe di SCP nya sih masih aman-aman aja. Di pintu masuk kami sempet disuruh ngancingin jaket masing-masing, tapi kami tetep diizinin masuk ke dalem. Dan begitu masuk ke 21 nya... baru deh dramanya terjadi.
The security told us to change our clothes. Bahkan untuk masuk sekedar beli tiketnya pun nggak boleh. Kami sempet berencana buat FREAKING beli t-shirt seadanya di lantai bawah, tapi kami disuruh ganti sampe ke rok-rok kami segala dan nggak mungkin kan kami harus beli bawahan baru juga?
Tadinya kami sempet nyaris ngebatalin planning masing-masing dan berencana buat ngabisin sisa waktu yang ada dengan main Pump di game center, tapi kok rasanya anti-klimaks gitu ya? Bukannya ngerasa down, kami malah semakin tertantang buat bikin itu security K.O.
Akhirnya, kami balik naik angkot ke... rumah Cinday. Buat ganti baju. JRENG!
Sayangnya, semuanya nggak berjalan semudah pikiran kami. Sampe di rumah Cinday, masalahnya nggak langsung selesai. Ukuran badan Cinday sama aku itu... jauh banget. Dia kurus dan baju-bajunya kecil semua, sementara aku semacam curvy dan nggak mungkin muat deh pake koleksi jeans nya dia.
Jadi, setelah dua kali ganti celana dan tiga kali ganti baju... endingnya aku make baju mamanya (koleksi baju mamanya bagus loh, ultra update dan sangat nggak ibu-ibu) dan jeggings nya yang, sejujurnya, sangat menyiksa karena bener-bener ketat banget di aku. Oh iya, dia juga minjemin aku kalungnya yang classy plus tas selempang Versace lucu yang nggak pernah dia pake semenjak KW-an nya beredar luas di pasaran (note dari mamaku : jangan pernah beli semacam Versace, Louis Vuitton, Chanel, atau Gucci kalo nggak mau dikira beli itu barang di pasar malem pinggir jalan)
Finally, kami balik lagi ke SCP dengan angkot merah, pastinya (secara kami berdua sama-sama nggak bisa naik motor, as for me : belom fasih naik motor). Sampe di sana, kami udah deg-degan banget. Kalo sampe kami kehabisan tiket, rencananya kami bakal cursing di depan Om Security yang udah ngeluarin kata-kata manis semacam "tiketnya masih banyak kok" ke kami.
Alhamdulillah, Om Security nggak bohong. Tiket buat jam 14.45 emang masih tersisa minimal seperempatnya lah, dan itu pun kami masih bisa ngedapetin bangku yang pewe banget di row F. Berhubung masih sisa setengah jam, kami memutuskan buat having lunch dulu di KFC (kami bener-bener langsung cabut dari sekolah jam 12.00 dan ga sempet lagi makan siang).
Kami berdua makannya sama-sama lama, makanya kami telat balik ke 21 nya. Sampe sana udah jam 15.00 dan udah nyampe di part Bella and Edward's wedding (hi there, Bella Cullen!).
Ternyata dua teoriku bener :
1. Aku dan Cinday pasti bakal berbagi sebungkus popcorn (yes, I was the one who bought it because Cinday had no plan to buy it and I can't watch any movie with no popcorn there).
2. Breaking Dawn is lovey-dovey couples' forever movie. 80-90% penontonnya pasti bakal ngeboyong pasangan masing-masing.
The movie was fun and exciting. Breaking Dawn satu-satunya sekuel Twilight yang novelnya belom pernah kubaca (aku cuma sempet baca sampe Eclipse), so I was a little bit clueless about the storyline but thank God, Cinday hapal mati sama isi novelnya. Jadi, Cinday dengan berapi-api nyeritain aku detail dari setiap scene versi bukunya, dan aku bisa ngerasain beberapa orang diem-diem melototin kami yang berisik, heboh sendiri, dan bentar-bentar komentar.
But hey, girls just wanna have fun, right? ;)
Abis selesai nonton part 1 yang anti klimaks itu (sekedar bocoran, yang jadi Grown-up Renesmee nggak secantik ekspektasiku, sama parahnya kayak pengganti-cast-Victoria-yang-asli), kami langsung cabut dari 21. Aku udah mulai bingung tentang gimana caranya aku pulang nanti. Untungnya, kami ketemu sama Willi yang kayaknya lagi ngantri buat main Pump, dan dia setuju buat nganterin kami pulang.
Willi tadinya cuma mau nganterin kami ke rumahnya Cinday, tapi mendadak dia berubah pikiran dan mau nganterin aku pulang dulu. Cuma, karena miskomunikasi dan misunderstanding antara kubu aku dan Cinday sama kubu Will, kami jadi harus muterin Tepian sekitar tiga kali cuma untuk sampe dengan selamat di rumahku.
Selama perjalanan itu kami ngegosip banyak hal dan seru banget, sayangnya aku lupa contoh-contoh dari obrolan kami. Padahal, biasanya aku selalu inget sama percakapan-percakapan yang remarkable.
Aaah, intinya hari Jumat itu seru banget! Sampe detik aku nulis postingan ini pun aku masih kena euforia nya Breaking Dawn. Walaupun duitku langsung abis dalam sehabis, tapi bener-bener berasa worth it deh! And yes, I'm breaking down for Breaking Dawn! :D
Ketika kamu ngobrol bareng dua orang temen cowokmu (cowok ngomong berdasarkan logika, lan?) di bawah langit senja yang indah banget, dan mereka berdua nggak segan bertukar pikiran sama kamu.
Ketika orang yang kamu suka berinisiatif untuk menyapa kamu duluan.
Ketika kamu makan jagung bakar sambil nontonin kembang api di tepi sungai Mahakam.
Ketika kamu nyanyiin lagu "Sempurna" dan ada temen yang ngiringin nyanyianmu pake gitar.
Ketika kamu melewatkan waktu bersama adek sepupumu yang masih kecil dan paling kamu sayang dengan cara bergosip, sambil ngemil biskuit dan minum teh anget.
Ketika kamu menemukan baju yang manis dan kamu tau kalo itu cocok banget dipake sama kamu.
Ketika temenmu tau kalo kamu cinta mati sama puding dan dia ngasih itu cemilan (?) buat kamu.
Ketika kamu nggak tidur semalaman gara-gara keasyikan berdiskusi tentang "kehidupan" bareng mamamu di atas kasur, nggak peduli kalo cuma kalian berdua yang masih terjaga di rumah itu.
Kebahagiaan-kebahagiaan kecil semacam itu... yang tanpa kita sadari, justru sangat kita perlukan dalam keseharian kita.
Kalo nggak ada kebahagiaan kecil, mungkin aku udah lama menyerah dan berhenti berusaha.
Aku udah tau artinya dari jaman kelas 1 SD. High school. Gampang. Sekolah Menengah Atas, SMA. Atau yang sekarang udah berganti nama jadi Sekolah Menengah Umum--SMU.
Pride.
Kata yyy.sederet.com, artinya "kebanggaan". "Keangkuhan". "Harga diri". Waktu SD, aku pernah denger kata ini beberapa kali, tapi aku nggak pernah tau artinya sampe aku SMP. Dan akhirnya, sekarang aku bener-bener tau apa itu "pride" dalam kehidupan.
Pride itu bersifat addicting. Tapi juga membunuh. Aku baru belajar tentang kata ini di Samarinda, kota yang bener-bener asing buatku. Well, nggak se-asing itu sih, soalnya dari kecil aku udah sering liburan ke sini. Tapi ya tetep aja....... Jogja sama Samarinda? Jauuuuuh!
Jadi, apa hubungannya antara "high school" dan "pride" kali ini?
Simpel. FYI, aku udah 15 tahun (gonna post a special entry about my birthday bash anyway :D) dan tahun ini aku bakal resmi jadi MURID SMA. Sedikit interupsi, ini postingan pertamaku sebagai seorang....... pengangguran pasca SMP? Hehehehe. Soal sekolah...... alhamdullilah, aku udah diterima di salah satu sekolah yang, yah, kata orang bergengsi-banget-di sini lah. Lewat jalur PMDK. Nggak, aku nggak lagi nyombong kok, santai aja.
Nah, selama di Samarinda, aku udah pernah ngeliat dan ngerasain langsung berbagai macam pride di sini. Tapi kalo yang namanya "high school pride", ini (pastinya) bener-bener yang pertama kalinya. Kayak yang udah kutulis di atas, high school pride itu addicting. Tapi juga membunuh. Waktu SMP, aku udah pernah ngalamin junior high school pride (nggak beda jauh sih...), tapi, serius deh, pride yang itu nggak se-mengerikan ini!
Kalo kita salah pilih TK, kita masih bisa memperbaikinya di SD. Kalo kita salah pilih SD, kita masih bisa memperbaikinya di SMP. Kalo salah pilih SMP? Insya Allah masih bisa diperbaiki di SMA. Tapi, kalo salah pilih SMA? Memperbaiki di universitas? Udah telat, kan? Bukannya orang dewasa selalu menerapkan aturan "SMA = universitas = jawaban dari masa depan kita"? Alias kalo SMA jelek, terus dapet universitas jelek, masa depan cerah bakal sulit dateng?
Jangan nge-judge apakah aturan di atas itu benar atau salah adanya. Karena aku pun sendiri nggak tau, namanya juga aku masih....... baru-mau-masuk-SMA. Tapi, selama ini, orang-orang dewasa di sekitar aku selalu ngasih aturan yang sama. Mereka selalu ngucapin hal yang sama.
"Kamu harus dapet SMA bagus, Non. Jadi gampang masuk universitas yang bagus. Dan kemungkinan punya pekerjaan bagus pastinya bakal jadi lebih besar lagi."
Sekali lagi, orang dewasa yang menetapkan aturan semacam itu bukan cuma ada satu atau dua aja loh. Aku kenal banyak orang dewasa yang berprinsip kayak gitu, walaupun mungkin beberapa di antara kalian yang lagi ngebaca postingan ini berpikir, "orang-orang itu dangkal banget sih". Terserah kalian mau mikir apa, yang penting jangan salahin aku. Karena aku cuma semacam korban dari aturan itu :p
Nah, balik lagi ke topik awal. Dengan aturan yang udah pasaran semacam ini lah, anak-anak seusiaku (seenggaknya yang aku kenal) banyak yang kena sindrom "high school pride" tingkat akut. Mereka yang berhasil masuk ke sekolah ultra-keren-bangetngetnget bakal jadi orang-orang yang disanjung. Mereka yang "gagal"? Bakal dicap "LOSER" sama orang-orang.
Bisa dibilang, salah satu temen deketku termasuk di dalam kategori yang terakhir itu. Bukannya apa-apa, menurutku dia cuma kurang hoki aja (luck does matter loh waktu ikutan PSB). Sayangnya, semua orang udah terlanjur menggolongkan dia sebagai "another loser". Bahkan, bisa dibilang.......... keluarganya sendiri. Orang-orang yang seharusnya jadi orang pertama buat menghibur dia.
Akhirnya? Dia memutuskan buat tetep masuk ke sekolah yang mau nerima dia itu. Tapi, dia nggak bakal lama di sana. Dia bilang, dia bakal pindah ke sekolah lain (yang notabene, ehem, sekolahku) dalam waktu kurang dari enam bulan. Dan, ternyata, banyak orang lain yang juga punya planning semacam ini. Bertahan di suatu sekolah selama beberapa bulan, dan akhirnya pindah ke sekolah incerannya diawal.
Orang tuaku nggak suka hal-hal semacam ini. Mama bilang, kalo itu terjadi sama aku, Mama ga bakal mindahin aku dsb. Mama bilang, aku harus diajarin bertanggung jawab atas apapun yang terjadi karena aku. Kenapa "karena aku"? Soalnya, NEM-ku emang jelek (banget), dan, yah....... faktor hoki emang does matter, tapi paling cuma 10-20% doang.
Mama bukannya ngomong gitu karena aku termasuk orang yang beruntung. Bukan karena kami nggak ngalamin hal semacam itu. Hal kayak gini pernah terjadi sama aku kok. Aku dilempar, ditendang dan nggak diterima sama 2 sekolah favorit waktu di Jogja dulu. Dan akhirnya aku masuk ke salah satu sekolah yang favorit juga sih, tapi tetep aja itu termasuk di bawah standar awalku.
Toh, akhirnya keluargaku nggak mindahin aku segala macem. Mereka kecewa sama aku, sama kayak aku kecewa sama my bad luck. But, that's all. It doesn't mean they would do anything to get me in to those schools. Kalo emang itu jalannya, kenapa kita harus "mangkir"? Dan akhirnya, aku ended up sayaaaaaang banget sama sekolahku di Jogja itu. Nggak ada lagi kata "di bawah standar". It has been my forever TOP class even until now :) shout out to my former school, the amazing SMPN 6 Yogyakarta! Kudos to you!
Soal high school pride, Mama termasuk di antara sekian dikitnya jumlah orang yang nggak terpengaruh sama itu sindrom. Mama orang asli sini. Tapi Mama nggak pernah berambisi buat masukkin aku ke sekolah yang sekarang, like what everyone does. Mama nggak pernah nyuruh aku buat masuk ke sekolah tertentu. Justru Mama termasuk orang yang aneh. Mama pernah bilang ke aku :
"Selama di Samarinda, menurut Mama semua sekolah itu sama. Mama nggak perlu ngeforsir kamu untuk sekolah dimana pun, karena ini Samarinda."
Aneh kan? Padahal orang lain sibuk nyuruh anaknya masuk sekolah A, sekolah B, sekolah C. Ada juga yang masih nyuruh anaknya ikut les privat ini-itu, padahal semua ujian sekolah udah kelar dan mereka ngelakuin hal itu demi anaknya bisa lulus ujian masuk sekolah (dan ternyata tahun ini PSB di Samarinda mulai pake NEM! Kasian temenku D:). Tapi Mama beda. Padahal Mama orang sini, orang yang harusnya udah punya ambisi itu mendarah-daging :p
Jadi, intinya........... high school pride itu adalah hal yang sangat BESAR dan LUMRAH di Samarinda. Kota lain juga pasti punya high school pride. Tapi menurutku, high school pride levelan di sini bener-bener undeniable, incredible, a creepy one. Karena derajat orang aja bisa dibedain dari "asal sekolah".
