| |
satu rasa
♫ Cause when I’m with him I am thinking of you Thinking of you ♫
Aku selalu menyukai sosoknya ketika bermain gitar. Ada getaran aneh yang kurasakan saat melihat jemarinya memetik satu-persatu senar itu dengan lembut. Getaran itu semakin menguat ketika dia menghentakkan kakinya ke atas lantai, mengikuti melodi yang dia mainkan dengan sepenuh hati. Ada sesuatu yang menggelitik perutku saat dia tersenyum singkat padaku, masih sambil memainkan gitar itu di tangannya. Hari ini pun aku kembali menikmati kebiasaan lamaku; duduk di tepi ranjangnya, sambil mengamati dia yang sedang bermain gitar di atas karpet. Kebiasaan yang entah sudah berapa bulan kutinggalkan karena aku tak bisa lagi berada di sisinya. Sesederhana itu. Kuambil sebuah mug besar berisikan susu hangat yang dia buatkan untukku beberapa menit lalu. Kuteguk isinya dengan perlahan, sambil menikmati aroma susu yang manis dan menenangkan. Aku selalu menyukai susu buatan Gamal. Ada rasa manis yang istimewa di dalamnya. Sama seperti Gamal sendiri—manis, istimewa, dan menyenangkan. “Sudah lama ya,” aku bersuara, lebih seperti berkata pada diri sendiri. “Iya.” Gamal menyahut selama beberapa detik, lantas melanjutkan permainan gitarnya. “Kamu nggak pernah lagi datang ke sini.” Aku ingat, dulu aku selalu menyempatkan diri untuk bermain ke sini. Setiap hari. Tak peduli apakah saat itu hujan sedang turun, atau aku sedang sakit. Yang kuingat, aku selalu duduk di sini mendengarkan permainan gitar Gamal, sambil sesekali mengiringinya dengan nyanyianku. Ya; aku lah yang mengiringi petikan gitar Gamal. Biasanya, gitaris selalu mengiringi penyanyinya. Namun, kami berbeda. Gamal adalah tokoh utama dari pertunjukan kecil kami. Sama seperti dia yang selalu menjadi tokoh utama dalam setiap kisahku. “Kamu tahu kan, Mal… aku bukannya nggak mau datang, tapi nggak bisa datang.” Ada getir yang tersembunyi dalam perkataanku barusan. Aku ingin Gamal tersadar bahwa dia masih menjadi pusat dari duniaku hingga detik ini. Aku juga berharap agar dia bisa mengingat jelas kenangan-kenangan manis yang kami ukir bersama, dengan tiap harinya yang terasa seperti mimpi indah bagiku. Tapi, suatu hari aku sadar bahwa aku tidak bisa terus bertahan. Aku memutuskan untuk berhenti berusaha. Berhenti menyayangi. Berhenti mengejar cintanya yang terlalu jauh. Matanya selalu ada di sini untukku—namun, hatinya tidak. “Sherma, jangan mulai deh.” Gamal berkata pelan padaku; tak ada antusiasme yang tampak di wajahnya barang sedikit pun. Aku menggeleng, kemudian meraih tangannya. Otomatis Gamal segera menghentikan permainannya. “Mal, aku benar-benar nggak tahan lagi. Aku pernah menyukai Rei, tapi hanya sebatas itu. Walaupun sekarang aku sama dia, tapi yang ada di otakku… cuma kamu. Dan selalu kamu.” “Rei nggak berhak disakiti, Sher. Kamu sudah memilih dia, jadi jalani apa yang sudah kamu pilih.” “Nggak bisa, Mal. Aku sudah berusaha sekeras mungkin, tapi hasilnya tetap nihil. Dia memang menyayangi dan melindungiku, sayangnya aku nggak pernah merasa nyaman sama dia,” aku menarik napas. “Ada momen-momen tertentu yang cuma bisa aku bagi ke kamu, Mal…” Aku tidak tahu sejak kapan hubungan kami mulai membeku seperti ini. Mungkin semenjak Rei masuk dalam kehidupanku. Atau jangan-jangan jauh sebelum itu? Sewaktu aku menyadari bahwa perasaanku terhadap Gamal adalah hal yang istimewa, mungkin. Atau ketika aku mengerti bahwa sudah saatnya aku pergi dari lembaran kisah Gamal? Apapun itu, aku sangat merindukan dunia kecil kami. Rutinitas yang selalu kami jalani berdua, walaupun kami tidak pernah terikat dalam status apapun. Maksudku, apakah label “sahabat” antara seorang laki-laki dan teman perempuannya benar-benar ada di dunia ini? “Maaf, Sher…” Gamal menggantungkan ucapannya di udara, persis seperti apa yang dia lakukan padaku selama ini. “Aku mau pergi. Kayaknya lebih baik kalau kamu juga, deh.” Hanya itu yang dia katakan padaku. Aku sadar bahwa dia sama sekali tidak memiliki niatan untuk membalas segala perkataanku barusan. Aku juga mengerti bahwa ucapannya tadi adalah sebuah pengusiran halus yang cepat atau lambat akan dia lontarkan padaku. Aku tahu. Aku, Sherma, selalu hapal akan setiap satu millimeter hal yang ada pada diri seorang Gamal. Aku lah yang paling tahu segala macam detail tentangnya. Aku tahu wujud seorang Gamal dari berbagai sudut pandang. Aku bahkan tahu segala hal yang tidak diketahui orang lain tentangnya. Hal-hal yang hanya kami bagi berdua; rahasia kecil aku dan Gamal. Ada saat dimana kita harus memilih pilihan yang paling menyakitkan untuk mendapatkan yang terbaik. Bagiku, ini adalah saatnya. Aku pernah, sedang, dan akan selalu mencintai seorang Gamal. Gamal pun tahu pasti tentang hal itu, tapi dia memilih untuk menjalani segala sesuatunya dengan logika. Dengan akal sehatnya. Meskipun, mungkin, dia ingin sekali menarikku dari semua mimpi buruk ini, dia tetap memilih untuk membiarkan semuanya mengalir seperti apa yang seharusnya. Aku dan Gamal tidak ditakdirkan untuk bersama; sama seperti dua sisi koin yang tidak akan pernah saling bertemu. Dan, Rei… dia hanya lah perantara, pengantar suratan takdir kami.
**
♫ You said move on Where do I go I guess second best Is all I will know ♫
***
Cerpen ini... it's not my best. Bahkan, bisa dibilang aku sama sekali nggak merasa puas sama cerpen ini. Tapi aku suka. Cerpen ini sengaja kubuat untuk temenku, berdasarkan kisah nyata yang dia alamin. Alhamdulillah, dia suka. Cerpen ini juga dipake temenku yang lain buat ngerjain tugasnya, hahahaha... terus, cerpen ini juga cerpen pertama yang ku-print setelah sekian lamanya (aku bahkan nggak inget kapan terakhir kali aku nge-print tulisanku). Intinya?
Aku ngerasa kalo cerpen ini, somehow membawa kebahagiaan tersendiri bagi orang-orang tertentu. Dan aku selalu seneng, kalo ternyata karyaku bisa memberikan sedikit keajaiban untuk orang lain :)
Love, LadyLo. Label: About me, Cerpen, Love, My Creations
indah
Kadang, keindahan seseorang cuma bisa ditangkap sama orang-orang tertentu :)
Love, LadyLo. Label: Just babbling, Love, Quote, Renungan, Short Post
kebahagiaan kecil
Kebahagiaan kecil itu...
Ketika kamu ditraktir es campur sama temenmu.
Ketika kamu ngobrol bareng dua orang temen cowokmu (cowok ngomong berdasarkan logika, lan?) di bawah langit senja yang indah banget, dan mereka berdua nggak segan bertukar pikiran sama kamu.
Ketika orang yang kamu suka berinisiatif untuk menyapa kamu duluan.
Ketika kamu makan jagung bakar sambil nontonin kembang api di tepi sungai Mahakam.
Ketika kamu nyanyiin lagu "Sempurna" dan ada temen yang ngiringin nyanyianmu pake gitar.
Ketika kamu melewatkan waktu bersama adek sepupumu yang masih kecil dan paling kamu sayang dengan cara bergosip, sambil ngemil biskuit dan minum teh anget.
Ketika kamu menemukan baju yang manis dan kamu tau kalo itu cocok banget dipake sama kamu.
Ketika temenmu tau kalo kamu cinta mati sama puding dan dia ngasih itu cemilan (?) buat kamu.
Ketika kamu nggak tidur semalaman gara-gara keasyikan berdiskusi tentang "kehidupan" bareng mamamu di atas kasur, nggak peduli kalo cuma kalian berdua yang masih terjaga di rumah itu.
Kebahagiaan-kebahagiaan kecil semacam itu... yang tanpa kita sadari, justru sangat kita perlukan dalam keseharian kita.
Kalo nggak ada kebahagiaan kecil, mungkin aku udah lama menyerah dan berhenti berusaha. Label: About me, Daily story, Experience, Family, Friends, Fun, Happy, Just babbling, Life, Love, Renungan
tunggu aku
Langit masih kelabu, dengan awan yang menutupi cahaya matahari yang entah mengapa begitu malas menerangi pagi ini. Kita membelah kabut yang tak bertepi; kamu dan aku. Deru motormu memecahkan kesunyian yang ada, mengingatkanku akan fakta bahwa hanya kamu dan aku yang berada di jalan raya ini, telah berada dalam balutan seragam putih abu-abu kita.
Aku menarik napas dalam-dalam, berniat untuk menikmati aroma lembab hasil pertemuan air hujan dengan jalanan tadi subuh yang membuat pagi ini semakin sakral. Tapi yang masuk ke dalam rongga hidungku justru bau asap yang kau kepulkan dari rokokmu, asap yang sedaritadi mengusikku.
Tapi aku memilih untuk diam dalam tenang.
Mungkin jalan kita memang sudah berbeda. Mungkin hati kita sudah berpisah semenjak kita lulus dari SMP dan mengambil pilihan sekolah yang tak sama. Namun kita tetap memaksakan diri untuk menjadi satu; hanya karena tak ingin kalah dari ego yang menguasai diri.
"Nero," aku menyuarakan namamu. "Kita sudah jalan dua tahun, tapi kenapa aku masih belum bisa mengerti kamu?"
Sungguh, hal itu terucap begitu saja dari mulutku.
"Kamu pernah mengerti aku." Hanya itu yang kamu ucapkan, tanpa sedikit pun melirik ke arahku melalui kaca spion itu.
"Aku memang pernah," kuakui hal itu. "Tapi sekarang tidak lagi. Kamu berubah."
"Aku cuma merokok, Di."
Cuma, katamu. Seolah-olah merokok adalah aktivitas yang biasa dilakukan semua murid SMA di Nusantara ini.
"Bukan cuma, Nero, tapi sampai." Aku mendesah. Kadang, ada beberapa hal yang hanya bisa tersampaikan melalui desahan dan helaan napas abstrak. "Dulu kamu nggak begitu."
Skakmat.
Laju motormu melambat. Akhirnya kamu menyempatkan diri untuk melirikku melalui kaca spion itu. Bukannya senang, aku justru merasa takut.
"Kenapa? Kamu malu karena aku jadi berandalan seperti ini, sementara kamu tetap berhasil mempertahankan posisimu sebagai murid teladan?"
Aku terkesiap mendengar kata-katamu. Bukan itu yang kumaksud! Hal seperti itu bahkan tak pernah terlintas di otakku barang setitik pun.
Kamu tetap melanjutkan tuduhanmu, entah dengan kesinisan yang kutangkap, maupun dengan nada getir yang tersingkap.
"Atau kamu malu untuk mengakui kalau label 'pasangan sempurna' yang seenaknya orang-orang itu berikan pada kita, ternyata hanya bertahan selama dua tahun?"
Aku terdiam. Ingin rasanya aku menutup kedua telingaku, namun semuanya sudah terlambat. Aku hanya mampu menatap puntung rokok yang baru saja kau campakkan ke atas tanah dengan kasar. Bukan itu yang kumaksud, tapi aku tak mampu untuk menampiknya. Semuanya karena tatapanmu yang membunuhku, dan suara beratmu yang mencekam.
Aku takut.
Kamu menggeleng pelan. Aku mampu menangkap guratan kecewa yang tergambar jelas di wajahmu. Sungguh, teriris hati ini saat mendapatinya bergeming di sana, di dalam kedua matamu yang terlihat lelah.
"Aku tak pernah mau mengecewakanmu." Aku memberanikan diri untuk berucap. "Dan bukan itu yang kumaksud, Nero."
"Bohong." Kamu masih mendakwaku. "Pasti hal semacam itu pernah terpikirkan olehmu, kan? Kecuali kamu orang gila."