Dan semoga, aku ga akan pernah kena sindrom ini sampe tingkat akut. Apalagi kalo sampe nyela orang dari sekolah lain. Amin. Because we would never know. "Influence nya lingkungan" itu lebih dari sekedar kata ataupun kalimat.
By the way, happy late birthday to myself! :D Dan alhamdullilah karena so far, semuanya berjalan sangat lancar. Semoga ke depannya pun begitu, amin! Semoga my upcoming high school years are gonna be a fun ones!
Terima kasih banyak buat SMPN 1 Samarinda dan SMPN 6 Yogyakarta yang udah ngajarin aku banyak hal; terutama fakta bahwa teenage life itu nggak sesimpel kedengerannya. Terima kasih buat bapak-ibu guru untuk tiga tahunnya yang berharga. Nggak ada ilmu yang nggak berguna, betul begitu kan, Pak, Bu? :) Dan terima kasih juga buat temen-temenku semuanyaaaaa, mulai dari my amazing friends waktu kelas 7 di Jogja, sampe my wonderful, gokil, awesome friends dari kelas 8 sampe kelas 9 di Samarinda. Cuma Spansa yang bisa nyewa dan nguasain satu ASTON plus ngundang SM*SH buat perpisahan sekolah yang berkedok prom night, kan? ;D
Yeah, I'm back! And yup, I've changed my blog's layout :) I know a lot of people use this layout, but I can't handle it lol, I still want this layout as my blog's layout! I haven't done a lot of things... still need to change the icons, relink all of you, add some songs, and of course reply your chatties. Well, wish me luck for doing these things, okay? ;)
Anyway, it's official! I've made an Indonesian forum for SunFany, and it's here~
www.2Nyted.ipbfree.com
Yup... I know, it's bad and too plain. But the good news is, we're currently finding for tech admins and graphic designers! Interested? Then go for it :D
Huff... belakangan ini tenagaku bener-bener terkuras. Baru aja selesai ngerjain mid tes, eh aku malah disuruh dimintain tolong sama guruku buat jadi pager ayu nikahan anaknya. Well, since I didn't have any schedules, I accepted it lol :)
Silly huh? Ribet sih, karena harus bangun pagi-pagi dan berangkat subuh dari rumah. But it was awesome, though. Ada saat-saat dimana rambutku jadi kayak pohon waktu disasak, ada awkward moments waktu aku baru ketemu sama Puput dan Dini (karena sebelumnya aku ga kenal mereka), ada saat-saat dimana aku ketiduran gara-gara ngantuk banget, ada saat-saat dimana aku dituduh mojok sama Rizal gara-gara aku duduk berduaan sama dia (please, dia lagi main Snakes di hapeku dan aku lagi ketiduran waktu itu -,-), ada saat-saat memalukan waktu ngedenger Anom nyanyi, ada saat-saat pengen nimpuk muka Erwin sama Gugun pake heels (hehehe peaceeee), ada saat-saat rasanya pengen pingsan waktu diajarin 'cara jalan yang baik' dan terpaksa menderita gara-gara harus berdiri lama (dengan HEELS), dan ada banyak momen-momen yang ga terlupakan hingga detik ini :) (ku-cut demi alasan biar kenangan-kenangan itu jadi our very own memories hehe) I love you guys!
Bisa dibilang kami stay dari jam 6 pagi sampe jam 3 sore. Jam 3 sore acaranya udah selesai dan kami balik ke rumah guru kami. Di sana, rumah nya Bu Guru berasa jadi rumah kami sendiri huahahaha. Puput, Gugun, sama Erwin udah pulang duluan, jadi nyisa aku, Tya, Anom, Rizal, sama Dini. Anom sama Rizal mah enak aja, tinggal buka sana buka sini selesai deh. Lah kalo kami, para cewek? Harus lepas jarik lah, kebaya lah, konde lah, dan sebagainya!
Baru aja selesai ganti baju, konde Tya langsung dilepas paksa dengan naasnya oleh si Rizal. Nggak lama kemudian, Anom ikutan ngelepasin sanggulnya Tya. Begitu selesai sanggul Tya dilepas, sanggulnya Dini jadi incaran mereka yang selanjutnya. Awalnya aku nggak mau ngelepas sanggulku, takut ketawan betapa berantakannya rambutku. Tapi... akhirnya aku tergoda juga buat ngelepas sanggulku. Alhasil, sanggulku dilepas oleh warga sekampung hahaha (baca : Tya, Anom, Rizal, Dini, Bella). Percaya atau nggak, Rizal yang banyak disukain cewek itu adalah yang paling telaten dalam hal ngelepasin konde!
Okay, selesai ganti baju dan lepas konde, kami semua tiduran di atas lantai sambil ngadem depan kipas angin. Berhubung lantainya luas, otomatis pose kami jadi nggak beraturan. Yang pasti, urutan awal posisi kami itu (dari kiri ke kanan) : Rizal-aku-Dini-Anom-Tya. Berhubung Puput tiba-tiba nelpon dan kondisi memaksaku buat ngambil hape di tas (halah), urutannya berubah lagi jadi Rizal-Dini-aku-Tya-Anom. Posisi yang ini better karena berarti di kanan-kiriku itu cewek hehehe.
Nah, bagian-bagian selanjutnya mending kuskip aja yaaaaa hehehe :D Bisa dibilang aku lagi males ngetik kekeke :p yang pasti, kesibukanku belakangan ini adalah :
1. Aku jadi moderator di divAS aka www.divadetention.com :D yup, salah satu forum internasionalnya After School ;) please join yaaaaa... dan nicknameku di sana itu "tiffanytiffyn" ;) jangan lupa sapa aku, okay? Hehehe 2. Ngurusin 2Nyted pastinya. Alamatnya : www.2Nyted.ipbfree.com 3. Aku berkolaborasi sama my beloved oppa, Aldi, buat bikin fanfic yang berjudul Love Constellation. Fanfic ini sangat istimewa buat aku, karena ini pertama kalinya aku berkolaborasi sama seseorang buat bikin suatu fanfic, dan juga fanfic ini cukup unik karena ditulis dari dua POV (Point of View) yang berbeda, yaitu dari POV cewek dan POV cowok :) 4. Semi hiatus on Soshindo, semi hiatus on Twitter, already on hiatus di Soshified. gonna miss you all, guys! divAS butuh dirawat ASAP hehehe :D 5. Tiffyn (aku sama Ina) pengen tampil di perpisahan nanti, pastinya ngecover beberapa lagu kpop dong... (most likely sih lagu-lagunya SNSD) :D
Well, itu dulu deh buat postingan kali ini hehehe. Tenang Octopuses, aku bakal berusaha kembali sering blogging kok ;) Kekekeke
Hey pals! Ups, I mean... octopuses. Yup, started from today, I'm going to call you all "octopuses", not "pals" anymore! Hihi :) take it easy okay? ;)
Okay, maybe you're wondering the reason why did I choose that title for this post. Aku sendiri juga bingung kenapa milih judul itu. Well, mungkin karena dalam postingan kali ini bakal ada hal-hal yang menyenangkan, sekaligus menyedihkan buat aku. Then, let's start this post from the "giggles" side first! ^^
Belakangan ini aku nyadar, kalo ikutan mading di Spansa udah menciptakan berbagai kegilaan tersendiri buat aku. Di postingan sebelumnya aku udah cerita kan, kalo aku sampe kena banjir waktu ngurusin mading? Nah, lagi-lagi aku ngalamin kejadian yang buatku nggak terlupakan gara-gara ngurusin mading, hehe.
Jadi, kemaren (hari Sabtu) ada pengasapan di sekolahku. Biasalah, karena musim hujan, nyamuk-nyamuk semakin mengganas dan berkeliaran dimana-mana. Makanya sekolahku ngadain pengasapan besar-besaran. Terus, apakah kejadian yang nggak terlupakan itu?
Nah, kemaren aku mau nempelin mading sama Ina (belum sempet ditempel hehe). Harusnya kami berdua nempelin tuh mading bareng anak-anak mading yang lain. Tapi anak-anak kelas 8A pada latihan buat upacara Senin, sementara anak-anak kelas 8D... hmm, kemaren aku jarang ketemu sama anak-anak 8D. Jadi, karena aku sama Ina nggak ada kerjaan, kami putuskan buat masang mading saat itu juga (mumpung nggak ada pelajaran karena ada pengasapan).
Pas baru mau masang mading, kami berdua baru inget kalau... madingnya ada di kelas 8A!! Oh crap! Kami bisa aja sih ngambil tuh mading di kelas 8A, terus langsung masang madingnya. But, guess what? Kelas 8A baru aja diasapin sama petugas-petugasnya. I mean, 8A lagi diasapin sama para petugasnya.
Sebenernya, kalau mau dipikir ulang, kami bisa nunggu asap di kelas 8A hilang. Cuma, mengingat kelas kami, 8F, yang udah diasapin dari beberapa waktu yang lalu tapi asapnya belum hilang... kayaknya tuh mading bakal keburu lumutan kalau nggak diambil saat itu juga.
Nah, berbekal jaketnya Shera, aku sama Ina nekat naik ke kelas 8A yang ada di lantai dua. Biarpun nggak tahan sama asapnya yang bikin aku pusing, kami tetep naikkin tangga dengan sangat-amat-sangat pelan. Mau gimana lagi? Asapnya pekat banget! Kalau nggak hati-hati, kami bisa kepeleset.
Oke, kami berhasil sampai di lantai dua. Misi kami berikutnya adalah: masuk ke kelas 8A yang ada di ujung koridor. Great then, hahahaha, aku ketawa garing dalem hati.
"Nonaaaa, yakin nih kita mau lanjut?" Ina udah ragu buat ngelanjutin perjalanan jauh. Sebenernya aku juga males banget buat ngelanjutin perjalanan, secara asap pekat udah menuhin koridor, dan bikin aku pusing banget. Tapi, kayaknya kok nanggung banget buat nyerah ya? Makanya, kami putuskan buat tetep nekat.
Aku sama Ina mulai jalan pelan-pelan. Buset, koridor udah dipenuhin sama asap super pekat. Rasanya koridor gedung itu udah dipenuhin sama kabut-kabut di Persona 4. Eh iya, aku sama Ina berasa masuk ke dalem game Persona 4 deh! Hihi. Seru, seru!
Wah, seru bangeeeeet!, aku, yang emang adrenaline junkies, sempet-sempetnya kepikiran kayak gitu. Sok abis mikir tuh kejadian seru, padahal kepala udah pusing setengah mati, dan tenggorokan serasa kebakar.
Awalnya aku mikir seru, tapi lama kelamaan berasa horor juga. Gimana nggak? Kami ada di dalem koridor yang panjang, yang nggak ketawan "apa" yang ada di depan kami karena pekatnya asap. Apalagi cuma ada tiga orang di gedung ini; yaitu aku, Ina, sama satu anak laki-laki yang udah masuk lebih dulu dengan penuh semangat dan ninggalin kami jauh di belakang.
Dan, pas aku sama Ina sibuk nutupin hidung + mulut pake jaketnya Shera, tiba-tiba....
"HWAAAAAA!" anak laki-laki barusan teriak sambil lompat ke depan kami. Ckck, saking pekatnya asap, aku sama Ina nggak bisa ngeliat kalau dia sempet lari ke arah kami. Tiba-tiba aja dia lompat dari pekatnya asap dan berdiri di depan kami. Then, some minutes later, I saw his blushes. Yup, kayaknya dia salah ngira deh. Mungkin dia kira, aku sama Ina itu temen-temennya, terus dia ngagetin kami. Aku sama Ina langsung bertukar pandang, mikir betapa najisnya tuh cowok.
Berbekal rasa malu, tuh cowok langsung lari nurunin tangga. Great, kali ini kami bener-bener cuma berdua di gedung itu.
Setelah jalan beberapa lama, kepekatan asapnya berkurang sedikit, jadi kami bisa ngeliat jauh ke depan. Nobody, I mean, "nothing". Karena udah nggak tahan lagi dan mulai ngerasa sesak napas, kami langsung lari masuk ke kelas 8A.
Yeah, jendelanya kebuka!, cuma itu yang pertama kali kupikirin waktu masuk ke kelas 8A. Ina langsung ngecek lemari tempat dia nyimpen mading, sementara aku langsung lari ke arah jendela deket lemari barusan. As I said, jendelanya kebuka. Walaupun masih dikelilingin asap, tapi setidaknya masih ada sedikit udara seger dari tuh jendela. Makanya aku langsung ngecharge paru-paruku. Hmmm... rasanya pusingku berkurang gara-gara ngirup udara sedikit segar. Hehe.
"Ina, rasanya tenggorokanku panas deh," aku bilang gitu ke Ina yang udah ikutan ngejulurin kepalanya keluar lewat jendela. Kami berdua sama-sama ngecharge paru-paru.
"Iya, Ina juga," jawab Ina yang keliatan pucat. Kami berdua emang sama-sama lemah dibagian pernapasan sama pencernaan. Hiks.
Nah, selama ngecharge paru-paru, kami berdua ngobrolin soal betapa miripnya environment di gedung itu sama suasana di Persona 4. Ya ampun, kami berasa lagi masuk ke tuh game deh! Terus kami kembali ngobrolin soal game Persona 3 dan Persona 4 (heran, kok sempet-sempetnya ya ngomongin game ditengah kondisi kritis kayak gitu?). Dan akhirnya, kami mulai jalan keluar kelas sambil tetep ngomongin Persona's sequels.
Kami kembali jalan menyusuri koridor yang udah nggak terlalu pekat asapnya, dan kami mulai nurunin tangga. Dan, yeah, kami selamaaaaaaat!! Walaupun aku ngerasa pusing dan tenggorokanku berasa kebakar, setidaknya misi kami sukses! Hihi :) I think that was my unforgettable experience deh! ;)
Okay, that's the "giggles" side. Now, let's talk about the "tears" side.
I'm on my hiatus now! I'm going to have some tests on next week, so I won't update my blog until I've finished my tests. I'm gonna miss you so much, octopuses! ><>
Hey fellas! Sorry for the seldom updates. If you wanna keep in touch with me, you can follow my Twitter HERE ;). And finally another Indonesian post! Hehe, sorry for dissapointing you... my English is suck for these last days... so, I'm going to start this post! :D
Oke, karena aku harus cepet tidur, kuceritain dengan singkat aja yaa ;) Kisah yang menurutku nggak terlupakan ini berawal dari hari Kamis kemarin, waktu aku sama Ina terpaksa pulang sekolah super telat karena harus ngurusin mading. Yap, karena aku wakil ketua I dan Ina ketua madingnya, jadi bisa dibilang kami yang paling sibuk diantara seluruh anggota redaksi mading sekolah hehe. Dan kemarin kami pulang telat karena harus nempelin mading yang udah jadi ke tempatnya.
Waktu aku sama Ina mau ngumpulin anak-anak mading, terjadi sebuah insiden antara Ina dan Ilham, yang--yah... nggak perlu diceritain deh ya, hehe. Nah, finally, aku sama Ina nongkrong di kelas 8G bareng anak-anak mading yang tersisa (ada yang ikut try out di bimbel, ada yang udah dijemput, dsb). Sebenernya kerjaan kami udah selesai, tinggal touching sama clearing aja. Tapi karena Deden yang biasa masangin pita-pita udah pulang, terpaksa kami bekerja 2 kali lebih keras demi ngurusin pita-pita itu.
Setelah sekitar 1 jam-an, aku sama Ina ngerasa lapeeeer... banget. Maklum, waktu anak-anak mading yang lain istirahat ke kantin, kami tetep tinggal di kelas buat diskusi soal 'Kana', sekaligus ngejagain mading. Jadi kami putusin buat ninggalin anak-anak mading bentar, and finally we were going to the canteen ^^v.
And guess what? There was a deep flood!
Yup, begitu aku sama Ina turun dari lantai dua dan bersiap pergi ke kantin, kami langsung kaget gara-gara halaman sekolah kami udah kerendam banjir. Dalem, pula! Ina udah gugup-gugup gitu ngeliatin banjir yang naujubile dalemnya itu. Sementara aku malah pasang tampang najis, nahanin diri biar ga langsung nyemplung ke tuh banjir. Maklum, that was my first flood so I was so interested gitu hihi :D
Awalnya Ina udah ilfeel duluan dan semangatnya ke kantin menghilang secara tiba-tiba. Sekali-dua kali dia nanya ke aku, "Yakin kita beneran mau ke kantin?". Sebenernya aku agak males juga buat nyebur, secara aku belom ada beli sepatu dan sepatuku itemku cuma satu -,- tapi rasa laper mengalahkan semua resiko yang ada, jadi dengan cueknya aku nyopot sepatu + kaos kakiku. Ina, dengan berat hati, terpaksa ngikutin apa yang udah kulakuin hehe.
Awal-awal nyebur.... oh, okay, beberapa senti di atas mata kaki. Sambil ngejinjing sepatu, kami mulai jalan pelan-pelan menuju kantin.
Setelah beberapa saat jalan... oh crap, nih air kok makin tinggi aja?
Saat hampir sampe di kantin... damn! Banjirnya udah sebetis!
Begitu banjirnya udah nyampe betisku, Ina lebih memilih buat jalan lewat atas, which means dia harus rela kebasahan kena air ujan. Kalo aku, jujur aja lebih milih basah bagian bawah daripada harus pusing, demam, dan flu gara-gara kena air ujan. Jadi, Ina jalan lewat atas, sementara aku jalan lewat bawah sambil ngangkat-ngangkat rok nggak jelas.
Yeah, begitu sampe di kantin, aku langsung ngerasa bangga. Bangga karena udah berhasil ngelewatin tantangan yang begitu berbahaya (halah apaan sih haha). Tapi.... ngekk, kantin inceranku sama Ina kehabisan stok air panas, jadi kami nggak bisa pesen Pop Mie! Damn... -,- udah gitu kakiku mulai gatel-gatel najis gitu pula!
Akhirnya aku sama Ina muterin kantin, dan ternyata masih ada satu kantin yang buka. Dengan penuh hawa napsu (laper), aku sama Ina langsung mesen Pop Mie dua, milo anget satu, plus Susu Saya Susu Bendera (hihi bilang aja Frisian Flag napa?) rasa vanilla satu. Nyamm, that was soooo good!
Begitu selesai makan, aku sama Ina langsung balik ke kelas karena udah bertenaga. Oke, emang nothing special sih keliatannya, tapi buatku kemaren itu pengalaman yang berharga banget. Pertama kalinya aku ngadepin banjir! Hihi. Dan pertama kalinya kegatelan abis kena air (baca: air yang najis abis :p).
Hari ini?
Hari ini sih berjalan dengan damai (that doesn't mean if my problem with Kana has done) buatku. Kulewatin dengan joget-joget ala SNSD bareng Ina (dan direkam plus ditonton anak-anak sekelas), ngegambar paru-paru sebagai soal ulangan harian dari guru Biologi, belanja ini-itu di PM (Plaza Mulia), sentilan-sentilan nggak jelas dari biangnya sentilan di kelas 8F, pokoknya damai deh! Yah walaupun aku sempet ngerasa jadi fashion disaster gara-gara make jilbab yang ga matching sama gamisku sih (gara-gara itu aku jadi badmood pas baru nyampe sekolah). But I was better than someone that wore grey outfits with PINK skirt, hihi :p a lot of people said that to me ;)
Well then, I hope you had a great day too for today ;) I'm going to sleep now.
PS : I met my BFF on elementary school in Facebook today. I was going to "sigh" when I couldn't chat with Teru, but some minutes later I was screaming happily when I saw a message from my BFF. I'm proud of you, Puti :)
Sorry for the incidentally-hiatus! Akhirnya aku bisa ngupdate nih blog ^0^v Maaf banget yaaaa pals :'( khususnya buat yang belom kubales chattiesnya. Okeee, I'm going to tell you about what happened to me on the last week ;)
Hari Minggu kemarin, aku pergi bareng Ina. Sekitar jam satu siang, kami berangkat dari rumahku ke Plaza Mulia (setelah Ina ngejemput aku). Di sana, kami muter-muter nggak jelas dulu. Setelah ngerasa laper, akhirnya kami mampir ke A&W dan makan sepuasnya. Well, lebih tepatnya sampe aku kekenyangan. Akhirnya kami muter-muter lagi (nggak banyak yang bisa dilihat karena PM belom 100% jadi) dan kami putuskan buat mampir ke 61.
Lumayanlah, 61 bisa nyegerin kami lagi :D Rasanya hati jadi kinclong lagi abis ngeliat baju-baju lucu bertebaran. Nggak lupa kami ngelakuin tradisi perempuan kalo lagi mampir ke toko baju; fitting! Hmmm, lebih tepatnya sih bukan fitting baju, tapi foto-foto di dalem fitting room. Okay, it was embarassing but it was FUN too! :3 Dan yang jelas, kami ngebuat video di dalem tuh fitting room (I'm going to upload it in my facebook account).
Setelah puas menguasai fitting room sekitar kurang lebih 45 menit, kami melenggang ke J.Co. Aku pesen froyo dengan topping cha-cha, honey star, dan kacang almond. Ina pesen froyo bertopping buah-buahan plus satu hot chocolate. Lagi-lagi kami foto-foto + bikin video. Terus, habis selesai makan, kami berencana pergi ke SCP (Samarinda Central Plaza), but unfortunately Ina nggak bawa duit cukup, jadi kami mampir sebentar di rumahnya buat ngambil dompet.
Begitu sampe di SCP, kami langsung cuci mata di Stroberi. Sebagai tanda mata abis jalan-jalan, kami pengen beli sesuatu yang kembar gitu... cuma mahal. Barang-barang yang menarik hati kami adalah:
- Strap handphone kembaran dengan inisial 'T' (Tiffany) buat Nona, dan inisial 'S' (Sunny) buat Ina. - Strap handphone beda model dengan inisial 'T' (Teru) buat Nona, dan inisial 'H' (Hinata) buat Ina. - Gelang perak dengan liontin bulan, bintang, dan awan :3
The last one bener-bener menggugah hati, tapi harganya lumayan mahal. Jadi butuh waktu satu jam lebih buat mutusin barang apa yang mau kami beli. And the chosen one is... the silver bracelet. Hoooooraaay! :D
Okay, karena udah seminggu lebih, aku jadi lupa rute toko apa aja yang kami datengin. Pokoknya, kami ada nongkrong di Karisma (toko buku) lama bangeeeet, dan ngopi-ngopi di Frozen. Ina pesen pancake choco-vanilla, aku pesen pancake yang ada sausage-cheese. Nyumm!
Finally, kami pulang jam 10 malem (WOW) dan aku sampe di rumah jam setengah 11. Hmm... that was an unforgettable adventure :) I'd like to say 'THANKS!' to my bestie, Ina, once again :D
Finally I'm in a good mood for posting something! Yay! Sorry for the previous post in my bloggie; yup, that was only a quote! I didn't have any inspiration for my bloggie so I wrote that quote. But finally, I wanted to post something today!
Well, finally I got some of my exam results again. I won't post it until I know all of my exam results :3
Today I brought my netbook to school. I promised to bring my netbook for Ina. We watched 2NE1's mv from my netbook, then she took all of my SNSD's pics (I've told you that she's a huge fan of SNSD, right?). We sang SNSD's songs, and danced just like what SNSD did on their MVs. Everyone was staring at us and started yell something like "CRAZY GIRLS". That was embarassing but I used to hear it, because they were right; I'm a freak girl! *and proud about it*
One of my classmates, Rizal, did something funny and he made me LAUGH OUT LOUD. Thankies, dearest pal :D (don't think something wrong about the 'dearest' word, I just love someone that can make me laugh out loud like that--loving them as friend, okay?). He stood up on the Tya's table, then he danced like what I did. He danced like SNSD on Gee!
OMG!
I laughed out loud, just like what Ina did. I already knew that he's a kind of freakish, but I didn't know that he's as freak like that.
Maybe I should remove him from my blacklist (after he broke my lovely fan >:|). Hahaha, I still can't forget about his weird attitude! :4
I sat on his seat, near Ina's seat. Then, when I realized, he sat between me and Helmi. They were on my left side. And Ina was on my right side. I was (quite) angry when Rizal and Helmi made a joke about Jewel's mv. They said Jewel's mv was a kind of 'that' movie (please say that you know what I mean). I glared at them, and they shutted their mouth. Well, I wasn't angry at all because I'm not a fan of Jewel, though. But I just didn't like their way of thinking something. Huh, that's what boys do, right? :p (no offense)
That's one of good parts of my life today. The bad part is; someone is copycating me. Again. No offense, but I know I have a lot of copycaters until know. But this girl is really something. She's the worst copycater, after one of my bestie when I was an elementary student. Even she copied my tweet! OMG, my tweet! She copied my tweet!
Is she that uncreative so she copied my tweet?!
God, how should I face this girl? Should I glare at her, shout everything bad and leave her alone when she can make everyone hate me? Or should I shut my mouth, act like nothing happens? I can't let her copies everything for me; my style, my creations, even MY TWEET. But I don't want to make an enemy. I'm too lazy for doing it.
Please, fellas, tell me what should I do :( I let her doing everything that she wants for these long times, and she has done it A LOT. She has copied A LOT OF THINGS from me!
Thanks God it's Friday! Kayaknya tweet yang pernah nongol di trending topic di Twitter ini bener-bener 'ngena' banget deh buat aku. Yoyoi, secara aku emang selalu menyukai hari Jumat--walopun hari ini nggak 100% kusukain sih, hehehe.
Iyalah, siapa sih yang bakal seneng kalo udah waktunya buat ngadepin mid tes matematika?
Tapi, tetep aja aku seneng banget hari ini. Kenapa? Karena, hari ini tanggal 23 Oktober 2009, which means: the mid tests are over! Horeeeee! Itu artinya:
- FB, Twitter, blogging, baca online, ngaudid (maen AyoDance), dsb mulai jalan lagi - Jam belajar mulai diperlonggar lagi - dan segala kebahagiaan lainnya
YES!
Dan, bisa dibilang buat ngerayain berakhirnya mid tes, aku pergi ke Jessica Waterpark bareng Ina, Ayu, Erly, Lola, Ilham, and Yuda. Tapi, sebelum kami meluncur ke waterpark-nya, kami mampir sebentar ke rumahnya Ina--which is located in Pesona Mahakam Regency, yang notabene adalah perumahan dimana Jessica Waterpark berada. Hehe. Disana kami nyimpen barang-barang kami (aku, seperti biasa, jadi yang paling ribet) dan langsung aja kami meluncur ke Jessica Waterpark ;)
Begitu sampe di Jessica Waterpark... wuih, berasa punya kolam sendiri deh! Hehehehe. Gimana nggak? Waterpark-nya baru aja dibuka, dan kami semua adalah pengunjung pertama Jessica Waterpark buat hari ini. Jadi, mau kesana-kesini, mau ngapa-ngapain, nggak perlu antri! Dan yang jelas, sepiiiiii.......
Asik deh pokoknya :D
Duh, pengen ngetik lebih panjang lagi sih. Cuma banyak yang harus dikerjain buat blog ini. Dan maaf ya, buat pemakaian kata yang nggak enak dibaca -___- Lama nggak nulis nih, hehe.
(PS : I had to publish this post yesterday but I couldn't do it because I must off to the bed, so I posted it today :D)
Sorry for the late replieees! I was busy these days, and I didn't have much time for blogging. And my internet connection on home is quite error, and it makes me--you know--kinda lazy for blogging. But I'm going to reply your comments, don't worry :)
What did I do today? Wow, today was an amazing day for me! I took a photo session! Well then, not a 'real' photo session, I mean. My picture was captured by my friend, and even I took some poses. Hehehe.
Today I went to Dhea's house. At first, we planned to watch a movie on a cinema, but for some reasons, one of my friend--Ilham, was cancelled it. So, we went to Dhea's house--only for take some photos. Yay!
Yuda was being the photographer. He doesn't join any photography classes or photography courses, but I think he's so good. He's talented, for me ;) Sometimes Dhea was being the photographer in Yuda's place, and her result was good too. And me?
Oh, come on. You know I can't take a good photo, hehe.