"Memang." Aku berkata mantap, mulai menguasai keadaan. "Aku memang sinting tingkat dewa. Hal seperti itu tak pernah sekalipun terpikir olehku. Aku ini tulus mencintaimu."
Kamu tak menjawab. Saat itu lah aku yakin kalau kamu sudah melunak.
"Aku bukan teroris, Nero. Tidak perlu mencurigaiku seperti ini. Kemana rasa percaya yang dulu?"
"Aku sudah berubah, Di. Aku sudah jatuh terlalu dalam, dan tak mungkin kembali lagi." Kamu berucap saat kita melewati tikungan itu.
"Nggak ada yang mustahil di dunia ini."
"Tapi butuh waktu yang lama, Di."
"Aku mau menunggu kok. Berapa lama pun itu." Karena hatiku terlanjur terikat padamu, Nero.
Kamu tersentak. "Justru itu lah yang aku takutkan. Aku nggak mau kamu terus menunggu, Di..."
"Kenapa? Bukannya kita sudah saling berjanji akan setia satu sama lain, bagaimana pun keadaannya?" Mendadak aku merasa panik. Apakah dia berbohong saat mengucapkan ikrar itu?
"Memang begitu. Tapi aku tak mau kamu menyia-nyiakan waktumu hanya untuk aku yang bodoh ini, Di," sahutmu. "Kamu masih bisa terbang bebas, beda denganku. Kamu akan melewatkan ribuan kebaikan kalau kamu terus menungguku."
Aku tak menjawab. Bingung.
"Sayapku sudah patah, Di. Kamu yang harus menggantikanku untuk terbang. Jadi, tetaplah terbang di angkasa... demi aku."
Ada sesuatu yang menghujam jantungku saat kamu mengatakannya. Wajahmu terhalangi oleh kaca helm sehingga aku tak mampu mengawasi ekspresimu. Apakah kamu sungguh-sungguh mengatakannya? Secepat itu kah kamu menyerah?
"Audi, aku mau kamu berhenti jadi pacarku begitu kamu turun dari motorku ini." Akhirnya kamu melancarkan ultimatum itu. Kata-kata yang paling aku takutkan akan meluncur dari mulutmu selama dua tahun perjalanan kisah kita.
"Aku nggak mau!" Aku mencoba melawan. Percuma. Aku tahu kalau keputusanmu sudah final.
"Kalau kamu nggak mau meninggalkan aku, terpaksa aku yang harus melakukannya untuk kamu."
Kini, semuanya menjadi kabur. Gelap. Aku tak tahu lagi harus berbuat apa, harus mengatakan apa. Aku masih mencintaimu, dan aku tahu kalau, setidaknya, kamu juga masih menyisakan cintamu untukku.
Bukankah lebih baik kalau kita berpisah dalam keadaan saling membenci? Tapi aku tidak bisa membencimu. Sedikit apapun itu, aku tidak bisa. Mungkin karena kamu belum mengembalikan hatiku yang kamu tawan.
Maka aku hanya menutup mulutku, pasrah. Kalau memang ini harus terjadi, yang harus aku lakukan adalah menikmati detik-detik terakhir kebersaman kita, kan?
Jalanan mulai ramai. Langit juga semakin terang. Tapi hatiku tidak. Sungguh ironis; orang-orang dan dunia memulai paginya dengan ceria, namun kita justru harus mengawalinya dengan duka. Kita.
Kamu dan aku.
Beberapa saat lagi, kata 'kita' akan segera terhapus dari kehidupanmu, bukan?
Aku memutuskan untuk menyandarkan kepalaku ke punggungmu yang kokoh, dan melingkarkan tanganku di sekitar pinggangmu. Biar saja orang-orang tua itu menatap kita dengan jijik. Aku tak peduli. Mereka tidak tahu apa yang harus kita lewati.
"Di?" Kamu memanggilku, heran.
"Aku belum turun dari motormu, jadi aku masih pacarmu kan?" Aku berkata pelan. "Aku nggak akan menangis, jadi tolong biarkan aku menguasai detik-detik ini."
Kukira kamu akan menyingkirkan pelukanku dari tubuhmu. Namun apa yang kamu lakukan kemudian justru mengejutkanku. Tangan kirimu terulur ke arahku, menggenggam tangan kananku erat-erat. Mengusapnya, memijatnya lembut penuh cinta. Membuatku semakin tak rela untuk melepaskanmu, apalagi meninggalkanmu.
"Harusnya kita nggak saling jatuh cinta," gumammu putus asa.
"Salah. Harusnya kita nggak wajib berpisah," aku meralat ucapanmu. "Nero, jangan pernah menyesali apa yang sudah kita lalui bersama. Hanya itu yang kuminta darimu."
Aku dapat merasakan anggukan kepalamu. Sesaat, aku merasa bahwa dirimu yang dulu telah kembali.
Detik-detik selanjutnya berjalan dengan lambat. Ingin rasanya tetap tinggal dalam waktu yang ini, di sini, bersamamu. Tapi aku harus terbangun dari mimpi indah kita, saat mendapati motormu telah terhenti di depan sekolahku.
"Sudah saatnya, Di."
Kata-katamu bergema di batinku, seperti bel raksasa yang berdentang kencang. Ada pilu dalam hatiku, dan aku juga mendapatinya di wajahmu. Mimpi apa aku semalam, sampai harus--tiba-tiba--berpisah denganmu?
Dengan berat hati, aku menapakkan kakiku di atas tanah. Detik itu lah aku dapat mendengar bunyi semu dalam otakku. Bunyi yang menyadarkanku bahwa aku bukan siapa-siapamu lagi. Kini, Nero yang ada di hadapanku adalah orang asing yang bukan milikku lagi.
Kamu berlalu begitu saja tanpa menegurku lagi, seolah pelukan dan genggaman yang tadi tak pernah terjadi. Diam-diam justru aku bersyukur, karena aku pasti tak akan mampu membendung air mata ini kalau kamu berpamitan denganku.
Aku tak mau berpisah denganmu, dan tak sudi mendengar kalimat perpisahan darimu.
Tapi aku tak mampu mengangkat kedua kakiku, sekedar untuk menggerakkannya masuk ke pekarangan sekolah. Aku hanya bisa berdiri mematung di sini, menatap punggungmu yang menjauh. Menatap motormu yang mulai hilang dari pandanganku.
Aku akan merindukan semuanya tentangmu. Semuanya.
Aku terpaksa melanggar janjiku padamu barusan. Aku ini memang egois; sudah memiliki pelukan dan genggaman terakhirmu, tapi tetap saja meneteskan air mata. Biarlah seperti ini. Biar saja.
Aku berharap kalau kamu akan berputar balik dan kembali ke hadapanku, mengatakan kalau semua ini hanyalah leluconmu. Aku bahkan bermimpi kalau hari ini adalah hari ulang tahunku, agar aku mampu berharap kalau kamu hanya mengerjaiku. Tapi semua ini adalah kenyataan. Kamu tak juga kembali.
Yang selanjutnya terjadi begitu cepat. Aku tak peduli lagi dengan kenyataan yang ada. Aku berlari meninggalkan kerumunan, berusaha untuk mengejarmu sampai dapat. Biar saja kalau dia tak ada di sana, jadi aku bisa merasakan kekecewaan yang nyata terhadapnya, untuk yang pertama kalinya. Jadi aku memiliki alasan untuk membencinya. Jadi aku bisa melanjutkan hidup.
Sekali lagi, semuanya akan jadi lebih mudah kalau kami saling membenci.
Tapi dia ada di sana. Aku tak tahu aku sudah berlari sejauh mana, namun aku merasa baru berlari beberapa meter dari sekolah. Tak ada rasa lelah. Yang ada justru perasaan tak percaya, terkejut penuh ketakjuban. Apakah ini mimpi?
Setelah beberapa menit aku terbujur kaku, barulah aku yakin kalau ini dunia nyata. Dia ada di sana, sedang menepi sambil menatapku penuh kekalutan dan keterkejutan. Dia ada di sana! Nero-ku!
Aku kembali berlari, kali ini menghampirinya. Aku merentangkan tanganku, dan dia menyambutku dengan sigap. Kami kembali berpelukan di pinggir jalan, dihujani tatapan asing dari orang-orang di sekeliling kami. Kami tak peduli.
Kami hanya saling memeluk satu sama lain dalam diam, menikmati momen sakral ini. Tak ada pertanyaan, tak ada pernyataan. Seolah semuanya telah terjawab melalui pelukan ini. Kita memang terlalu memahami satu sama lain. Aku dan kamu.
"Aku sayang kamu, Nero. Terlalu sayang, dan nggak bisa berubah."
Kamu menyeka air mataku. "Tunggu aku, Di."
Saat itulah aku tahu, semuanya akan baik-baik saja. Label: Cerpen, Happy, Love, My Creations
Im gonna find a way to make it without you.
Alicia Keys - Try Sleeping With A Broken Heart. Label: Love, Quote, Sad
bitter love
Bitter love. Ini bener-bener title yang sangat klise dan berbau galau khas ababil jaman sekarang. Maafin aku ya, Octopuses. Ini namanya aku lagi running out of title, hiks. Tapi bukan berarti title entry ini irrelevant sama isi nya kok. Justru aku pilih kata "bitter" karena... memang entry ini bakal berbicara tentang hal yang paling naif--dan paling diagungkan--di dunia;
Cinta.
Sebelum ngebahas lebih lanjut, aku mau meluruskan kenapa aku menganggap "cinta" sebagai hal yang paling "naif" di dunia. Well, simply just because cinta memang naif. Dan membuat orang-orang menjadi naif karenanya. Banyak orang yang percaya bahwa "love would be last forever". Dan biasanya mereka yang beranggapan seperti ini adalah remaja belasan tahun. Remaja yang sebaya sama aku.
Setiap kali ada yang menggunakan kata "forever" dalam satu kalimat yang ada kata "love" nya, aku rasanya pengen banget ngasih tau sama mereka kalo "there is NO forever". Ya memang bener kan? Nggak ada yang namanya "selamanya". Nggak usah ngambil contoh yang rumit semacam, "kita hidup cuma sementara alias nggak selamanya, kan?" deh. Cukup ambil sampel yang simpel-simpel aja (hey, it rhymes!). Makanan, pasti akhirannya bakal membusuk kan? Atau, anggaplah kita lagi ngumpul-ngumpul sama temen-temen segeng. Nggak mungkin kan kita bakal selamanya ngumpul bareng? Pasti bakal ada saatnya kita memisahkan diri. Itu pasti. Because it's fated already.
Jadi, intinya, love isn't about being forever. Cinta itu semacam game. Nggak ada kata selamanya. Yang ada cuma permainan seberapa lama kita bisa mempertahankan cinta itu sendiri. That's it. Ibarat kita lagi ikutan kompetisi game yang bernama "cinta", pemenangnya adalah orang yang lebih lama mempertahankan cinta itu. Gitu. Bahasa gampangnya; lama-lamaan cinta-cintaan. In case you couldn't get what I mean.
I, myself, hate the word "love". Bukan, bukan berarti aku nggak bisa falling in love with someone. Tapi aku cuma nggak suka aja sama kata itu. Dan ini bukan disebabkan oleh alesan paling pasaran di dunia ini--patah hati--ya. There is something that happened to me and caused me to hate the word "love". Sesuatu yang mengajarkan aku kalo :
1. Cinta itu buta 2. Cinta itu sementara 3. Cinta itu naif
Cinta itu buta. Ya jelas, kan? Contoh gampangnya, kamu bisa maki-maki orang tua kamu disaat kamu nyaris punya pacar sementara orang tua kamu ngelarang kamu pacaran. Itu contoh yang paling nyata di teen world, no?
Cinta itu sementara. Udah kujabarin dengan jelas di atas.
Cinta itu naif. Udah kujelasin juga di atas, kan? Well, sebenernya bukan pure 100% "cinta" nya yang naif, sih. Sebenernya cinta itu, bisa dibilang, kejam. Dan sangat "real". Cinta itu ajaib, memang. Hari ini kamu bisa diagung-agungkan sama seorang cowok, besoknya kamu bisa dibuang sama mereka. Kenapa? Simpel. Alasan yang paling pasaran buat kasus ini adalah :
"Aku udah nggak cinta lagi sama kamu."
Atau dalam bahasa gampangnya, "cintaku udah lari dan kabur ke cewek lain". Gitu.
Jadi...?
Jadi, yang membuat cinta itu terkesan naif adalah mereka sendiri, yang sedang hanyut dalam cinta. Aku masih belom terlalu ngerti gimana prosedur jalannya percintaan dalam dunia orang dewasa ya, karena aku sendiri belom merasa dewasa. Aku berpikiran simpel, kok. Aku cukup mengambil bahan observasi dari kasus-kasus yang ada di sekelilingku.
Kebanyakan remaja menganggap love is all about lovey-dovey things, while it isn't. Mereka nganggep kalo cinta itu cukup dengan bilang "I love you", gandengan tangan, grepe sana grepe sini, and all. Padahal cinta itu rumit. Cinta itu butuh komitmen, butuh tanggung jawab. Mereka belom punya itu semua, tapi mereka udah berani berkoar-koar "aku cinta sama dia" dan lain sebagainya.
Mereka juga mikir love is all about being happy. Salah sedikit, marah. Salah sedikit, ngambek. Berantem dikit, bilangnya "kamu udah nggak sayang lagi sama aku!" dan lain sebagainya. Ya itulah cinta. Cinta cuma salah satu part penting dalam kehidupan. Dalam dunia. Dunia berputar, cinta juga. Hari ini kamu seneng di dunia, besoknya kamu sedih. Cinta juga begitu. Hari ini kamu merasa cintaaaa banget, besok kamu merasa kadar cintamu berkurang drastis. Ya gitu deh. Intinya, semua yang ada di dunia ini..... adalah "roda". Roda yang terus berputar. Wujudnya memang nggak bulet sempurna kayak roda. Wujudnya memang nggak berporos semacam roda. Tapi ya itu tadi. Semua yang ada di dunia ini punya hukum yang sama seperti roda.
Berputar. Dan kita nggak akan pernah bisa menghentikan perputarannya. Kita cuma bisa jadi penonton. Diam dan menikmati. Kita cuma bisa jadi pemain. Mengikuti apa yang ada di naskah--yang disebut takdir--dan memerankannya dengan sempurna. Kita cuma bisa jadi figuran. Karena pemeran utama nya adalah dunia sendiri. Makanya, ada yang bilang kalo dunia itu "panggung sandiwara". Memang begitulah adanya.
Jadi, ya gitu deh. Kebanyakan orang seumuranku cuma mikir cinta itu isinya happy-happy. Gampangannya, mereka nganggep HAPPY itu pemeran utama dalam sebuah drama yang judulnya "CINTA". Kata-kata semacam "cobaan", "kesedihan", "pengkhianatan", dan lain sebagainya cuma jadi FIGURAN. Mereka salah. Justru yang jadi figuran dalam CINTA itu adalah HAPPY sendiri. Makanya mereka jadi begitu panik ketika mereka masuk dalam fase sulit, fase-fase yang memaksa mereka untuk mendewasakan diri.
Sebelumnya aku minta maaf ya atas pandanganku tentang cinta yang terlalu keras. Tapi memang begitu lah adanya. Life told me so. I've learned about these things from my life experience.
Conclusion? Orang-orang yang lagi dilamun cinta kebanyakan naif. Dan cinta jadi naif karena orang-orang tersebut. Enough said.
....oke. Aku ngerti, penjelasanku yang panjang lebar di atas sama sekali nggak memberi pencerahan maupun jawaban yang tepat dan memuaskan. I'm so sorry. But I've tried my best to tell you about my absurd, odd thoughts. Pokoknya intinya... gitulah. Ada hal-hal yang nggak bisa dijelaskan ke orang lain dengan sempurna. Dan buatku, inilah hal itu.
Alright. Sebelum aku makin off-topic, mari kita bahas inti dari entry kali ini. Kenapa aku sebut bitter love?
Simply just because I considered this kind of love as a bitter love. This kind = the awkward moment when you are falling in love with someone who doesn't even know that you are exist in this world.
So, who the heck is the guy that caused me a BIG problem like this?
It's him.
I know that this photo was taken 2 years ago. Whatever because he looked gorgeous here
His name is Kwon Jiyong. AKA GD, or G-Dragon to be exact (I hate this stage name anyway, I prefer to call him as "GD" than "G-Dragon"). Dia leader Bigbang. Yes, he is Korean. And YES, he is an idol. And of course he doesn't know that there is Winona Anindyasarathi Soedhowo in this world. Poor me, aite?
Kenapa aku suka sama dia?
Because he is amazing. He is still young. Dia good-looking. Tall enough for me. Dia fashionable. Dia smart. Dia creative. Tekun, ulet, bertanggung jawab, profesional, dan banyak hal lainnya yang selalu mencegah aku untuk berhenti belajar lebih banyak lagi dari dia.
Okay, he might be sooo rebel. Asumsiku, gaya hidupnya sangat bebas. Party everyday. Minum. Hangover pastinya. Make. Main cewek. One-night stand udah termasuk dalam kategori main cewek ya. Tapi hebatnya, dia tetep bisa jadi orang HEBAT disaat dia sangat rebel.
You know, sometimes people wouldn't even care about your sins when you are being so awesome. I told you already, right? Poin nomor satu : cinta itu buta.
Everything about him is amazing. Oke, kecuali masalah wajah, itu tolong dikecualikan ya. Menurutku dia bukan tipe orang yang bisa dikyaaaa-in dari segi fisik. Tapi ya, gitu deh. Dalam kasus kebanyakan, biasanya yang terjadi adalah kasus "talenta berbanding terbalik dengan penampilan". Bedanya, GD ini masih bisa jadi eyecandy becuase he is kinda good-looking (just like what I said).
Jujur, sebenernya aku bingung nyari alesan lagi untuk menjelaskan kenapa aku bisa suka sama dia. Bukan, bukan karena aku cuma suka sama dia dengan cara yang klise--karena dia cakep dsb--atau karena aku nggak punya alesan lain untuk suka sama dia. Justru karena terlalu banyak alesan yang aku punya, aku jadi bingung gimana cara ngejabarinnya. Sama kayak gimana aku bingung buat ngejelasin kenapa aku bisa nganggep "cinta itu naif", kayak di atas.
Awalnya memang cuma sekedar rasa kagum. Tapi tau sendiri kan, cinta bisa timbul darimana aja? (Ini salah satu kalimat paling iklan yang pernah aku tulis di blog ini. And I feel so..... gross to mention those words in this blog)
So, yeah......... I'm falling in love with this guy. Bitter love is bitter.
But no, I'm not that delusional. Okay, I might be DELUSIONAL but I'm not that creepy, okay? Mari berbicara tentang fakta. Dan logika. Aku di Indonesia, dia di South Korean. Aku cuma anak tunggal and another student in this world, dan dia idola. Nona Soedhowo x Kwon Jiyong will never happen unless it's fated already and I doubt that God would give that kind of fate to me.
Jadi...? Jadi, aku ga bakal berkhayal lebih lanjut kalo dikemudian hari aku bakal jadi Nona Kwon or else (sebenernya aku bahkan nggak bisa ngebayangin hal ini, sih). Aku cuma berharap, aku bisa dapet suami... atau seenggaknya "pacar" yang kayak dia.
Taller than me, itu pasti. Smart. Creative. Bertanggung jawab. Punya komitmen dan berpegang teguh pada prinsip. Ga klemak-klemek. Easy-going. Fun. Ulet, tekun, ga mudah putus asa, berani mencoba. Agak-sedikit-perfeksionis, boleh lah. Good-looking itu juga harus. I'm not asking for the handsome ones. But he has to be good-looking. Let's talk about reality, sekarang udah bukan jamannya "look doesn't matter", kan? Just admit it. Everyone wants a good-looking girlfriend/boyfriend.
Jadi, dengan bangga saya mendeklarasikan ideal guy saya adalah......... GD! With the less rebel-ness, please. Karena aku gampang kebawa arus. Jadi punya cowok dengan tingkat kerebelan sama kayak GD is a big no.
Mungkin beberapa dari kalian mikir, "ah cuma gitu doang masa iya sih nganggep udah falling in love?". Tapi menurutku, itu lah yang terjadi. Well, semacam itu lah. Karena kadang, ngeliat video nya... ngeliat fotonya.... ngedengerin lagu-lagunya....
He makes my heart flutter.
Hiks, I'm being these pity fangirls with their bitter love. Menyedihkan, memang. Tapi aku nggak menyesal. GD, walaupun dia sangat nakal, udah ngajarin banyak hal ke aku. Termasuk poin bahwa hidup itu bukan sekedar "lalala land". Hidup itu keras. Tapi untuk menghadapi kerasnya hidup, kita hanya bisa bertahan sekuat tenaga. Kompetisi atau persaingan, itu semua cuma hiasan belaka dalam hal yang namanya "kehidupan". Hiasan yang nggak lain adalah salah satu komponen utama. Dan mau nggak mau, kita harus menghadapi hiasan hidup yang satu ini.
Kadang, kalo aku sedih, dengan mengingat perjuangan GD dan role modelsku yang lainnya (Kahi, Park Bom, Tiffany), aku jadi semangat. Kalo putus asa, cuma dengan mengingat mereka pernah melalui fase yang sama dengan apa yang lagi aku alamin, aku jadi punya kekuatan lagi buat menghadapi semua masalah yang ada. Berkat mereka, aku bisa mengatakan hal ini sama diriku sendiri :
"Kamu ada di tahap yang benar, Non. Kamu cuma harus berusaha melewati fase ini, dan tadaaah. Saat kamu sadar, kamu akan ada di tahap yang sama dengan mereka. Sukses. Berhasil."
Ini namanya agak off-topic. Jadi lebih baik obrolan soal GD, Kahi, Park Bom, dan Tiffany being my role models sebaiknya disimpan untuk next entry, gimana? ;)
Jadi, intinya, I'm falling in love with GD and want to have a hubby/bf like him. Ngomong-ngomong soal hubby, I gotta feeling that my hubby will be older than me deh. Beda umurku sama GD bahkan sekitar 7 tahunan. Whatever sih, yang penting masih bisa klik dan nyambung ke aku. Karena aku sendiri nggak bisa ngobrol dengan leluasa and being myself dengan anak-anak cowok seumuranku (just like what my parents said; jalan pikirku udah kejauhan).
Yang penting jangan sama anak-anak semacam member-member SHINee. Sama sekali nggak bikin aku nafsu (sorry, Shawols). They are talented but they aren't my type.
So, yeah.... I prefer Kwon Jiyong over Justin Bieber, is that weird?
Whatever, let's enjoy this bitter love! :D
Love, LadyLo
Label: About me, Celebrity, Daily story, Just babbling, Kpop, Life, Love, Opinion, Postingan sampah, Renungan, Sad
parents, family, and the sims
Orang tua adalah harga yang tak dapat ditawar, harta yang tak tertukar.
Kenapa tiba-tiba aku ngomong ginian? Well, simply just because I saw many tweets in my timeline. Isi tweetsnya? Beberapa orang temenku yang mengutuk orang tua mereka sendiri. Oke, mengutuk sounds a lil bit scary--walaupun kenyataannya emang ngeri. Lebih tepatnya, mereka memaki orang tua mereka sendiri.
Bukan memaki dengan kata-kata, "Orang tua gue ngeselin banget! Kerjaannya ngatur mulu!" ya. Tapi memaki dalam contoh... "Bokap nyokap gue jancok banget! Bangsat!" dan lain sebagainya yang bisa kalian bayangin sendiri.
Memang, bisa dibilang aku nggak ngerti permasalahan apa yang mereka hadapin; apa yang orang tua mereka lakuin ke mereka, apa yang mereka rasain, apa yang terjadi, dan lain sebagainya. Aku bukannya ikut campur--you could call me like that kalo sampe aku ngemention si pembuat-harsh-tweet-ini dan nasihatin dia ini-itu sementara aku sendiri nggak tau masalahnya apa. Mari kita sebut aku lagi.... ngasih komentar. Dari kacamata penonton.
Sebenernya sayang banget, mereka-mereka (yang ngebuat harsh tweets ini) sampe ngucapin hal sedemikian rupa. Walaupun kasar, mungkin kata-kata semacam "orang tuaku rese banget!" atau "asli kesel banget diceramahin ini-itu mulu!" mungkin lebih ditolerir daripada kata-kata semengerikan itu. Karena... gimana pun juga... mereka itu orang tua kita.
Call me naive. Dan mungkin kata-kata ini udah klise. Banget. Tapi itulah kenyataan. Ada hal-hal yang nggak bisa kita pertanyakan di dunia ini. Ada hal-hal yang memang nggak logis di dunia ini. Ada hal-hal yang nggak bisa kita tentang di dunia ini. Memang begitulah kodratnya. Seorang anak, sampai kapan pun juga, nggak akan pernah bisa memiliki derajat di atas orang tuanya. Which means, sampai kiamat pun, kita nggak akan pernah bisa memiliki alasan yang cukup untuk membuat kita diizinkan memaki orang tua kita.
Sekilas memang rasanya nggak adil. Disaat orang tua kita, mungkin, bisa memaki kita. Disaat orang tua kita, mungkin, sangat menyakiti hati kita. Tapi itulah dunia, kan? Apa yang bisa kita lakukan sebagai seorang anak hanya menerima, nggak lebih. Itulah hak seorang anak. Menerima.