I was being the model, with Shania and Ilham. Dhea did the model's role more than the photographer's role, even though she wants to be a photographer. I captured some photos with my mobile phone secretly, and I think nobody knew about it haha. But do you know what? At first, we used Dhea's digital camera. But after that, we used my mobile phone because they thought my mobile phone's result was better. Oh I was glad to hear that :D
We did the photo session around Dhea's house. There were a lot of good places around her house and we were soooooo glad! The places made our photo amazing! And I was so happy when my friends said that I had a lot of good poses. Oh, thanks so much for you all, fashion bloggers! Because I used your poses, hehe :D
Well then, I'm kinda speechless now, haha. So I think, I should end this post ;) See you tomorrow! :D
Love, LadyLo
P.S: I made a tribal-batik-dress myself! Hehe. Well, that was my first 50%-DIY-creation. I made it from a loose skirt and I love it soooo much! I wore it on the photo session and my friends said it was a cute dress! I'll tell you how to make the dress, as soon as I can. With the photos, too! Just wait for it ;)
Hey everyone! I have a new project; a new story called "Twirts"!! And I'm featuring with Dhea, one of my besties. Yippeeeee! :D We started to write it today, on a small green notebook. We planned to send it to the local publisher, but I'm not really sure about it. I'm going to finish it first, then see what'll happen next. Hehe ;)
And I'm going to tell you about the story! Yay :D
Twirts isn't the story's real name. The real name of our story is Twins' Letters, but we call it 'Twirts' for short. Why did we name it "Twins' Letters"? As I said, I'm going to tell you! :)
This story is telling about two identical twins, Kayleen Watson and Angel Trivia. Their parents were divorced when they was 2 years old. Kayleen lived with their mother, and Angel lived with their father. Unfortunately, they didn't know that they had a twin. They just knew that their parents were divorced and lived in nowhere. Kayleen hasn't met her father and didn't know how does her father look like. Even she didn't know where is her father. And so does Angel. She hasn't met her mother and didn't know how does her mother look like and didn't know where is her mother.
But lucky them, they're living in a same town. Kayleen was enrolled in Marie Agne School (Marien), a favourite only-for-girls school. And Angel was enrolled in St. Olsment, Marien's rival. Surprisingly, they became best-pen-friends for a few years without knowing that they're twins.
They usually send their letters to the Sunrise Park, a big park that connection Marien with St. Olsment. They do the 'sending letters' activity secretly because Marien's students that called 'Maries' aren't allowed to make friends with the students from St. Olsment. And St. Olsment has the same rule too.
And based from the facts that they knew, they started to think that they have a family connection, and they started to investigating about their mysterious connection. Will they know that they are twins? Will their parents married once again? Will the schools allow their students to make friends with each others?
Happy-Wednesday! :D How was your day? My day was... nothing special, actually. Hehe :D But I hope that tomorrow will be A NICE-NICE-NICE DAY! Because tomorrow is Dhea's birthday! Huuuraaaaaaay :DD
Hari ini ada mahasiswa (a-teacher-wannabe) yang PPL di sekolahku. Wait, what does 'PPL' mean? Jujur, aku nggak tau kepanjangannya. Aku cuma tau kepanjangan dari PKL (Praktek Kerja Lapangan). Jadi, apa itu PPL? Sejenis kayak PKL kali ya? Whatever lah, haha.
Mbak PPLnya bernama Endang, berkerudung, dan kalo nggak salah mahasiswa Unmul. Katanya dia asli Balikpapan, dan udah 3 taun menetap di Samarinda. Hum, whatsoever deh.
Yang jelas aku berterima kasih banget sama si Mbak-Endang-PPL yang udah singgah di kelasku, karena berkat si Mbak-Endang-PPL kami jadi batal ulangan PKn! Hahahaha, thanks God! :D Dan yang jelas, Bu Mala nggak stay di kelasku. Ehem *batuk bahagia* Bukannya Bu Mala nggak asik sih. Justru Bu Mala asik (banget), cuma ya tetep aja bahagia gitu hehe :)
Hm, pulang dari sekolah aku langsung ke Lembuswana sama Mama. Disana kami makan di KFC (pake menu Mega Deal + 1 puding besar, as usually xD). Begitu selesai makan, kami langsung ke Gramedia, nyari hadiah buat Dhea yang bakal ulang taun besoknya (as I said). Awalnya bingung banget mau ngasih apa. Tadinya mau beliin notebook, cuma ternyata Gramedia di Lembus nggak selengkap Gramed di Jogja (yang di Kota Baru itu). Masa nggak ada notebook lucu-lucu! Koleksiku bakal macet nih :(
Akhirnya aku muter-muter di lantai dasarnya. Sempet kepikiran buat beli kipas elektrik mini, secara di kelasku nggak ada kipas angin dan kayaknya bakal berguna kalo lagi kepanasan. Cuma rasanya nggak afdol aja gitu, ngasih hadiah yang mini-mini. Abis itu mau beliin cermin jam, jadi kayak cermin kecil yang bentuknya bulet gitu, tapi kalo kita pencet jamnya bakal ada jam digital di dalemnya. Keren deh :D Tapi lagi-lagi nggak kerasa afdol kalo ngasih sesuatu yang kecil. Terus aku ngeliat hadiah paling standar sepanjang masa: pigura. Walopun banyak yang lucu-lucu, tetep aja nggak ngerasa puas.
Dan akhirnya aku dapet satu kado yang bikin aku ngerasa puas. Aku beli dua. Satu buat aku, satu buat Dhea. Punyaku warna item, punya Dhea warna brunette :) Apa itu? Rahasia! Kalo kutulis disini, entar si Dhea baca. Entar nggak jadi surprise deh :p Besok aja ya kukasih tauu :D Oh iya, aku dapet bonus setelah beli hadiah buat Dhea. Aku dapet cermin warna ungu yang ada lampunya. Lucu deh! Hehehe :D Jadi inget legenda 'Cermin Ungu' yang ada di komik Nube itu. Duh -___-
Waaah, nggak sabar besok deh! Pengen cepet-cepet ke SCP bareng Dhea dll, hehe. Tapi aku harus ulangan IPS dulu... hiks :'( Ya udahlah nggak papa, hoho. Just see what'll happen tomorrow! Hmm... enough dulu yaa :D Mau minjemin modem ke Tante dulu, hehe.
Nona Soedhowo. 17. Indonesian. A pudding enthusiast by day, a space wanderer by night. A cynic, and yet can't stop believing in Peter Pan and the Neverland. Currently finding for her own way to The Hodge 301 Cluster - her very own pink cluster.
cool people
Ale | Cho | Nabila | Ninda |
Puti | Rania | Ratna | Sindy | Tan
Haloooo semua!! :D Rasanya udah lama banget nggak nulis di
sini, jadi sedih... padahal dulu jauh lebih rajin dan nyaris nulis setiap hari,
iya nggak sih? How are you, Octopuses? Things are eventually getting better
here. Much, much better.
Belakangan ini... rasanya kayak aku lagi hidup di mimpi.
Yang aku inget adalah momen-momen pas SMA dulu, selalu nempel
sama Nabila Ale Intan; kapanpun dimana pun. Entar sibuk ngerecokin bekalnya
Ale, terus diomelin Alief dan diketawain Raja sama Arif. Abis itu main ke IPA
3, datengin Ina-Nia-Catra-Dika atau siapapun yang bisa didatengin, just
because. Terus lanjut mlipir ke IPA 2, gangguin hidupnya Intan yang nggak tau
kenapa seringnya di kelas karena adaaaaaa aja yang kudu dia urusin di dalem.
Terus entar di tengah perjalanan ketemu Panjiiii. Baru akhirnya ketemu Nabila
waktu udah bel istirahat atau pas jam pulang, dan endingnya lanjut jalan bareng
rame-rame entah kemana.
Kalo mau nginget-nginget lebih jauh lagi, berarti bakal ada
momen aku-Sindy-Panji bablas main bareng sampe pagi—makan nasi kuning jam 2
pagi terus lanjut mlipir ngelewatin Unmul yang SUMPAH serem banget pas jam
segitu?? Atau pas jaman-jaman sibuk muter otak ngeluarin tenaga bikin short
movie bareng The Hippoes, yang lelahnya itu berkali-kali lipatnya bikin
Afternoon Tea. Terus, entar kalo udah malem diseret dateng ke birthday party
dan hebatnya mereka selalu berhasil bikin aku berangkat... padahal aku mager
abis, apalagi kalo lagi banyak download-an di waiting list dan wi-fi rumah lagi
kenceng. Oh, dan ada juga masanya bikin garage sale barang-barang Nabila di
pinggir jalan, yang endingnya jadi ga maksimal gara-gara aku bego banget
(hehehehe detail kejadiannya off the record ya :p) Setiap hari rasanya
selalu... apa ya? Rame? Lucu? Dinamis?
Tapi, sekarang kehidupan Nona udah nggak gitu lagi lagi.
I’ve been dreaming of going to UGM since I started remember
things, I think. Mulai dari jamannya masih rajin banget, jadi tengil, jadi
(terpaksa) rada rajin lagi... yang ada di otakku selalu sama; masuk Komunikasi
UGM, terus gedenya jadi newsanchor. Dan, percaya nggak percaya, sekarang aku
lagi ngejalanin yang pertama (yay! Alhamdulillah :D)
Prosesnya nggak gampang, jelas. Butuh rasa homesick yang
besar (super kangen sama Mama, Papa, dan Dara—my sis), air mata yang banyak,
keinginan buat nyerah-balik ke rumah-dan jadi bodo amat, rasa males banget
belajar tapi kudu dipaksain mempelajari materi, mental breakdown yang berujung
ke nyaris pingsan di rumah dan throwing a tantrum di jalan, belom lagi berbagai
macam jenis penyakit sering kambuh, setiap hari bangun dalam keadaan stres and
counting the remaining days...
Dan sekarang, setiap hari rasanya selalu ada satu hal baru
yang terjadi. Kalo dulu life lessons-nya nggak melulu langsung kentara,
sekarang semuanya jadi serba eksplisit. Dan, belajar hal baru itu selalu
menyenangkan. Belom lagi lingkungan baru yang isinya orang-orang yang selama
ini belom pernah kita tau, dan alhamdulillah mereka semua adalah orang-orang
yang menyenangkan dan unik . Like, I could already imagine living my university
life in the upcoming years all together with them :)
Rasanya kayak ajaib aja gitu, setiap kali nyadar kalo aku
lagi ngejalanin satu step kehidupan yang udah jauh berbeda dari apa yang aku
alamin sebelomnya. Buat semua yang kenal aku pasti bakal langsung tau, gimana
susahnya seorang Nona hidup sendiri... Nona yang nggak bisa apa-apa, yang
kerjaannya sakit, gampang ngerasa under-pressure, mikirnya kelamaan, sekarang
kudu survive seorang diri di sini. Tapi, setiap halangan yang terjadi di sini,
rasanya selalu menyenangkan. Mungkin karena emang ini kehidupan yang aku
pengenin—balik lagi ke Jogja setelah bertahun-tahun berjuang di Samarinda
supaya bisa balik ke kota kelahiran, dan akhirnya kejadian juga—jadi semua yang
terjadi di sini bisa aku terima. Like, aku jadi mikir; emang ini yang aku mau,
dan inilah konsekuensi yang harus aku hadapin. Dan aku ikhlas dalam menghadapi
semuanya.
Sekarang selalu ada kesempatan buat ketemu sama orang baru,
atau bahkan sekalian ketemu sama temen-temen lama dari jaman SD atau SMP yang
dulu, dan lama-lama mulai bisa nginget lagi hal-hal yang entah kenapa mendadak
hilang dari ingetanku begitu aku pindah ke Samarinda, and no matter how hard I
tried, those things wouldn’t come back into my brain and I ended up failing at
recognising things. Dan yang lebih ajaib lagi, jalanan yang dulu biasa aku
lewatin waktu kecil bareng orang tuaku, sekarang aku lewatin lagi sama
temen-temen SMA yang asalnya dari pulau yang lain dan kalo dipikir-pikir lagi
dulu, logikanya nggak mungkin pada bakal bisa lewat situ, bareng aku pula.
Jadi, tujuan dari aku nulis postingan ini adalah, aku pengen
buat semua temen-temen yang ngebaca tulisan ini dan merasa lagi ada di helpless
state untuk nggak berhenti berjuang dan terus percaya, things will eventually
get better. It will get better, at last. Aku dulu juga pernah mikir, that
things couldn’t get any worse than this, that I was stuck in an inevitable
rotten situation and I didn’t deserve any kind of kindness in this world. Tapi
toh, alhamdulillah aku tetep berhasil sampe di fase ini, still alive and
stuffs. Yang penting adalah selalu percaya bahwa Allah itu ada, Allah nggak
tidur dan selalu melindungi kita. Dan betapa mudahnya bagi Allah untuk
memutarbalikkan dunia kita. Mungkin belum sekarang, tapi nanti. Ada saatnya,
dan saat itu bakal tiba, selama kita mau tetap bersabar dan berjuang.
Dan, percaya deh, waktu saat itu tiba, kamu bakal bersyukuuuuuuuur
banget dan semua hal jadi terasa menyenangkan :)
Jadi, semangaaattttt dan jangan menyerah dulu, ya. Allah
sayang sama kamu, sama kita semua, dan Allah pasti selalu menyimpan kebaikan
untuk setiap makhluk-Nya. Kita semua bisa sampe di sini karena Allah, dan bukan
nggak mungkin bagi Allah untuk membawa kita ke tempat yang lebih, lebih baik
lagi. Setiap orang punya tempatnya sendiri kok di dunia ini ;)
Oh iya, dan buat beberapa temen yang in case lagi baca
postingan ini, aku bener-bener berterima kasih banget udah punya kalian dalam
hidup ini. Terima kasih sekali untuk Ale, Intan, Nabila, Alief, Raja, Arif yang
bikin masa SMA selalu jadi indah dikenang. Buat Ina, Kenken, dan Nia yang
sabarnya luar biasa dalam ngadepin Nona. Buat Cho sama Danang, yang nggak
pernah capek dan selalu ada buat Nona, nggak peduli seberapa besar jarak
misahin kita. Buat Puti, Balqiz, Nuri, Fifi, Adam, Zaki atas masa kecil yang
super bahagia. Buat Sindy, Panji, Amma, dan temen-temen OSIS lainnya atas waktu
yang bermanfaat dan pengalaman yang berharga banget. Buat semua temen-temen les
dan kegiatan selama ini yang nggak mungkin kusebutin satu-satu, terima kasih
banyak udah bikin kehidupan di luar sekolah jadi super menyenangkan dan selalu
ditunggu-tunggu! Terus buat semua temenku dari jaman kecil sampe sekarang, orang-orang
yang pernah aku temuin dalam hidup ini; setiap orang punya artinya
masing-masing di hati Nona dan kamu juga salah satunya. Terima kasih banyak
yaaaa! :D
Dan special thanks buat anak-anak YUHU; Intan Agil Catra Dika
Diko Haryo, terima kasih banyak karena udah selalu ada buat Nona di sini. Kalian
bikin tempat aku tumbuh besar, yang sesaat sempet kerasa asing ini, jadi jauh
terasa seperti rumah. Makasi banyak ya, walaupun aku sering dikerjain aku tetep
sayang kalian kok heheheheh.