Protes, oke lah. Kritik, boleh lah. Tapi memaki? Apalagi sampe mengeluarkan kata-kata semacam "jancok", "anjing", "bangsat", dan lain sebagainya ke orang tua kita sendiri?
Jangan lupa, kita bukannya sedang berbicara dengan teman kita, loh.
Orang-orang banyak lupa. Katanya, kita nggak boleh terlalu sering membandingkan diri kita dengan orang lain. Tapi bukannya berarti membandingkan diri dengan orang lain itu selalu membawa kejelekan, kan?
In this case... mari bandingkan diri sendiri dengan orang-orang yang nggak bisa tinggal bareng kedua orang tuanya. Atau nggak bisa tinggal dengan keluarga lengkapnya. Those people--who cursed on their parents--live with their parents. Their family. Padahal ada banyak orang-orang di luar sana, yang berharap mati-matian bisa tinggal dengan orang tuanya. Lengkap. Ada orang-orang yang berharap keluarga mereka nggak tercerai-berai. Ada orang-orang yang berharap bisa memutar ulang waktu cuma biar bisa kumpul sama kedua orang tuanya.
Like me.
Aku lagi berada dalam kondisi semacam ini; kondisi dimana kamu bener-bener ngerasa shock. Ibarat abis ngelaluin satu perjalanan, kamu lagi jetlag. Bingung dengan keadaan yang sedang kamu alami. Saking drastisnya perubahan yang kamu miliki, kamu jadi blank. Dan klimaksnya adalah ketika kamu bertanya:
Apakah benar, kalo aku pernah hidup dimasa lalu? Kok, rasanya aku cuma hidup dimasa ini? Kok, rasanya aku baru ngerasa hidup sekarang? Dimana kenangan-kenangan yang dulu aku alamin? Apakah benar semua kenangan itu pernah aku alamin?
That's it.
To be honest, I miss my dad so much. Aku kangen saat-saat aku, Mama, dan Papa ngumpul bareng. Saat-saat kami kumpul di depan tv dan makan malam bareng. I didn't mind about the menu. Mau itu pizza yang kami take-away, atau ikan bandeng presto yang Mama beli di warung, I didn't even care about it. Yang aku peduliin adalah detik-detik dimana kami ngumpul bareng. Saat-saat dimana kami ngobrol di depan tv, ngebahas semua hal yang ada. Mulai dari yang penting, sampe yang nggak worth it buat dibicarain sekalipun. I miss those moments.
Aku bahkan kangen dimarahin papaku. Saat-saat dimana aku dapet nilai-nilai jelek dan Papa marahin aku. Dan pasti Mama ngebelain aku. Saat-saat dimana aku dituntut untuk dapet banyak nilai 9. I didn't mind about that. Karena dulu--dan sekarang pun--aku hidup untuk orang tuaku. Kupikir, kalo nilaiku bagus, orang tuaku bakal bahagia. Bakal bangga sama aku. Makanya aku berusaha keras biar bisa mencapai itu semua.
Soalnya, salah satu impianku itu bisa bikin orang tuaku bahagia dan bangga sama aku. Sehingga mereka bisa ngomong ke semua orang, "Ini loh Nona, anakku."
Mungkin kamu pikir ini impian klise banget lah, bullshit lah, sok anak baiklah, or whatever it is. Tapi itulah kenyataan. I hate being naive. Atau klise. Tapi terkadang memang ada saatnya dimana kita jadi naif dan klise. Inilah saat yang tepat buatku.
Intinya, aku kangen semua saat-saat yang pernah kulaluin itu. Setiap detail terkecilnya. Setiap detiknya. Aku kangen semua itu. Dan jujur, aku ngiri sama mereka semua yang bisa ngedapetin apa yang aku paling pengenin saat ini. Tapi mereka malah nyia-nyiain semua itu. Bahkan, mereka ngebuang jauh-jauh kesempatan itu.
Dalam artian, mencaci maki orang tua mereka.
Orang tua yang ada di sana untuk mereka.
Jadi... buat kalian semua yang ngebaca ini... terutama bagi yang kesel banget sama orang tua masing-masing. Bersyukurlah. Seenggaknya kalian masih bisa ngumpul, lengkap, komplit bareng kedua orang tua kalian. Ada orang-orang di luar sana yang pengen ngumpul sama orang tuanya tapi nggak bisa atau susah. Ada orang-orang yang ngiri sama kalian.
Inget, hidup ini nggak semudah game. Nggak segampang The Sims. Oke, sebenernya The Sims itu sulit dan rumit sih. Sims-ku pernah selingkuh sama suami orang dan dia udah punya anak, mendadak dia dan keluarganya jatuh miskin and all. Tapi, kalo main The Sims, kita masih bisa melarikan diri dari kenyataan dan masalah yang ada. Kita bisa tinggal mainin family yang lain, atau ngedelete family yang bermasalah itu.
Tapi kehidupan nyata berbeda. Kita nggak bisa lari. Kita cuma bisa menghadapi dan menyelesaikan masalah yang ada. Dan mencaci-maki itu termasuk upaya melarikan diri.
Hidup jauh lebih sulit dan rumit daripada The Sims.
Dan aku bukannya ngomong tanpa pengalaman.
Jadi, mari kita bersama-sama menghadapi dunia ini... menjalani hidup, menghadapi, dan menyelesaikan masalah yang ada. Karena hidup dan masalah itu selalu berdampingan. Yang menentukan adalah diri kita sendiri; bisa, atau nggak. Kuat, atau lemah. That's it :)
Mulai sekarang, ayo kita berjuang bareng! And happy new year 2011 too! Fighting! :D
Love, LadyLo
Label: About me, Daily story, Experience, Family, Just babbling, Life, Love, Nostalgia, Opinion, Problem, Renungan
I Hate You, My Stars.
(one too three. again, one two three. stars, i'm going to go crazy)
No matter how many times I look at you, I can't see you, oh baby Because of the tears in my eyes, all because of you My crying face that is reflecting above the spread letters, oh baby I promised myself I wouldn't cry again, but I'm crying again
Awalnya kukira begitu mudah untuk menyembunyikan sedihku Awalnya kusangka tak akan sulit untuk hilangkan tangisku Namun semuanya tidak berjalan sesuai anganku Semakin aku tegar, semakin perih luka yang kurasakan
What do I do, I don't know what to do, what to do This is me, I don't know why I'm going crazy like this All because of you, really because of you I can't do anything, I
Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tidak diizinkan untuk memperlihatkan amarahku Dan aku juga dilarang untuk meneteskan air mataku Mengapa aku harus berusaha tertawa, disaat aku tidak bahagia?
Love you as much as the stars, stars, stars, stars I came for you to find you, you're that far shining star Stars, stars, stars, no matter what I say I really can't express myself I'm frustrated now, what should I do now
Kini, mungkin aku telah menjadi gila Namun tidak ada satu pun orang yang sadar Mengapa? Karena aku memendam seluruh perasaanku Tetapi, jauh di dalam hatiku, jauh di balik tawaku Aku berharap ada seseorang yang menyadari rasa sakitku
No matter how many times I count, I can't see the end, oh baby Because of all the memories that are in my heart, I think of you again I couldn't say everything I wanted to so I say them to myself, oh baby I want you back, I want to go back to your side
Bila memang bisa, aku ingin memutar waktu Agar saat-saat bahagia itu dapat kumiliki kembali Aku ingin melakukan perubahan kecil, setidaknya agar senyumku kembali Namun aku tidak bisa, karena tidak ada yang mengizinkanku
I'm pleading to you, please, I'm pleading to you To the sky, my prayer goes to the sky Cheer me up, cheer me up Please, where are you now
Dan bila memang diizinkan, Tuhan, tolong kirimkan padaku seseorang yang dapat mengerti isi hatiku Seseorang yang dapat menghiburku dan mengetahui pedihnya sakitku Aku pun tak ingin bersedih, aku ingin tawaku kembali
Stars, stars, stars, stars, talk to me Is it over? Is that it? Answer me, don't just laugh Stars, stars, stars, stars, I'm pleading to you Just for once, my love Let me fly to your side
Kapan seluruh rasa sakit ini menghilang? Kapan detik-detik bahagia dapat kurengkuh kembali? Aku butuh jawaban, walau hanya beberapa patah kata Agar aku dapat tetap tegar, terus bertahan di atas semua luka ini
Star, star, star, ooh baby, star, star, star, oh
Dan tiada yang tahu, bahwa dua bintangku yang paling kucintai Adalah dua bintang yang juga menyakitiku disetiap detik ini
I love you as much as the stars, stars, stars, stars I came for you to find you, you're that far shining star Stars, stars, stars, no matter what I say I really can't express myself I'm frustrated now, what should I do now
Bintangku, sungguh aku mencintaimu Bintangku, sungguh aku tak ingin melukaimu Namun semakin dalam aku menahan tangis dan amarah ini Semakin pedih rasa sakit yang ada Aku juga ingin berbagi tawa dan tangis
Namun aku tidak bisa, dan tidak diizinkan Karena aku harus menjadi seseorang yang kuat Yang bahkan tidak diberi kesempatan untuk mengutarakan isi hatinya…
***
This poem was dedicated for my most precious stars, and the english part above was taken from SNSD - Star Star Star's translation Dua bintang yang selalu kucintai sepenuh hati dan dua bintang yang selalu menusuk hatiku sedalam mungkin
Just for you know, I have an unconditional love for you both But you never give me a chance to make a movement I love you, but you made a deep, the deepest wound in my heart I wanted to make you happy, but I just realized That these things weren’t what I wanted
You’re too precious for me So that’s why, I hate you, My Stars."I miss you, I need you."--After School, Because of You.
Love, LadyLoLabel: About me, Daily story, Life, Love, Poem, Sad
the point of view :)
Hari ini aku nggak keluar rumah sama sekali karena sakit, tapi rasanya capeeek banget. Salah satu hal yang udah berhasil bikin aku capek adalah: chatting sama Rania di fb (mungkin dia lagi baca ini sekarang. Hey sist!). Dari situlah kami mulai ngobrol seru, ngungkapin uneg-uneg kami tentang cinta, sedikit berdebat dengan argumen masing-masing, dan ditutup manis dengan ngobrol soal blog (nggak nyambung ya? Hahahaha).
Kenapa tiba-tiba jadi debat soal cinta? Well, semuanya berawal dari love life salah satu sahabat kami yang kami anggep menyimpang dari jalurnya. So, kami mulai bertukar pikiran dan tanpa sadar percakapan jadi seru banget! :) I'm waiting for the next moment, Sist!
Hei, nggak usah kaget gitu deh begitu tau aku ngomongin soal c-i-n-t-a! :D Well yes, I still don't have any experiences about L-O-V-E in my life, but YES I have an opinion too about that thing!
Bukan cuma cerita ataupun fotografi yang punya point of view, lho ;)
Nah, karena kejadian tadi lah aku jadi punya makin banyak opini tentang cinta. Beberapa diantaranya udah aku pajang di fb sebagai statusku, hehehehe. Dan biar kalian semua bisa baca lebih enak, aku udah nyimpen screenshotnya di laptopku. Tunggu aja tanggal maennya buat diupload, oke? ;) Pengennya sih sekarang nguploadnya. Cuma secara koneksi lagi bebal, terpaksa diundur :'(
Well, statusku yang paling disukain hari ini adalah:
"love this quote; 'jangan sampai cinta membodohimu , karena kitalah yang mengendalikan cinta--BUKAN cinta yang mengendalikan kita'."
What do you think?
Ada 13 orang yang ngelike status ini, hahahaha. Padahal aku cuma asal nulis apa yang ada dipikiranku saat itu juga. Rania sempet nanya inspirasinya dari mana sampe aku bisa nulis kayak gitu. Well, mungkin beberapa diantara kalian ada yang mau tau. Jujur aku dapet inspirasinya dari salah satu temenku.
Temenku yang sedang dikendalikan oleh cinta--gitu deh kalo dijabarkan dalam bahasa dramatisnya.
Tapi emang bener lho! Hahahaha :D
Guys, mungkin ada yang punya opini lain? Bisa share disini kok ;) Untuk deretan statusku yang udah siap nyepam home temen-temen di fb bakal aku upload secepat mungkin kok. Hehehehe. Well, happy sharing :D
Love, LadyLo [ternyata lebih keliatan elegan kayak gini daripada ditulis dalam warna berbeda LOL :p]
Label: About me, Daily story, Friends, Just babbling, Love
Older Post
the lady

Nona Soedhowo. 17. Indonesian. A pudding enthusiast by day, a space wanderer by night. A cynic, and yet can't stop believing in Peter Pan and the Neverland. Currently finding for her own way to The Hodge 301 Cluster - her very own pink cluster.
cool people

Ale | Cho | Nabila | Ninda |
Puti | Rania | Ratna | Sindy | Tan
octopuses united

designer
Templates: Hafni
Base Code: Caca
Editor: Nona Soedhowo
satu rasa
♫ Cause when I’m with him I am thinking of you Thinking of you ♫
Aku selalu menyukai sosoknya ketika bermain gitar. Ada getaran aneh yang kurasakan saat melihat jemarinya memetik satu-persatu senar itu dengan lembut. Getaran itu semakin menguat ketika dia menghentakkan kakinya ke atas lantai, mengikuti melodi yang dia mainkan dengan sepenuh hati. Ada sesuatu yang menggelitik perutku saat dia tersenyum singkat padaku, masih sambil memainkan gitar itu di tangannya. Hari ini pun aku kembali menikmati kebiasaan lamaku; duduk di tepi ranjangnya, sambil mengamati dia yang sedang bermain gitar di atas karpet. Kebiasaan yang entah sudah berapa bulan kutinggalkan karena aku tak bisa lagi berada di sisinya. Sesederhana itu. Kuambil sebuah mug besar berisikan susu hangat yang dia buatkan untukku beberapa menit lalu. Kuteguk isinya dengan perlahan, sambil menikmati aroma susu yang manis dan menenangkan. Aku selalu menyukai susu buatan Gamal. Ada rasa manis yang istimewa di dalamnya. Sama seperti Gamal sendiri—manis, istimewa, dan menyenangkan. “Sudah lama ya,” aku bersuara, lebih seperti berkata pada diri sendiri. “Iya.” Gamal menyahut selama beberapa detik, lantas melanjutkan permainan gitarnya. “Kamu nggak pernah lagi datang ke sini.” Aku ingat, dulu aku selalu menyempatkan diri untuk bermain ke sini. Setiap hari. Tak peduli apakah saat itu hujan sedang turun, atau aku sedang sakit. Yang kuingat, aku selalu duduk di sini mendengarkan permainan gitar Gamal, sambil sesekali mengiringinya dengan nyanyianku. Ya; aku lah yang mengiringi petikan gitar Gamal. Biasanya, gitaris selalu mengiringi penyanyinya. Namun, kami berbeda. Gamal adalah tokoh utama dari pertunjukan kecil kami. Sama seperti dia yang selalu menjadi tokoh utama dalam setiap kisahku. “Kamu tahu kan, Mal… aku bukannya nggak mau datang, tapi nggak bisa datang.” Ada getir yang tersembunyi dalam perkataanku barusan. Aku ingin Gamal tersadar bahwa dia masih menjadi pusat dari duniaku hingga detik ini. Aku juga berharap agar dia bisa mengingat jelas kenangan-kenangan manis yang kami ukir bersama, dengan tiap harinya yang terasa seperti mimpi indah bagiku. Tapi, suatu hari aku sadar bahwa aku tidak bisa terus bertahan. Aku memutuskan untuk berhenti berusaha. Berhenti menyayangi. Berhenti mengejar cintanya yang terlalu jauh. Matanya selalu ada di sini untukku—namun, hatinya tidak. “Sherma, jangan mulai deh.” Gamal berkata pelan padaku; tak ada antusiasme yang tampak di wajahnya barang sedikit pun. Aku menggeleng, kemudian meraih tangannya. Otomatis Gamal segera menghentikan permainannya. “Mal, aku benar-benar nggak tahan lagi. Aku pernah menyukai Rei, tapi hanya sebatas itu. Walaupun sekarang aku sama dia, tapi yang ada di otakku… cuma kamu. Dan selalu kamu.” “Rei nggak berhak disakiti, Sher. Kamu sudah memilih dia, jadi jalani apa yang sudah kamu pilih.” “Nggak bisa, Mal. Aku sudah berusaha sekeras mungkin, tapi hasilnya tetap nihil. Dia memang menyayangi dan melindungiku, sayangnya aku nggak pernah merasa nyaman sama dia,” aku menarik napas. “Ada momen-momen tertentu yang cuma bisa aku bagi ke kamu, Mal…” Aku tidak tahu sejak kapan hubungan kami mulai membeku seperti ini. Mungkin semenjak Rei masuk dalam kehidupanku. Atau jangan-jangan jauh sebelum itu? Sewaktu aku menyadari bahwa perasaanku terhadap Gamal adalah hal yang istimewa, mungkin. Atau ketika aku mengerti bahwa sudah saatnya aku pergi dari lembaran kisah Gamal? Apapun itu, aku sangat merindukan dunia kecil kami. Rutinitas yang selalu kami jalani berdua, walaupun kami tidak pernah terikat dalam status apapun. Maksudku, apakah label “sahabat” antara seorang laki-laki dan teman perempuannya benar-benar ada di dunia ini? “Maaf, Sher…” Gamal menggantungkan ucapannya di udara, persis seperti apa yang dia lakukan padaku selama ini. “Aku mau pergi. Kayaknya lebih baik kalau kamu juga, deh.” Hanya itu yang dia katakan padaku. Aku sadar bahwa dia sama sekali tidak memiliki niatan untuk membalas segala perkataanku barusan. Aku juga mengerti bahwa ucapannya tadi adalah sebuah pengusiran halus yang cepat atau lambat akan dia lontarkan padaku. Aku tahu. Aku, Sherma, selalu hapal akan setiap satu millimeter hal yang ada pada diri seorang Gamal. Aku lah yang paling tahu segala macam detail tentangnya. Aku tahu wujud seorang Gamal dari berbagai sudut pandang. Aku bahkan tahu segala hal yang tidak diketahui orang lain tentangnya. Hal-hal yang hanya kami bagi berdua; rahasia kecil aku dan Gamal. Ada saat dimana kita harus memilih pilihan yang paling menyakitkan untuk mendapatkan yang terbaik. Bagiku, ini adalah saatnya. Aku pernah, sedang, dan akan selalu mencintai seorang Gamal. Gamal pun tahu pasti tentang hal itu, tapi dia memilih untuk menjalani segala sesuatunya dengan logika. Dengan akal sehatnya. Meskipun, mungkin, dia ingin sekali menarikku dari semua mimpi buruk ini, dia tetap memilih untuk membiarkan semuanya mengalir seperti apa yang seharusnya. Aku dan Gamal tidak ditakdirkan untuk bersama; sama seperti dua sisi koin yang tidak akan pernah saling bertemu. Dan, Rei… dia hanya lah perantara, pengantar suratan takdir kami.
**
♫ You said move on Where do I go I guess second best Is all I will know ♫
***
Cerpen ini... it's not my best. Bahkan, bisa dibilang aku sama sekali nggak merasa puas sama cerpen ini. Tapi aku suka. Cerpen ini sengaja kubuat untuk temenku, berdasarkan kisah nyata yang dia alamin. Alhamdulillah, dia suka. Cerpen ini juga dipake temenku yang lain buat ngerjain tugasnya, hahahaha... terus, cerpen ini juga cerpen pertama yang ku-print setelah sekian lamanya (aku bahkan nggak inget kapan terakhir kali aku nge-print tulisanku). Intinya?
Aku ngerasa kalo cerpen ini, somehow membawa kebahagiaan tersendiri bagi orang-orang tertentu. Dan aku selalu seneng, kalo ternyata karyaku bisa memberikan sedikit keajaiban untuk orang lain :)
Love, LadyLo. Label: About me, Cerpen, Love, My Creations
indah
Kadang, keindahan seseorang cuma bisa ditangkap sama orang-orang tertentu :)
Love, LadyLo. Label: Just babbling, Love, Quote, Renungan, Short Post
kebahagiaan kecil
Kebahagiaan kecil itu...
Ketika kamu ditraktir es campur sama temenmu.
Ketika kamu ngobrol bareng dua orang temen cowokmu (cowok ngomong berdasarkan logika, lan?) di bawah langit senja yang indah banget, dan mereka berdua nggak segan bertukar pikiran sama kamu.
Ketika orang yang kamu suka berinisiatif untuk menyapa kamu duluan.
Ketika kamu makan jagung bakar sambil nontonin kembang api di tepi sungai Mahakam.
Ketika kamu nyanyiin lagu "Sempurna" dan ada temen yang ngiringin nyanyianmu pake gitar.
Ketika kamu melewatkan waktu bersama adek sepupumu yang masih kecil dan paling kamu sayang dengan cara bergosip, sambil ngemil biskuit dan minum teh anget.
Ketika kamu menemukan baju yang manis dan kamu tau kalo itu cocok banget dipake sama kamu.
Ketika temenmu tau kalo kamu cinta mati sama puding dan dia ngasih itu cemilan (?) buat kamu.
Ketika kamu nggak tidur semalaman gara-gara keasyikan berdiskusi tentang "kehidupan" bareng mamamu di atas kasur, nggak peduli kalo cuma kalian berdua yang masih terjaga di rumah itu.
Kebahagiaan-kebahagiaan kecil semacam itu... yang tanpa kita sadari, justru sangat kita perlukan dalam keseharian kita.
Kalo nggak ada kebahagiaan kecil, mungkin aku udah lama menyerah dan berhenti berusaha. Label: About me, Daily story, Experience, Family, Friends, Fun, Happy, Just babbling, Life, Love, Renungan
tunggu aku
Langit masih kelabu, dengan awan yang menutupi cahaya matahari yang entah mengapa begitu malas menerangi pagi ini. Kita membelah kabut yang tak bertepi; kamu dan aku. Deru motormu memecahkan kesunyian yang ada, mengingatkanku akan fakta bahwa hanya kamu dan aku yang berada di jalan raya ini, telah berada dalam balutan seragam putih abu-abu kita.
Aku menarik napas dalam-dalam, berniat untuk menikmati aroma lembab hasil pertemuan air hujan dengan jalanan tadi subuh yang membuat pagi ini semakin sakral. Tapi yang masuk ke dalam rongga hidungku justru bau asap yang kau kepulkan dari rokokmu, asap yang sedaritadi mengusikku.
Tapi aku memilih untuk diam dalam tenang.
Mungkin jalan kita memang sudah berbeda. Mungkin hati kita sudah berpisah semenjak kita lulus dari SMP dan mengambil pilihan sekolah yang tak sama. Namun kita tetap memaksakan diri untuk menjadi satu; hanya karena tak ingin kalah dari ego yang menguasai diri.
"Nero," aku menyuarakan namamu. "Kita sudah jalan dua tahun, tapi kenapa aku masih belum bisa mengerti kamu?"
Sungguh, hal itu terucap begitu saja dari mulutku.
"Kamu pernah mengerti aku." Hanya itu yang kamu ucapkan, tanpa sedikit pun melirik ke arahku melalui kaca spion itu.
"Aku memang pernah," kuakui hal itu. "Tapi sekarang tidak lagi. Kamu berubah."
"Aku cuma merokok, Di."
Cuma, katamu. Seolah-olah merokok adalah aktivitas yang biasa dilakukan semua murid SMA di Nusantara ini.
"Bukan cuma, Nero, tapi sampai." Aku mendesah. Kadang, ada beberapa hal yang hanya bisa tersampaikan melalui desahan dan helaan napas abstrak. "Dulu kamu nggak begitu."
Skakmat.
Laju motormu melambat. Akhirnya kamu menyempatkan diri untuk melirikku melalui kaca spion itu. Bukannya senang, aku justru merasa takut.
"Kenapa? Kamu malu karena aku jadi berandalan seperti ini, sementara kamu tetap berhasil mempertahankan posisimu sebagai murid teladan?"
Aku terkesiap mendengar kata-katamu. Bukan itu yang kumaksud! Hal seperti itu bahkan tak pernah terlintas di otakku barang setitik pun.
Kamu tetap melanjutkan tuduhanmu, entah dengan kesinisan yang kutangkap, maupun dengan nada getir yang tersingkap.
"Atau kamu malu untuk mengakui kalau label 'pasangan sempurna' yang seenaknya orang-orang itu berikan pada kita, ternyata hanya bertahan selama dua tahun?"
Aku terdiam. Ingin rasanya aku menutup kedua telingaku, namun semuanya sudah terlambat. Aku hanya mampu menatap puntung rokok yang baru saja kau campakkan ke atas tanah dengan kasar. Bukan itu yang kumaksud, tapi aku tak mampu untuk menampiknya. Semuanya karena tatapanmu yang membunuhku, dan suara beratmu yang mencekam.
Aku takut.
Kamu menggeleng pelan. Aku mampu menangkap guratan kecewa yang tergambar jelas di wajahmu. Sungguh, teriris hati ini saat mendapatinya bergeming di sana, di dalam kedua matamu yang terlihat lelah.
"Aku tak pernah mau mengecewakanmu." Aku memberanikan diri untuk berucap. "Dan bukan itu yang kumaksud, Nero."