Bismillah, insya Allah Nona siap ngejalanin hidup yang baru:)
Sometimes, there are times when you have some doubts towards yourself. A kind of thought that makes you feel like, you're not doing the right thing. It's normal to feel such a thing. But no one can deny that it's somewhat painful to do over yourself. However, the worst feeling is the one when you have doubts over your bestfriends.
Or maybe, people that you thought they WERE your bestfriends.
Hubungan-hubungan yang, katanya, long-lasting semacam persahabatan seharusnya nggak perlu semacam deklarasi tertentu. True bestfriends don't say "we are bestfriends now" to each other. It's just we feel like doing it. Tanpa sadar, kita selalu menghabiskan waktu dengan orang-orang itu. Cerita macem-macem ke mereka. Merasa definisi sesungguhnya dari "quality time" adalah ketika kita melewatkan waktu bareng mereka. Time flows, dan waktu kita sadar, dengan sendirinya kita udah menganggap mereka sebagai sahabat kita. Nggak perlu peresmian. Nggak perlu segala ikrar.
Tapi, yang paling menyakitkan adalah saat dimana TERNYATA mereka nggak merasakan hal yang sama ke kita. Oke, kita nganggep mereka sahabat. Gimana kalo ternyata ini cuma one-sided friendship? Disaat kita mengagung-agungkan mereka sebagai so-called-BFFs, mereka justru sama sekali NGGAK masukkin kita ke "daftar sahabat" nya. Yang lebih parah lagi, gimana kalo mereka menganggap kita sebagai sahabatnya, tapi mereka sama sekali nggak bersikap seperti how a bestfriend should act?
Mereka ngelakuin hal dari A sampe Z dengan mengatasnamakan kebaikan mereka. Prinsip mereka, "aku ngelakuin semua ini demi kebaikanmu, biar kamu seneng". Padahal, sebenernya semua itu cuma untuk kepuasan mereka semata. Dan bodohnya kita, as a loyal bestfriend, mau-maunya ngikutin omongan mereka?
This is bad. I have doubts over my so-called bestfriends. They DO backstab me. They talk behind me, and I've seen the proofs before. It hurts, hurts so bad until I can't stop thinking about it for the whole days. I spent the nights for thinking about my faults, but still - I couldn't find the EXACT thing which made them doing such a cruel thing to me. Why they did this to me? How long it's been since the very first time they started hating me? I don't even know whether "hate" is the perfect word or not, but one thing that I know; if they REALLY love me, they wouldn't do anything like this, right?
This isn't the first time. But I thought all of us already started a brand new page of our friendship. No matter what they do, I can't do anything but only forgiving them. Why they couldn't do the same thing to me? I'm sorry for hurting you. For making you uncomfortable with my behaviour. But if you have any unspoken words, why don't you just tell me directly instead of backstabbing me?
Now it feels like Bon Iver's Skinny Love:
Who will love you?
Who will fight?
Who will fall far behind?
Bohong kalo mereka bilang mereka nggak mau nyakitin perasaanku dengan berkata jujur. Kalo mereka bener-bener berniat baik, mereka pasti bakal ngomong langsung ke aku. Bukannya nunggu aku sadar sendiri. Bukannya ngomongin aku dari belakang.
Ini semua salahku yang udah ngelanggar prinsipku sendiri; untuk nggak sepenuhnya percaya sama orang lain. Untuk nggak pernah bersandar sama orang lain. The world is giving its judgement towards me. So I guess I have to come back to my oldself; the one who will never, ever believe in another person.
Maaf, maaf banget udah nyakitin kalian semua - meskipun sampe saat ini aku nggak tau apa yang bikin kalian bertindak sejauh ini. Bahkan walaupun kalian mau bilang "itu udah bulan Januari lalu kok, sekarang udah nggak lagi"..........
Setiap orang pasti punya tempat bernaung masing-masing.
Sepasif apapun orang itu, pasti dia punya tempat tersendiri. Tempat dimana semua orang menerima dia. Tempat dimana semua orang merasa nyaman sama dia, dan begitu pula sebaliknya.
Harusnya sih begitu.
Tapi, belakangan ini... aku nggak merasa begitu. Aku ngerasa hampa, kayak ada sesuatu yang ilang. Tapi aku nggak tau apa itu. Yang pasti, aku ngerasa... aku nggak punya tempat dimana pun.
Rasanya kayak semua orang berpura-pura. Mereka bersikap seolah mereka nerima aku, sementara mereka nggak mau nyoba ngertiin aku sama sekali. Mereka nuduh aku egois, padahal mereka juga bersikap kayak gitu ke aku. Mereka selalu minta aku berkompromi sama mereka.
Tapi apakah mereka pernah mencoba buat ngedengerin suaraku?
Lama-lama, aku semakin ngerasa kalo semuanya itu palsu. Kadang, ketika semua orang bersikap seperti menerima kita dengan tangan terbuka, justru itulah saat dimana kita nggak punya tempat sama sekali.
Dan akhirnya aku sadar. Selama ini aku cuma numpang di tempat mereka. Tempat itu nggak pernah aku miliki. Sama sekali.
Sama kayak yang lain, aku juga pengen punya tempatku sendiri. Tapi nggak akan ada yang mau ngasih satu jeda buatku karena mereka semua terlalu sibuk menghakimi aku, tanpa sempat berkaca.
Dan bukannya kita sendiri yang harusnya menciptakan tempat itu?
Friday WAS such a free day. Had much fun on Friday with the one and only--Cinday (alias Sindy). Setelah hari Minggu lalu aku gila-gilaan sama dia dan yang lainnya (baca : Miti aka Mita, Belbo aka Bella, Odi, Kak Omen, dan Yuda plus Dimas--kalo mereka bisa ikut diitung), hari Jumat kemaren pun aku dan Cinday kembali mengguncang Samarinda Central Plaza.
Hari Jumat kemaren ada premiere the famous Breaking Dawn di 21 (and, yes, Samarinda MASIH belom punya XXI atau apapun itu). Aku udah napsu banget buat nonton premiere nya dari jauh-jauh hari. Mengingat aku nggak sempet nonton Harry Potter (such a pity, huh?), kayaknya premiere Breaking Dawn merupakan pelampiasan yang cocok banget.
Sayangnya, nggak ada yang segila aku untuk berani nekat ke 21 masih dalam keadaan berseragam. Hari Kamis aku udah ngajakkin Cinday, dan dia bilang dia udah banyak diajakkin yang lain buat nonton itu film.
Ternyata, Cinday yang baru balik ke sekolah abis selesai ngedatengin festival film something ketemu aku Jumat siangnya. Waktu itu aku udah desperate banget karena nggak ada yang mau nemenin aku nonton Breaking Dawn hari itu juga... padahal aku udah bawa semuanya (minus baju ganti).
Jadi, ya udah, terjadi lah percakapan yang somehow berasa sinting di telingaku itu :
Me : "Nday, Breaking Dawn yuk?"
Cinday : "Ayo!"
Me : "Ayo!"
Cinday : "Ayoooo!"
Me : "Sekarang?"
Cinday : "Iya, sekarang."
Me : "Serius? Aku udah bawa duitnya nih."
Cinday : "Iya! Aku juga bawa."
Setelah mencoba ngajakkin yang lain (dan percuma aja, karena tetep nggak ada yang se-nekat kami), maka dimulailah perjalanan nekat berbekal pemikiran semacam apakah-kami-bakal-dilarang-masuk-ke-21-secara-kita-masih-pake-seragam dengan duit seadanya dan angkot warna merah.
Sampe di SCP nya sih masih aman-aman aja. Di pintu masuk kami sempet disuruh ngancingin jaket masing-masing, tapi kami tetep diizinin masuk ke dalem. Dan begitu masuk ke 21 nya... baru deh dramanya terjadi.
The security told us to change our clothes. Bahkan untuk masuk sekedar beli tiketnya pun nggak boleh. Kami sempet berencana buat FREAKING beli t-shirt seadanya di lantai bawah, tapi kami disuruh ganti sampe ke rok-rok kami segala dan nggak mungkin kan kami harus beli bawahan baru juga?
Tadinya kami sempet nyaris ngebatalin planning masing-masing dan berencana buat ngabisin sisa waktu yang ada dengan main Pump di game center, tapi kok rasanya anti-klimaks gitu ya? Bukannya ngerasa down, kami malah semakin tertantang buat bikin itu security K.O.
Akhirnya, kami balik naik angkot ke... rumah Cinday. Buat ganti baju. JRENG!
Sayangnya, semuanya nggak berjalan semudah pikiran kami. Sampe di rumah Cinday, masalahnya nggak langsung selesai. Ukuran badan Cinday sama aku itu... jauh banget. Dia kurus dan baju-bajunya kecil semua, sementara aku semacam curvy dan nggak mungkin muat deh pake koleksi jeans nya dia.
Jadi, setelah dua kali ganti celana dan tiga kali ganti baju... endingnya aku make baju mamanya (koleksi baju mamanya bagus loh, ultra update dan sangat nggak ibu-ibu) dan jeggings nya yang, sejujurnya, sangat menyiksa karena bener-bener ketat banget di aku. Oh iya, dia juga minjemin aku kalungnya yang classy plus tas selempang Versace lucu yang nggak pernah dia pake semenjak KW-an nya beredar luas di pasaran (note dari mamaku : jangan pernah beli semacam Versace, Louis Vuitton, Chanel, atau Gucci kalo nggak mau dikira beli itu barang di pasar malem pinggir jalan)
Finally, kami balik lagi ke SCP dengan angkot merah, pastinya (secara kami berdua sama-sama nggak bisa naik motor, as for me : belom fasih naik motor). Sampe di sana, kami udah deg-degan banget. Kalo sampe kami kehabisan tiket, rencananya kami bakal cursing di depan Om Security yang udah ngeluarin kata-kata manis semacam "tiketnya masih banyak kok" ke kami.
Alhamdulillah, Om Security nggak bohong. Tiket buat jam 14.45 emang masih tersisa minimal seperempatnya lah, dan itu pun kami masih bisa ngedapetin bangku yang pewe banget di row F. Berhubung masih sisa setengah jam, kami memutuskan buat having lunch dulu di KFC (kami bener-bener langsung cabut dari sekolah jam 12.00 dan ga sempet lagi makan siang).
Kami berdua makannya sama-sama lama, makanya kami telat balik ke 21 nya. Sampe sana udah jam 15.00 dan udah nyampe di part Bella and Edward's wedding (hi there, Bella Cullen!).
Ternyata dua teoriku bener :
1. Aku dan Cinday pasti bakal berbagi sebungkus popcorn (yes, I was the one who bought it because Cinday had no plan to buy it and I can't watch any movie with no popcorn there).
2. Breaking Dawn is lovey-dovey couples' forever movie. 80-90% penontonnya pasti bakal ngeboyong pasangan masing-masing.
The movie was fun and exciting. Breaking Dawn satu-satunya sekuel Twilight yang novelnya belom pernah kubaca (aku cuma sempet baca sampe Eclipse), so I was a little bit clueless about the storyline but thank God, Cinday hapal mati sama isi novelnya. Jadi, Cinday dengan berapi-api nyeritain aku detail dari setiap scene versi bukunya, dan aku bisa ngerasain beberapa orang diem-diem melototin kami yang berisik, heboh sendiri, dan bentar-bentar komentar.
But hey, girls just wanna have fun, right? ;)
Abis selesai nonton part 1 yang anti klimaks itu (sekedar bocoran, yang jadi Grown-up Renesmee nggak secantik ekspektasiku, sama parahnya kayak pengganti-cast-Victoria-yang-asli), kami langsung cabut dari 21. Aku udah mulai bingung tentang gimana caranya aku pulang nanti. Untungnya, kami ketemu sama Willi yang kayaknya lagi ngantri buat main Pump, dan dia setuju buat nganterin kami pulang.
Willi tadinya cuma mau nganterin kami ke rumahnya Cinday, tapi mendadak dia berubah pikiran dan mau nganterin aku pulang dulu. Cuma, karena miskomunikasi dan misunderstanding antara kubu aku dan Cinday sama kubu Will, kami jadi harus muterin Tepian sekitar tiga kali cuma untuk sampe dengan selamat di rumahku.
Selama perjalanan itu kami ngegosip banyak hal dan seru banget, sayangnya aku lupa contoh-contoh dari obrolan kami. Padahal, biasanya aku selalu inget sama percakapan-percakapan yang remarkable.
Aaah, intinya hari Jumat itu seru banget! Sampe detik aku nulis postingan ini pun aku masih kena euforia nya Breaking Dawn. Walaupun duitku langsung abis dalam sehabis, tapi bener-bener berasa worth it deh! And yes, I'm breaking down for Breaking Dawn! :D
Ketika kamu ngobrol bareng dua orang temen cowokmu (cowok ngomong berdasarkan logika, lan?) di bawah langit senja yang indah banget, dan mereka berdua nggak segan bertukar pikiran sama kamu.
Ketika orang yang kamu suka berinisiatif untuk menyapa kamu duluan.
Ketika kamu makan jagung bakar sambil nontonin kembang api di tepi sungai Mahakam.
Ketika kamu nyanyiin lagu "Sempurna" dan ada temen yang ngiringin nyanyianmu pake gitar.
Ketika kamu melewatkan waktu bersama adek sepupumu yang masih kecil dan paling kamu sayang dengan cara bergosip, sambil ngemil biskuit dan minum teh anget.
Ketika kamu menemukan baju yang manis dan kamu tau kalo itu cocok banget dipake sama kamu.
Ketika temenmu tau kalo kamu cinta mati sama puding dan dia ngasih itu cemilan (?) buat kamu.
Ketika kamu nggak tidur semalaman gara-gara keasyikan berdiskusi tentang "kehidupan" bareng mamamu di atas kasur, nggak peduli kalo cuma kalian berdua yang masih terjaga di rumah itu.
Kebahagiaan-kebahagiaan kecil semacam itu... yang tanpa kita sadari, justru sangat kita perlukan dalam keseharian kita.
Kalo nggak ada kebahagiaan kecil, mungkin aku udah lama menyerah dan berhenti berusaha.
Aku udah tau artinya dari jaman kelas 1 SD. High school. Gampang. Sekolah Menengah Atas, SMA. Atau yang sekarang udah berganti nama jadi Sekolah Menengah Umum--SMU.
Pride.
Kata yyy.sederet.com, artinya "kebanggaan". "Keangkuhan". "Harga diri". Waktu SD, aku pernah denger kata ini beberapa kali, tapi aku nggak pernah tau artinya sampe aku SMP. Dan akhirnya, sekarang aku bener-bener tau apa itu "pride" dalam kehidupan.
Pride itu bersifat addicting. Tapi juga membunuh. Aku baru belajar tentang kata ini di Samarinda, kota yang bener-bener asing buatku. Well, nggak se-asing itu sih, soalnya dari kecil aku udah sering liburan ke sini. Tapi ya tetep aja....... Jogja sama Samarinda? Jauuuuuh!
Jadi, apa hubungannya antara "high school" dan "pride" kali ini?
Simpel. FYI, aku udah 15 tahun (gonna post a special entry about my birthday bash anyway :D) dan tahun ini aku bakal resmi jadi MURID SMA. Sedikit interupsi, ini postingan pertamaku sebagai seorang....... pengangguran pasca SMP? Hehehehe. Soal sekolah...... alhamdullilah, aku udah diterima di salah satu sekolah yang, yah, kata orang bergengsi-banget-di sini lah. Lewat jalur PMDK. Nggak, aku nggak lagi nyombong kok, santai aja.
Nah, selama di Samarinda, aku udah pernah ngeliat dan ngerasain langsung berbagai macam pride di sini. Tapi kalo yang namanya "high school pride", ini (pastinya) bener-bener yang pertama kalinya. Kayak yang udah kutulis di atas, high school pride itu addicting. Tapi juga membunuh. Waktu SMP, aku udah pernah ngalamin junior high school pride (nggak beda jauh sih...), tapi, serius deh, pride yang itu nggak se-mengerikan ini!
Kalo kita salah pilih TK, kita masih bisa memperbaikinya di SD. Kalo kita salah pilih SD, kita masih bisa memperbaikinya di SMP. Kalo salah pilih SMP? Insya Allah masih bisa diperbaiki di SMA. Tapi, kalo salah pilih SMA? Memperbaiki di universitas? Udah telat, kan? Bukannya orang dewasa selalu menerapkan aturan "SMA = universitas = jawaban dari masa depan kita"? Alias kalo SMA jelek, terus dapet universitas jelek, masa depan cerah bakal sulit dateng?
Jangan nge-judge apakah aturan di atas itu benar atau salah adanya. Karena aku pun sendiri nggak tau, namanya juga aku masih....... baru-mau-masuk-SMA. Tapi, selama ini, orang-orang dewasa di sekitar aku selalu ngasih aturan yang sama. Mereka selalu ngucapin hal yang sama.
"Kamu harus dapet SMA bagus, Non. Jadi gampang masuk universitas yang bagus. Dan kemungkinan punya pekerjaan bagus pastinya bakal jadi lebih besar lagi."
Sekali lagi, orang dewasa yang menetapkan aturan semacam itu bukan cuma ada satu atau dua aja loh. Aku kenal banyak orang dewasa yang berprinsip kayak gitu, walaupun mungkin beberapa di antara kalian yang lagi ngebaca postingan ini berpikir, "orang-orang itu dangkal banget sih". Terserah kalian mau mikir apa, yang penting jangan salahin aku. Karena aku cuma semacam korban dari aturan itu :p
Nah, balik lagi ke topik awal. Dengan aturan yang udah pasaran semacam ini lah, anak-anak seusiaku (seenggaknya yang aku kenal) banyak yang kena sindrom "high school pride" tingkat akut. Mereka yang berhasil masuk ke sekolah ultra-keren-bangetngetnget bakal jadi orang-orang yang disanjung. Mereka yang "gagal"? Bakal dicap "LOSER" sama orang-orang.
Bisa dibilang, salah satu temen deketku termasuk di dalam kategori yang terakhir itu. Bukannya apa-apa, menurutku dia cuma kurang hoki aja (luck does matter loh waktu ikutan PSB). Sayangnya, semua orang udah terlanjur menggolongkan dia sebagai "another loser". Bahkan, bisa dibilang.......... keluarganya sendiri. Orang-orang yang seharusnya jadi orang pertama buat menghibur dia.
Akhirnya? Dia memutuskan buat tetep masuk ke sekolah yang mau nerima dia itu. Tapi, dia nggak bakal lama di sana. Dia bilang, dia bakal pindah ke sekolah lain (yang notabene, ehem, sekolahku) dalam waktu kurang dari enam bulan. Dan, ternyata, banyak orang lain yang juga punya planning semacam ini. Bertahan di suatu sekolah selama beberapa bulan, dan akhirnya pindah ke sekolah incerannya diawal.
Orang tuaku nggak suka hal-hal semacam ini. Mama bilang, kalo itu terjadi sama aku, Mama ga bakal mindahin aku dsb. Mama bilang, aku harus diajarin bertanggung jawab atas apapun yang terjadi karena aku. Kenapa "karena aku"? Soalnya, NEM-ku emang jelek (banget), dan, yah....... faktor hoki emang does matter, tapi paling cuma 10-20% doang.
Mama bukannya ngomong gitu karena aku termasuk orang yang beruntung. Bukan karena kami nggak ngalamin hal semacam itu. Hal kayak gini pernah terjadi sama aku kok. Aku dilempar, ditendang dan nggak diterima sama 2 sekolah favorit waktu di Jogja dulu. Dan akhirnya aku masuk ke salah satu sekolah yang favorit juga sih, tapi tetep aja itu termasuk di bawah standar awalku.
Toh, akhirnya keluargaku nggak mindahin aku segala macem. Mereka kecewa sama aku, sama kayak aku kecewa sama my bad luck. But, that's all. It doesn't mean they would do anything to get me in to those schools. Kalo emang itu jalannya, kenapa kita harus "mangkir"? Dan akhirnya, aku ended up sayaaaaaang banget sama sekolahku di Jogja itu. Nggak ada lagi kata "di bawah standar". It has been my forever TOP class even until now :) shout out to my former school, the amazing SMPN 6 Yogyakarta! Kudos to you!
Soal high school pride, Mama termasuk di antara sekian dikitnya jumlah orang yang nggak terpengaruh sama itu sindrom. Mama orang asli sini. Tapi Mama nggak pernah berambisi buat masukkin aku ke sekolah yang sekarang, like what everyone does. Mama nggak pernah nyuruh aku buat masuk ke sekolah tertentu. Justru Mama termasuk orang yang aneh. Mama pernah bilang ke aku :
"Selama di Samarinda, menurut Mama semua sekolah itu sama. Mama nggak perlu ngeforsir kamu untuk sekolah dimana pun, karena ini Samarinda."
Aneh kan? Padahal orang lain sibuk nyuruh anaknya masuk sekolah A, sekolah B, sekolah C. Ada juga yang masih nyuruh anaknya ikut les privat ini-itu, padahal semua ujian sekolah udah kelar dan mereka ngelakuin hal itu demi anaknya bisa lulus ujian masuk sekolah (dan ternyata tahun ini PSB di Samarinda mulai pake NEM! Kasian temenku D:). Tapi Mama beda. Padahal Mama orang sini, orang yang harusnya udah punya ambisi itu mendarah-daging :p
Jadi, intinya........... high school pride itu adalah hal yang sangat BESAR dan LUMRAH di Samarinda. Kota lain juga pasti punya high school pride. Tapi menurutku, high school pride levelan di sini bener-bener undeniable, incredible, a creepy one. Karena derajat orang aja bisa dibedain dari "asal sekolah".
Dan semoga, aku ga akan pernah kena sindrom ini sampe tingkat akut. Apalagi kalo sampe nyela orang dari sekolah lain. Amin. Because we would never know. "Influence nya lingkungan" itu lebih dari sekedar kata ataupun kalimat.
By the way, happy late birthday to myself! :D Dan alhamdullilah karena so far, semuanya berjalan sangat lancar. Semoga ke depannya pun begitu, amin! Semoga my upcoming high school years are gonna be a fun ones!
Terima kasih banyak buat SMPN 1 Samarinda dan SMPN 6 Yogyakarta yang udah ngajarin aku banyak hal; terutama fakta bahwa teenage life itu nggak sesimpel kedengerannya. Terima kasih buat bapak-ibu guru untuk tiga tahunnya yang berharga. Nggak ada ilmu yang nggak berguna, betul begitu kan, Pak, Bu? :) Dan terima kasih juga buat temen-temenku semuanyaaaaa, mulai dari my amazing friends waktu kelas 7 di Jogja, sampe my wonderful, gokil, awesome friends dari kelas 8 sampe kelas 9 di Samarinda. Cuma Spansa yang bisa nyewa dan nguasain satu ASTON plus ngundang SM*SH buat perpisahan sekolah yang berkedok prom night, kan? ;D
Yeah, I'm back! And yup, I've changed my blog's layout :) I know a lot of people use this layout, but I can't handle it lol, I still want this layout as my blog's layout! I haven't done a lot of things... still need to change the icons, relink all of you, add some songs, and of course reply your chatties. Well, wish me luck for doing these things, okay? ;)
Anyway, it's official! I've made an Indonesian forum for SunFany, and it's here~
www.2Nyted.ipbfree.com
Yup... I know, it's bad and too plain. But the good news is, we're currently finding for tech admins and graphic designers! Interested? Then go for it :D
Huff... belakangan ini tenagaku bener-bener terkuras. Baru aja selesai ngerjain mid tes, eh aku malah disuruh dimintain tolong sama guruku buat jadi pager ayu nikahan anaknya. Well, since I didn't have any schedules, I accepted it lol :)
Silly huh? Ribet sih, karena harus bangun pagi-pagi dan berangkat subuh dari rumah. But it was awesome, though. Ada saat-saat dimana rambutku jadi kayak pohon waktu disasak, ada awkward moments waktu aku baru ketemu sama Puput dan Dini (karena sebelumnya aku ga kenal mereka), ada saat-saat dimana aku ketiduran gara-gara ngantuk banget, ada saat-saat dimana aku dituduh mojok sama Rizal gara-gara aku duduk berduaan sama dia (please, dia lagi main Snakes di hapeku dan aku lagi ketiduran waktu itu -,-), ada saat-saat memalukan waktu ngedenger Anom nyanyi, ada saat-saat pengen nimpuk muka Erwin sama Gugun pake heels (hehehe peaceeee), ada saat-saat rasanya pengen pingsan waktu diajarin 'cara jalan yang baik' dan terpaksa menderita gara-gara harus berdiri lama (dengan HEELS), dan ada banyak momen-momen yang ga terlupakan hingga detik ini :) (ku-cut demi alasan biar kenangan-kenangan itu jadi our very own memories hehe) I love you guys!
Bisa dibilang kami stay dari jam 6 pagi sampe jam 3 sore. Jam 3 sore acaranya udah selesai dan kami balik ke rumah guru kami. Di sana, rumah nya Bu Guru berasa jadi rumah kami sendiri huahahaha. Puput, Gugun, sama Erwin udah pulang duluan, jadi nyisa aku, Tya, Anom, Rizal, sama Dini. Anom sama Rizal mah enak aja, tinggal buka sana buka sini selesai deh. Lah kalo kami, para cewek? Harus lepas jarik lah, kebaya lah, konde lah, dan sebagainya!
Baru aja selesai ganti baju, konde Tya langsung dilepas paksa dengan naasnya oleh si Rizal. Nggak lama kemudian, Anom ikutan ngelepasin sanggulnya Tya. Begitu selesai sanggul Tya dilepas, sanggulnya Dini jadi incaran mereka yang selanjutnya. Awalnya aku nggak mau ngelepas sanggulku, takut ketawan betapa berantakannya rambutku. Tapi... akhirnya aku tergoda juga buat ngelepas sanggulku. Alhasil, sanggulku dilepas oleh warga sekampung hahaha (baca : Tya, Anom, Rizal, Dini, Bella). Percaya atau nggak, Rizal yang banyak disukain cewek itu adalah yang paling telaten dalam hal ngelepasin konde!
Okay, selesai ganti baju dan lepas konde, kami semua tiduran di atas lantai sambil ngadem depan kipas angin. Berhubung lantainya luas, otomatis pose kami jadi nggak beraturan. Yang pasti, urutan awal posisi kami itu (dari kiri ke kanan) : Rizal-aku-Dini-Anom-Tya. Berhubung Puput tiba-tiba nelpon dan kondisi memaksaku buat ngambil hape di tas (halah), urutannya berubah lagi jadi Rizal-Dini-aku-Tya-Anom. Posisi yang ini better karena berarti di kanan-kiriku itu cewek hehehe.