"Bohong." Kamu masih mendakwaku. "Pasti hal semacam itu pernah terpikirkan olehmu, kan? Kecuali kamu orang gila."
"Memang." Aku berkata mantap, mulai menguasai keadaan. "Aku memang sinting tingkat dewa. Hal seperti itu tak pernah sekalipun terpikir olehku. Aku ini tulus mencintaimu."
Kamu tak menjawab. Saat itu lah aku yakin kalau kamu sudah melunak.
"Aku bukan teroris, Nero. Tidak perlu mencurigaiku seperti ini. Kemana rasa percaya yang dulu?"
"Aku sudah berubah, Di. Aku sudah jatuh terlalu dalam, dan tak mungkin kembali lagi." Kamu berucap saat kita melewati tikungan itu.
"Nggak ada yang mustahil di dunia ini."
"Tapi butuh waktu yang lama, Di."
"Aku mau menunggu kok. Berapa lama pun itu." Karena hatiku terlanjur terikat padamu, Nero.
Kamu tersentak. "Justru itu lah yang aku takutkan. Aku nggak mau kamu terus menunggu, Di..."
"Kenapa? Bukannya kita sudah saling berjanji akan setia satu sama lain, bagaimana pun keadaannya?" Mendadak aku merasa panik. Apakah dia berbohong saat mengucapkan ikrar itu?
"Memang begitu. Tapi aku tak mau kamu menyia-nyiakan waktumu hanya untuk aku yang bodoh ini, Di," sahutmu. "Kamu masih bisa terbang bebas, beda denganku. Kamu akan melewatkan ribuan kebaikan kalau kamu terus menungguku."
Aku tak menjawab. Bingung.
"Sayapku sudah patah, Di. Kamu yang harus menggantikanku untuk terbang. Jadi, tetaplah terbang di angkasa... demi aku."
Ada sesuatu yang menghujam jantungku saat kamu mengatakannya. Wajahmu terhalangi oleh kaca helm sehingga aku tak mampu mengawasi ekspresimu. Apakah kamu sungguh-sungguh mengatakannya? Secepat itu kah kamu menyerah?
"Audi, aku mau kamu berhenti jadi pacarku begitu kamu turun dari motorku ini." Akhirnya kamu melancarkan ultimatum itu. Kata-kata yang paling aku takutkan akan meluncur dari mulutmu selama dua tahun perjalanan kisah kita.
"Aku nggak mau!" Aku mencoba melawan. Percuma. Aku tahu kalau keputusanmu sudah final.
"Kalau kamu nggak mau meninggalkan aku, terpaksa aku yang harus melakukannya untuk kamu."
Kini, semuanya menjadi kabur. Gelap. Aku tak tahu lagi harus berbuat apa, harus mengatakan apa. Aku masih mencintaimu, dan aku tahu kalau, setidaknya, kamu juga masih menyisakan cintamu untukku.
Bukankah lebih baik kalau kita berpisah dalam keadaan saling membenci? Tapi aku tidak bisa membencimu. Sedikit apapun itu, aku tidak bisa. Mungkin karena kamu belum mengembalikan hatiku yang kamu tawan.
Maka aku hanya menutup mulutku, pasrah. Kalau memang ini harus terjadi, yang harus aku lakukan adalah menikmati detik-detik terakhir kebersaman kita, kan?
Jalanan mulai ramai. Langit juga semakin terang. Tapi hatiku tidak. Sungguh ironis; orang-orang dan dunia memulai paginya dengan ceria, namun kita justru harus mengawalinya dengan duka. Kita.
Kamu dan aku.
Beberapa saat lagi, kata 'kita' akan segera terhapus dari kehidupanmu, bukan?
Aku memutuskan untuk menyandarkan kepalaku ke punggungmu yang kokoh, dan melingkarkan tanganku di sekitar pinggangmu. Biar saja orang-orang tua itu menatap kita dengan jijik. Aku tak peduli. Mereka tidak tahu apa yang harus kita lewati.
"Di?" Kamu memanggilku, heran.
"Aku belum turun dari motormu, jadi aku masih pacarmu kan?" Aku berkata pelan. "Aku nggak akan menangis, jadi tolong biarkan aku menguasai detik-detik ini."
Kukira kamu akan menyingkirkan pelukanku dari tubuhmu. Namun apa yang kamu lakukan kemudian justru mengejutkanku. Tangan kirimu terulur ke arahku, menggenggam tangan kananku erat-erat. Mengusapnya, memijatnya lembut penuh cinta. Membuatku semakin tak rela untuk melepaskanmu, apalagi meninggalkanmu.
"Harusnya kita nggak saling jatuh cinta," gumammu putus asa.
"Salah. Harusnya kita nggak wajib berpisah," aku meralat ucapanmu. "Nero, jangan pernah menyesali apa yang sudah kita lalui bersama. Hanya itu yang kuminta darimu."
Aku dapat merasakan anggukan kepalamu. Sesaat, aku merasa bahwa dirimu yang dulu telah kembali.
Detik-detik selanjutnya berjalan dengan lambat. Ingin rasanya tetap tinggal dalam waktu yang ini, di sini, bersamamu. Tapi aku harus terbangun dari mimpi indah kita, saat mendapati motormu telah terhenti di depan sekolahku.
"Sudah saatnya, Di."
Kata-katamu bergema di batinku, seperti bel raksasa yang berdentang kencang. Ada pilu dalam hatiku, dan aku juga mendapatinya di wajahmu. Mimpi apa aku semalam, sampai harus--tiba-tiba--berpisah denganmu?
Dengan berat hati, aku menapakkan kakiku di atas tanah. Detik itu lah aku dapat mendengar bunyi semu dalam otakku. Bunyi yang menyadarkanku bahwa aku bukan siapa-siapamu lagi. Kini, Nero yang ada di hadapanku adalah orang asing yang bukan milikku lagi.
Kamu berlalu begitu saja tanpa menegurku lagi, seolah pelukan dan genggaman yang tadi tak pernah terjadi. Diam-diam justru aku bersyukur, karena aku pasti tak akan mampu membendung air mata ini kalau kamu berpamitan denganku.
Aku tak mau berpisah denganmu, dan tak sudi mendengar kalimat perpisahan darimu.
Tapi aku tak mampu mengangkat kedua kakiku, sekedar untuk menggerakkannya masuk ke pekarangan sekolah. Aku hanya bisa berdiri mematung di sini, menatap punggungmu yang menjauh. Menatap motormu yang mulai hilang dari pandanganku.
Aku akan merindukan semuanya tentangmu. Semuanya.
Aku terpaksa melanggar janjiku padamu barusan. Aku ini memang egois; sudah memiliki pelukan dan genggaman terakhirmu, tapi tetap saja meneteskan air mata. Biarlah seperti ini. Biar saja.
Aku berharap kalau kamu akan berputar balik dan kembali ke hadapanku, mengatakan kalau semua ini hanyalah leluconmu. Aku bahkan bermimpi kalau hari ini adalah hari ulang tahunku, agar aku mampu berharap kalau kamu hanya mengerjaiku. Tapi semua ini adalah kenyataan. Kamu tak juga kembali.
Yang selanjutnya terjadi begitu cepat. Aku tak peduli lagi dengan kenyataan yang ada. Aku berlari meninggalkan kerumunan, berusaha untuk mengejarmu sampai dapat. Biar saja kalau dia tak ada di sana, jadi aku bisa merasakan kekecewaan yang nyata terhadapnya, untuk yang pertama kalinya. Jadi aku memiliki alasan untuk membencinya. Jadi aku bisa melanjutkan hidup.
Sekali lagi, semuanya akan jadi lebih mudah kalau kami saling membenci.
Tapi dia ada di sana. Aku tak tahu aku sudah berlari sejauh mana, namun aku merasa baru berlari beberapa meter dari sekolah. Tak ada rasa lelah. Yang ada justru perasaan tak percaya, terkejut penuh ketakjuban. Apakah ini mimpi?
Setelah beberapa menit aku terbujur kaku, barulah aku yakin kalau ini dunia nyata. Dia ada di sana, sedang menepi sambil menatapku penuh kekalutan dan keterkejutan. Dia ada di sana! Nero-ku!
Aku kembali berlari, kali ini menghampirinya. Aku merentangkan tanganku, dan dia menyambutku dengan sigap. Kami kembali berpelukan di pinggir jalan, dihujani tatapan asing dari orang-orang di sekeliling kami. Kami tak peduli.
Kami hanya saling memeluk satu sama lain dalam diam, menikmati momen sakral ini. Tak ada pertanyaan, tak ada pernyataan. Seolah semuanya telah terjawab melalui pelukan ini. Kita memang terlalu memahami satu sama lain. Aku dan kamu.
"Aku sayang kamu, Nero. Terlalu sayang, dan nggak bisa berubah."
Kamu menyeka air mataku. "Tunggu aku, Di."
Saat itulah aku tahu, semuanya akan baik-baik saja. Label: Cerpen, Happy, Love, My Creations
Im gonna find a way to make it without you.
Alicia Keys - Try Sleeping With A Broken Heart. Label: Love, Quote, Sad
bitter love
Bitter love. Ini bener-bener title yang sangat klise dan berbau galau khas ababil jaman sekarang. Maafin aku ya, Octopuses. Ini namanya aku lagi running out of title, hiks. Tapi bukan berarti title entry ini irrelevant sama isi nya kok. Justru aku pilih kata "bitter" karena... memang entry ini bakal berbicara tentang hal yang paling naif--dan paling diagungkan--di dunia;
Cinta.
Sebelum ngebahas lebih lanjut, aku mau meluruskan kenapa aku menganggap "cinta" sebagai hal yang paling "naif" di dunia. Well, simply just because cinta memang naif. Dan membuat orang-orang menjadi naif karenanya. Banyak orang yang percaya bahwa "love would be last forever". Dan biasanya mereka yang beranggapan seperti ini adalah remaja belasan tahun. Remaja yang sebaya sama aku.
Setiap kali ada yang menggunakan kata "forever" dalam satu kalimat yang ada kata "love" nya, aku rasanya pengen banget ngasih tau sama mereka kalo "there is NO forever". Ya memang bener kan? Nggak ada yang namanya "selamanya". Nggak usah ngambil contoh yang rumit semacam, "kita hidup cuma sementara alias nggak selamanya, kan?" deh. Cukup ambil sampel yang simpel-simpel aja (hey, it rhymes!). Makanan, pasti akhirannya bakal membusuk kan? Atau, anggaplah kita lagi ngumpul-ngumpul sama temen-temen segeng. Nggak mungkin kan kita bakal selamanya ngumpul bareng? Pasti bakal ada saatnya kita memisahkan diri. Itu pasti. Because it's fated already.
Jadi, intinya, love isn't about being forever. Cinta itu semacam game. Nggak ada kata selamanya. Yang ada cuma permainan seberapa lama kita bisa mempertahankan cinta itu sendiri. That's it. Ibarat kita lagi ikutan kompetisi game yang bernama "cinta", pemenangnya adalah orang yang lebih lama mempertahankan cinta itu. Gitu. Bahasa gampangnya; lama-lamaan cinta-cintaan. In case you couldn't get what I mean.
I, myself, hate the word "love". Bukan, bukan berarti aku nggak bisa falling in love with someone. Tapi aku cuma nggak suka aja sama kata itu. Dan ini bukan disebabkan oleh alesan paling pasaran di dunia ini--patah hati--ya. There is something that happened to me and caused me to hate the word "love". Sesuatu yang mengajarkan aku kalo :
1. Cinta itu buta 2. Cinta itu sementara 3. Cinta itu naif
Cinta itu buta. Ya jelas, kan? Contoh gampangnya, kamu bisa maki-maki orang tua kamu disaat kamu nyaris punya pacar sementara orang tua kamu ngelarang kamu pacaran. Itu contoh yang paling nyata di teen world, no?
Cinta itu sementara. Udah kujabarin dengan jelas di atas.
Cinta itu naif. Udah kujelasin juga di atas, kan? Well, sebenernya bukan pure 100% "cinta" nya yang naif, sih. Sebenernya cinta itu, bisa dibilang, kejam. Dan sangat "real". Cinta itu ajaib, memang. Hari ini kamu bisa diagung-agungkan sama seorang cowok, besoknya kamu bisa dibuang sama mereka. Kenapa? Simpel. Alasan yang paling pasaran buat kasus ini adalah :
"Aku udah nggak cinta lagi sama kamu."
Atau dalam bahasa gampangnya, "cintaku udah lari dan kabur ke cewek lain". Gitu.
Jadi...?