Nah, bagian-bagian selanjutnya mending kuskip aja yaaaaa hehehe :D Bisa dibilang aku lagi males ngetik kekeke :p yang pasti, kesibukanku belakangan ini adalah :
1. Aku jadi moderator di divAS aka www.divadetention.com :D yup, salah satu forum internasionalnya After School ;) please join yaaaaa... dan nicknameku di sana itu "tiffanytiffyn" ;) jangan lupa sapa aku, okay? Hehehe 2. Ngurusin 2Nyted pastinya. Alamatnya : www.2Nyted.ipbfree.com 3. Aku berkolaborasi sama my beloved oppa, Aldi, buat bikin fanfic yang berjudul Love Constellation. Fanfic ini sangat istimewa buat aku, karena ini pertama kalinya aku berkolaborasi sama seseorang buat bikin suatu fanfic, dan juga fanfic ini cukup unik karena ditulis dari dua POV (Point of View) yang berbeda, yaitu dari POV cewek dan POV cowok :) 4. Semi hiatus on Soshindo, semi hiatus on Twitter, already on hiatus di Soshified. gonna miss you all, guys! divAS butuh dirawat ASAP hehehe :D 5. Tiffyn (aku sama Ina) pengen tampil di perpisahan nanti, pastinya ngecover beberapa lagu kpop dong... (most likely sih lagu-lagunya SNSD) :D
Well, itu dulu deh buat postingan kali ini hehehe. Tenang Octopuses, aku bakal berusaha kembali sering blogging kok ;) Kekekeke
Hey pals! Ups, I mean... octopuses. Yup, started from today, I'm going to call you all "octopuses", not "pals" anymore! Hihi :) take it easy okay? ;)
Okay, maybe you're wondering the reason why did I choose that title for this post. Aku sendiri juga bingung kenapa milih judul itu. Well, mungkin karena dalam postingan kali ini bakal ada hal-hal yang menyenangkan, sekaligus menyedihkan buat aku. Then, let's start this post from the "giggles" side first! ^^
Belakangan ini aku nyadar, kalo ikutan mading di Spansa udah menciptakan berbagai kegilaan tersendiri buat aku. Di postingan sebelumnya aku udah cerita kan, kalo aku sampe kena banjir waktu ngurusin mading? Nah, lagi-lagi aku ngalamin kejadian yang buatku nggak terlupakan gara-gara ngurusin mading, hehe.
Jadi, kemaren (hari Sabtu) ada pengasapan di sekolahku. Biasalah, karena musim hujan, nyamuk-nyamuk semakin mengganas dan berkeliaran dimana-mana. Makanya sekolahku ngadain pengasapan besar-besaran. Terus, apakah kejadian yang nggak terlupakan itu?
Nah, kemaren aku mau nempelin mading sama Ina (belum sempet ditempel hehe). Harusnya kami berdua nempelin tuh mading bareng anak-anak mading yang lain. Tapi anak-anak kelas 8A pada latihan buat upacara Senin, sementara anak-anak kelas 8D... hmm, kemaren aku jarang ketemu sama anak-anak 8D. Jadi, karena aku sama Ina nggak ada kerjaan, kami putuskan buat masang mading saat itu juga (mumpung nggak ada pelajaran karena ada pengasapan).
Pas baru mau masang mading, kami berdua baru inget kalau... madingnya ada di kelas 8A!! Oh crap! Kami bisa aja sih ngambil tuh mading di kelas 8A, terus langsung masang madingnya. But, guess what? Kelas 8A baru aja diasapin sama petugas-petugasnya. I mean, 8A lagi diasapin sama para petugasnya.
Sebenernya, kalau mau dipikir ulang, kami bisa nunggu asap di kelas 8A hilang. Cuma, mengingat kelas kami, 8F, yang udah diasapin dari beberapa waktu yang lalu tapi asapnya belum hilang... kayaknya tuh mading bakal keburu lumutan kalau nggak diambil saat itu juga.
Nah, berbekal jaketnya Shera, aku sama Ina nekat naik ke kelas 8A yang ada di lantai dua. Biarpun nggak tahan sama asapnya yang bikin aku pusing, kami tetep naikkin tangga dengan sangat-amat-sangat pelan. Mau gimana lagi? Asapnya pekat banget! Kalau nggak hati-hati, kami bisa kepeleset.
Oke, kami berhasil sampai di lantai dua. Misi kami berikutnya adalah: masuk ke kelas 8A yang ada di ujung koridor. Great then, hahahaha, aku ketawa garing dalem hati.
"Nonaaaa, yakin nih kita mau lanjut?" Ina udah ragu buat ngelanjutin perjalanan jauh. Sebenernya aku juga males banget buat ngelanjutin perjalanan, secara asap pekat udah menuhin koridor, dan bikin aku pusing banget. Tapi, kayaknya kok nanggung banget buat nyerah ya? Makanya, kami putuskan buat tetep nekat.
Aku sama Ina mulai jalan pelan-pelan. Buset, koridor udah dipenuhin sama asap super pekat. Rasanya koridor gedung itu udah dipenuhin sama kabut-kabut di Persona 4. Eh iya, aku sama Ina berasa masuk ke dalem game Persona 4 deh! Hihi. Seru, seru!
Wah, seru bangeeeeet!, aku, yang emang adrenaline junkies, sempet-sempetnya kepikiran kayak gitu. Sok abis mikir tuh kejadian seru, padahal kepala udah pusing setengah mati, dan tenggorokan serasa kebakar.
Awalnya aku mikir seru, tapi lama kelamaan berasa horor juga. Gimana nggak? Kami ada di dalem koridor yang panjang, yang nggak ketawan "apa" yang ada di depan kami karena pekatnya asap. Apalagi cuma ada tiga orang di gedung ini; yaitu aku, Ina, sama satu anak laki-laki yang udah masuk lebih dulu dengan penuh semangat dan ninggalin kami jauh di belakang.
Dan, pas aku sama Ina sibuk nutupin hidung + mulut pake jaketnya Shera, tiba-tiba....
"HWAAAAAA!" anak laki-laki barusan teriak sambil lompat ke depan kami. Ckck, saking pekatnya asap, aku sama Ina nggak bisa ngeliat kalau dia sempet lari ke arah kami. Tiba-tiba aja dia lompat dari pekatnya asap dan berdiri di depan kami. Then, some minutes later, I saw his blushes. Yup, kayaknya dia salah ngira deh. Mungkin dia kira, aku sama Ina itu temen-temennya, terus dia ngagetin kami. Aku sama Ina langsung bertukar pandang, mikir betapa najisnya tuh cowok.
Berbekal rasa malu, tuh cowok langsung lari nurunin tangga. Great, kali ini kami bener-bener cuma berdua di gedung itu.
Setelah jalan beberapa lama, kepekatan asapnya berkurang sedikit, jadi kami bisa ngeliat jauh ke depan. Nobody, I mean, "nothing". Karena udah nggak tahan lagi dan mulai ngerasa sesak napas, kami langsung lari masuk ke kelas 8A.
Yeah, jendelanya kebuka!, cuma itu yang pertama kali kupikirin waktu masuk ke kelas 8A. Ina langsung ngecek lemari tempat dia nyimpen mading, sementara aku langsung lari ke arah jendela deket lemari barusan. As I said, jendelanya kebuka. Walaupun masih dikelilingin asap, tapi setidaknya masih ada sedikit udara seger dari tuh jendela. Makanya aku langsung ngecharge paru-paruku. Hmmm... rasanya pusingku berkurang gara-gara ngirup udara sedikit segar. Hehe.
"Ina, rasanya tenggorokanku panas deh," aku bilang gitu ke Ina yang udah ikutan ngejulurin kepalanya keluar lewat jendela. Kami berdua sama-sama ngecharge paru-paru.
"Iya, Ina juga," jawab Ina yang keliatan pucat. Kami berdua emang sama-sama lemah dibagian pernapasan sama pencernaan. Hiks.
Nah, selama ngecharge paru-paru, kami berdua ngobrolin soal betapa miripnya environment di gedung itu sama suasana di Persona 4. Ya ampun, kami berasa lagi masuk ke tuh game deh! Terus kami kembali ngobrolin soal game Persona 3 dan Persona 4 (heran, kok sempet-sempetnya ya ngomongin game ditengah kondisi kritis kayak gitu?). Dan akhirnya, kami mulai jalan keluar kelas sambil tetep ngomongin Persona's sequels.
Kami kembali jalan menyusuri koridor yang udah nggak terlalu pekat asapnya, dan kami mulai nurunin tangga. Dan, yeah, kami selamaaaaaaat!! Walaupun aku ngerasa pusing dan tenggorokanku berasa kebakar, setidaknya misi kami sukses! Hihi :) I think that was my unforgettable experience deh! ;)
Okay, that's the "giggles" side. Now, let's talk about the "tears" side.
I'm on my hiatus now! I'm going to have some tests on next week, so I won't update my blog until I've finished my tests. I'm gonna miss you so much, octopuses! ><>
Hey fellas! Sorry for the seldom updates. If you wanna keep in touch with me, you can follow my Twitter HERE ;). And finally another Indonesian post! Hehe, sorry for dissapointing you... my English is suck for these last days... so, I'm going to start this post! :D
Oke, karena aku harus cepet tidur, kuceritain dengan singkat aja yaa ;) Kisah yang menurutku nggak terlupakan ini berawal dari hari Kamis kemarin, waktu aku sama Ina terpaksa pulang sekolah super telat karena harus ngurusin mading. Yap, karena aku wakil ketua I dan Ina ketua madingnya, jadi bisa dibilang kami yang paling sibuk diantara seluruh anggota redaksi mading sekolah hehe. Dan kemarin kami pulang telat karena harus nempelin mading yang udah jadi ke tempatnya.
Waktu aku sama Ina mau ngumpulin anak-anak mading, terjadi sebuah insiden antara Ina dan Ilham, yang--yah... nggak perlu diceritain deh ya, hehe. Nah, finally, aku sama Ina nongkrong di kelas 8G bareng anak-anak mading yang tersisa (ada yang ikut try out di bimbel, ada yang udah dijemput, dsb). Sebenernya kerjaan kami udah selesai, tinggal touching sama clearing aja. Tapi karena Deden yang biasa masangin pita-pita udah pulang, terpaksa kami bekerja 2 kali lebih keras demi ngurusin pita-pita itu.
Setelah sekitar 1 jam-an, aku sama Ina ngerasa lapeeeer... banget. Maklum, waktu anak-anak mading yang lain istirahat ke kantin, kami tetep tinggal di kelas buat diskusi soal 'Kana', sekaligus ngejagain mading. Jadi kami putusin buat ninggalin anak-anak mading bentar, and finally we were going to the canteen ^^v.
And guess what? There was a deep flood!
Yup, begitu aku sama Ina turun dari lantai dua dan bersiap pergi ke kantin, kami langsung kaget gara-gara halaman sekolah kami udah kerendam banjir. Dalem, pula! Ina udah gugup-gugup gitu ngeliatin banjir yang naujubile dalemnya itu. Sementara aku malah pasang tampang najis, nahanin diri biar ga langsung nyemplung ke tuh banjir. Maklum, that was my first flood so I was so interested gitu hihi :D
Awalnya Ina udah ilfeel duluan dan semangatnya ke kantin menghilang secara tiba-tiba. Sekali-dua kali dia nanya ke aku, "Yakin kita beneran mau ke kantin?". Sebenernya aku agak males juga buat nyebur, secara aku belom ada beli sepatu dan sepatuku itemku cuma satu -,- tapi rasa laper mengalahkan semua resiko yang ada, jadi dengan cueknya aku nyopot sepatu + kaos kakiku. Ina, dengan berat hati, terpaksa ngikutin apa yang udah kulakuin hehe.
Awal-awal nyebur.... oh, okay, beberapa senti di atas mata kaki. Sambil ngejinjing sepatu, kami mulai jalan pelan-pelan menuju kantin.
Setelah beberapa saat jalan... oh crap, nih air kok makin tinggi aja?
Saat hampir sampe di kantin... damn! Banjirnya udah sebetis!
Begitu banjirnya udah nyampe betisku, Ina lebih memilih buat jalan lewat atas, which means dia harus rela kebasahan kena air ujan. Kalo aku, jujur aja lebih milih basah bagian bawah daripada harus pusing, demam, dan flu gara-gara kena air ujan. Jadi, Ina jalan lewat atas, sementara aku jalan lewat bawah sambil ngangkat-ngangkat rok nggak jelas.
Yeah, begitu sampe di kantin, aku langsung ngerasa bangga. Bangga karena udah berhasil ngelewatin tantangan yang begitu berbahaya (halah apaan sih haha). Tapi.... ngekk, kantin inceranku sama Ina kehabisan stok air panas, jadi kami nggak bisa pesen Pop Mie! Damn... -,- udah gitu kakiku mulai gatel-gatel najis gitu pula!
Akhirnya aku sama Ina muterin kantin, dan ternyata masih ada satu kantin yang buka. Dengan penuh hawa napsu (laper), aku sama Ina langsung mesen Pop Mie dua, milo anget satu, plus Susu Saya Susu Bendera (hihi bilang aja Frisian Flag napa?) rasa vanilla satu. Nyamm, that was soooo good!
Begitu selesai makan, aku sama Ina langsung balik ke kelas karena udah bertenaga. Oke, emang nothing special sih keliatannya, tapi buatku kemaren itu pengalaman yang berharga banget. Pertama kalinya aku ngadepin banjir! Hihi. Dan pertama kalinya kegatelan abis kena air (baca: air yang najis abis :p).
Hari ini?
Hari ini sih berjalan dengan damai (that doesn't mean if my problem with Kana has done) buatku. Kulewatin dengan joget-joget ala SNSD bareng Ina (dan direkam plus ditonton anak-anak sekelas), ngegambar paru-paru sebagai soal ulangan harian dari guru Biologi, belanja ini-itu di PM (Plaza Mulia), sentilan-sentilan nggak jelas dari biangnya sentilan di kelas 8F, pokoknya damai deh! Yah walaupun aku sempet ngerasa jadi fashion disaster gara-gara make jilbab yang ga matching sama gamisku sih (gara-gara itu aku jadi badmood pas baru nyampe sekolah). But I was better than someone that wore grey outfits with PINK skirt, hihi :p a lot of people said that to me ;)
Well then, I hope you had a great day too for today ;) I'm going to sleep now.
PS : I met my BFF on elementary school in Facebook today. I was going to "sigh" when I couldn't chat with Teru, but some minutes later I was screaming happily when I saw a message from my BFF. I'm proud of you, Puti :)
Sorry for the incidentally-hiatus! Akhirnya aku bisa ngupdate nih blog ^0^v Maaf banget yaaaa pals :'( khususnya buat yang belom kubales chattiesnya. Okeee, I'm going to tell you about what happened to me on the last week ;)
Hari Minggu kemarin, aku pergi bareng Ina. Sekitar jam satu siang, kami berangkat dari rumahku ke Plaza Mulia (setelah Ina ngejemput aku). Di sana, kami muter-muter nggak jelas dulu. Setelah ngerasa laper, akhirnya kami mampir ke A&W dan makan sepuasnya. Well, lebih tepatnya sampe aku kekenyangan. Akhirnya kami muter-muter lagi (nggak banyak yang bisa dilihat karena PM belom 100% jadi) dan kami putuskan buat mampir ke 61.