Jadi, yang membuat cinta itu terkesan naif adalah mereka sendiri, yang sedang hanyut dalam cinta. Aku masih belom terlalu ngerti gimana prosedur jalannya percintaan dalam dunia orang dewasa ya, karena aku sendiri belom merasa dewasa. Aku berpikiran simpel, kok. Aku cukup mengambil bahan observasi dari kasus-kasus yang ada di sekelilingku.
Kebanyakan remaja menganggap love is all about lovey-dovey things, while it isn't. Mereka nganggep kalo cinta itu cukup dengan bilang "I love you", gandengan tangan, grepe sana grepe sini, and all. Padahal cinta itu rumit. Cinta itu butuh komitmen, butuh tanggung jawab. Mereka belom punya itu semua, tapi mereka udah berani berkoar-koar "aku cinta sama dia" dan lain sebagainya.
Mereka juga mikir love is all about being happy. Salah sedikit, marah. Salah sedikit, ngambek. Berantem dikit, bilangnya "kamu udah nggak sayang lagi sama aku!" dan lain sebagainya. Ya itulah cinta. Cinta cuma salah satu part penting dalam kehidupan. Dalam dunia. Dunia berputar, cinta juga. Hari ini kamu seneng di dunia, besoknya kamu sedih. Cinta juga begitu. Hari ini kamu merasa cintaaaa banget, besok kamu merasa kadar cintamu berkurang drastis. Ya gitu deh. Intinya, semua yang ada di dunia ini..... adalah "roda". Roda yang terus berputar. Wujudnya memang nggak bulet sempurna kayak roda. Wujudnya memang nggak berporos semacam roda. Tapi ya itu tadi. Semua yang ada di dunia ini punya hukum yang sama seperti roda.
Berputar. Dan kita nggak akan pernah bisa menghentikan perputarannya. Kita cuma bisa jadi penonton. Diam dan menikmati. Kita cuma bisa jadi pemain. Mengikuti apa yang ada di naskah--yang disebut takdir--dan memerankannya dengan sempurna. Kita cuma bisa jadi figuran. Karena pemeran utama nya adalah dunia sendiri. Makanya, ada yang bilang kalo dunia itu "panggung sandiwara". Memang begitulah adanya.
Jadi, ya gitu deh. Kebanyakan orang seumuranku cuma mikir cinta itu isinya happy-happy. Gampangannya, mereka nganggep HAPPY itu pemeran utama dalam sebuah drama yang judulnya "CINTA". Kata-kata semacam "cobaan", "kesedihan", "pengkhianatan", dan lain sebagainya cuma jadi FIGURAN. Mereka salah. Justru yang jadi figuran dalam CINTA itu adalah HAPPY sendiri. Makanya mereka jadi begitu panik ketika mereka masuk dalam fase sulit, fase-fase yang memaksa mereka untuk mendewasakan diri.
Sebelumnya aku minta maaf ya atas pandanganku tentang cinta yang terlalu keras. Tapi memang begitu lah adanya. Life told me so. I've learned about these things from my life experience.
Conclusion? Orang-orang yang lagi dilamun cinta kebanyakan naif. Dan cinta jadi naif karena orang-orang tersebut. Enough said.
....oke. Aku ngerti, penjelasanku yang panjang lebar di atas sama sekali nggak memberi pencerahan maupun jawaban yang tepat dan memuaskan. I'm so sorry. But I've tried my best to tell you about my absurd, odd thoughts. Pokoknya intinya... gitulah. Ada hal-hal yang nggak bisa dijelaskan ke orang lain dengan sempurna. Dan buatku, inilah hal itu.
Alright. Sebelum aku makin off-topic, mari kita bahas inti dari entry kali ini. Kenapa aku sebut bitter love?
Simply just because I considered this kind of love as a bitter love. This kind = the awkward moment when you are falling in love with someone who doesn't even know that you are exist in this world.
So, who the heck is the guy that caused me a BIG problem like this?
It's him.
I know that this photo was taken 2 years ago. Whatever because he looked gorgeous here
His name is Kwon Jiyong. AKA GD, or G-Dragon to be exact (I hate this stage name anyway, I prefer to call him as "GD" than "G-Dragon"). Dia leader Bigbang. Yes, he is Korean. And YES, he is an idol. And of course he doesn't know that there is Winona Anindyasarathi Soedhowo in this world. Poor me, aite?
Kenapa aku suka sama dia?
Because he is amazing. He is still young. Dia good-looking. Tall enough for me. Dia fashionable. Dia smart. Dia creative. Tekun, ulet, bertanggung jawab, profesional, dan banyak hal lainnya yang selalu mencegah aku untuk berhenti belajar lebih banyak lagi dari dia.
Okay, he might be sooo rebel. Asumsiku, gaya hidupnya sangat bebas. Party everyday. Minum. Hangover pastinya. Make. Main cewek. One-night stand udah termasuk dalam kategori main cewek ya. Tapi hebatnya, dia tetep bisa jadi orang HEBAT disaat dia sangat rebel.
You know, sometimes people wouldn't even care about your sins when you are being so awesome. I told you already, right? Poin nomor satu : cinta itu buta.
Everything about him is amazing. Oke, kecuali masalah wajah, itu tolong dikecualikan ya. Menurutku dia bukan tipe orang yang bisa dikyaaaa-in dari segi fisik. Tapi ya, gitu deh. Dalam kasus kebanyakan, biasanya yang terjadi adalah kasus "talenta berbanding terbalik dengan penampilan". Bedanya, GD ini masih bisa jadi eyecandy becuase he is kinda good-looking (just like what I said).
Jujur, sebenernya aku bingung nyari alesan lagi untuk menjelaskan kenapa aku bisa suka sama dia. Bukan, bukan karena aku cuma suka sama dia dengan cara yang klise--karena dia cakep dsb--atau karena aku nggak punya alesan lain untuk suka sama dia. Justru karena terlalu banyak alesan yang aku punya, aku jadi bingung gimana cara ngejabarinnya. Sama kayak gimana aku bingung buat ngejelasin kenapa aku bisa nganggep "cinta itu naif", kayak di atas.
Awalnya memang cuma sekedar rasa kagum. Tapi tau sendiri kan, cinta bisa timbul darimana aja? (Ini salah satu kalimat paling iklan yang pernah aku tulis di blog ini. And I feel so..... gross to mention those words in this blog)
So, yeah......... I'm falling in love with this guy. Bitter love is bitter.
But no, I'm not that delusional. Okay, I might be DELUSIONAL but I'm not that creepy, okay? Mari berbicara tentang fakta. Dan logika. Aku di Indonesia, dia di South Korean. Aku cuma anak tunggal and another student in this world, dan dia idola. Nona Soedhowo x Kwon Jiyong will never happen unless it's fated already and I doubt that God would give that kind of fate to me.
Jadi...? Jadi, aku ga bakal berkhayal lebih lanjut kalo dikemudian hari aku bakal jadi Nona Kwon or else (sebenernya aku bahkan nggak bisa ngebayangin hal ini, sih). Aku cuma berharap, aku bisa dapet suami... atau seenggaknya "pacar" yang kayak dia.
Taller than me, itu pasti. Smart. Creative. Bertanggung jawab. Punya komitmen dan berpegang teguh pada prinsip. Ga klemak-klemek. Easy-going. Fun. Ulet, tekun, ga mudah putus asa, berani mencoba. Agak-sedikit-perfeksionis, boleh lah. Good-looking itu juga harus. I'm not asking for the handsome ones. But he has to be good-looking. Let's talk about reality, sekarang udah bukan jamannya "look doesn't matter", kan? Just admit it. Everyone wants a good-looking girlfriend/boyfriend.
Jadi, dengan bangga saya mendeklarasikan ideal guy saya adalah......... GD! With the less rebel-ness, please. Karena aku gampang kebawa arus. Jadi punya cowok dengan tingkat kerebelan sama kayak GD is a big no.
Mungkin beberapa dari kalian mikir, "ah cuma gitu doang masa iya sih nganggep udah falling in love?". Tapi menurutku, itu lah yang terjadi. Well, semacam itu lah. Karena kadang, ngeliat video nya... ngeliat fotonya.... ngedengerin lagu-lagunya....
He makes my heart flutter.
Hiks, I'm being these pity fangirls with their bitter love. Menyedihkan, memang. Tapi aku nggak menyesal. GD, walaupun dia sangat nakal, udah ngajarin banyak hal ke aku. Termasuk poin bahwa hidup itu bukan sekedar "lalala land". Hidup itu keras. Tapi untuk menghadapi kerasnya hidup, kita hanya bisa bertahan sekuat tenaga. Kompetisi atau persaingan, itu semua cuma hiasan belaka dalam hal yang namanya "kehidupan". Hiasan yang nggak lain adalah salah satu komponen utama. Dan mau nggak mau, kita harus menghadapi hiasan hidup yang satu ini.
Kadang, kalo aku sedih, dengan mengingat perjuangan GD dan role modelsku yang lainnya (Kahi, Park Bom, Tiffany), aku jadi semangat. Kalo putus asa, cuma dengan mengingat mereka pernah melalui fase yang sama dengan apa yang lagi aku alamin, aku jadi punya kekuatan lagi buat menghadapi semua masalah yang ada. Berkat mereka, aku bisa mengatakan hal ini sama diriku sendiri :
"Kamu ada di tahap yang benar, Non. Kamu cuma harus berusaha melewati fase ini, dan tadaaah. Saat kamu sadar, kamu akan ada di tahap yang sama dengan mereka. Sukses. Berhasil."
Ini namanya agak off-topic. Jadi lebih baik obrolan soal GD, Kahi, Park Bom, dan Tiffany being my role models sebaiknya disimpan untuk next entry, gimana? ;)
Jadi, intinya, I'm falling in love with GD and want to have a hubby/bf like him. Ngomong-ngomong soal hubby, I gotta feeling that my hubby will be older than me deh. Beda umurku sama GD bahkan sekitar 7 tahunan. Whatever sih, yang penting masih bisa klik dan nyambung ke aku. Karena aku sendiri nggak bisa ngobrol dengan leluasa and being myself dengan anak-anak cowok seumuranku (just like what my parents said; jalan pikirku udah kejauhan).
Yang penting jangan sama anak-anak semacam member-member SHINee. Sama sekali nggak bikin aku nafsu (sorry, Shawols). They are talented but they aren't my type.
So, yeah.... I prefer Kwon Jiyong over Justin Bieber, is that weird?
Whatever, let's enjoy this bitter love! :D
Love, LadyLo
Label: About me, Celebrity, Daily story, Just babbling, Kpop, Life, Love, Opinion, Postingan sampah, Renungan, Sad
parents, family, and the sims
Orang tua adalah harga yang tak dapat ditawar, harta yang tak tertukar.
Kenapa tiba-tiba aku ngomong ginian? Well, simply just because I saw many tweets in my timeline. Isi tweetsnya? Beberapa orang temenku yang mengutuk orang tua mereka sendiri. Oke, mengutuk sounds a lil bit scary--walaupun kenyataannya emang ngeri. Lebih tepatnya, mereka memaki orang tua mereka sendiri.
Bukan memaki dengan kata-kata, "Orang tua gue ngeselin banget! Kerjaannya ngatur mulu!" ya. Tapi memaki dalam contoh... "Bokap nyokap gue jancok banget! Bangsat!" dan lain sebagainya yang bisa kalian bayangin sendiri.
Memang, bisa dibilang aku nggak ngerti permasalahan apa yang mereka hadapin; apa yang orang tua mereka lakuin ke mereka, apa yang mereka rasain, apa yang terjadi, dan lain sebagainya. Aku bukannya ikut campur--you could call me like that kalo sampe aku ngemention si pembuat-harsh-tweet-ini dan nasihatin dia ini-itu sementara aku sendiri nggak tau masalahnya apa. Mari kita sebut aku lagi.... ngasih komentar. Dari kacamata penonton.
Sebenernya sayang banget, mereka-mereka (yang ngebuat harsh tweets ini) sampe ngucapin hal sedemikian rupa. Walaupun kasar, mungkin kata-kata semacam "orang tuaku rese banget!" atau "asli kesel banget diceramahin ini-itu mulu!" mungkin lebih ditolerir daripada kata-kata semengerikan itu. Karena... gimana pun juga... mereka itu orang tua kita.
Call me naive. Dan mungkin kata-kata ini udah klise. Banget. Tapi itulah kenyataan. Ada hal-hal yang nggak bisa kita pertanyakan di dunia ini. Ada hal-hal yang memang nggak logis di dunia ini. Ada hal-hal yang nggak bisa kita tentang di dunia ini. Memang begitulah kodratnya. Seorang anak, sampai kapan pun juga, nggak akan pernah bisa memiliki derajat di atas orang tuanya. Which means, sampai kiamat pun, kita nggak akan pernah bisa memiliki alasan yang cukup untuk membuat kita diizinkan memaki orang tua kita.
Sekilas memang rasanya nggak adil. Disaat orang tua kita, mungkin, bisa memaki kita. Disaat orang tua kita, mungkin, sangat menyakiti hati kita. Tapi itulah dunia, kan? Apa yang bisa kita lakukan sebagai seorang anak hanya menerima, nggak lebih. Itulah hak seorang anak. Menerima.
Protes, oke lah. Kritik, boleh lah. Tapi memaki? Apalagi sampe mengeluarkan kata-kata semacam "jancok", "anjing", "bangsat", dan lain sebagainya ke orang tua kita sendiri?
Jangan lupa, kita bukannya sedang berbicara dengan teman kita, loh.
Orang-orang banyak lupa. Katanya, kita nggak boleh terlalu sering membandingkan diri kita dengan orang lain. Tapi bukannya berarti membandingkan diri dengan orang lain itu selalu membawa kejelekan, kan?
In this case... mari bandingkan diri sendiri dengan orang-orang yang nggak bisa tinggal bareng kedua orang tuanya. Atau nggak bisa tinggal dengan keluarga lengkapnya. Those people--who cursed on their parents--live with their parents. Their family. Padahal ada banyak orang-orang di luar sana, yang berharap mati-matian bisa tinggal dengan orang tuanya. Lengkap. Ada orang-orang yang berharap keluarga mereka nggak tercerai-berai. Ada orang-orang yang berharap bisa memutar ulang waktu cuma biar bisa kumpul sama kedua orang tuanya.
Like me.
Aku lagi berada dalam kondisi semacam ini; kondisi dimana kamu bener-bener ngerasa shock. Ibarat abis ngelaluin satu perjalanan, kamu lagi jetlag. Bingung dengan keadaan yang sedang kamu alami. Saking drastisnya perubahan yang kamu miliki, kamu jadi blank. Dan klimaksnya adalah ketika kamu bertanya:
Apakah benar, kalo aku pernah hidup dimasa lalu? Kok, rasanya aku cuma hidup dimasa ini? Kok, rasanya aku baru ngerasa hidup sekarang? Dimana kenangan-kenangan yang dulu aku alamin? Apakah benar semua kenangan itu pernah aku alamin?
That's it.
To be honest, I miss my dad so much. Aku kangen saat-saat aku, Mama, dan Papa ngumpul bareng. Saat-saat kami kumpul di depan tv dan makan malam bareng. I didn't mind about the menu. Mau itu pizza yang kami take-away, atau ikan bandeng presto yang Mama beli di warung, I didn't even care about it. Yang aku peduliin adalah detik-detik dimana kami ngumpul bareng. Saat-saat dimana kami ngobrol di depan tv, ngebahas semua hal yang ada. Mulai dari yang penting, sampe yang nggak worth it buat dibicarain sekalipun. I miss those moments.
Aku bahkan kangen dimarahin papaku. Saat-saat dimana aku dapet nilai-nilai jelek dan Papa marahin aku. Dan pasti Mama ngebelain aku. Saat-saat dimana aku dituntut untuk dapet banyak nilai 9. I didn't mind about that. Karena dulu--dan sekarang pun--aku hidup untuk orang tuaku. Kupikir, kalo nilaiku bagus, orang tuaku bakal bahagia. Bakal bangga sama aku. Makanya aku berusaha keras biar bisa mencapai itu semua.
Soalnya, salah satu impianku itu bisa bikin orang tuaku bahagia dan bangga sama aku. Sehingga mereka bisa ngomong ke semua orang, "Ini loh Nona, anakku."
Mungkin kamu pikir ini impian klise banget lah, bullshit lah, sok anak baiklah, or whatever it is. Tapi itulah kenyataan. I hate being naive. Atau klise. Tapi terkadang memang ada saatnya dimana kita jadi naif dan klise. Inilah saat yang tepat buatku.
Intinya, aku kangen semua saat-saat yang pernah kulaluin itu. Setiap detail terkecilnya. Setiap detiknya. Aku kangen semua itu. Dan jujur, aku ngiri sama mereka semua yang bisa ngedapetin apa yang aku paling pengenin saat ini. Tapi mereka malah nyia-nyiain semua itu. Bahkan, mereka ngebuang jauh-jauh kesempatan itu.
Dalam artian, mencaci maki orang tua mereka.
Orang tua yang ada di sana untuk mereka.
Jadi... buat kalian semua yang ngebaca ini... terutama bagi yang kesel banget sama orang tua masing-masing. Bersyukurlah. Seenggaknya kalian masih bisa ngumpul, lengkap, komplit bareng kedua orang tua kalian. Ada orang-orang di luar sana yang pengen ngumpul sama orang tuanya tapi nggak bisa atau susah. Ada orang-orang yang ngiri sama kalian.
Inget, hidup ini nggak semudah game. Nggak segampang The Sims. Oke, sebenernya The Sims itu sulit dan rumit sih. Sims-ku pernah selingkuh sama suami orang dan dia udah punya anak, mendadak dia dan keluarganya jatuh miskin and all. Tapi, kalo main The Sims, kita masih bisa melarikan diri dari kenyataan dan masalah yang ada. Kita bisa tinggal mainin family yang lain, atau ngedelete family yang bermasalah itu.
Tapi kehidupan nyata berbeda. Kita nggak bisa lari. Kita cuma bisa menghadapi dan menyelesaikan masalah yang ada. Dan mencaci-maki itu termasuk upaya melarikan diri.
Hidup jauh lebih sulit dan rumit daripada The Sims.
Dan aku bukannya ngomong tanpa pengalaman.
Jadi, mari kita bersama-sama menghadapi dunia ini... menjalani hidup, menghadapi, dan menyelesaikan masalah yang ada. Karena hidup dan masalah itu selalu berdampingan. Yang menentukan adalah diri kita sendiri; bisa, atau nggak. Kuat, atau lemah. That's it :)
Mulai sekarang, ayo kita berjuang bareng! And happy new year 2011 too! Fighting! :D
Love, LadyLo
Label: About me, Daily story, Experience, Family, Just babbling, Life, Love, Nostalgia, Opinion, Problem, Renungan
I Hate You, My Stars.
(one too three. again, one two three. stars, i'm going to go crazy)
No matter how many times I look at you, I can't see you, oh baby Because of the tears in my eyes, all because of you My crying face that is reflecting above the spread letters, oh baby I promised myself I wouldn't cry again, but I'm crying again
Awalnya kukira begitu mudah untuk menyembunyikan sedihku Awalnya kusangka tak akan sulit untuk hilangkan tangisku Namun semuanya tidak berjalan sesuai anganku Semakin aku tegar, semakin perih luka yang kurasakan
What do I do, I don't know what to do, what to do This is me, I don't know why I'm going crazy like this All because of you, really because of you I can't do anything, I
Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tidak diizinkan untuk memperlihatkan amarahku Dan aku juga dilarang untuk meneteskan air mataku Mengapa aku harus berusaha tertawa, disaat aku tidak bahagia?
Love you as much as the stars, stars, stars, stars I came for you to find you, you're that far shining star Stars, stars, stars, no matter what I say I really can't express myself I'm frustrated now, what should I do now
Kini, mungkin aku telah menjadi gila Namun tidak ada satu pun orang yang sadar Mengapa? Karena aku memendam seluruh perasaanku Tetapi, jauh di dalam hatiku, jauh di balik tawaku Aku berharap ada seseorang yang menyadari rasa sakitku
No matter how many times I count, I can't see the end, oh baby Because of all the memories that are in my heart, I think of you again I couldn't say everything I wanted to so I say them to myself, oh baby I want you back, I want to go back to your side
Bila memang bisa, aku ingin memutar waktu Agar saat-saat bahagia itu dapat kumiliki kembali Aku ingin melakukan perubahan kecil, setidaknya agar senyumku kembali Namun aku tidak bisa, karena tidak ada yang mengizinkanku
I'm pleading to you, please, I'm pleading to you To the sky, my prayer goes to the sky Cheer me up, cheer me up Please, where are you now
Dan bila memang diizinkan, Tuhan, tolong kirimkan padaku seseorang yang dapat mengerti isi hatiku Seseorang yang dapat menghiburku dan mengetahui pedihnya sakitku Aku pun tak ingin bersedih, aku ingin tawaku kembali
Stars, stars, stars, stars, talk to me Is it over? Is that it? Answer me, don't just laugh Stars, stars, stars, stars, I'm pleading to you Just for once, my love Let me fly to your side
Kapan seluruh rasa sakit ini menghilang? Kapan detik-detik bahagia dapat kurengkuh kembali? Aku butuh jawaban, walau hanya beberapa patah kata Agar aku dapat tetap tegar, terus bertahan di atas semua luka ini
Star, star, star, ooh baby, star, star, star, oh
Dan tiada yang tahu, bahwa dua bintangku yang paling kucintai Adalah dua bintang yang juga menyakitiku disetiap detik ini
I love you as much as the stars, stars, stars, stars I came for you to find you, you're that far shining star Stars, stars, stars, no matter what I say I really can't express myself I'm frustrated now, what should I do now
Bintangku, sungguh aku mencintaimu Bintangku, sungguh aku tak ingin melukaimu Namun semakin dalam aku menahan tangis dan amarah ini Semakin pedih rasa sakit yang ada Aku juga ingin berbagi tawa dan tangis
Namun aku tidak bisa, dan tidak diizinkan Karena aku harus menjadi seseorang yang kuat Yang bahkan tidak diberi kesempatan untuk mengutarakan isi hatinya…
***
This poem was dedicated for my most precious stars, and the english part above was taken from SNSD - Star Star Star's translation Dua bintang yang selalu kucintai sepenuh hati dan dua bintang yang selalu menusuk hatiku sedalam mungkin
Just for you know, I have an unconditional love for you both But you never give me a chance to make a movement I love you, but you made a deep, the deepest wound in my heart I wanted to make you happy, but I just realized That these things weren’t what I wanted
You’re too precious for me So that’s why, I hate you, My Stars."I miss you, I need you."--After School, Because of You.
Love, LadyLoLabel: About me, Daily story, Life, Love, Poem, Sad
the point of view :)
Hari ini aku nggak keluar rumah sama sekali karena sakit, tapi rasanya capeeek banget. Salah satu hal yang udah berhasil bikin aku capek adalah: chatting sama Rania di fb (mungkin dia lagi baca ini sekarang. Hey sist!). Dari situlah kami mulai ngobrol seru, ngungkapin uneg-uneg kami tentang cinta, sedikit berdebat dengan argumen masing-masing, dan ditutup manis dengan ngobrol soal blog (nggak nyambung ya? Hahahaha).
Kenapa tiba-tiba jadi debat soal cinta? Well, semuanya berawal dari love life salah satu sahabat kami yang kami anggep menyimpang dari jalurnya. So, kami mulai bertukar pikiran dan tanpa sadar percakapan jadi seru banget! :) I'm waiting for the next moment, Sist!
Hei, nggak usah kaget gitu deh begitu tau aku ngomongin soal c-i-n-t-a! :D Well yes, I still don't have any experiences about L-O-V-E in my life, but YES I have an opinion too about that thing!
Bukan cuma cerita ataupun fotografi yang punya point of view, lho ;)
Nah, karena kejadian tadi lah aku jadi punya makin banyak opini tentang cinta. Beberapa diantaranya udah aku pajang di fb sebagai statusku, hehehehe. Dan biar kalian semua bisa baca lebih enak, aku udah nyimpen screenshotnya di laptopku. Tunggu aja tanggal maennya buat diupload, oke? ;) Pengennya sih sekarang nguploadnya. Cuma secara koneksi lagi bebal, terpaksa diundur :'(
Well, statusku yang paling disukain hari ini adalah:
"love this quote; 'jangan sampai cinta membodohimu , karena kitalah yang mengendalikan cinta--BUKAN cinta yang mengendalikan kita'."
What do you think?
Ada 13 orang yang ngelike status ini, hahahaha. Padahal aku cuma asal nulis apa yang ada dipikiranku saat itu juga. Rania sempet nanya inspirasinya dari mana sampe aku bisa nulis kayak gitu. Well, mungkin beberapa diantara kalian ada yang mau tau. Jujur aku dapet inspirasinya dari salah satu temenku.
Temenku yang sedang dikendalikan oleh cinta--gitu deh kalo dijabarkan dalam bahasa dramatisnya.
Tapi emang bener lho! Hahahaha :D
Guys, mungkin ada yang punya opini lain? Bisa share disini kok ;) Untuk deretan statusku yang udah siap nyepam home temen-temen di fb bakal aku upload secepat mungkin kok. Hehehehe. Well, happy sharing :D
Love, LadyLo [ternyata lebih keliatan elegan kayak gini daripada ditulis dalam warna berbeda LOL :p]
Label: About me, Daily story, Friends, Just babbling, Love
Older Post
|