Lumayanlah, 61 bisa nyegerin kami lagi :D Rasanya hati jadi kinclong lagi abis ngeliat baju-baju lucu bertebaran. Nggak lupa kami ngelakuin tradisi perempuan kalo lagi mampir ke toko baju; fitting! Hmmm, lebih tepatnya sih bukan fitting baju, tapi foto-foto di dalem fitting room. Okay, it was embarassing but it was FUN too! :3 Dan yang jelas, kami ngebuat video di dalem tuh fitting room (I'm going to upload it in my facebook account).
Setelah puas menguasai fitting room sekitar kurang lebih 45 menit, kami melenggang ke J.Co. Aku pesen froyo dengan topping cha-cha, honey star, dan kacang almond. Ina pesen froyo bertopping buah-buahan plus satu hot chocolate. Lagi-lagi kami foto-foto + bikin video. Terus, habis selesai makan, kami berencana pergi ke SCP (Samarinda Central Plaza), but unfortunately Ina nggak bawa duit cukup, jadi kami mampir sebentar di rumahnya buat ngambil dompet.
Begitu sampe di SCP, kami langsung cuci mata di Stroberi. Sebagai tanda mata abis jalan-jalan, kami pengen beli sesuatu yang kembar gitu... cuma mahal. Barang-barang yang menarik hati kami adalah:
- Strap handphone kembaran dengan inisial 'T' (Tiffany) buat Nona, dan inisial 'S' (Sunny) buat Ina. - Strap handphone beda model dengan inisial 'T' (Teru) buat Nona, dan inisial 'H' (Hinata) buat Ina. - Gelang perak dengan liontin bulan, bintang, dan awan :3
The last one bener-bener menggugah hati, tapi harganya lumayan mahal. Jadi butuh waktu satu jam lebih buat mutusin barang apa yang mau kami beli. And the chosen one is... the silver bracelet. Hoooooraaay! :D
Okay, karena udah seminggu lebih, aku jadi lupa rute toko apa aja yang kami datengin. Pokoknya, kami ada nongkrong di Karisma (toko buku) lama bangeeeet, dan ngopi-ngopi di Frozen. Ina pesen pancake choco-vanilla, aku pesen pancake yang ada sausage-cheese. Nyumm!
Finally, kami pulang jam 10 malem (WOW) dan aku sampe di rumah jam setengah 11. Hmm... that was an unforgettable adventure :) I'd like to say 'THANKS!' to my bestie, Ina, once again :D
Finally I'm in a good mood for posting something! Yay! Sorry for the previous post in my bloggie; yup, that was only a quote! I didn't have any inspiration for my bloggie so I wrote that quote. But finally, I wanted to post something today!
Well, finally I got some of my exam results again. I won't post it until I know all of my exam results :3
Today I brought my netbook to school. I promised to bring my netbook for Ina. We watched 2NE1's mv from my netbook, then she took all of my SNSD's pics (I've told you that she's a huge fan of SNSD, right?). We sang SNSD's songs, and danced just like what SNSD did on their MVs. Everyone was staring at us and started yell something like "CRAZY GIRLS". That was embarassing but I used to hear it, because they were right; I'm a freak girl! *and proud about it*
One of my classmates, Rizal, did something funny and he made me LAUGH OUT LOUD. Thankies, dearest pal :D (don't think something wrong about the 'dearest' word, I just love someone that can make me laugh out loud like that--loving them as friend, okay?). He stood up on the Tya's table, then he danced like what I did. He danced like SNSD on Gee!
OMG!
I laughed out loud, just like what Ina did. I already knew that he's a kind of freakish, but I didn't know that he's as freak like that.
Maybe I should remove him from my blacklist (after he broke my lovely fan >:|). Hahaha, I still can't forget about his weird attitude! :4
I sat on his seat, near Ina's seat. Then, when I realized, he sat between me and Helmi. They were on my left side. And Ina was on my right side. I was (quite) angry when Rizal and Helmi made a joke about Jewel's mv. They said Jewel's mv was a kind of 'that' movie (please say that you know what I mean). I glared at them, and they shutted their mouth. Well, I wasn't angry at all because I'm not a fan of Jewel, though. But I just didn't like their way of thinking something. Huh, that's what boys do, right? :p (no offense)
That's one of good parts of my life today. The bad part is; someone is copycating me. Again. No offense, but I know I have a lot of copycaters until know. But this girl is really something. She's the worst copycater, after one of my bestie when I was an elementary student. Even she copied my tweet! OMG, my tweet! She copied my tweet!
Is she that uncreative so she copied my tweet?!
God, how should I face this girl? Should I glare at her, shout everything bad and leave her alone when she can make everyone hate me? Or should I shut my mouth, act like nothing happens? I can't let her copies everything for me; my style, my creations, even MY TWEET. But I don't want to make an enemy. I'm too lazy for doing it.
Please, fellas, tell me what should I do :( I let her doing everything that she wants for these long times, and she has done it A LOT. She has copied A LOT OF THINGS from me!
Thanks God it's Friday! Kayaknya tweet yang pernah nongol di trending topic di Twitter ini bener-bener 'ngena' banget deh buat aku. Yoyoi, secara aku emang selalu menyukai hari Jumat--walopun hari ini nggak 100% kusukain sih, hehehe.
Iyalah, siapa sih yang bakal seneng kalo udah waktunya buat ngadepin mid tes matematika?
Tapi, tetep aja aku seneng banget hari ini. Kenapa? Karena, hari ini tanggal 23 Oktober 2009, which means: the mid tests are over! Horeeeee! Itu artinya:
- FB, Twitter, blogging, baca online, ngaudid (maen AyoDance), dsb mulai jalan lagi - Jam belajar mulai diperlonggar lagi - dan segala kebahagiaan lainnya
YES!
Dan, bisa dibilang buat ngerayain berakhirnya mid tes, aku pergi ke Jessica Waterpark bareng Ina, Ayu, Erly, Lola, Ilham, and Yuda. Tapi, sebelum kami meluncur ke waterpark-nya, kami mampir sebentar ke rumahnya Ina--which is located in Pesona Mahakam Regency, yang notabene adalah perumahan dimana Jessica Waterpark berada. Hehe. Disana kami nyimpen barang-barang kami (aku, seperti biasa, jadi yang paling ribet) dan langsung aja kami meluncur ke Jessica Waterpark ;)
Begitu sampe di Jessica Waterpark... wuih, berasa punya kolam sendiri deh! Hehehehe. Gimana nggak? Waterpark-nya baru aja dibuka, dan kami semua adalah pengunjung pertama Jessica Waterpark buat hari ini. Jadi, mau kesana-kesini, mau ngapa-ngapain, nggak perlu antri! Dan yang jelas, sepiiiiii.......
Asik deh pokoknya :D
Duh, pengen ngetik lebih panjang lagi sih. Cuma banyak yang harus dikerjain buat blog ini. Dan maaf ya, buat pemakaian kata yang nggak enak dibaca -___- Lama nggak nulis nih, hehe.
(PS : I had to publish this post yesterday but I couldn't do it because I must off to the bed, so I posted it today :D)
Sorry for the late replieees! I was busy these days, and I didn't have much time for blogging. And my internet connection on home is quite error, and it makes me--you know--kinda lazy for blogging. But I'm going to reply your comments, don't worry :)
What did I do today? Wow, today was an amazing day for me! I took a photo session! Well then, not a 'real' photo session, I mean. My picture was captured by my friend, and even I took some poses. Hehehe.
Today I went to Dhea's house. At first, we planned to watch a movie on a cinema, but for some reasons, one of my friend--Ilham, was cancelled it. So, we went to Dhea's house--only for take some photos. Yay!
Yuda was being the photographer. He doesn't join any photography classes or photography courses, but I think he's so good. He's talented, for me ;) Sometimes Dhea was being the photographer in Yuda's place, and her result was good too. And me?
Oh, come on. You know I can't take a good photo, hehe.
I was being the model, with Shania and Ilham. Dhea did the model's role more than the photographer's role, even though she wants to be a photographer. I captured some photos with my mobile phone secretly, and I think nobody knew about it haha. But do you know what? At first, we used Dhea's digital camera. But after that, we used my mobile phone because they thought my mobile phone's result was better. Oh I was glad to hear that :D
We did the photo session around Dhea's house. There were a lot of good places around her house and we were soooooo glad! The places made our photo amazing! And I was so happy when my friends said that I had a lot of good poses. Oh, thanks so much for you all, fashion bloggers! Because I used your poses, hehe :D
Well then, I'm kinda speechless now, haha. So I think, I should end this post ;) See you tomorrow! :D
Love, LadyLo
P.S: I made a tribal-batik-dress myself! Hehe. Well, that was my first 50%-DIY-creation. I made it from a loose skirt and I love it soooo much! I wore it on the photo session and my friends said it was a cute dress! I'll tell you how to make the dress, as soon as I can. With the photos, too! Just wait for it ;)
Hey everyone! I have a new project; a new story called "Twirts"!! And I'm featuring with Dhea, one of my besties. Yippeeeee! :D We started to write it today, on a small green notebook. We planned to send it to the local publisher, but I'm not really sure about it. I'm going to finish it first, then see what'll happen next. Hehe ;)
And I'm going to tell you about the story! Yay :D
Twirts isn't the story's real name. The real name of our story is Twins' Letters, but we call it 'Twirts' for short. Why did we name it "Twins' Letters"? As I said, I'm going to tell you! :)
This story is telling about two identical twins, Kayleen Watson and Angel Trivia. Their parents were divorced when they was 2 years old. Kayleen lived with their mother, and Angel lived with their father. Unfortunately, they didn't know that they had a twin. They just knew that their parents were divorced and lived in nowhere. Kayleen hasn't met her father and didn't know how does her father look like. Even she didn't know where is her father. And so does Angel. She hasn't met her mother and didn't know how does her mother look like and didn't know where is her mother.
But lucky them, they're living in a same town. Kayleen was enrolled in Marie Agne School (Marien), a favourite only-for-girls school. And Angel was enrolled in St. Olsment, Marien's rival. Surprisingly, they became best-pen-friends for a few years without knowing that they're twins.
They usually send their letters to the Sunrise Park, a big park that connection Marien with St. Olsment. They do the 'sending letters' activity secretly because Marien's students that called 'Maries' aren't allowed to make friends with the students from St. Olsment. And St. Olsment has the same rule too.
And based from the facts that they knew, they started to think that they have a family connection, and they started to investigating about their mysterious connection. Will they know that they are twins? Will their parents married once again? Will the schools allow their students to make friends with each others?
Happy-Wednesday! :D How was your day? My day was... nothing special, actually. Hehe :D But I hope that tomorrow will be A NICE-NICE-NICE DAY! Because tomorrow is Dhea's birthday! Huuuraaaaaaay :DD
Hari ini ada mahasiswa (a-teacher-wannabe) yang PPL di sekolahku. Wait, what does 'PPL' mean? Jujur, aku nggak tau kepanjangannya. Aku cuma tau kepanjangan dari PKL (Praktek Kerja Lapangan). Jadi, apa itu PPL? Sejenis kayak PKL kali ya? Whatever lah, haha.
Mbak PPLnya bernama Endang, berkerudung, dan kalo nggak salah mahasiswa Unmul. Katanya dia asli Balikpapan, dan udah 3 taun menetap di Samarinda. Hum, whatsoever deh.
Yang jelas aku berterima kasih banget sama si Mbak-Endang-PPL yang udah singgah di kelasku, karena berkat si Mbak-Endang-PPL kami jadi batal ulangan PKn! Hahahaha, thanks God! :D Dan yang jelas, Bu Mala nggak stay di kelasku. Ehem *batuk bahagia* Bukannya Bu Mala nggak asik sih. Justru Bu Mala asik (banget), cuma ya tetep aja bahagia gitu hehe :)
Hm, pulang dari sekolah aku langsung ke Lembuswana sama Mama. Disana kami makan di KFC (pake menu Mega Deal + 1 puding besar, as usually xD). Begitu selesai makan, kami langsung ke Gramedia, nyari hadiah buat Dhea yang bakal ulang taun besoknya (as I said). Awalnya bingung banget mau ngasih apa. Tadinya mau beliin notebook, cuma ternyata Gramedia di Lembus nggak selengkap Gramed di Jogja (yang di Kota Baru itu). Masa nggak ada notebook lucu-lucu! Koleksiku bakal macet nih :(
Akhirnya aku muter-muter di lantai dasarnya. Sempet kepikiran buat beli kipas elektrik mini, secara di kelasku nggak ada kipas angin dan kayaknya bakal berguna kalo lagi kepanasan. Cuma rasanya nggak afdol aja gitu, ngasih hadiah yang mini-mini. Abis itu mau beliin cermin jam, jadi kayak cermin kecil yang bentuknya bulet gitu, tapi kalo kita pencet jamnya bakal ada jam digital di dalemnya. Keren deh :D Tapi lagi-lagi nggak kerasa afdol kalo ngasih sesuatu yang kecil. Terus aku ngeliat hadiah paling standar sepanjang masa: pigura. Walopun banyak yang lucu-lucu, tetep aja nggak ngerasa puas.
Dan akhirnya aku dapet satu kado yang bikin aku ngerasa puas. Aku beli dua. Satu buat aku, satu buat Dhea. Punyaku warna item, punya Dhea warna brunette :) Apa itu? Rahasia! Kalo kutulis disini, entar si Dhea baca. Entar nggak jadi surprise deh :p Besok aja ya kukasih tauu :D Oh iya, aku dapet bonus setelah beli hadiah buat Dhea. Aku dapet cermin warna ungu yang ada lampunya. Lucu deh! Hehehe :D Jadi inget legenda 'Cermin Ungu' yang ada di komik Nube itu. Duh -___-
Waaah, nggak sabar besok deh! Pengen cepet-cepet ke SCP bareng Dhea dll, hehe. Tapi aku harus ulangan IPS dulu... hiks :'( Ya udahlah nggak papa, hoho. Just see what'll happen tomorrow! Hmm... enough dulu yaa :D Mau minjemin modem ke Tante dulu, hehe.